Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    ANALISIS WACANA KRITIS NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK: PENDEKATAN MODEL FAIRCLOUGH (Critical Discourse Analysis of Negeri di Ujung Tanduk Novel: Fairclough Model Approach)

    No full text
    A novel is a type of literary work created as an author's response to the context of his environment. This study aims to describe the textual level, the level of discourse practice, and the level of sociocultural practice in the Negeri di Ujung Tanduk Novel. This study used a descriptive qualitative approach. The source of data in this study is the novel Negeri di Ujung Tanduk by Tere Liye. The data obtained were analyzed using Fairclough's model of critical discourse analysis theory. Based on research, the following three things are known. First, the theme raised in this novel depicts power, ideology, and social norms in discourse. Second, based on the level of discourse practice, it is known that there is an interpretation of the text and context to the discourse. Third, based on the level of sociocultural practice, it is known that there is an external context that accompanies the discourse of the novel which includes three things, namely the situation dimension, the institutional dimension, and the social dimension.   Novel merupakan jenis karya sastra yang dibuat sebagai respons pengarang atas konteks lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan level tekstual, level praktik kewacanaan, dan level praktik sosiokultural pada novel Negeri di Ujung Tanduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teori analisis wacana kritis model Fairclough. Berdasarkan penelitian diketahui tiga hal berikut. Pertama, yaitu tema yang diangkat dalam novel ini gambaran kekuasaan, ideologi, dan norma sosial dalam wacana. Kedua, berdasarkan level praktik kewacanaan diketahui adanya interpretasi teks dan konteks terhadap wacana. Ketiga, berdasarkan level praktik sosiokultural diketahui adanya konteks luar yang mengiringi wacana novel tersebut yang meliputi tiga hal, yaitu dimensi situasi, dimensi institusi, dan dimensi sosial.

    Kategori Emosi Tokoh Utama dalam Novel Rajapati di Pananjung Karya Ahmad Bakri: Kajian Psikologi Sastra

    Get PDF
    This research aims to describe the emotion category of the main character in the novel Rajapati di Pananjung by Ahmad Bakri using David Krech’s theory of emotional categories through a literary psychology approach. The method used in this research is descriptive  with content analysis technique. The result of this study describe David Krech’s categorisation theory on Yoyo as the main character.  Using this categorisation theory as a theoretical basis in dissecting the categorisation of Yoyo as the main character in this novel. The result of the analysis show the classification of emotions described by the author, one of which is through Yoyo as the main charcate. Thus, Krech’s categorisation of emotions can provide an overview and prove the truth of this thoughts through the category of emotions. This research is expected to provide an understanding of David Krech’s basic categorisation that can be used in dissecting the category of emotions in the novel Rajapati di Pananjung by Ahmad Bakri. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan kategori emoasi tokoh utama dalam novel Rajapati di Pananjung karya Ahmad Bakri dengan menggunakan teori kategori emosi oleh David Krech melalui pendekatan psikologi sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini mendeskripsikan teori kategorisasi David Krech pada Yoyo sebagai tokoh utama. Menggunakan teori kategorisasi ini sebagai dasar teori dalam membedah kategorisasi Yoyo sebagai tokoh utama dalam novel ini. Dari hasil analisis tersebut memperlihatkan klasifikasi emosi yang digambarkan oleh pengarang salah satunya melalui Yoyo sebagai tokoh utama. Sehingga, kategorisasi emosi yang dikemukakan Krech dapat memberikan gambaran dan membuktikan kebenaran pemikirannya melalui kategori emosi. Penelitian ini diharapakan dapat memberikan pemahaman tentang kategorisasi dasar David Krech yang dapat digunakan dalam membedah kategori emosi dalam novel Rajapati di Pananjung karya Ahmad Bakri

    Reconciling Conflicts of Canadian Racism Through Hegemony of Papal Apologies: Perspectives from Critical Discourse Analysis

    Get PDF
    Apology is one of expressive speech acts aims to erase the wound. Speech texts, uttered by most influential people, has transactional function to emphasize the content of the apology as speech act itself. Pope’s apology is considered a significant moment to reconcile societal conflicts, especially indigenous Canadians. The strategy used by Pope in his apology was considered successful, because it received a positive response from the victim's family. This study describes Pope Francis' apology strategy to Indigenous Canadians using the CDA model presented by van Dijk and Foucault and the theory of apology strategy proposed by Trosborg. The data are taken from the speech transcripts derived from official websites and analyzed usik content analysis. Through the description of apology strategies, it can bea concluded that Pope Francis used direct and indirect strategies that show his effort to erase the racism issues in society. This also shown how hegemony handles the main role to overcome the issues of racism that has raised by the media. It is hoped to be investigated further to get more explanation of language roles to reconcile the conflicts. AbstrakPermintaan maaf merupakan salah satu tindak tutur ekspresif yang bertujuan untuk menghapus luka. Teks tutur yang dituturkan oleh orang-orang yang paling berpengaruh memiliki fungsi transaksional untuk menekankan isi permintaan maaf sebagai tindak tutur itu sendiri. Permintaan maaf Paus dianggap sebagai momen penting untuk mendamaikan konflik masyarakat, khususnya masyarakat adat Kanada. Strategi yang digunakan Paus dalam permintaan maafnya dinilai berhasil, karena mendapat tanggapan positif dari keluarga korban. Penelitian ini menguraikan strategi permintaan maaf Paus Fransiskus kepada masyarakat adat Kanada dengan menggunakan model CDA yang dikemukakan oleh van Dijk dan Foucault serta teori strategi permintaan maaf yang dikemukakan oleh Trosborg. Data diambil dari transkrip tuturan yang diperoleh dari situs web resmi dan dianalisis menggunakan analisis isi. Melalui uraian strategi permintaan maaf, dapat disimpulkan bahwa Paus Fransiskus menggunakan strategi langsung dan tidak langsung yang menunjukkan upayanya untuk menghapus isu rasisme di masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bagaimana hegemoni memegang peranan utama untuk mengatasi isu rasisme yang diangkat oleh media. Diharapkan dapat diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang peran bahasa untuk mendamaikan konflik tersebut

    Struktur Diksi dalam Penamaan Rumah Makan Pedas di Malang Raya

    No full text
    Potential consumers' interest in food is not only through taste but also the uniqueness of the place of origin or restaurant. One form of uniqueness is the naming of the restaurant. The use of word choices (diction) in naming restaurants varies, especially the use of spicy elements. In 2022, 246 restaurants in Malang will label place names and dishes with spicy taglines and their derivatives. Therefore, this research aims to analyze (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; (2) the specific structure of naming spicy restaurants in Malang Raya; and (3) spicy associations. Qualitative descriptions were used as a design framework in this research. The research data is in linguistic units in the names of spicy restaurants in Greater Malang. Data is in the form of words and sentences. There are seven procedures carried out for this research, including providing core data with five analysis steps: direct observation, textualization, developing analysis columns, segmentation, thematization, propositionalization, and data reduction stages. The following five steps include the process of (1) elaborating, (2) interpreting, (3) summarizing, (4) concluding, and (5) drawing suggestions. Based on these steps, the results were found: (1) the general structure of naming spicy restaurants in Malang, the most common and widely used, is the cooking element (essential ingredients) and the spicy element or spicy identity; (2) the unique structure for naming spicy restaurants in Malang Raya consists of product name, mention of restaurant identity, cuisine (essential ingredients), place (address), processing method, spicy elements, owner's name, spicy identity and additional information; (3) The choice of words (diction) in the spicy identity element uses references, namely creatures, body elements, humans, animals and objects, traits, verbs and circumstances or adverbs. AbstrakKetertarikan calon konsumen terhadap makanan tidak hanya melalui rasa, namun juga keunikan dari tempat asal atau rumah makan tersebut. Salah satu bentuk keunikan tersebut adalah penamaan rumah makan. Penggunaan pilihan kata (diksi) dalam penamaan rumah makan memiliki ragam yang bervariasi, terlebih pada penggunaan unsur pedas dalam penamaan rumah makan. Tahun 2022, tercatat 246 rumah makan di kota Malang yang melabeli nama tempat dan olahan dengan tagline pedas dan turunannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya; dan (3) asosiasi pedas. Deskripsi kualitatif digunakan sebagai kerangka desain dalam riset ini.  Data penelitian berupa satuan kebahasaan pada nama-nama rumah makan pedas di Malang raya. Data berupa kata dan kalimat. Terdapat tujuh prosedur yang dilakukan untuk penelitian ini meliputi penyediaan data inti dengan lima langkah analisisnya, yakni pengamatan langsung, tekstualisasi, mengembangkan kolom analisis, memberikan segmentasi, tematisasi, proposisionalisasi, serta tahapan reduksi data. Lima Langkah berikutnya mencakup proses (1) penguaraian, (2) penafsiran, (3) perangkuman, (4) penyimpulan, dan (5) penarikan saran. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, ditemukan hasil: (1) struktur umum penamaan rumah makan pedas di Malang raya paling umum dan banyak digunakan adalah unsur masakan (bahan dasar) dan unsur pedas atau asosiasi pedas; (2) struktur khusus penamaan rumah makan pedas di Malang Raya terdiri dari nama produk, penyebutan identitas rumah makan, masakan (bahan dasar), tempat (alamat), cara mengolah, unsur pedas, nama pemilik, asosiasi pedas dan keterangan tambahan; (3) Pemilihan kata (diksi) di dalam unsur asosiasi pedas menggunakan acuan, yaitu Makhluk, unsur tubuh, manusia, hewan,  dan benda, sifat, kata kerja, dan keadaan atau adverbia.  

    TOPONYMIY OF THE HISTORICAL MOSQUE NAME IN SOUTH KALIMANTANTOPONYMY OF THE HISTORICAL MOSQUES’ NAMES IN SOUTH KALIMANTAN (Toponimi Nama Masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menelisik toponimi asal-usul nama masjid bersejarah di Kalimantan Selatan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer doperoleh dari tuturan atau cerita dari tatuha kampung dan tokoh masyarakat yang telah dipilih. Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan kajian toponimi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat. Analisis data dilakukan dengan tahap-tahap mengklasifikasikan nama-nama masjid bersejarah berdasarkan deskripsi toponiminya, yakni aspek perwujudan, kemasyarakatan, dan kebudayaan. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Hasil nama-nama masjid bersejarah terdiri atas (1) aspek perwujudan, yakni (a) penamaan berdasarkan nama tumbuhan atau flora dan (b) penamaan berdasarkan rupa bumi; (2) aspek kemasyarakatan, yakni (a) penamaan berdasarkan tokoh dan (b) penamaan berdasarkan nilai-nilai sosial; dan (3) aspek kebudayaan, yakni berkaitan dengan mitos masyarakat setempat. Hasil penelitian ini berkontribusi dalam pendokumentasian toponimi nama-nama masjid bersejarah di Kalimantan Selatan. Melalui penelitian toponimi asal-usul nama masjid bersejarah diperoleh pengetahuan dan kearifan lokal di Kalimantan Selatan. Penelitian ini juga menjadi sarana pewarisan kebudayaan kepada generasi selanjutnya terhadap kebudayaan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur, nilai filosofi, dan sejarah. This study is aimed at exploring the toponyms of historical mosque-origin names in South Kalimantan. The research method is descriptive qualitative. The data sources are primary and secondary. Primary data were obtained from speeches or stories from village elders and community leaders. Secondary data were obtained from official documents and previous studies. The data collection technique was carried out using read-and-note method. Data analysis was carried out by classifying the names of historic mosques based on their toponyms descriptions, namely aspects of embodiment, social, and cultural. The data analysis was presented using informal methods. The results of study show that the names of historic mosques consist of (1) embodiment aspects, namely naming based on (a) the names of plants or flora and (b) earth topographical relief ; (2) social aspects, namely (a) naming based on figures and (b) naming based on social values; and (3) the cultural aspect, which is related to the myths of the local community. The results contribute to toponymy documentation of the historic mosques’ names in South Kalimantan. Through the study, knowledge and local wisdom of historical mosque name origin are obtained. It is also a means of transmitting culture to the next generation of local culture which has noble values, philosophical values, and history

    Diskriminasi Tokoh Utama dalam Novel Lebih Senyap dari Bisikan Karya Andina Dwi Fatma: Kajian Feminisme Liberal

    No full text
    The novel Silent Than a Whisper tells about household life which is full of ups and downs facing problems related to having a baby. The aims of this research are (1) to describe the form of discrimination of the main character in the novel More Silent than a Whisper by Andina Dwifatma, and (2) to describe the factors that cause discrimination of the main character in the novel More Silence than a Whisper by Andina Dwifatma. This study uses a qualitative descriptive method with a mimetic literature research approach. The data in this study are in the form of monologues, dialogues, and narratives in Andina Dwifatma's novel More Silence than a Whisper. The data source is the novel Silent Than a Whisper by Andina Dwifatma with 155 pages thick. The data collection technique uses the note-taking technique, namely by reading the novel repeatedly, coding the text according to the instrument, and classifying the data according to the problem under study. The research results showed that Amara experienced forms of gender discrimination, namely marginalization, stereotyped views, violence and double burdens. In addition, there are factors that cause discrimination of the main character in the novel Silent and Whispered by Andina Dwifatma, namely socio-cultural factors, reproductive factors, and economic factors. AbstrakNovel Lebih Senyap dari Bisikan menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku menghadapi permasalahan terkait momongan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk diskriminasi tokoh utama pada novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian sastra mimetik. Data dalam penelitian ini berupa monolog, dialog, dan narasi yang terdapat dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Sumber data berupa novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma dengan tebal 155 halaman. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat, yaitu dengan membaca novel secara berulang, memberi kode pada teks sesuai instrumen, dan melakukan klasifikasi data sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian diperoleh Amara mengalami bentuk diskriminasi gender yakni marginalisasi, pandangan stereotip, kekerasan dan beban ganda. Selain itu terdapat adanya faktor-faktor yang menyebabkan diskriminasi tokoh utama dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma yakni faktor sosial budaya, faktor reproduksi, dan faktor ekonomi

    Perubahan Ekologi dan Pergeseran Bahasa Melayu di Pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

    No full text
    This research aims to describe the changes in the natural, physical, and social environment that occur in society and their influence on language. This research method uses a qualitative descriptive method. The data in this study are the speeches of speakers and community leaders regarding ecological and language changes in the Malay community in Riam Panjang, Kapuas Hulu. Data collection techniques were obtained through field observations, interviews, and documentation studies. The data analysis technique uses an ethnographic record analysis model by grouping thematically based on research objectives. After grouping, the data were described and interpreted, then concluded according to the focus of this research. The results of this study show that the natural, physical, and social environment has changed dramatically in the last three decades. The construction of the Southern Crossing Road linking Kapuas Hulu-Sintang (and Pontianak) and Malaysia in the northern crossing was a pivotal point of change. The population's relationship with the outside world has become more intense, while the relationship with the forest, fields, and rivers has become tenuous. The Malay language has shifted. The vocabulary of farming, games, rivers, fish and fishing gear, and river transportation has been abandoned. On the other hand, the previously monolingual society became a multilingual society. This research shows that changes in the natural and social environment greatly affect the shift in community language use. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan lingkungan alam, fisik, dan sosial yang terjadi dalam masyarakat dan pengaruhnya terhadap bahasa. Metode penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini tuturan penutur dan tokoh masyarakat berkenaan dengan perubahan ekologi dan bahasa dalam masyarakat Melayu di Riam Panjang, Kapuas Hulu. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis catatan etnografi dengan mengelompokkan secara tematik berdasarkan tujuan penelitian. Setelah dikelompokkan, selanjutnya data dideskripsikan dan diinterpretasikan, lalu disimpulkan sesuai fokus penelitian ini. Hasil penelitian ini memperlihatkan perubahan lingkungan alam, fisik, dan sosial terjadi drastis dalam tiga dekade terakhir ini. Pembangunan Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Kapuas Hulu-Sintang (dan Pontianak) serta Malaysia di lintas utara merupakan titik anjak perubahan. Hubungan penduduk dengan dunia luar semakin intens, sedangkan hubungan dengan hutan, ladang, dan sungai menjadi renggang. Bahasa Melayu mengalami pergeseran. Kosa kata perladangan, permainan, sungai, ikan dan alat tangkap, pengangkutan sungai telah ditinggalkan. Pada sisi lain, masyarakat yang sebelumnya monolingual menjadi masyarakat multilingual. Penelitian ini menunjukkan perubahan lingkungan alam dan sosial sangat memengaruhi pergeseran pemakaian bahasa masyarakat

    CITRA MASKULINITAS NEGATIF DALAM NOVEL DI TANAH LADA KARYA ZIGGY ZEZSYAZEOVIENNAZABRIZKIE

    Get PDF
    Masculinity can not only be found in novels, but is often encountered in everyday life. Examining this novel through a masculinity approach can reveal the form of masculinity depicted in the novel Di Tanah Lada. The aim of this research is to describe negative forms of masculinity in the novel Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie which is analyzed based on Bourdie's theory regarding depictions of masculinity such as the social construction of the body, the incorporation of domination, symbolic violence, women in the symbolic wealth economy, virility and violence. It is hoped that the benefits of this research can be a source of reading reference as well as a contribution to the field of literary studies, especially masculinity.The method used by the author in this research is a qualitative descriptive research method. The data collection technique in this research was carried out by reading and taking notes using data analysis techniques which went through three stages, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the research show that there are 10 data in the novel Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie which reflect the negative masculinity image of the character Papa who has a temperamental nature, uses power for bad things, does not respect women, often commits violence and insults, is not a good husband in a family and There is data that shows inequality in men because of existing masculinity, namely the idea that a man cannot cry

    DISFEMISME DALAM KOMENTAR INSTAGRAM PERNYATAAN KOMINFO PADA HACKER: “KALAU BISA, JANGAN MENYERANG”

    No full text
    Disfemisme adalah kata kasar yang digunakan oleh seseorang untuk menghina objek yang dituju. Objek yang dituju oleh masyarakat untuk mengutarakan disfemisme kali ini adalah kominfo. Masyarakat pengguna instagram sangat frustasi dan emosi, disebabkan oleh pernyataan miring dari kominfo kepada hacker yaitu “kalau bisa jangan menyerang”. Jenis penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian komentar dalam media sosial instagram berkaitan dengan pernyataan Kominfo kepada Hacker. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Metode analisis menggunakan metode agih. Teknik analisis menggunakan teknik bagi unsur langsung dan menggunakan teknik ganti dan teknik lesap. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan 8 tipe disfemisme. (1)Istilah tabu yang bertujuan untuk menyakiti, mengejek, dan menghina. (2) Makian dan serapah cabul. (3) Perbandingan Manusia dengan hewan yang memiliki sifat atau perilaku tertentu (negatif). (4)  Julukan yang berkaitan dengan kecacatan fisik. (5) Julukan yang berkaitan dengan abnormalitas psikis atau mental. (6) Istilah berkaitan dengan organ tubuh yang ditabukan, efluvia tubuh (bau atau sekresi), dan perilaku seksual. (7) Julukan yang menunjukkan rasa tidak hormat. 8) Istilah yang dipinjam dari bahasa lain.

    KEBERAGAMAN CERITA RAKYAT DI KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR

    No full text
    AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan keberagaman sastra daerah dalam bentuk cerita rakyat sebagai penunjang muatan lokal di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tujuan praktisnya penelitian ini dapat memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas pada anak didik agar memiliki keperdulian yang memadai dalam mendokumentasikan dan melestarikan kembali sastra daerah tersebut sehingga tidak mengalami kepunahan. Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah mengemas keberagaman  cerita rakyat Kutai ke arah yang lebih menarik sebagai bahan bacaan penunjang muatan lokal di  Kutai Kartanegara, baik berbasis sekolah maupun komunitas tutur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan teori yang digunakan adalah folklore. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk menguraikan keragaman  bentuk cerita rakyat di Kutai Kartanegara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ketiga belas  cerita rakyat dalam kajian ini merupakan bentuk inventarisasi dan revitalisasi sastra daerah yang ada di Kutai Kartanegara, (2) Cerita rakyat tersebut berkaitan erat dengan pengaruh sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura baik hubungan perdagangan, penyebaran agama, ekonomi, politik, sosial, adat istiadat maupun tradisi budaya dalam bentuk sastra lisan (mitos, lengenda, dan dongeng), dan (3)  Keragaman cerita rakyat tersebut dapat menjadi bahan penunjang muatan lokal agar keberadaan sastra daerah di Kutai Kartanegara dapat dipertahankan. Kata kunci: cerita, sastra, daerah, muatan, sekolah AbstractThe study aims to describe the diverse literary areas in the form of folklore as support of local payload in kutai kartanaku, east kalimantan. The practical purposes of this study can provide learners with adequate care in documenting and represerving the literature of the kutai region so as not to be wiped out. The focus of this study is to pack kutai's diverse folklore in a more interesting direction as local content reading materials in Kutai Kartanegara, both school-based and speech community. The study uses qualitative methods, while the theory used is folklore. Descriptive analysis techniques are used to describe the diversity of forms of folklore in the Kutai Kartanegara. The results of this study suggest that (1) The thirteenth of the folklore in the study was an inventory and revitalization of the regional literature of Kutai Kartanegara, (2) The folklore is closely associated with the influence of the history of the kingdom of Kutai Kartanegara Ing Martadipura, both commerce, propagation of religion, economics, politics, social, customs and cultural traditions in the form of oral literature (mythology, lengenda, and fairy tales), and (3) Kutai's folklore has a diversity and diversity of content according to the need for local stock supplies so that the presence of the kutai region's literature can be documented and reappeared before the public, mainly students and teachers. Therefore, the literature of the area is maintained. Key words: story, literature, area, charge, school 

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇