E-Jurnal Universitas Muhammadiyah Palembang
Not a member yet
3618 research outputs found
Sort by
KEPEMIMPINAN ALI BIN ABI THALIB DAN PENERAPAN TAHKIM DALAM PENYELESAIAN KONFLIK: ANALISIS KASUS PERTEMPURAN SIFFIN DENGAN PENDEKATAN HUKUM EMPIRIS DAN PERSPEKTIF ISLAM
Abstrak. Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib merupakan periode penting dalam sejarah Islam, terutama sebagai Khalifah keempat setelah periode kepemimpinan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.[1] Ali bin Abi Thalib dikenal dengan kepemimpinannya yang penuh upaya mempertahankan keadilan dan menyelesaikan konflik secara damai. Salah satu peristiwa penting pada masa kepemimpinannya adalah Pertempuran Siffin pada tahun 657 Masehi, yang merupakan konflik besar antara pasukan yang loyal kepada Ali dan pasukan yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Syria. Setelah berlangsungnya Pertempuran Siffin,[2] kedua belah pihak mengalami banyak korban dan situasi menjadi semakin tegang. Untuk menghindari lebih banyak pertumpahan darah di antara umat Muslim, Ali mengajukan usulan arbitrase (tahkim) kepada Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menyelesaikan konflik secara damai.[3] Tahkim pada masa Ali bin Abi Thalib melibatkan konteks yang kompleks dan penting dalam sejarah Islam awal, dan dianggap sebagai alternatif yang lebih baik daripada melanjutkan pertempuran yang merusak persatuan umat Islam. Dalam menangani perselisihan di antara umat Islam pada masanya, Ali memandang arbitrase sebagai mekanisme utama untuk menyelesaikan konflik antara pihak-pihak yang berselisih, mencerminkan pentingnya hukum dan penegakan keadilan dalam pemerintahannya. Proses arbitrase ini kemudian dipandu oleh para ahli hukum dan ulama dari kedua pihak untuk mencapai penyelesaian yang adil dan diterima oleh kedua belah pihak. Dengan demikian, tahkim pada masa Ali bin Abi Thalib tidak hanya menjadi mekanisme formal untuk menyelesaikan perselisihan, tetapi juga mencerminkan kebijaksanaan politik dan keadilan yang dimiliki oleh Ali dalam mengelola konflik-konflik internal umat Islam pada masanya. Penggunaan arbitrase oleh Ali tidak hanya menjadi contoh bagaimana hukum Islam diterapkan untuk menyelesaikan konflik, tetapi juga menunjukkan komitmen beliau terhadap nilai-nilai keadilan, penegakan hukum, dan perdamaian dalam pemerintahannya sebagai Khalifah. Latar belakang ini menunjukkan pentingnya tahkim pada masa Ali bin Abi Thalib sebagai bagian integral dari sejarah peradaban Islam awal dan relevansinya dalam konteks sejarah, sosial, dan politik saat itu.Kata Kunci: Ali bin Abi Thalib, Kepemimpinan, Pertempuran Siffin, Tahkim, Arbitrase, Keadilan, Hukum Islam, Penyelesaian Konflik, Sejarah Islam, Stabilitas Umat. Abstract. Ali bin Abi Talib's leadership was an important period in Islamic history, especially as the fourth Caliph after the leadership of Abu Bakar, Umar bin Khattab, and Uthman bin Affan. Ali bin Abi Talib is known for his leadership which is full of efforts to maintain justice and resolve conflicts peacefully. One of the important events during his leadership was the Battle of Siffin in 657 AD, which was a major conflict between troops loyal to Ali and troops led by Muawiyah bin Abu Sufyan, the governor of Syria. After the Battle of Siffin, both sides suffered heavy casualties and the situation became increasingly tense. To avoid more bloodshed among Muslims, Ali submitted a proposal for arbitration (tahkim) to Muawiyah bin Abu Sufyan to resolve the conflict peacefully. Tahkim during the time of Ali bin Abi Talib involved a complex and important context in early Islamic history, and was considered a better alternative than continuing fighting that damaged the unity of the Muslim community. In dealing with disputes between Muslims in his time, Ali viewed arbitration as the main mechanism for resolving conflicts between disputing parties, reflecting the importance of law and upholding justice in his government. This arbitration process is then guided by legal experts and clerics from both parties to reach a resolution that is fair and acceptable to both parties. Thus, tahkim during Ali bin Abi Talib's time was not only a formal mechanism for resolving disputes, but also reflected Ali's political wisdom and justice in managing internal conflicts among Muslims during his time. Ali's use of arbitration is not only an example of how Islamic law is applied to resolve conflicts, but also shows his commitment to the values of justice, law enforcement and peace in his reign as Caliph. This background shows the importance of tahkim during the time of Ali bin Abi Talib as an integral part of the history of early Islamic civilization and its relevance in the historical, social and political context of that time.Keywords: Ali bin Abi Talib, Leadership, Battle of Siffin, Tahkim, Arbitration, Justice, Islamic Law, Conflict Resolution, Islamic History, Stability of the Ummah.[1] https://ejournal.unhasy.ac.id/index.php/el-islam/article/download/761/614[2] https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/07/110000579/perang-shiffin--penyebab-kronologi-dan-dampak?page=all[3] http://repository.uin-suska.ac.id/10373/1/Arbitrase%20Menjadi%20Penyebab%20Timbulnya%20Sekte%20dalam%20Islam.pd
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PENYIDIK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PENGGELAPAN BARANG BUKTI HASIL KEJAHATAN BERUPA NARKOTIKA
Abstrak. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Pasal 1 tentang Narkotika, pengertian narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang tersebut. Narkoba tidak hanya dapat merusak bangsa namun juga para pengedar dan penegak hukum, contohnya seperti yang dilakukan para reserse narkoba selaku penyidik kasus narkotika yang dijadikan tersangka atas kasus penggelapan barang bukti narkotika 200gram jenis shabu.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses penyidikan terhadap penyidik yang melakukan tindak pidana penggelapan barang bukti hasil kejahatan berupa narkotika dan pertanggungjawaban pidana terhadap penyidik yang melakukan tindak pidana penggelapan barang bukti hasil kejahatan tersebut. Jenis hukum yang dilakukan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Adapun bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier dengan pengumpulan bahan penelitian berupa bahan-bahan hukum bersifat normatif dilakukan dengan cara penelusuran, pengumpulan, dan studi dokumen baik secara konvensional maupun menggunakan tekhnologi informasi.Berdasarkan kasus penyimpangan yang dilakukan reserse narkoba selaku penyidik kasus narkotika yang dijadikan tersangka atas kasus penggelapan barang bukti narkotika 200gram jenis shabu, menurut AIPTU Arizal Gumay Propam Polresta Palembang, menyatakan bahwa proses penyidikan yang dilakukan terhadap penyidik tetap dilakukan baik menyangkut pidananya, pelanggaran disiplin Polri maupun pelanggaran kode etik profesi polri yang tercantum dalam pasal 17. Oleh karena itu diharapkan kepada aparat penegak hukum dapat menerapkan sanksi pidana terhadap penyidik yang melakukan penggelapan barang bukti hasil kejahatan berupa narkotika. Kata Kunci : UU No.35 Tahun 2009 Pasal 1 tentang Narkotika, Penegak Hukum Abstract. According to Law Number 35 of 2009 Article 1 concerning Narcotics, the definition of narcotics is a substance or drug derived from plants or non-plants, whether synthetic or semi-synthetic which can cause a decrease or change in consciousness, loss of taste, reduce or eliminate pain, and can creates dependency, which is differentiated into categories as attached in the Law. Drugs can not only damage the nation but also dealers and law enforcers, for example, drug investigators as narcotics case investigators were made suspects in the case of embezzling evidence of 200 grams of methamphetamine.The purpose of this research is to determine the process of investigating investigators who commit the criminal act of embezzling evidence of the proceeds of crime in the form of narcotics and the criminal responsibility of investigators who commit the criminal act of embezzling evidence of the proceeds of the crime. The type of law carried out is normative juridical with a statutory approach and a conceptual approach. The legal materials used in this research are secondary data consisting of primary, secondary and tertiary legal materials. The collection of research materials in the form of normative legal materials is carried out by searching, collecting and studying documents both conventionally and using information technology.Based on the case of irregularities committed by the narcotics investigator as a narcotics case investigator who was made a suspect in the case of embezzlement of 200 grams of narcotics evidence of the type of methamphetamine, according to AIPTU Arizal Gumay Propam Polresta Palembang, stated that the investigation process carried out against investigators was still being carried out regarding the crime, violations of police discipline and violation of the National Police's professional code of ethics as stated in article 17. Therefore, it is hoped that law enforcement officials can apply criminal sanctions against investigators who embezzle evidence of the proceeds of crime in the form of narcotics. Keywords: Law No.35 of 2009 Article 1 concerning Narcotics, Law Enforcemen
HUBUNGAN DERAJAT MEROKOK DENGAN KOMORBIDITAS PPOK DI RSU CUT MEUTIA ACEH UTARA
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan kondisi yang menunjukkan ciri-ciri dan keterbatasan pada saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel. PPOK termasuk dalam kategori penyakit tidak menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Meningkatnya paparan faktor risiko diduga terkait dengan peningkatan kasus PPOK. Konsumsi rokok merupakan salah satu faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian PPOK. Perilaku merokok yang tinggi di masyarakat Aceh utara pada segala usia ini yang kemungkinan berpengaruh terhadap tingginya kejadian PPOK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan derajat merokok dengan komorbiditas PPOK di RSU Cut Meutia Kabupaten Aceh utara tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik terhadap 91 sampel yang berusia >18 tahun yang diambil secara purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari derajat merokok menggunakan rumus indeks brinkman serta kategori komorbiditas PPOK. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah kategori PPOK tanpa komorbid dengan derajat merokok berat sebesar 73,9%. Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi square menunjukkan p value > 0,05. Terdapat derajat merokok yang berat pada kedua jenis komorbiditas PPOK sehingga hasil dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat merokok dengan komorbiditas PPOK di RSU Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara Tahun 202
Wellness Program on Weight Loss, Fasting Blood Sugar and Cholesterol Levels in Workers
The wellness program is a health program that can be used to prevent non-communicable diseases in company workers. Obesity and high blood sugar can be predictors of diabetes mellitus. High cholesterol levels in workers can cause other complications such as heart disease or even stroke which can reduce performance.The aim of this study was to assess changes in body weight, fasting blood sugar levels, and cholesterol before and after the wellness program. In this study, the sample used was workers at PT Pertamina Refinery Unit III Plaju who had taken part in a wellness program. The research period took place from January to July 2023. Sample collection used a total sampling technique with a retrospective cohort design. Body weight, fasting blood sugar and cholesterol levels were measured on workers before and after implementing the wellness program. After data collection was carried out, the bivariate data was analyzed using the Wilcoxon test with the SPSS program. This study found that there was a significant difference between body weight with a p-value of 0.000 and a p-value of 0.000 for cholesterol levels before and after the wellness program. There was no significant difference between fasting blood sugar levels before and after the wellness program with a p-value of 0.783. Wellness programs can reduce body weight and cholesterol levels in workers
HIGH FLOW AND LOW FLOW FREQUENCY ANALYSIS OF CIKAPUNDUNG RIVER
Climate change that occurs in Indonesia, especially in the upstream and middle Citarum areas is marked by changes in rainfall. In addition to the phenomenon of climate change, an increase in the number of people that occur in an area will have an impact on land cover changes that will affect river flow, so the dominant parameters that cause changes in the flow between changes in rainfall and land cover changes need to be reviewed. This study aims to determine the effect of changes in rainfall and land cover changes on flood discharge and the shift of flow duration curve. The author chose 4 SUH methods, namely SUH Nakayasu, SUH Soil Conservation Service (SCS), SUH ITB-1 and SUH Snyder-Alexejev to analyze high flow, and 2 methods, namely the F.J. Mock and NRECA methods to analyze low flow. The results of the research analysis are land changes that occur does not have a major impact on changes in the value of runoff coefficient, flood discharge analysis for Cikapundung-Pasirluyu sub-watersheds found that changes in flood discharge are dominated by changes in rainfall
Analisa Kuat Penerangan Lampu Penerangan Jalan Pada Fly Over Jakabaring Palembang
Sistem penerangan buatan merupakan pencahayaan yang sengaja dibuat untuk menerangi tempat yang gelap pada saat malam hari maupun siang hari, bila saat penerangan alami tidak memungkinkan untuk menerangi tempat tersebut. Salah satu tempat yang memerlukan sistem penerangan yang sesuai dengan standar pencahayaan adalah fly over. Penelitian dilaksanakan pada Fly Over Jakabaring Palembang, dan metode yang digunakan adalah dengan menentukan kuat penerangan pada suatu titik bidang kerja yang terdapat sumber penerangan yang menerangi titik tersebut melalui pengukuran dan perhitungan kuat penerangan. Dari hasil pengukuran, kuat penerangan rata-rata lampu penerangan jalan adalah 30,3 Lux, dan kuat penerangan rata-rata tersebut belum memenuhi standar yang direkomendasikan SNI 7391:2008 yaitu 20 - 25 Lux. Kemudian dari hasil pengukuran, kemerataan lampu penerangan jalan adalah 0,32, dan kemerataan tersebut belum memenuhi standar yang direkomendasikan SNI 7391:2008 yaitu 0,20. Dari hasil perhitungan, kuat penerangan rata-rata lampu penerangan jalan adalah 22,14 Lux, dan kuat penerangan rata-rata tersebut memenuhi standar yang direkomendasikan SNI 7391:2008 yaitu 20 - 25 Lux. Kemudian hasil perhitungan, kemerataan lampu penerangan jalan adalah 0,34, dan kemerataan tersebut belum memenuhi standar yang direkomendasikan SNI 7391:2008 yaitu 0,20
Upaya Melawan Stereotip dengan Membangun Minat Matematika Menggunakan Strategi Inovatif Untuk Anak Sekolah Dasar Di SD Negeri 05 Pemulutan
Gender stereotypes in mathematics education have long been a concern in the field of education. Although empirical evidence shows that there are no inherent differences in mathematical abilities between boys and girls, these stereotypes persist in culture and society. The impact is particularly significant, especially on elementary school children, who tend to have low interest and confidence in mathematics. However, innovative strategies such as the Problem Solving approach can address these stereotypes and help build strong interest and skills in mathematics. Through observation and evaluation, it was found that the implementation of innovative strategies has a significant positive impact on students' interest and achievement in mathematics. Therefore, continuous efforts to combat stereotypes, foster interest in mathematics, and implement innovative strategies are crucial in creating a supportive learning environment that advances students' mathematical abilitie
PENGARUH INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN JERUK SIAM (Citrus nobilis var. Macrocarpa) YANG TERSERANG CVPD
Jeruk siam (Citrus nobilis var. Microcarpa) merupakan salah satu jenis jeruk yang potensial dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu penyakit jeruk siam yang dapat menurunkan produktivitas serta kualitas adalah CVPD karena penyebarannya yang cepat. Peneltian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon selang waktu pemberian pupuk cair terhadap pertumbuhan tanaman jeruk siam (Citrus nobilisvar. Macrocarpa) yang terserang CVPD. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak 8 kali, dengan perlakuan yang terdiri dari 1 kali semprot pada awal penelitian (S0), 10 hari sekali (S1) dan 30 hari sekali (S2). Hasil penelitian menunjukkan interval waktu penyemprotan 10 hari sekali (S1) terindentifikasi mampu meningkatkan pertumbuhan jeruk siam sebagaimana direpresentasikan melalui panjang daun, lebar daun, lingkar cabang dan klorofil daun. Kesimpulannya interval waktu tersebut direkomendasikan dalam pemberian pupuk cair untuk memicu pertumbuhan jeruk siam yang terserang CVPD. Siamese orange (Citrus nobilis var. Microcarpa) is one of the potential citrus varieties and is widely cultivated in Indonesia. One of the Siamese orange diseases that infects citrus plants and threatens global citrus production and quality is CVPD due to its rapid spread. This research aimed to evaluate the response time interval for application liquid fertilizer to the growth of Siamese oranges (Citrus nobilisvar. Macrocarpa) infected with CVPD. The experiment was arranged based on Randomized Block Design (RBD) was repeated 8 times, with treatments consist of one time spray at the beginning of the research (S0), once-every 10 days (S1) and once-every 30 days (S2). The results showed that spraying interval of once-every 10 days (S1) was identified being able to increase the growth of Siamese oranges as represented by leaf length, leaf width, branch circumference and leaf chlorophyll. To conclude, this time interval is recommended for application liquid fertilizer to stimulate the growth of Siamese oranges infected by CVP
PENDAPATAN USAHATANI PORANG DENGAN POLA TANAM MONOKULTUR DAN TUMPANG SARI DI KECAMATAN SUNGAI LILIN KABUPATEN MUSI BANYUASIN (STUDI KASUS USAHATANI PORANG BAPAK SUMARNO)
ABSTRACTThe aim of this research is to analyze how porang farming is managed with monoculture and intercropping cropping patterns and to analyze how income differs from porang farming with monoculture and intercropping cropping patterns in Sungai Lilin District, Musi Banyuasin Regency. The research method used in this research is the case study method. The sampling method that will be used in this research uses a purposive sampling technique. The respondent in this study was 1 respondent. The data collection methods used were observation, interviews and documentation. The data processing methods used are editing, coding and tabulating. The data analysis method used is descriptive with a quantitative approach. The research results show that porang farming management with intercropping and monoculture patterns is basically the same, there are only differences in the land used. Based on the assessment of the weight of porang farming management scores for monoculture and intercropping patterns, which consists of: 1) Technical and non-technical implementation has a weight score of 120 for monoculture patterns and a weight score of 140 for intercropping patterns. 2) Technical implementation has a weight score of 335 for monoculture and a weight score of 260 for intercropping patterns, and 3) Farming evaluation has a weight score of 69 for monoculture patterns and a weight score of 69 for intercropping. Based on the score weight assessment, it can be concluded that the three managements of porang farming in monoculture and intercropping patterns have criteria in the moderate management category. The income from porang farming with a monoculture pattern after conversion is IDR. 2,037,333/Ha/MT while the income from intercropping after conversion is Rp. 39,843,333/Ha/MT. So the difference in income between intercropping and monoculture farming patterns after conversion per hectare is IDR. 37,806,000/Ha/MT. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana manajemen usahatani porang dengan pola tanam monokultur dan tumpang sari dan untuk menganalisis bagaimana perbedaan pendapatan usahatani porang dengan pola tanam monokultur dan tumpang sari di Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Metode penarikan contoh yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini adalah 1 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode pengolahan data yang digunakan adalah editing, coding dan tabulating. Metode analisis data yang digunakan adalah Deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa manajemen usahatani porang dengan pola tumpangsari dan monokultur pada dasarnya sama saja, hanya terdapat perbedaan pada lahan yang digunakan. Berdasarkan penilaian bobot skor manajemen usahatani porang pola monokultur dan tumpangsari yang terdiri dari : 1) Pelaksanaan teknis dan non teknis mempunyai bobot skor 120 pola monokultur dan bobot skor 140 pada pola tumpangsari. 2) Teknis pelaksanaan mempunyai bobot skor 335 monokultur dan bobot skor 260 pada pola tumpangsari, dan 3) Evaluasi usahatani mempunyai bobot skor 69 pola monokultur dan bobot skor 69 untuk tumpangsari. Berdasarkan penilaian bobot skor dapat disimpulkan ketiga manajeman pengelolaan usahatani porang pada pola monokultur dan tumpangsari mempunyai kriteria dalam katagori pengelolaan sedang. Pendapatan usahatani porang dengan pola monokultur setelah dikonversi adalah sebesar Rp. 2.037.333/Ha/MT sedangkan pendapatan pada tumpangsari setelah dikonversi adalah sebesar Rp. 39.843.333/Ha/MT. Sehingga perbedaan pendapatan pada usahatani dengan pola tumpangasari dan monokultur setelah dikonversi per hektar adalah sebesar Rp. 37.806.000/Ha/MT.
PENGARUH SISTEM INFORMASI AKUNTANSI, PENGENDALIAN INTERNAL DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG
This study, titled "The Influence of Accounting Information Systems, Internal Control, and Utilization of Information Technology on the Quality of Financial Reports at PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang", uses a quantitative method, with data sources obtained from primary data. This research data was collected through distributing questionnaires directly to employees. The population in this study were all employees of PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang. The samples were taken using purposive sampling, so the number of samples in this study was 75 PT employees. Pupuk Sriwidjaja Palembang. The data analysis techniques used in this study include outer model testing, inner model testing, and hypothesis testing using Structural Equation Modeling (SmartPLS SEM) version 4 software. The results of the study show that, partially, accounting information systems have a positive and significant effect on the quality of financial reports, internal control has a positive and significant effect on the quality of financial reports, and the utilization of information technology has a positive and significant effect on the quality of financial reports