Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Gagasan Perlawanan Pramoedya Ananta Toer terhadap Revolusi: Analisis Fakta Kemanusiaan dalam Novel Larasati

    Get PDF
    This research aims to reveal Pramoedya Ananta Toer's ideas of resistance to the revolution through the novel Larasati. To achieve this goal, this research uses a qualitative descriptive method with a genetic structuralism approach emphasizing human facts. The object and data source of this research is the novel Larasati by Pramoedya Ananta Toer. The data collection technique used in this research is the library technique. Genetic structuralism research is considered a dialectical method. This method is based on a circular hermeneutic circle, meaning that research can be conducted anywhere. The results of this research show that the formation of literary works is strongly influenced by the social structure and ideas of the author. The humanitarian facts obtained from the author are social humanitarian facts, Pramoedya's role as part of the Badan Keamanan Rakyat (BKR), and humanitarian facts in the form of political activities, Pramoedya represents groups of people who were oppressed by the corruption that occurred during the revolution. Pramoedya represents a group of artists and community groups in fighting for revolution in Indonesia, which is demonstrated through his work, Larasati. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gagasan perlawanan Pramoedya Ananta Toer terhadap revolusi melalui novel Larasati. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan strukturalisme genetik yang menekankan pada fakta kemanusiaan. Objek dan sumber data dari penelitian ini adalah novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka. Penelitian strukturalisme genetik dianggap sebagai metode dialektik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pembentukan karya sastra sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dan gagasan pengarang. Fakta kemanusian yang didapatkan dari pengarang adalah fakta kemanusiaan bersifat sosial, peran Pramoedya sebagai bagian dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan fakta kemanusiaan berupa aktivitas politik, Pramoedya mewakili kelompok masyarakat yang tertindas atas korupsi yang terjadi pada masa revolusi. Hal yang menjadi temuan dalam penelitian ini adalah, peran pengarang Pramoedya mewakili kelompok seniman dan kelompok masyarakatnya dalam memperjuangkan revolusi di Indonesia, yang mana ditunjukkan melalui karyanya yaitu Larasati. Pengarang memiliki pengaruh terhadap gagasan atau ideologi yang menjadi representasi karya sastranya. Pada novel Larasati, Pram menjadikannya alat gagasan perlawanan terhadap penjajah di masa revolusi Indonesia

    Menilik Isu Lingkungan dan Kelestarian Alam dalam UU IKN melalui Linguistik Korpus

    Get PDF
    This study aims to analyze and determine the extent to which environmental issues and natural sustainability are accommodated in Law no. 3 of 2022 concerning IKN using a corpus linguistics approach. The data collected in this research is the complete text of Law no. 3 of 2022 concerning IKN, which covers the entire text of the law, including preambles, articles and attachments consisting of 1,099 tokens and reaching 8,653 word frequencies. This research utilizes the use of tools, namely AantConc version 4.2. The analysis techniques applied are word frequency analysis, keywords, concordance, and N-grams. The results of the findings and analysis of statistical data related to vocabulary on environmental topics show that there is no significance in environmental topics that are facilitated in the contents of Law No. 3 of 2023, especially regulations related to law enforcement against environmental violations. The only keyword that appeared in the first hundred hits was the word 'environment' and it was ranked 78th, far below the words 'authority' and 'government' which were in the top ten area, and development-related keywords which were in the top ten, ranked 20th to 30th. Other keywords related to natural sustainability were found in ranks 200th to 800th, out of a total of 1,099 existing tokens. It shows that environmental and sustainability issues are not discussed in a sufficient proportion since their occurrence is significantly fewer than the frequency of the other keywords related to government and development.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui sejauh mana isu lingkungan dan kelestarian alam diakomodasi di dalam UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN dengan menggunakan pendekatan linguistik korpus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah teks lengkap dari UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN, yang mencakup seluruh naskah undang-undang, termasuk preambule, pasal-pasal, dan lampiran yang terdiri atas 1.099 token dan mencapai 8.653 frekuensi kata. Penelitian ini memanfaatkan penggunaan alat bantu, yaitu AntConc versi 4.2. Teknik analisis yang diterapkan adalah analisis frekuensi kata, kata kunci, konkordasi, dan N-gram. Hasil temuan dan analisis data statistik terkait kosa kata dengan topik lingkungan menunjukkan bahwa tidak ditemukan signifikasi topik lingkungan yang terfasilitasi dalam isi Undang-undang No.3 Tahun 2023, khususnya peratutan terkait penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Satu-satunya kata kunci yang muncul di seratus hits pertama hanyalah kata ‘lingkungan’ dan berada di peringkat ke-78, jauh di bawah kata ‘otorita’ dan ‘pemerintahan’ yang berada di area sepuluh besar, dan kata kunci terkait pembangunan yang berada di peringkat 20 sampai 30. Kata kunci terkait kelestarian alam lainnya ditemukan pada peringkat ke-200 hingga ke-800, dari total 1.099 token yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan kelestarian alam tidak banyak dibahas dalam UU IKN karena jumlah kemunculannya tidak sebesar kata-kata kunci lain yang terkait dengan pemerintahan dan pembangunan

    REPRESENTASI SIKAP PEJABAT PEMERINTAH PUSAT TERKAIT KONTROVERSI PONDOK PESANTREN AL ZAYTUN: KAJIAN ANALISIS WACANA KRITIS (Representation of The Central Government Officials Attitude Regarding The Controversy of Al Zaytun Islamic Boarding School: A Critical Discourse Analysis Study)

    Get PDF
    The mass media employs various methods to influence and direct the public towards perspectives that align with their own interests. This research aims to uncover the attitudes of central government officials regarding the controversy surrounding Al Zaytun Islamic Boarding School. This study is a critical qualitative descriptive research. The data consists of linguistic data, including vocabulary, modality, metaphors, and sentences that represent the attitudes of central government officials. The source of the data is kompas.com. Data collection was carried out using the observation method, analyzing 9 news texts published between June 15 and August 31, 2023. Data analysis used Norman Fairclough's CDA theory, divided into three dimensions: textual analysis, discourse practice, and sociocultural practice. The results of this study indicate that in the textual analysis dimension, kompas.com represented central government officials as cautious, indecisive, uncertain, subjective, hesitant, and slow in responding to the case at Al Zaytun, but firm in protecting the existence of the boarding school. In the discourse practice dimension, it was found that kompas.com aims to shape public opinion that Al Zaytun should not be dissolved. As for the sociocultural practice dimension, the news coverage related to the controversy of Al Zaytun cannot be separated from situational, institutional, and social contexts.  Media massa melakukan berbagai cara dalam memengaruhi dan mengarahkan publik pada perspektif yang sejalan dengan kepentingan media itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sikap pejabat pemerintah pusat terkait kontroversi Ponpes Al Zaytun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif kritis. Data penelitian ini berupa data lingual yang terdiri atas kosakata, modalitas, metafora, dan kalimat yang merepresentasikan sikap pejabat pemerintah pusat. Sumber data penelitian ini berasal dari kompas.com. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan mengambil sembilan teks berita yang terbit antara 15 Juni–31 Agustus 2023. Analisis data menggunakan teori AWK model Norman Fairclough yang dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu analisis tekstual, praktik kewacanaan, dan praktik sosiokultural. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada analisis tekstual, kompas.com merepresentasikan pejabat pemerintah pusat dengan sikap kehati-hatian, tidak tegas, tidak pasti, subjektif, ragu-ragu, dan lamban dalam merespons kasus di Al Zaytun, tetapi tegas dalam melindungi eksistensi ponpes tersebut. Pada dimensi praktik kewacanaan, diketahui bahwa kompas.com ingin membentuk pandangan masyarakat bahwa Ponpes Al Zaytun tidak perlu dibubarkan. Adapun pada dimensi praktik sosiokultural, pemberitaan yang menyangkut kontroversi Ponpes Al Zaytun tidak terlepas dari konteks situasional, institusional, dan sosial.

    Harmoni dan Konflik: Eksplorasi Isu Lingkungan Cagar Alam Novel Kekal Karya Jalu Kencana

    No full text
    The urgency of preserving nature reserves lies in protecting the flora and fauna within them and maintaining the balance of the wider environment. This research aims to examine ecological issues in the novel Kekal by Jalu Kancana using Greg Garrard's ecocritical approach. The qualitative descriptive method was applied to analyze the nature reserve phenomenon in the novel Kekal by Jalu Kancana, published by Mojok in 2019, with 252 pages. Data collection techniques will be carried out through library research, allowing the extraction of relevant data directly from the novel text. The data analysis technique used is an interactive model. The findings show six ecocritical aspects in the novel: pollution, wilderness, disaster, settlement, animals, and earth. Based on the results of the analysis, the tendency of ecological aspects that appear in the novel Kekal, namely settlement issues amounting to 12.20%, forest destruction issues at 9.16%, animal extinction at 8.95%, disasters at 6.90%, pollution at 5.13%, and earth/global warming amounted to 4.89%. The problem of dense settlements in urban to rural areas has the highest percentage of coverage, which shows that this novel significantly describes or discusses settlements. For policymakers, the findings of this research highlight the urgency of environmental protection. They can be used as a basis for designing more effective policies to overcome housing problems, forest conservation, animal protection, deforestation problems, and anticipating disasters in Indonesia.AbstrakUrgensi pelestarian cagar alam tidak hanya terletak pada perlindungan flora dan fauna yang ada di dalamnya, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan lingkungan yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan mengkaji isu-isu ekologi cagar alam dalam novel Kekal karya Jalu Kancana dengan menggunakan pendekatan ekokritik Greg Garrard. Metode deskriptif kualitatif diterapkan untuk menganalisis fenomena cagar alam dalam novel Kekal karya Jalu Kancana, yang diterbitkan oleh Mojok pada tahun 2019 dengan total 252 halaman. Teknik pengumpulan data akan dilakukan melalui studi pustaka, memungkinkan ekstraksi data yang relevan langsung dari teks novel. Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif. Temuan menunjukkan bahwa terdapat enam aspek ekokritik dalam novel tersebut, yaitu polusi, hutan belantara, bencana, pemukiman, binatang, dan bumi. Berdasarkan hasil analisis, kecenderungan aspek ekologi yang muncul dalam novel Kekal, yakni isu pemukiman berjumlah 12,20%, kerusakan hutan 9,16%, hewan 8,95%, bencana 6,90%, polusi 5,13%, dan bumi berjumlah 4,89%. Masalah pemukiman di wilayah perkotaan hingga pedesaan memiliki presentase cakupan tertinggi yang menunjukkan bahwa novel ini secara signifikan menggambarkan atau membahas tentang pemukiman. Temuan penelitian ini menyoroti urgensi perlindungan lingkungan dan dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kebijakan yang lebih efektif dalam mengatasi masalah pemukiman, pelestarian hutan, perlindungan hewan, dan mengatasi masalah deforestasi, serta antisipasi bencana di Indonesia

    A Translation Analysis of Kahlil Gibran’s “The Broken Wings” to “Sayap-Sayap Patah” by Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq

    No full text
    This research analyzes the translation between two translators in translating Kahlil Gibran’s work entitled “The Broken Wings” into ‘Sayap-Sayap Patah”. This research is descriptive qualitative. The analysis shows that the two translators have different styles of translating. The first translator, Sapardi Djoko Damono, chose a more formal and direct style in his translation, while the second translator, M. Ruslan Shiddieq, tended to use a more expressive style and prioritized artistic impressions. Sapardi Djoko Damono maintained fidelity to the original text by translating it literally, while M. Ruslan Shiddieq carried out free interpretation and created more metaphorical and creative sentences. These differences in approach result in translations that have different nuances and expressions, reflecting the translator's style and preferences. Despite their differences, both translators, Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq, effectively convey the essence of Kahlil Gibran's "The Broken Wings" in Indonesian, albeit through distinct stylistic lenses. To be a proficient translator of literary works, one must possess a mastery of both the source and target languages, a deep understanding of literature, a keen sense of aesthetics, and a strong sense of literature. Literature with its emotional depth and linguistic beauty resonates deeply with readers Skilled translators like Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq bring forth its lyrical and profound qualities in their translations. Overall, the translation of literary works requires not only linguistic proficiency but also creative skill and cultural sensitivity. Each translator brings their unique style and approach, shaping the reader's experience of the translated work. As readers, we can appreciate and explore the diverse interpretations offered by different translations, enriching our understanding and enjoyment of literature in translation. AbstrakPenelitian ini menganalisis penerjemahan antara dua orang penerjemah dalam menerjemahkan karya Kahlil Gibran yang berjudul “The Broken Wings” ke dalam ‘Sayap-Sayap Patah’. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua penerjemah mempunyai gaya penerjemahan yang berbeda. Penerjemah pertama, Sapardi Djoko Damono, memilih gaya yang lebih formal dan langsung dalam penerjemahannya, sedangkan penerjemah kedua, M. Ruslan Shiddieq, cenderung menggunakan gaya yang lebih ekspresif dan mengutamakan kesan artistik. Sapardi Djoko Damono menjaga kesetiaan pada teks aslinya dengan menerjemahkannya secara harfiah, sedangkan M. Ruslan Shiddieq melakukan interpretasi bebas dan menciptakan kalimat yang lebih metaforis dan kreatif. Perbedaan pendekatan ini menghasilkan terjemahan yang mempunyai nuansa dan ekspresi berbeda yang mencerminkan gaya dan preferensi penerjemah. Meski berbeda, kedua penerjemah, Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq efektif menyampaikan esensi “Sayap Patah” karya Kahlil Gibran dalam bahasa Indonesia, meski melalui lensa stilistika yang berbeda. Untuk menjadi seorang penerjemah karya sastra yang mahir, seseorang harus memiliki penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran, pemahaman yang mendalam tentang sastra, rasa estetika yang tajam, dan rasa sastra yang kuat. Sastra dengan kedalaman emosional dan keindahan linguistiknya sangat disukai pembaca. Penerjemah terampil seperti Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq menonjolkan kualitas liris dan mendalam dalam terjemahannya. Secara keseluruhan, penerjemahan karya sastra tidak hanya memerlukan kemahiran linguistik tetapi juga keterampilan kreatif dan kepekaan budaya. Setiap penerjemah menghadirkan gaya dan pendekatan uniknya masing-masing, yang membentuk pengalaman pembaca terhadap karya terjemahan. Sebagai pembaca, kita dapat mengapresiasi dan mengeksplorasi beragam penafsiran yang ditawarkan oleh berbagai terjemahan sehingga memperkaya pemahaman dan kenikmatan kita terhadap karya sastra dalam terjemahan

    Indonesian Language Teachers' Skills to Write Academic Articles in Reputable Journals

    No full text
    Teachers are fundamentally required to have pedagogical, personality, social, and professional competencies. One of their continuing professional competencies is to conduct academic publications. This study aims to explore academic publications in journals conducted by Indonesian language subject teachers at the high school level in Three Regions of Cirebon and the factors affecting them. The data were obtained by interviewing 138 out of 152 teachers because some school principals did not allow the interview and no permission letter from the National Unity and Political Agency, especially in Cirebon City. The interview results show that 35% of teachers have never published in Academic journals. This condition is partly due to the following factors: a) time, b) the purpose of the journal, c) lack of confidence, d) difficulty in researching online, e) age approaching retirement, f) technology stuttering, g) not accustomed to writing, h) lack of motivation, i) need approval from the supervisor, j) lack of knowledge on how to create an article, k) there is no demand and l) availability of funds. Therefore, there needs to be efforts from several parties, especially the school community. For example, the Subject Teacher Conference (MGMP) activities can also be utilized to introduce and familiarize teachers with Academic publications. School principals provide facilities for teachers to be able to conduct academic publications. AbstrakGuru pada dasarnya dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Salah satu kompetensi profesional berkelanjutan mereka adalah melakukan publikasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui publikasi akademik pada jurnal yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMA di Wilayah III Cirebon dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data diperoleh dengan mewawancarai 138 dari 152 guru karena beberapa kepala sekolah tidak mengizinkan wawancara dan tidak ada surat izin dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik khususnya di Kota Cirebon. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 35% guru belum pernah mempublikasikan di jurnal Akademik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor berikut: a) waktu, b) tujuan jurnal, c) kurang percaya diri, d) kesulitan melakukan riset online, e) usia mendekati pensiun, f) gagap teknologi, g) belum terbiasa untuk menulis, h) kurangnya motivasi, i) perlu persetujuan dosen pembimbing, j) kurangnya pengetahuan tentang cara membuat artikel, k) tidak ada permintaan dan l) ketersediaan dana. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dari beberapa pihak khususnya warga sekolah. Misalnya saja kegiatan Konferensi Guru Mata Pelajaran (MGMP) juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan dan membiasakan guru terhadap publikasi Akademik. Kepala sekolah memberikan fasilitas kepada guru untuk dapat melakukan publikasi akademi

    Mengungkap Ideologi Humanisme melalui Analisis Transitivitas Pada Pidato Aksi Bela Palestina Anies Baswedan

    No full text
    This research aims to examine the representation of humanism ideology in Anies Baswedan's speech at the Palestine Solidarity Action using a transitivity analysis approach in systemic functional linguistics. The research data consists of the speech text delivered by Anies Baswedan on November 5, 2023. Data collection was conducted using recording and note-taking techniques. The speech text was transcribed to ensure data accuracy. The analysis is conducted by identifying types of transitivity processes and interpreting the meanings and ideologies contained within them. The results of the research indicate that Anies Baswedan's speech is dominated by material processes, which construct the Palestine Solidarity Action as a tangible movement and concrete participation. Mental processes are used to build solidarity and empathy, while relational processes affirm ideological principles such as independence as a fundamental right. Verbal processes represent efforts to voice the movement's aspirations and demand justice, while behavioral and existential processes construct the audience as witnesses and active participants. Transitivity analysis reveals the manifestation of humanism ideology, emphasizing respect for human dignity, opposition to oppression, and a call to uphold justice for the Palestinian people. This research contributes to the understanding of language use in representing ideology within the context of social movements in Indonesia. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi ideologi humanisme dalam pidato Anies Baswedan pada Aksi Bela Palestina dengan menggunakan pendekatan analisis transitivitas dalam linguistik sistemik fungsional. Data penelitian berupa teks pidato yang disampaikan oleh Anies Baswedan pada tanggal 5 November 2023. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi jenis-jenis proses transitivitas dan menginterpretasikan makna serta ideologi yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidato Anies Baswedan didominasi oleh proses material yang mengonstruksikan gerakan Aksi Bela Palestina sebagai aksi nyata dan partisipasi konkret. Proses mental digunakan untuk membangun solidaritas dan empati, sementara proses relasional menegaskan prinsip-prinsip ideologis seperti kemerdekaan sebagai hak asasi. Proses verbal merepresentasikan upaya menyuarakan aspirasi gerakan dan menuntut keadilan, sedangkan proses behavioral dan eksistensial mengonstruksikan audiens sebagai saksi dan partisipan nyata. Analisis transitivitas mengungkapkan manifestasi ideologi humanisme yang menekankan penghargaan terhadap martabat manusia, penentangan penindasan, dan seruan untuk menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang penggunaan bahasa untuk merepresentasikan ideologi dalam konteks gerakan sosial di Indonesia

    MASKULINITAS PEREMPUAN DI BAWAH BAYANG-BAYANG FEMININ DALAM CERITA RAKYAT I MARABINTANG (Women Masculinity of the Feminine Shadow in the I Marabintang Folklore)

    No full text
    Female Masculinity under the Shadow of Femininity in the Folktale of I Marabintang. The problem in this study is how is the nature of female masculinity under the shadow of femininity in the folklore of I Marabintang? This research aims to describe the masculinity of women in the folklore of I Marabintang. This research is a qualitative research with descriptive analysis method. The approach used in this research is a feminist approach using the concept of masculine and feminine theory. The data in this research is the folklore of I Marabintang which was booked by the Center for Language Development and Development of the Ministry of Education and Culture Jakarta in 1999. The result of this research is that the forms of masculinity in women are illustrated physically, psychologically, behaviorally, and in action. The conclusion of this research is that masculinity and femininity in women can be said to always go hand in hand. Masculine women are always overshadowed by the feminine side, and feminine women can also bring out the masculine side dominantly because of a demand. This condition makes the three female characters in the folklore I Marabintang as androgynous. Maskulinitas Perempuan di Bawah Bayang-Bayang Feminin dalam Cerita rakyat I Marabintang. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sifat maskulinitas perempuan yang berada di bawah bayang-bayang feminitas dalam cerita rakyat I Marabintang? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan maskulinitas perempuan dalam cerita rakyat I Marabintang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan feminisme menggunakan konsep teori maskulin dan feminin. Data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat I Marabintang yang dibukukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada tahun 1999. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa bentuk-bentuk maskulinitas pada perempuan diilustrasikan secara fisik, psikis, prilaku, dan tindakan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa maskulinitas dan feminitas pada perempuan dapat dikatakan selalu beriringan. Perempuan maskulin selalu dibayangi sisi feminin dan perempuan feminin dapat memunculkan sisi maskulin pula secara dominan karena adanya sebuah tuntutan. Kondisi tersebut menjadikan ketiga tokoh perempuan dalam cerita rakyat I Marabintang sebagai androgini

    IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN REVITALISASI BAHASA KENYAH BERBASIS KOMUNITAS DI SAMARINDA DAN KUTAI KARTANEGARA

    No full text
    AbstrakSaat ini bahasa Kenyah sudah mengalami penurunan atau ketergerusan penutur di kalangan generasi muda. Perlu usaha dan aksi nyata untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa Kenyah agar tidak terancam punah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model pembelajaran revitalisasi bahasa Kenyah berbasis komunitas di Samarinda dan Kutai Kartanegara.  Teknik pengumpulan data, yaitu dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Adapun teknik analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif yang terdiri atas tiga komponen analisis, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh hasil sebagai berikut. (1) Model pembelajaran revitalisasi bahasa Kenyah diimplementasikan secara fleksibel dan sederhana, tetapi menarik bagi anak-anak. Anak-anak diberikan kebebasan atau keleluasaan untuk belajar materi revitalisasi bahasa Kenyah. Anak-anak juga ada kemandirian belajar karena keterbatasan pengajar atau pelatihnya. (2) Teknik yang digunakan dalam pembelajaran materi revitalisasi bahasa Kenyah, antara lain dengan (a) pemberian contoh atau pemodelan, (b) dril atau latihan yang diulang-ulang, (c) teknik menghafal, (d) diskusi, dan (e) praktik tampil.Kata kunci: implementasi, model pembelajaran, revitalisasi, bahasa Kenyah, berbasis komunita

    TRANSFORMASI BAHASA DI ERA SOCIETY 5.0: BAHASA GAUL DAN PEMERTAHANAN BAHASA

    No full text
    Abstrak Perkembangan teknologi di era society 5.0 berkembang sangat pesat. Perkembangan teknologi yang digunakan dalam interaksi sosial pada media sosial mempengaruhi perubahan bahasa. Penggunaan bahasa gaul sebagai bentuk interaksi sosial pada media sosial TikTok mempengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Diperlukan adanya usaha yang strategis dalam mempertahankan Bahasa Indonesia yang mulai tergerus oleh bahasa gaul. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jenis bahasa gaul dan strategi pemertahanan Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan pustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengamati, mencatat dan membaca berbagai sumber mengenai strategi pemertahanan bahasa. Hasil dari penelitian ini terdapat lima jenis bahasa gaul antara lain: 1) Bahasa Indonesia, 2) bahasa Inggris, 3) bahasa daerah, 4) bahasa Korea, dan 5) bahasa campuran. Sedangkan strategi pemertahanan bahasa yang diperlukan antara lain: 1) pendidikan Bahasa Indonesia, 2) kampanye kesadaran di media sosial, 3) konten edukasi di TikTok, 4) membuat aplikasi edukasi, dan (5) kegiatan komunitas.Kata-kata kunci: Era Society 5.0, Bahasa Gaul, Strategi Pemertahanan Bahasa.  AbstractThe development of technology in the era of Society 5.0 influences language changes. The use of slang as a form of social interaction on the TikTok social media platform affects the proper use of the Indonesian language. This research aims to describe the types, forms of slang, and strategies for preserving the Indonesian language. The method used in this research is descriptive qualitative and literature. Data collection techniques were carried out by observing, taking notes, and reading various sources on language preservation strategies. The results of this research reveal five types of slang from Indonesian, English, regional languages, Korean, and a mixture of languages. Based on their forms, slang can be categorized as: 1) nasalization +s, 2) reversal of phoneme structure, 3) changes in the final syllable with -ay, 4) abbreviation forms, acronyms, fragments, 5) word reversal, and 6) original forms. Meanwhile, language preservation strategies needed include: 1) Indonesian language education, 2) awareness campaigns on social media, 3) educational content on TikTok, 4) creating educational applications, and 5) community activities.Keywords: Society 5.0 Era, Slang Language, Language Maintenance Strategies

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇