Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Akulturasi Budaya dalam Cerpen Hitam Putih Kotaku Karya Rismiyana
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui bentuk-bentuk akulturasi budaya yang terdapat dalam cerpen Hitam Putih Kotaku Karya Rismiyana; 2) untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya akulturasi budaya tersebut? dan 3) untuk mengetahui pandangan Islam terhadap budaya yang lahir dari akulturasi budaya yang terdapat dalam cerpen. Metode yang digunakan dalam menganalisis novel adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa akulturasi yang terjadi dalam cerpen sejatinya adalah akulturasi antara Islam dan kebudayaan Barat. Adapun faktor yang menyebabkan akulturasi adalah hegemoni kebudayaan Barat saat ini dan budaya yang lahir dari hasil akuturasi tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam murni.The aim of this study are: 1) To find out the forms of cultural acculturation found in the Hitam Putih Kotaku short story by Rismiyana; 2) to find out the factors behind the culture acculturation? and 3) to find out the Islamic view of the culture due to cultural acculturation in the short story. The method of analyzing this novel is a qualitative descriptive method with sociology of literature approach. The results of the analysis show that the acculturation in the short story is between Islam and Western culture. The influencing factors on acculturation are the hegemony of current Western culture and the results of acculturation are not entirely in line with the teachings of pure Islam.
Merawat Lagu-lagu Daerah Pagu untuk Pemertahanan Bahasa: Analisis Ekolinguistik
This study explores the maintenance of the Pagu language of North Halmahera by caring for the wealth of its literature such as folksongs. The data examined are three Pagu folksongs. The collected data were categorized and interpreted using ecocriticism and related studies particularly in terms of obtaining, presenting, and analyzing them. Using ecolinguistic perspective to analyze the data, the results show that first, all three songs contain cultural values and customs that show the identity of the Pagu community that have to be maintained. Second, ecolinguistic analysis reveals the emotional closeness of the Pagu community with their natural surroundings although nature is sometimes considered to hinder human journey. Third, in terms of distribution, the songs are influenced by Ternate and other regional languages in North Halmahera. Finally, this study concludes interaction among language users and efforts to care for folk songs should continue to prevent the extinction of the Pagu language. AbstrakPenelitian ini membahas pemertahanan bahasa Pagu yang dipakai oleh suku Pagu di Halmahera Utara dengan cara merawat kekayaan sastra dalam bahasa tersebut berupa lagu-lagu daerah. Metode deskriptif-kualitatif dipakai untuk menganalisis data berupa tiga lagu daerah Pagu dengan perspektif ekolinguistik. Data yang terkumpul dikelompokkan dan diinterpretasikan dengan perspektif teori ekokritik dan kajian serupa yang memanfaatkan analisis ekolinguistik terutama dalam hal memperoleh, menyajikan, dan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ketiga lagu mengandung nilai-nilai budaya dan adat-istiadat yang menunjukkan jatidiri masyarakat Pagu yang harus dipertahankan. Kedua, analisis ekolinguistik membuktikan kedekatan emosi masyarakat Pagu dengan alam sekitarnya meskipun kadang alam dianggap sebagai perintang. Ketiga, lagu-lagu tersebut dipengaruhi oleh bahasa Ternate dan bahasa daerah lainnya di Halmahera Utara. Akhirnya disimpulkan bahwa interaksi antar pengguna bahasa dan perawatan budaya seperti lagu-lagu rakyat perlu ditingkatkan agar kepunahan bahasa Pagu dapat dicegah
Referential Choice in the Written Narratives of Indonesian Adults
This study aims to describe the referential choice of two protagonist animate characters in a silent six-minute film entitled The Pear Story (Chafe, 1980). A total of 80 undergraduate and graduate Indonesian students were asked to watch the film and then retell the story by writing a narrative about the film in Indonesian. Findings indicate that when the protagonist animate referents are mentioned for the first time, a classifier seorang ‘a person’ is always used before the NP. When they are reactivated, they are mostly expressed by zero, pronouns dia or ia ‘he’, clitic –nya ‘his’ or ‘him’, NPs with determiners ini ‘this’, itu ‘that’, tersebut ‘aforementioned’, tadi ‘mentioned before’, NPs with relative clauses and NPs with definite articles si or sang ‘the’ which are often used in fables or tales. This study also demonstrates that the choice of anaphoric expressions of the protagonists is determined by factors such as referential distance and referential interference. This study confirms other cross-linguistic studies about referential choice – that there is a correlation between salience and referring expressions in discourse. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan acuan untuk dua tokoh utama dalam film bisu berdurasi enam menit yang berjudul The Pear Story (Chafe, 1980). Sebanyak 80 mahasiswa Indonesia tingkat Strata 1 dan Pascasarjana di sebuah universitas swasta diminta untuk menonton film tersebut dan kemudian menuliskan narasi mengenai film itu dalam bahasa Indonesia. Data menunjukkan bahwa jika referen kedua tokoh utama tersebut disebutkan untuk pertama kalinya, bentuk leksikal seorang selalu muncul sebelum frasa nomina (FN). Jika referennya diaktifkan kembali, maka yang digunakan adalah zero, pronomina dia atau ia, klitik –nya, FN + ini/itu/tersebut/tadi, FN + klausa relatif, dan si/sang + FN. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pilihan bentuk anaforik untuk kedua tokoh utama itu ditentukan oleh faktor jarak antara referen dan anteseden dan juga oleh adanya interferensi referen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lintas bahasa mengenai pilihan acuan, yaitu bahwa ada korelasi antara referen utama dan bentuk acuannya
Analisis Kesalahan Pengucapan Pada Program Talk Show Di Televisi Indonesia
This study discusses the analysis of pronunciation errors in talk shows that occur in several television stations in Indonesia. The data collected for analysis was to see whether the standard spoken language used in talk shows or not when Speaking in talk shows and the errors found in their talk shows were constructed by their language standards. This research is a phonetic study of Indonesian sounds and pronunciation only. The theoretical framework used in this study is based on error analysis theory such as Corder, Selinker and Richards. It is also based on structural linguistic theories such as those elaborated by Pike and those put forward by Kridalaksana in analyzing sound errors in Indonesian. The design of the research method used in this study is in accordance with the error analysis in analyzing the error data collected from the talk show audience survey at each television station in Indonesia. This research was conducted to analyze the errors of vowels, diphtongs, and consonants. This investigation shows that the errors found in the data are as follows: inter-language errors such as hypercorrection to take advantage of the use of standard languages caused by mother tongues such as Javanese, Batak, and Slang. AbstrakPenelitian ini membahas tentang analisis kesalahan pengucapan pada talkshow yang terjadi di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Data yang dianalisis merupakan data yang digunakan untuk mengetahui apakah bahasa lisan standar digunakan dalam acara bincang-bincang atau tidak dan apakah kesalahan yang ditemukan dalam acara bincang-bincang dipengaruhi oleh bahasa standar yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi fonetik tentang bunyi dan pengucapan bahasa Indonesia. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada teori analisis kesalahan seperti Corder, Selinker, dan Richards. Hal ini juga didasarkan pada teori-teori linguistik struktural seperti yang dielaborasi oleh Pike dan yang dikemukakan oleh Kridalaksana dalam menganalisis kesalahan bunyi bahasa Indonesia. Rancangan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan analisis kesalahan dalam menganalisis data kesalahan yang dikumpulkan dari survei penonton talk show di setiap stasiun televisi di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesalahan bunyi vokal, diftong, dan konsonan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan pada data adalah sebagai berikut: kesalahan antarbahasa seperti hypercorrection untuk menghindari penggunaan bahasa standar yang disebabkan oleh bahasa ibu seperti bahasa Jawa, Batak, dan bahasa gaul
Tingkat Kesantunan Nonverbal dalam Tuturan Verbal antara Penjual dan Pembeli di Pasar Beringharjo Yogyakarta: Kajian Etnopragmatik
The levels of nonverbal politeness in verbal speech acts is an ethnopragmatic study. The research design was descriptive qualitative with ethnopragmatic basic theory. Ethnographic theory is basically a theory commonly used to study the culture of an ethnicity. In further developments, ethnography can be used to study cultural acts, including speech acts in language. Cultural acts in language cannot be separated from the context of language usage. Therefore, this study also involves pragmatic theory. Cultural speech acts can occur in various environments of speech events. This research will examine speech acts that occur in the cultural environment of the Beringharjo market in Yogyakarta when traders and buyers transact with each other. The research objectives are (a) to describe the form of nonverbal politeness used by buyers and sellers in the Beringharjo market, and (b) to describe the factors that influence the level of nonverbal politeness in verbal speech by the seller-buyer. AbstrakTingkat kesantunan nonverbal dalam tindak tutur verbal merupakan kajian etnopragmatik. Desain penelitian adalah deskripsitif kualitatif dengan teori dasar etnopragmatik. Teori etnografi pada dasarnya merupakan teori yang biasa digunakan untuk mengkaji kebudayaan suatu etnis. Dalam perkembangan selanjutnya, etnografi dapat dipakai untuk mengkaji tindak budaya, termasuk tindak tutur berbahasa. Tindak budaya dalam berbahasa tidak dapat dilepaskan dengan konteks pemakaian bahasa. Oleh karena itu, kajian ini juga melibatkan teori pragmatik. Tindak tutur budaya dapat terjadi di berbagai lingkungan peristiwa tutur. Penelitian ini akan mengkaji tindak tutur yang terjadi di lingkungan budaya Pasar Beringharjo Yogyakarta ketika pedagang-pembeli saling bertransaksi. Tujuan penelitiannya adalah (a) mendeskripsikan wujud kesantunan nonverbal yang digunakan oleh penjual-pembeli dan antarpedagang di Pasar Beringharjo, dan (b) mendeskripsikan faktor yang memengaruhi tingkat kesantunan nonverbal dalam tuturan verbal oleh penjual-pembeli
CAMPUR KODE INTERN DAN EKSTERN DALAM TUTURAN PENYIAR ACARA “PAGI-PAGI” DI SOLO RADIO FM 92.9 MHz
Penelitian ini mendeskripsikan tentang wujud campur kode pada tuturan yang dilakukan oleh penyiar Solo RadioFM di kota Surakarta. Tuturan dalam acara “Pagi-Pagi” tersebut terjadi peristiwa campur kode, baik itu campur kode intern maupun campur kode ekstern. Peralihan bahasa yang terjadi, yaitu bahasa inggris dan Jawa. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah siaran radio acara “Pagi-Pagi”yang dilakukan oleh Adis dan Abas sebagai penyiar pada acara tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan faktor penyebab terjadinya campur kode intern dan ekstern pada tuturan penyiar radio acara “Pagi-Pagi” Solo Radio FM. Pengumpulan data, dilakukan melalui teknik rekam, simak dan teknik catat. Kemudian penulis menganalisis jenis dan faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode dengan menggunakan analisis interaktif. Hasil penelitian ini sebagai berikut , pertama adalah bentuk campur kode beserta faktor penyebab terjadinya campur kode. Bentuk-bentuk campur kode yang ditemukan meliptin campur kode intern dan ekstern. Campur kode intern berupa campur kode dari bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa dialek Solo dan campur kode ekstern yang ditemukan berupa campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Datatentang campur kode baik campur kode intern dan campur kode ekstern dalam tuturan penyiar acara “Pagi-Pagi” Solo Radio FM ditemukan 66 peristiwa campur kode, yaitu 33 dalam bentuk kata baik itu campur kode intern dan ekstern, 12 berbentuk Frasa, 5 berbentuk baster, 6 berbentuk pengulangan kata, 10 berbentuk klausa
KORELASI KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN TEKS BERITA DENGAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS BERITA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PADANG
There are three objectives in this study as follows. First, this study describes the reading comprehension skills of the eighth grade students of SMP Negeri 17 Padang. Second, this study describes the writing skills of the eighth grade students of SMP Negeri 17 Padang. Third, this study was to analyze the correlation between reading comprehension skills of the news text and writing skills of the eighth grade students of SMP Negeri 17 Padang. This type of research is descriptive quantitative research. The research design applied in this study is a correlational relationship of two variables. The population in this study were students of class VIII SMP Negeri 17 Padang in the academic year 2019/2020. The samples in this study were 32 students. Samples were taken using simple random sampling or simple random sampling. The research instruments are objective tests and performance tests. Based on data analysis, three results were obtained from this study. First, reading comprehension skills of class VIII students of SMP Negeri 17 Padang with good qualifications with an average score of 81.80. Second, the skills of writing news texts for eighth grade students of SMP Negeri 17 Padang with good qualifications with an average score of 72.30. Third, there is a significant relationship between the relationship between reading comprehension skills and news text writing skills of eighth grade students of SMP Negeri 17 Padang which has a significant level of 95%. Based on the hypothesis test, it is accepted that the skills in writing news texts are also in sufficient qualifications (76-85%). Based on the results of the study, H₀ is rejected and H₁ is accepted because the test results prove that t count is greater than t table, namely 8.01> 1.63
NASKAH MANTRA PENGOBATAN: SUNTINGAN, KRITIK, DAN EDISI TEKS (Manuscript of Medication Mantra: Editing, Criticism, and Text Edition)
Naskah Mantra Pengobatan (MP) merupakan naskah yang memuat pengobatan baik secara herbal ataupun dengan bacaan, mantra, azimat, dan rajah. Naskah MP ini dimiliki secara perorangan oleh Abu Najib di Teluk Selong Martapura, Kalimantan Selatan. Penyalinan dan penyuntingan teks naskah pengobatan harus dilakukan seteliti mungkin sehingga tidak terjadi penambahan atau pengurangan kalimat-kalimat yang disajikannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pada bidang filologi. Data penelitian ini adalah naskah MP yang dimiliki oleh Abu Najib. Penelitian ini membahas suntingan teks dan kritik teks dengan menggunakan edisi standar untuk mendapatkan naskah yang terbebas dari kesalahan dalam penyalinan naskah. Penelitian ini bertujuan menguraikan suntingan teks dan mengulas kesalahan dalam penyalinan naskah terdapat dalam naskah MP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga buah kesalahan yang ditemukan dalam naskah MP berupa lakuna (lacunae), substitusi (substitution), dan adisi. Kesalahan penyalinan dalam naskah MP ini dapat dibagi dua, yaitu kesalahan dalam pengantar pengobatan dan kesalahan dalam isi pengobatan. Kesalahan dalam pengantar pengobatan yang tidak menyebabkan perubahan makna ini berupa substitusi, sedangkan kesalahan dalam isi yang bisa menyebabkan perubahan makna dan menyebabkan hilangnya daya magis mantra berupa lakuna dan adisi. Kesalahan dalam isi ini bisa mengubah makna.Manuscript of Medication (Mantra Pengobatan; MP) is a manuscript containing herbal medication, mantra, spells, amulets, and rajah (tattoo). This manuscript is privately owned by Abu Najib in Teluk Selong, Martapura, South Kalimantan. The medication manuscript must go through careful text copying and editing; it keeps the sentences on the manuscript from addition or omission. This is a qualitative philology study.. The data of this study comes from MP manuscripts owned by Abu najib. This study discusses text editing and criticism by using standard edition to get free of errors in the copying process of the manuscript. The objective of this study is to describe text editing and review errors from the copying process of the text of the MP manuscript. The result shows that there are three kinds of errors found in the MP mansucript, namely, lacunae, substitution, and addition. There are two copy errors of this MP manuscript, namely errors in the introduction part of medication and errors in the content part of medication. Errors in the introduction part of medication that do not change the meaning are in the form of substitution, while errors in content that may change the meaning and make the loss of magical power of mantra are in the form of lacunae and addition. Errors in the content may change the meaning
IKLAN POLITIK DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH BALI 2018: KAJIAN SEMIOTIKA (Political Advertisement of Bali Election: Semiotic Study)
Penggunaan bahasa pada ranah politik sebagai sarana kampanye bertujuan untuk mempromosikan tokoh politik. Bahasa iklan politik biasanya berisi ungkapan dalam bentuk kalimat imperatif dan deklaratif. Selain itu, iklan politik juga menampilkan tanda-tanda nonverbal yang mengandung mitos yang berkembang di dalam masyarakat. Penelitian ini mengungkap masalah makna tanda pada iklan politik Pilkada Bali 2018 melalui kajian semiotika Ronald Barthes. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan secara lugas makna tanda verbal dan nonverbal pada iklan politik pada Pilkada Bali 2018. Metode yang digunakan adalah metode simak dengan didukung oleh teknik rekam dan catat. Kajian ini menemukan bahwa pesan tanda verbal dan konvensi-konvensi yang ditampilkan pada iklan pilkada 2018 yang ditulis oleh berbagai elemen masyarakat, baik sebagai pendukung pasangan calon maupun lembaga formal di Bali pada umumnya memiliki makna yang hampir sama, yakni bertolak dari sosiokultural dan sosioreligius masyarakat Bali pada umumnya, seperti penggunaan BS, BJK, dan aksara Bali yang pada intinya harapan yang ingin dicapai adalah kedamaian dan keharmonisan Bali pada umumnya. Pada sisi yang lain, makna tanda nonverbal dalam bentuk ilustrasi, logo, warna, dan tokoh yang memiliki kekuatan makna masing-masing yang bersumber pada mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat Bali hingga saat ini, seperti tradisi Pengerebongan, warna putih, merah, dan hitam sebagai perlambangan warna dalam Trimurti, serta tokoh pahlawan nasional.The use of language in the political realm as a means of campaigning aims to promote political figures. The language of political advertising usually contains expressions in the form of imperative and declarative sentences. In addition, political advertising also displays nonverbal signs that contain myths that develop in society. This study revealed the problem of the meaning of the sign in the 2018 Bali regional election political advertising through the study of Roland Barthes's semiotics. The aim to be achieved in this research is to describe the meaning of verbal and nonverbal signs in political advertisements explicitly in the 2018 Bali regional election. The method used is the referral method supported by recording and recording techniques. This study found that the verbal signs and conventions displayed in the 2018 regional election advertisement written by various elements of society, both as supporters of the candidate pairs and formal institutions in Bali in general have almost the same meaning, namely from the sociocultural and socioreligious Balinese community in general, such as the use of BS, BJK, and Balinese script which is essentially the hope to be achieved is Balinese peace and harmony in general. On the other hand, the meaning of nonverbal signs in the form of illustrations, logos, colors, and characters who have the power of their respective meanings are based on myths that are still believed by the Balinese to this day, such as the tradition of Pengerebongan, white, red, and black as color symbolization in Trimurti, as well as national hero figures