e-Journal Institut Agama Islam Negeri Ambon
Not a member yet
1708 research outputs found
Sort by
A The Challenges and Solutions of Implementing Differentiated Instruction in Islamic Religious Education at Private Madrasah Tsanawiyah in the Poso Kota Bersaudara District
This study aims to identify the challenges and solutions in implementing differentiated learning in Islamic Religious Education (PAI) subjects at private Madrasah Tsanawiyah (MTs) in the Poso Kota Bersaudara District. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis. The research subjects consisted of six PAI subject teachers from three MTs: MTs Alkhairaat Poso, MTs Muhammadiyah Poso, and MTs Al-Ikhlas Sayo. The findings revealed that teachers face various challenges in applying differentiated learning, including lack of curriculum training, classroom management difficulties, diverse student characteristics, and limited instructional resources and media. Solutions implemented include ongoing training, professional development, more personalized and varied instructional approaches, more efficient time management, and increased creativity in utilizing digital learning media. The study concludes that despite persistent challenges, adaptive and innovative strategies can enhance the effectiveness of differentiated instruction and positively impact student participation, motivation, and learning outcomes in Islamic Religious Education.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan solusi dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta Kecamatan Poso Kota Bersaudara. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi kelas, dan analisis dokumen. Subjek penelitian terdiri dari enam guru mata pelajaran rumpun PAI di tiga MTs, yaitu MTs Alkhairaat Poso, MTs Muhammadiyah Poso, dan MTs Al-Ikhlas Sayo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi, antara lain kurangnya pelatihan kurikulum, keterbatasan dalam manajemen kelas, beragamnya karakter siswa, serta minimnya media dan sumber daya pembelajaran. Solusi yang diterapkan mencakup pelatihan berkelanjutan, pengembangan profesionalisme guru, penggunaan pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan variatif, pengelolaan waktu yang lebih efisien, serta peningkatan kreativitas dalam pemanfaatan media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun tantangan masih ada, strategi yang adaptif dan inovatif dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran berdiferensiasi dan memberikan dampak positif terhadap partisipasi, motivasi, dan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran PAI
EXPLORING TEACHERS' KNOWLEDGE, UNDERSTANDING AND REWARD PRACTICES: A MOTIVATIONAL ORIENTATION PERSPECTIVE IN MATHEMATICS LEARNING
The persistent gap between teachers' conceptual knowledge and practical implementation remains a critical challenge in mathematics education. This study investigates how intrinsic versus extrinsic motivational orientations influence teachers' knowledge, understanding, and reward implementation practices in mathematics instruction. Employing an exploratory qualitative case study design, the research examined 14 junior high school mathematics teachers in South Sulawesi, Indonesia, systematically classified by motivational orientation. Data collection encompassed motivational orientation assessments, conceptual knowledge evaluations, case-based understanding tasks, and structured classroom observations. Thematic cross-case analysis was conducted using NVivo 12 software. Findings reveal progressive differentiation patterns: while conceptual knowledge differences remained relatively modest, disparities amplified significantly across understanding and classroom practice dimensions. Intrinsically motivated teachers demonstrated reflective, contextualized, and process-oriented reward strategies, whereas extrinsically motivated teachers exhibited procedural, standardized, and outcome-focused approaches. These results advance theoretical understanding of motivational orientation as a critical moderating variable in knowledge-to-practice transformation processes, offering substantial implications for targeted professional development interventions addressing motivational dimensions in mathematics education
PENGHAPUSAN TINDAK PIDANA MELALUI ABOLISI DAN AMNESTI: IMPLIKASI YURIDIS TERHADAP PENEGAKAN HUKUM DAN PRINSIP NON-INTERVENSI POLITIK
Abstrak
Penghapusan tindak pidana melalui abolisi dan amnesti merupakan kewenangan konstitusional Presiden yang menempati posisi penting dalam sistem hukum Indonesia, namun sekaligus memunculkan tantangan yuridis terkait independensi penegakan hukum dan potensi intervensi politik. Mekanisme tersebut dirancang sebagai instrumen luar biasa untuk menyelesaikan persoalan tertentu yang tidak dapat ditangani melalui proses peradilan biasa, seperti rekonsiliasi nasional atau koreksi terhadap kriminalisasi yang menyimpang. Kendati demikian, sifat abolisi yang dapat menghentikan proses hukum sebelum adanya putusan berkekuatan tetap serta karakter amnesti yang bersifat kolektif menimbulkan kekhawatiran terkait akuntabilitas, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap hak korban. Melalui pendekatan yuridis normatif, penelitian ini menelaah karakteristik kedua instrumen tersebut dalam kerangka konstitusi, asas legalitas, dan mekanisme checks and balances yang melibatkan DPR. Analisis menunjukkan bahwa pemberian abolisi dan amnesti harus dibatasi oleh standar substantif dan prosedural yang ketat, termasuk transparansi alasan pemberian, pengawasan politik dan yudisial, serta pertimbangan terhadap dampak sosial dan yuridis. Penerapan prinsip non-intervensi politik menjadi kunci dalam mencegah penyalahgunaan kewenangan, memastikan bahwa keputusan penghapusan pidana tidak menjadi sarana melindungi kepentingan tertentu. Dengan demikian, diperlukan penguatan norma dan pedoman implementatif agar abolisi dan amnesti tetap berfungsi sebagai instrumen konstitusional yang legitimate tanpa mengurangi integritas peradilan dan kepercayaan publik.
Kata kunci: abolisi, amnesti, independensi penegakan hukum
Abstract
The abolition of criminal liability through abolition (abolisi) and amnesty is a constitutional prerogative of the President that occupies a central position in the Indonesian legal system, while at the same time raising juridical challenges concerning the independence of law enforcement and the risk of political intervention. These mechanisms are designed as extraordinary instruments to resolve specific issues that cannot be effectively addressed through ordinary judicial processes, such as national reconciliation or the correction of wrongful or excessive criminalization. Nevertheless, the nature of abolition, which can terminate legal proceedings before a final and binding verdict is rendered, and the collective character of amnesty, give rise to concerns regarding accountability, legal certainty, and the protection of victims’ rights.Using a normative juridical approach, this study examines the characteristics of both instruments within the framework of the Constitution, the principle of legality, and the system of checks and balances involving the House of Representatives (DPR). The analysis demonstrates that the granting of abolition and amnesty must be constrained by strict substantive and procedural standards, including transparency of the reasons for their issuance, effective political and judicial oversight, and careful consideration of their social and legal implications. The application of the principle of non-political intervention is crucial to preventing abuses of power and to ensuring that decisions to extinguish criminal liability do not become tools for protecting particular interests. Accordingly, there is a need to strengthen normative provisions and implementing guidelines so that abolition and amnesty continue to function as legitimate constitutional instruments without undermining judicial integrity and public trust.
Keywords: abolition, amnesty, independence of law enforcemen
Sebuah Komodifikasi Alquran di media Tiktok : Analisis konten Akun Ustadz Raffi Nuraga: Analisis konten Akun Ustadz Raffi Nuraga
Abstract: This study aims to analyze the commodification of the Qur'an in Ustadz Raffi Nuraga's TikTok content, by examining the form of commodification and the factors that influence commodification. This study uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method. Data were collected through direct observation of Ustadz Raffi Nuraga's TikTok videos, documentation of audience comments, and analysis of monetization features used in content for the period October 2024–March 2025. The results of the study show two main findings. (1) The commodification process occurs through three aspects: content commodification (verse packaging. In the commodification of content, it can be seen in the selection of verses chosen by Ustadz Raffi Nuraga, namely popular verses and those frequently read daily), audience commodification (audience as a source of income through gift and like features), and worker commodification (Ustadz Raffi Nuraga as a content creator who adapts content to platform demands). (2) Factors that influence commodification in Ustadz Raffi Nuraga's TikTok content are divided into three. First, the demands of social media algorithms and digital content trends. Second, responding to the characteristics of the target audience. Third, positioning oneself as an influencer and economic demands.
Keywords: Commodification of the Quran, TikTok, Ustadz Raffi Nuraga
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komodifikasi Al-Qur’an dalam konten TikTok Ustadz Raffi Nuraga, dengan meneliti bentuk komodifikasinya dan faktor yang mempengaruhi komodifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap video TikTok Ustadz Raffi Nuraga, dokumentasi komentar audiens, serta analisis fitur monetisasi yang digunakan dalam konten periode Oktober 2024–Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Proses komodifikasi terjadi melalui tiga aspek: komodifikasi isi (pengemasan ayat Pada komodifikasi isi terlihat dalam pemilihan ayat yang dipilih oleh ustadz Raffi Nuraga yakni ayat-ayat populer terutuma dari juz 30 dengan irama yang menarik), komodifikasi khalayak (audiens sebagai sumber pendapatan melalui fitur gift dan like), dan komodifikasi pekerja (Ustadz Raffi Nuraga sebagai konten kreator yang menyesuaikan konten dengan tuntutan platform). Faktor yang mempengaruhi komodifikasi dalam konten tiktok Ustadz Raffi Nuraga, dibagi menjadi tiga. Pertama, tuntutan algoritma media sosial dan trend konten digital, Kedua, Respons terhadap Karakteristik Khalayak Sasaran, Ketiga, Posisi Diri sebagai Influencer dan Tuntutan Ekonomi
Kata Kunci : Komodifikasi Al-Qur’an, TikTok, Ustadz Raffi NuragaAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komodifikasi Al-Qur’an dalam konten TikTok Ustadz Raffi Nuraga, dengan meneliti bentuk komodifikasinya dan faktor yang mempengaruhi komodifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis konten. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap video TikTok Ustadz Raffi Nuraga, dokumentasi komentar audiens, serta analisis fitur monetisasi yang digunakan dalam konten periode Oktober 2024–Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Proses komodifikasi terjadi melalui tiga aspek: komodifikasi isi (pengemasan ayat Pada komodifikasi isi terlihat dalam pemilihan ayat yang dipilih oleh ustadz Raffi Nuraga yakni ayat-ayat popular dan yang sering dibaca seharihari), komodifikasi khalayak (audiens sebagai sumber pendapatan melalui fitur gift dan like), dan komodifikasi pekerja (Ustadz Raffi Nuraga sebagai konten kreator yang menyesuaikan konten dengan tuntutan platform). Faktor yang mempengaruhi komodifikasi dalam konten tiktok Ustadz Raffi Nuraga, dibagi menjadi tiga. Pertama, tuntutan algoritma media sosial dan trend konten digital, Kedua, Respons terhadap Karakteristik Khalayak Sasaran, Ketiga, Posisi Diri sebagai Influencer dan Tuntutan Ekonomi
Kata Kunci : Komodifikasi Al-Qur’an, TikTok, Ustadz Raffi Nuraga
 
ANALISIS MOOD PENYIDIK DALAM PERCAKAPAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA UMUM DI KEPOLISIAN
The investigation of general criminal offenses exhibits several implementation-related phenomena, including wrongful arrests and an overreliance on eliciting confessions from examinees. This study focuses on the investigative process as reflected in the verbaal van verhoor (interrogation record). Within investigative interactions, the object of analysis is the investigator’s MOOD system. MOOD is selected because, as a linguistic resource within the interpersonal meaning domain of Systemic Functional Linguistics, it constitutes the lexicogrammatical basis through which investigators organize meaning exchange in investigative conversations in accordance with particular aims or interests. This research adopts a critical qualitative approach, employed to critically and emancipatorily uncover the realities of investigators’ language use. The study is designed as a case study, examining a general criminal case at the investigation stage within the police institution. The findings indicate that investigative conversations in this case contain 25 instances of MOOD usage by the investigator. The investigator's dominant status and the pursuit of confession drive the interaction, as shown by these results. This study makes two concrete contributions: (1) serving as a reference for the development of emancipatory investigative questioning instruments, and (2) informing the development of teaching materials for forensic linguistics courses using a Systemic Functional Linguistics approach. Future research may employ comparative units drawn from other criminal cases or specific contexts, such as doctor-patient interactionsPenyidikan tindak pidana umum memiliki sejumlah fenomena dalam pelaksanaannya, antara lain berujung pada kasus salah tangkap dan menarget pengakuan terperiksa. penelitian ini fokus pada proses penyidikan verbaall van verhoor. Dalam percakapan penyidikan tersebut, yang menjadi fokus penelitian adalah MOOD penyidik. MOOD dipilih karena peranti lingual dalam lingkup makna interpersonal linguistik sistemik fungsional ini menjadi sumber leksikogramatika penyidik untuk mengorganisasi pertukaran makna dalam percakapan pada penyidikan berdasarkan tujuan atau kepentingan tertentu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kritis. Pendekatan penelitian ini digunakan untuk membongkar realitas penggunaan bahasa penyidik secara kritis dan emansipatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus digunakan untuk mengkaji suatu kasus tindak pidana umum yang berada pada tahap penyidikan di kepolisian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam percakapan pada penyidikan tindak pidana umum ini ditemukan sebanyak 25 penggunaan MOOD oleh penyidik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penyidik menunjukkan status dominan dan diprovokasi oleh pengakua
Pengaruh Model Inquiry-Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik: Literature Review
Creative thinking skills are one of the important competencies in 21st-century learning that need to be developed in students. This study aims to analyze the effect of the Inquiry-Based Learning (IBL) model on students' creative thinking skills. This article uses a literature review approach to analyze the effect of the Inquiry-Based Learning (IBL) model on students' creative thinking skills. This approach was chosen because it allows for an in-depth synthesis of various current literature sources. Data were collected through a systematic search of leading academic databases such as Google Scholar and ScienceDirect for the period 2015-2025. The results of the analysis show that the application of the Inquiry-Based Learning (IBL) model consistently has a positive and significant effect on improving students' creative thinking skills. This review is limited to eight articles, which may not fully represent the broader scope of research implementation in various educational contexts. Future research is expected to integrate a larger and more diverse collection of sources.Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaaran Abad-21 yang perlu dikembangkan pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model Inquiry-Based Learning (IBL) terhadap kemampuan berpikir kreatif pada peserta didik. Artikel ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur untuk menganalisis pengaruh model Pembelajaran Berbasis Penyelidikan (IBL) terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan sintesis mendalam dari berbagai sumber literatur terkini. Data dikumpulkan melalui pencarian sistematis pada basis data akademik terkemuka seperti Google Scholar dan ScienceDirect untuk periode 2015-2025. Hasil analisi menunjukkan bahwa penerapan model Inquiry-Based Learning (IBL) secara konsisten memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Ulasan ini terbatas pada delapan artikel, yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili cakupan yang lebih luas dari implementasi penelitian dalam berbagai konteks pendidikan. Penelitian di masa depan diharapkan dapat mengintegrasikan koleksi sumber yang lebih besar dan beragam
Pembelajaran Berbasis Deep Learning: Sebuah Kajian Literatur Sistematis
Twenty-first-century learning requires instructional approaches that promote deep understanding and active student engagement. Pedagogical deep learning emphasizes mindful, meaningful, and joyful learning. This study aims to systematically review the implementation of pedagogical deep learning in educational practices. A Systematic Literature Review was conducted by analyzing ten relevant research articles. The findings indicate that deep learning-based instruction enhances student engagement, conceptual understanding, higher-order thinking skills, and learning motivation. However, its effectiveness depends on teacher readiness and instructional design. Overall, pedagogical deep learning shows strong potential as an effective instructional approach when implemented in a planned and contextual manner.Pembelajaran abad ke-21 menuntut proses belajar yang menekankan pemahaman mendalam dan keterlibatan aktif peserta didik. Pembelajaran berbasis deep learning sebagai pendekatan pedagogik berfokus pada prinsip mindful, meaningful, dan joyful learning. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara sistematis penerapan pembelajaran berbasis deep learning dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review terhadap sepuluh artikel penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis deep learning mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik, pemahaman konsep, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta motivasi belajar. Namun, keberhasilannya dipengaruhi oleh kesiapan pendidik dan desain pembelajaran. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis deep learning berpotensi menjadi alternatif pembelajaran yang efektif apabila diterapkan secara terencana dan kontekstual
Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka Dalam Membentuk Karakter Disiplin Peserta Didik di SMA Negeri 27 Maluku Tengah
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Memahami manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di SMA negeri 27 Maluku Tengah (2) Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik di SMA Negeri 27 Maluku Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, adapun tekhnik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk karakter disiplin peserta didik di SMA Negeri 27 Maluku Tengah berfokus pada empat tahap manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka yakni: Tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. 2) Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan pramuka dalam membentuk karakter disiplin peserta didik antara lain: Faktor internal meliputi faktor jasmaniah yakni faktor kesehatan, faktor phsikologis yakni intelegensi, minat, motivasi, perhatian, bakat, kematangan dan kesiapan. Faktor eksternal meliputi faktor keluarga, suasana rumah, fasilitas, metode belajar dan pembina. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam meningkatkan karakter disiplin peserta didik telah di upayakan dengan baik melalui proses perencanaan hingga pengawasan, akan tetapi terdapat faktor yang mempengaruhi manejemen ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk karakter disiplin peserta didik secara optimal
Manajemen Waktu Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Al Mukmin Dalam Meningkatkan Prestasi Akademik di Perguruan Tinggi (Studi Kasus di PESMA Al Mukmin
Abstrak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana santri di PESMA Al Mukmin mengelola waktu dalam menyeimbangkan peran akademik di perguruan tinggi dengan kewajiban kepesantrenan, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa santri mampu menerapkan strategi manajemen waktu yang adaptif, terencana, dan fleksibel. Mereka memanfaatkan berbagai pendekatan seperti penyusunan to do list, penetapan prioritas, serta pemanfaatan media digital, dengan dukungan budaya disiplin dan fleksibilitas aturan pesantren yang memungkinkan sinergi antara kegiatan kampus dan kepesantrenan. Temuan ini mengindikasikan bahwa manajemen waktu yang baik berdampak pada pencapaian prestasi akademik, peningkatan soft skills, serta kemampuan menjaga keseimbangan emosional santri. Namun, berbagai kendala seperti benturan jadwal, beban aktivitas yang padat, serta tekanan fisik dan psikologis tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi, sehingga dibutuhkan strategi adaptasi yang lebih berkelanjutan. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar santri terus mengembangkan keterampilan manajemen waktu dengan konsistensi yang lebih tinggi, pengasuh pesantren memperkuat ruang dialog dan pendampingan personal, serta perguruan tinggi menjalin koordinasi dengan pesantren agar kalender kegiatan lebih sinkron. Implikasi praktis dari penelitian ini menegaskan pentingnya lingkungan yang mendukung dalam membentuk kebiasaan manajemen waktu santri, sementara implikasi akademisnya memperkaya kajian tentang manajemen waktu dalam konteks pesantren mahasiswa yang memiliki dinamika berbeda dari mahasiswa pada umumnya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menegaskan keterampilan teknis manajemen waktu sebagai kunci keberhasilan, tetapi juga menunjukkan bahwa keberhasilan santri sangat dipengaruhi oleh sistem, budaya, dan dukungan sosial yang melingkupinya.
Abstrak.
This study aims to explore how students at PESMA Al Mukmin manage their time in balancing academic responsibilities at the university with religious obligations in the pesantren environment. The findings indicate that students are able to implement adaptive, planned, and flexible time management strategies. They employ various approaches such as creating to-do lists, setting priorities, and utilizing digital tools, supported by the pesantren’s culture of discipline and flexible regulations that allow synergy between campus and pesantren activities. The results further suggest that effective time management has a significant impact on academic achievement, the development of soft skills, and the ability to maintain emotional balance. Nevertheless, challenges remain, such as schedule conflicts, heavy workloads, and both physical and psychological pressures, which require sustainable adaptive strategies. Based on these findings, it is recommended that students continue to strengthen their time management skills with greater consistency, pesantren supervisors enhance personal mentoring and dialogue spaces, and universities coordinate with pesantren to better align academic and religious schedules. The practical implications of this research highlight the importance of a supportive environment in shaping students’ time management habits, while its academic implications enrich the discourse on time management within the unique context of university-based pesantren students. Thus, this study not only emphasizes time management as a technical skill for success but also demonstrates that students’ achievements are strongly influenced by systems, culture, and social support surrounding them
Critical Leadership in Reconciliation for Church-Based Conflict in Halmahera, Indonesia: Relevansi Kepemimpinan Kritis dalam Konflik Gereja Halmahera
This article attempts to look at church-based conflicts using the Critical Leadership (CL) approach in collaboration with Actor Network Theory (ANT) and finds its relevance for communal life. Using an interdisciplinary approach with qualitative methods, the collaboration of CL and ANT found that all resources of religious organizations in conflict situations are networks of actors whose interactions legitimize power and can also be a path to reconciliation. From the lens of CL and ANT, conflicts that result in dualism in church organizations are seen as both a process and a result of actor interactions and relations during the conflict. Therefore, reconciliation can also be used as a process and a result of the CL and ANT mechanisms which then present policy recommendations such as the intensity of structural actor meetings that can produce joint programs for church members, and can also be a path for institutional unification and reconciliation.Artikel ini berusaha melihat konflik berbasis gereja dengan menggunakan pendekatan Critical Leadership (CL) yang dikolaborasikan dengan Actor Network Theory (ANT) dan menemukan relevansinya bagi kehidupan bersama. Menggunakan pendekatan interdisipliner dengan metode kualitatif, maka kolaborasi CL dan ANT ditemukan bahwa segala sumber daya organisasi agama dalam situasi konflik merupakan jaringan aktor yang dalam interaksinya melegitimasi kekuasaan sekaligus dapat menjadi jalan rekonsiliasi. Dari lensa CL dan ANT, konflik yang mengakibatkan terjadinya dualisme dalam organisasi gereja, dilihat sebagai proses sekaligus hasil dari interaksi dan relasi aktor saat konflik berlangsung. Karena itu, rekonsiliasi juga dapat dijadikan proses sekaligus hasil dari mekanisme CL dan ANT yang kemudian menghadirkan rekomendasi kebijakan seperti intensitas pertemuan aktor struktural yang dapat menghasilkan program bersama bagi warga gereja, sekaligus dapat menjadi jalan bagi penyatuan dan rekonsiliasi kelembagaan