Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Gaya Bahasa Pidato Jokowi dalam Pembukaan Annual Meetings Imf-World Bank Group di Bali
This study aims to describe the use of language within President Jokowi's Game of Thrones speech in opening Annual Meetings IMF-World Bank Group. The research method is descriptive qualitative. Data and sources data in the form of speech transcript published in TribunJabar.id. The results of the analysis showed that overall using official language style, mixed codes, medium language, high pitch, anaphoric reps, mesodiplosis reps, long analogies, rhetorical questions, hyperbole, metaphors, fresh humor, antithesis, and climax in closing. In substance and packaging, President Jokowi's speech was so good. The speech was able to amaze the audience. The listeners of the speech will understand better if they also master the Game of Trones reference series. Further research on the language style of President Jokowi's speech in different forums will reveal different language styles according to the forum that was delivered. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dalam pidato Presiden Jokowi Game of Thrones saat pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data dan sumber data berupa transkrip pidato yang dimuat di Tribun Jabar.id. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan menggunakan gaya bahasa resmi, campur kode, bahasa menengah, nada suara tinggi, repetisi anafora, repetisi mesodiplosis, analogi yang panjang, pertanyaan retoris, hiperbol, metafora, humor-humor segar, antitesis, dan klimaks sebagai penutup. Secara substansi dan kemasan, pidato Presiden Jokowi begitu baik. Pidato tersebut mampu memukau hadirin. Bagi pendengar pidato tersebut akan lebih memahami apabila juga menguasai referensi serial Game of Trones. Penelitian lanjutan tentang gaya bahasa pidato Presiden Jokowi dalam forum yang berbeda akan mengungkapkan gaya bahasa yang berbeda sesuai dengan forum yang disampaikan.
KEMAMPUAN SINTAKSIS ANAK TUNA RUNGU: STUDI KASUS EZRA (The Syntactic Ability of A Child with Listening Disability: A Case Study of Ezra)
Bahasa sebagai instrumen komunikasi berperan dalam menyampaikan pesan dari penutur kepada petuturnya. Salah satu faktor yang mendukung lancarnya komunikasi menggunakan bahasa adalah susunan kalimat atau sintaksis yang benar. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan sintaksis Ezra setelah menjalani terapi wicara selama satu tahun. Subyek penelitian adalah seorang anak berusia tujuh tahun dengan gangguan pendengaran berat (kanan 95 dB, kiri 85 dB), bernama Ezra. Data diperoleh dengan cara merekam dan mencatat ujaran-ujaran yang diucapkan Ezra. Data berupa ujaran dianalisis menggunakan teori sintaksis bahasa Indonesia oleh Chaer (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ezra dapat mengungkapkan keinginan, kemampuan, dan kesukaannya menggunakan pola kalimat dasar S+Adverbial+P, S+Adverbial+P+O, dan S+P+O. Dalam mengungkapan aktivitas yang sudah dia lakukan, Ezra menggunakan pola yang terbalik antara predikat dan adverbial “sudah”. Ezra belum bisa merespon pertanyaan dengan benar. Ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan tidak relevan dengan pertanyaan. Dalam mengungkapkan pertanyaan, Ezra cenderung menggunakan kata benda sebagai pengganti kata kerja.Language as an instrument of communication plays a role in conveying messages from speakers to their listeners. One of the factors that support the smooth communication using language is the correct sentence structure or syntax. This paper aims to describe the syntactic abilities of Ezra after undergoing speech therapy for one year. The study subjects were a 7-year-old child with severe hearing loss (right 95 dB, left 85 dB), named Ezra. Data obtained by recording and recording utterances uttered by Ezra. Data in the form of speech are analyzed using the syntactic theory of Indonesian Chaer (2009). The results showed that Ezra could express his desires, abilities, and preferences using basic sentence patterns S + Adverbial + P, S + Adverbial + P + O, and S + P + O. In expressing the activities that he has done, Ezra uses an inverse pattern between predicate and adverbial "sudah". Ezra hasn't been able to respond to questions correctly. This can be seen from the answers given that are not relevant to the question. In expressing the question Ezra tends to use nouns instead of verbs
Refleksi Budaya Lampau Leksikon Kebendaan Peribahasa Banjar: Kajian Etnolinguistik
Peribahasa Banjar merupakan salah satu jenis karya sastra lama yang masih pamiliar dikalangan etnik Banjar. Namun minimnya pengetahuan tentang leksikon kebendaan yang merefleksikan budaya lampau membuat sulitnya memahami maksud dan tujuan penggunaan leksikon kebendaan dalam peribahasa Banjar. Leksikon kebendaan budaya lampau merupakan kata benda yang tertuang dalam peribahasa Banjar yang dapat memberikan gambaran terhadap budaya (kebiasaan) etnik Banjar zaman dahulu atau masa yang sudah lampau. Penelitian ini bertujuan (1) mengkalsifikasikan leksikon kebendaan yang merepleksikan budaya lampau dalam peribahasa Banjar, (2) mendeskripsikan leksikon kebendaan yang merepleksikan budaya lampau dalam peribahasa Banjar. Peneitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data berupa leksikon kebendaan budaya lampau dalam peribahasa Banjar. Data yang dikumpulkan bersumber dari studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) leksikon kebendaan yang merepleksikan budaya lampau dalam peribahasa Banjar meliputi: (a) benda yang digunakan di rumah, (b) benda yang digunakan di sungai, dan (b) benda yang digunakan untuk huma (bercocok tanam). (2) repleksi budaya lampau dalam peribahasa Banjar direalisasikan dalam bentuk kebendaan yang metaforis. Pemataforisan kebendaan ke dalam peribahasa Banjar merupakan wujud dari penggambaran budaya Banjar. Leksikon kebendaan dalam peribahasa Banjar adalah sebagian kecil dari kekayaan bahasa Banjar yang sarat dengan budaya lampau, budaya yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat suku Banjar .Banjar proverb is one of the old literary works that are still familiar in Banjar ethnicity. However, the lack of knowledge about the material lexicon that reflects past culture makes it difficult to understand the purpose or the aim of using material lexicon in Banjar proverbs. The old culture material lexicon is a noun contained in Banjar proverb that can provide an overview of the ethnic culture (customs) of the ancient Banjar or the past. The purposes of this study are (1) to classify the material lexicon that reflects the past culture in Banjar proverb, (2) to describe the material lexicon that reflects the past culture in the Banjar proverb. This research uses a descriptive qualitative method. The data are in the form of a lexicon of past culture material in Banjar proverb. Data are collected from the literature study. The results of this study indicate: (1) material lexicons that reflect a past culture in Banjar proverb include: (a) the objects used at home, (b) the objects used in rivers, and (b) the objects used for farming. (2) cultural reflection of the past in Banjar proverb is realized in the form of metaphorical material. The use of a metaphor of material in Banjar proverb is a form of Banjar cultural depiction. The material lexicon in Banjar proverb is a small part of the wealth of Banjar language which full of past culture, a culture that has already left by Banjar ethnic.
Kearifan Lokal dalam Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo
Parikan Tari Topeng Lengger adalah salah satu sastra lisan yang hidup dan berkembang di komunitas sosial Wonosobo. Penelitain ini akan membahas masalah nilai-nilai kearifan lokal Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. Sastra lisan ini menarik untuk diteliti karena sastra lisan Parikan Tari Topeng Lengger sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal komunitas sosial pemilik cerita yang masih relevan dengan perkembangan zaman serba digital seperti sekarang ini. Selain itu, sepengetahuan peneliti, penelitian tentang hal tersebut belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini menemukan dan mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. Penelitian ini bersifat eksplanasi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kearifan lokal. Secara garis besar nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi lisan tersebut dikategorikan menjadi lima hubungan, yaitu (1) hubungan manusia dengan Tuhan, (2) manusia dengan komunitas sosialnya, (3) manusia dengan alam, dan (4) manusia dengan dirinya sendiri.The Rhymes of Parikan Tari Topeng Lengger is one of the oral literature in Wonosobo. This research will discuss the values of local wisdom in the Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. The study on oral literature is interesting since the Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo has many values of local wisdom of the supporting community, which are still relevant to the current digital era. As long as we know that no other researcher studies on Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. The objective of this study is to find and describe the values of local wisdom in the Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. The researcher uses a descriptive method to analyze the Parikan Tari Topeng Lengger Wonosobo. This is explanatory research. It uses an objective approach. The theory relevant to this research is the local wisdom theory. In short, the category of noble values in the oral tradition has four relations: (1) the relation to God, (2) people and its social community, (3) people to nature, and (4) people to themselves
STRATEGI BUDAYA TOPENG BETAWI: STUDI KASUS NYI MEH, MAESTRO TOPENG BETAWI
Abstrak Topeng Betawi merupakan kesenian tradisional Betawi yang hingga tahun 1970-an sangat terkenal di masyarakat. Pada tahun 2000-an, kesenian ini redup bahkan terancam punah. Masalah penelitian ini adalah bagaimana strategi yang dilakukan seniman topeng Betawi dalam mempertahankan kesenian tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan sejumlah strategi budaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesenian tradisional. Metode penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian lapangan, meliputi wawancara dan observasi lapangan terhadap Nyi Meh, maestro topeng Betawi tahun 1970-an. Penelitian ini merujuk pada teori antropologi budaya yang dikemukakan Koentjaraningrat, Keesing, Malinowski, Ranjabar, Alwasilah, Sendjaja, dan Yunus. Temuan penting penelitian ini adalah idealisme Nyi Meh dalam berkesenian dan melestarikan teater topeng Betawi membawanya pada sejumlah strategi dan sikap dalam menghadapi penghargaan yang tidak memadai dari masyarakat ataupun lembaga pengayom. Hasil penelitian lapangan ini melengkapi tesis Yvone Tri Yoga Hoesodoningsih dan disertasi Ninuk Kleden-Probonegoro mengenai Nyi Meh sebagai kembang (primadona/maestro) topeng Betawi. Kata kunci: topeng Betawi, strategi budaya, pemertahan budaya AbstractBetawi mask is a Betawi traditional art that until the 1970s was very popular in the community. In the 2000s, this art was dim and even threatened with extinction. The problem of this research is how the strategy used by Betawi mask artists in maintaining the art. The purpose of this study is to formulate a number of cultural strategies undertaken to maintain traditional arts. The method of research conducted by the author is field research including interviews and field observations of Nyi Meh, maestro Betawi mask in the 1970s. This research refers to the cultural anthropology theory proposed by Koentjaraningrat, Keesing, Malinowski, Ranjabar, Alwasilah, Sendjaja, and Yunus. An important finding obtained from this research is Nyi Meh's idealism in performing arts and preserving Betawi mask theater led to a number of strategies and attitudes in the face of inadequate appreciation from the public or the protecting institutions. The results of this field study complement the Yvone Tri Yoga Hoesodoningsih thesis and Ninuk Kleden-Probonegoro's dissertation about Nyi Meh as a Betawi mask flower (excellent/maestro). Keywords: Betawi mask, cultural stategy, cultural maintananc
LOKALITAS PUISI-PUISI PENYAIR JAWA TIMUR DALAM KORAN SURABAYA POST
AbstrakTujuan tulisan ini mendeskripsikan lokalitas dalam puisi-puisi penyair Jawa Timur. Kajian ini menggunakan teori stilistika dan dibantu teori hermeneutika. Sumber data tulisan ini adalah puisipuisi karya penyair Jawa Timur yang terdapat dalam Surabaya Post. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar puisi karya penyair Jawa Timur membicangkan lokalitas perkotaan dan perdesaan dengan gaya bahasa sinis, sarkasme, dan metafora. Lokalitas dalam karya Zawawi Imron merupakan lokalitas yang muncul dari alam bawah sadar, sedangkan lokalitas dalam karya penyair lainnya cenderung hasil pengucapan yang disadari.Kata kunci: lokalitas, puisi penyair Jawa Timur, Surabaya Post AbstractThis study aims at describing the locality in the poems of East Java’s poets. It uses stylistic and hermeneutic theories. The source of the data is the poems of East Java‘s poets in Surabaya Post. The result reveals that most of the poems are about the locality in the urban and rural areas by applying cynical, sarcastic, and etaphorical figures of speech. Zawawi Imron’s work shows the locality of the unconcious expressions, while the others are apt to show the result of the conscious expressions.Keywords : local wisdom, poems of East Java’s poets, Surabaya Pos
PERMASALAHAN GENDER DALAM LITERATUR ANAK DALAM NOVEL THE FROG PRINCESS (SANG PUTRI KATAK) KARYA E.D. BAKER
AbstrakNovel The Frog Princess karya E.D. Baker adalah dongeng yang diadaptasi dari dongeng karya Grimm bersaudara yang berjudul The Frog Prince. Tulisan ini mengupas novel The Frog Princess (TFP) tentang permasalahan gender dalam literatur anak dengan melihatnya melalui teori penokohan dan teori gender. Makalah ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk melihat fenomena yang terdapat dalam novel. Novel TFP berusaha melepaskan diri dari stereotip tentang perempuan, tetapi pengarang terjebak pada motif-motif dongeng tradisional pada umumnyasehingga tidak mencerminkan kesetaraan gender, seperti yang terdapat dalam judul novel.Kata kunci: literatur anak, gender, stereotip AbstractThe Frog Princess by E.D. Baker is a fairy tale adapted from the work of the Grimm brothers’ fairy tale “The Frog Prince.” This paper analyzes the novel based on gender issues in children literature using gender and characterization theories. It uses a descriptive qualitative method to find the phenomena in the novel. The novel tries to break away from the women stereotypes, but the author is stuck on the motives of traditional fairy tales in general, so it does not reflect gender equality as contained in the title of the novel.Keywords: children literature, gender, stereotype
CULTURAL DIVERSITY IN BILINGUAL EDUCATION
AbstractBilingual education needs to consider the cultural diversity both on its content and delivery in two languages. The use of mother tongue can facilitate the learners to understand the concept of scientific terms used in other languages. It is noted that bilingual learners are able to develop their metalinguistic skills. They have flexibility in their thinking to process the understanding of words through two different languages. Therefore, this study aims to clarify the concept of language learning integrated to the content. Eurydice presented a concept that there should be a special teaching approach that brought out the learning of non-language subjects taught by and through foreign language.Keywords: bilingual education, cultural diversity, metalinguistic AbstrakPendidikan bilingual harus mempertimbangkan keberagaman budaya pada materi dan cara penyampaiannya dengan menggunakan dua bahasa. Penggunaan bahasa ibu dapat memfasilitasi pembelajar untuk mengerti konsep-konsep ilmiah yang digunakan dalam bahasa lain. Hal yang perlu diperhatikan bahwa pembelajarbilingual mampu mengembangkan kemampuan metalinguistik mereka. Mereka memiliki fleksibilitas untuk memahami kata dalam dua bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk mengklarifikasi konsep dari pembelajaran bahasa yang berintegrasi dengan pembelajaran materi lain (konten). Eurydicemengenalkan konsep bahwa perlu adanya pendekatan pengajaran khusus yang menekankan pada pembelajaran subjek non-bahasa yang diajarkan dengan dan melalui bahasa asing.Kata Kunci: pendidikan bilingual, keberagaman budaya, metalinguisti