Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN SALAM SEBAGAI UNGKAPAN SAPAAN DALAM DRAMA SEIGI NO MIKATA DAN OHITORISAMA
Salam merupakan sebuah ungkapan yang dapat digunakan untuk menyapa seseorang. Dalam tuturan masyarakat Jepang, salam sangatlah bervariasi bergantung pada setiap penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis salam, ranah dan faktor penggunaan ungkapan sapaan tersebut. Adapun sumber data yang digunakan ialah dua buah naskah drama berbahasa Jepang berjudul Seigi no mikata dan Ohitorisama. Data tersebut dianalis secara deskriptif kualitatif dengan metode agih, padan referensial, dan padan pragmatis. Teori yang digunakan ialah teori sosiopragmatik, strategi kesantunan Brown dan Levince, power and distance, dan aisatsu ‘salam’. Berdasarkan hasil analisis terdapat 14 jenis salam sebagai ungkapan sapaan, misal: ohayou gozaimasu, konnichiwa, konbanwa, dll. Adapun variasi ungkapan sapaan tersebut, dipengaruhi oleh faktor yang berkaitan dengan lawan tutur, waktu, tempat, dan situasi/peristiwa tutur. Sedangkan strategi kesantunan yang sering digunakan ialah strategi kesantunan langsung tanpa basa-basi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, disimpulkan bahwa adapun variasi salam sebagai ungkapan sapaan dalam bahasa Jepang ialah sangat bergantung dengan adanya situasi dan konteks sebuah tuturan
MEMORIZING PROPAGANDA OF EQUALITY IN NGULANDARA AND KIRTI NDJOENJOENG DRADJAT, NOVELS OF BALAI POESTAKA (Mengingat Kembali Propaganda Kesetaraan dalam Novel-Novel Balai Poestaka, Ngulandara dan Kirti Ndjoenjoeng Dradjat)
Equality of men is a great issue to maintain every country all the time. Indonesia is one of them which should struggle to maintain it so far. Fictional work is one of the aesthetical means to support it. The way of struggle can be memorized through the time of independence era in fictional works of Balai Poestaka publisher. Javanese language novels, Ngulandara and Kirti NdjoendjoengDradjat are two literary works published by BalaiPoestaka that were written in the dominance times of Balai Poestaka activities as commission for people’s reading in Dutch colonial era in Indonesia (Dutch Indies). Kepriyayian (nobility) was the theme of Ngulandara (1936) and Kirti NdjoendjoengDradjat(1924) novels. As seen from propaganda point of view, ideologically the portrayal of priyayi (nobleman) was analogy symbol of Dutch colonial government that ruled social system. Ngulandara and Kirti Njunjung Drajat showed a “struggle” through literary works as portrayed in wong cilik (Javanese: lower class people) who struggled against the existence of the authorities. The struggle emerged in the way of wong cilik behaved intellectually, morally, even mannerly better than the nobles (priyayi). This research used the theory of literature and propaganda using a sociological approach. Those oppositional relationships between deconstruction nobles and the raise of wong cilik in the field of intellectual, moral, and manner show the propaganda of equality of men through the voice of Jasawidagdo and Margana Djajaatmadja.Kesetaraan manusia merupakan isu besar yang harus selalu dijaga di setiap negara. Indonesia adalah salah satu negara yang harus tetap berjuang menjaga isu tersebut. Karya fiksi berfungsi sebagai salah satu peranti estetis untuk mendukung isu tersebut. Cara memperjuangkan isu tersebut ialah dengan mengingat kembali masa kemerdekaan melalui penerbit Balai Poestaka. Novel-novel berbahasa Jawa, Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat ialah dua karya sastra yang diterbitkan oleh Balai Poestaka yang ditulis pada waktu dominasi Balai Poestaka sebagai komisi bacaan rakyat di era kolonial Belanda di Indonesia (Hindia Belanda). Kepriyayian merupakan tema novel Ngulandara (1936) dan Kirti Njoendjoeng Dradjat (1924). Dilihat dari sudut pandang propaganda, penggambaran priyayi merupakan analogi simbol pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa mengatur sistem sosial kemasyarakatan. Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat menunjukkan sebuah “perjuangan” melalui karya sastra seperti digambarkan melalui wong cilik yang berjuang melawan kemapanan penguasa. Perjuangan tersebut muncul dengan cara wong cilik tersebut bertindak secara intelektual, bermoral, bahkan bersikap lebih terhormat daripada para priyayi. Penelitian ini menggunakan teori sastra dan propaganda dengan pendekatan sosiologi. Relasi oposisional antara dekonstruksi priyayi dan bangkitnya wong cilik dalam ranah intelektual, moral, dan sikap menunjukkan propaganda kesetaraan manusia melalui suara Jasawidagdo dan Margana Djajaatmadja.
MENEROKA KONVIGURASI DAN RELASI LEKSIKAL LEKSEM SIKAP BATIN RANAH MAKNA KEMARAHAN DALAM BAHASA INDONESIA
Penelitian ini membahas tentang leksem sikap batin “kemarahan” dalam bahasa Indonesia yang dalam definisi dan penggunaannya banyak yang bertumpang tindih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konvigurasi dan relasi leksikal leksem sikap batin ranah kemarahan melalui analisis komponen makna sehingga ciri yang sama dan pembeda setiap leksem jelas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik analisis isi yang menggunakan dokumen dan penggunaan kalimat sebagai rangka uji untuk menemukan simpulan yang valid. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konfigurasi leksikal leksem memiliki hubungan hierarki atas-bawah (marah1 dengan dongkol, jengkel, sebal, kesal, gondok dan marah 2 dengan leksem kalap, berang, gusar, bengis) dan hubungan sejajar (leksem jengkel dan mangkel). Sementara itu, relasi leksikal yang terjadi adalah relasi kehiponiman dan relasi kesinoniman. Relasi leksikal kehiponiman terjadi antara leksem marah dengan leksem marah 1, marah 2, dan jengkel serta mengkel. Leksem marah merupakan hiperonim, sedangkan marah 1, marah 2, dan jengkel serta mengkel merupakan hiponim dari leksem marah. Hubungan kehiponiman juga tampak antara marah1 dengan leksem dongkol, jengkel,sebal, kesal, dan gondok dan marah 2 dengan leksem kalap, berang, gusar, bengis. Marah 1 merupakan hiperonim dari leksem dongkol, jegkel, sebal, kesal, dan gondok dan marah 2 merupakan hiperonim dari leksem kalap, berang, bengis. Relasi leksikal kesinoniman yang terjadi bersifat sinonimi dekat, tidak sinonimi mutlak
ANALISIS STRUKTURAL DAN SOSIOLOGIS NOVEL MANGALUA: PERANG ANTAR KAMPUNG, KAWIN LARI, IRONI ADAT BATAK TOBA
Melarikan anak gadis orang, akibat penentangan dari pihak keluarga perempuan, terjadi di kelompok masyarakat Batak. Dikenal dengan mangalua, suatu bentuk perkawinan dalam adat Batak Toba, di mana seorang lelaki dengan wanita pilihannya mau melaksanakan perkawinan bersama dengan melarikan diri. Dalam konteks situasi, mangalua adalah kawin lari secara bebas. Secara leksikal berarti melaksanakan kegiatan membawa lari atau melarikan. Secara konseptual berarti sepasang muda-mudi kawin di luar prosedur perkawinan ideal. Meskipun kawin lari sebagai bentuk pelanggaran adat, tersedia tata-tertib penyelesaiannya. Dari kejadian perkawinan lari itu dapat berlaku bentuk perkawinan jujur, dan mandiri, tergantung pada perundingan keluarga kedua belah pihak. Pengkajian sosiologis, menyoroti segi-segi sosial kemasyarakatan secara obyektif berkaitan dengan perilaku masyarakat, kebiasaan, adat istiadat, dan situasi perang antar kampung. Kini dapat dilihat hubungan erat antara kebudayaan dan masyarakat, karena aturan menentukan suatu perbuatan. Studi ini, tidak dapat dipisahkan dari totalitas kehidupan dan hubungan sosial historisnya, oleh sebab itu, strukturalisme genetik mengaitkan asal usul karya tersebut
IDEOLOGI SASTRA ANAK HABIB SANG PENDEKAR BUMI MELAYU
AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ideologi dan teknik penyajiannya dalam struktur sastra anak, Habib Sang Pendekar Bumi Melayu. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa satuan teks bertema ideologi yang bersumber dari buku tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka dan teknik catat. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri dengan menggunakan kartu data. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan membaca intensif dan mencatat data di kartu data. Metode analisis data dilakukan dengan identifikasi dan klasifikasi satuan teks, interpretasi dan inferensi setiap unit teks secara tekstual, kontekstual, dan/atau intertekstual. Penelitian dilakukan di Bengkulu pada Januari sampai dengan April 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis-jenis ideologi yang disajikan dalam sastra anak yang diteliti adalah ideologi politeis, monoteis, dan nasionalis. Ketiga ideologi tersebut diperkenalkan dalam struktur teks secara bertahap sesuai dengan perkembangan usia dan peran tokoh utama melalui konteks pendidikan dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah. Kata kunci: ideologi, sastra anak, politeis, monoteis, nasionalis AbstractThe purpose of this study is to describe the ideology and presentation techniques in the structure of the children's literature, Habib, The Fighter Of Melayu Earth. This research method is descriptive qualitative. The data of this research are ideology-themed text units, sourced from the book. The technique of data collection is done by literature review and note taking techniques. The data collection instrument was a researcher, using data cards. Data collection procedures are done by intensive reading and recording data on a data card. The method of data analysis is carried out by the identification and classification of text units, interpretation and inference of each text unit in textual, contextual, and/or intertextual terms. The research was conducted in Bengkulu in January to April 2020. The results of this study showed that the types of ideologies presented in this children's story are polytheist, monotheistic and nationalist ideologies. These three ideologies were introduced in the text structure gradually according to the development of age and the role of the main characters through the context of education in the family, community, and school. Keywords: ideology, children's literature, polytheists, monotheists, nationalist
KAJIAN MOTIF CERITA KEPAHLAWANAN MONAQ DAN DALUNG DAYAK BENUAQ, TUNJUNG, DAN RENTENUKNG
AbstrakPenelitian ini berusaha mengungkap motif dalam cerita kepahlawanan Monaq dan Dalung Dayak Benuaq, Tonyooi, dan Rentenukng. Motif-motif tersebut diambil dari tiga versi cerita Monaq dan Dalung, yaitu versi Benuaq Sekolaq Darat, versi Benuaq Siluq Ngurai, dan versi Rentenukng Tunjung. Masalah penelitian ini adalah apa saja motif dalam cerita kepahlawanan Monaq dan Dalung dalam tiga versi dan bagaimana persebaran cerita di wilayah Kutai Barat? Untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan digunakan metode historis komparatis yang berasal dari mazhab Finlandia. Metode ini bekerja dengan mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan membandingkan beberapa versi cerita Monaq dan Dalung. Dengan menggunakan teori indeks motif Thompson, penelitian ini menganalisis kesamaan motif dan persebaran cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan motif dalam tiga versi cerita kepahlawanan Monaq dan Dalung. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ketiga versi cerita tersebut termasuk dalam cerita monogenesis, yaitu cerita yang berasal dari satu tempat. Kata kunci: motif, historis komparatif, versi, persebaran, monogenesis AbstractThis study attempts to reveal the types and motives in the heroic story of Monaq and Dalung. The motifs were taken from three versions of the Monaq and Dalung stories, namely the Benuaq Sekolaq Darat version, the Benuaq Siluq Ngurai version, and the Rentenukng Tunjung version. The problem of this research is what are the motives in the heroic story of Monaq and Dalung in three versions? To solve problems and achieve goals, historical comparative methods from the Finnish mazhab are used. This method works by collecting, processing, analyzing, and comparing several versions of the Monaq and Dalung stories. By using Thompson's motive index theory, this study analyzes the similarity of motifs and the distribution of stories. The results showed that there were eight motifs in three versions of the heroic story of Monaq and Dalung. From the results of the study it can be concluded that the three versions of the story are included in the story of monogenesis, which is a story originating from one place. Keywords: motifs, historical comparative, version, distribution, monogenesis
Pendekatan Imersi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) (Penerapan Program Imersi Di Australia)
Various learning strategies have been carried out in BIPA teaching. One approach that is quite interesting in BIPA teaching, especially in Australia is immersion approach. Immersion approach is an approach taken to improve language skills by immersing participants in the target language, Indonesian. Therefore, the problems are how the characteristics of BIPA learners and participants of the immersion program and how the program design and implementation of the immersion program, especially in Victoria, Australia. This study aims to describe the characteristics of BIPA learners and teachers in the immersion program and describe the program design and implementation of immersion program, particularly in Australia. The results are BIPA learners and teachers in the immersion program are multicultural because the participants come from different ethnic communities with diverse cultural backgrounds. The immersion program is designed with interesting activities in the form of games, discussions, cultural materials that are able to improve Indonesian language skills and deepen the Indonesian culture of immersion program participants
PENGUNGKAPAN IDENTITAS MENTERI PADA MATERI KOMEDI PENTAS DRAMA "PRESTASI TANPA KORUPSI"
Komedi memiliki peran penting di dalam kehidupan. Kehadirannya merupakan salah satu cara sederhana untuk membuat komunikasi antar manusia menjadi lebih lancar. Komedi juga menjadi milik semua orang di dunia. Tidak ada batasan pihak yang boleh dan tidak boleh berkomedi. Pemerintah juga dapat memanfaatkan komedi sebagai alat mendekatkan diri pada masyarakat, seperti yang dilakukan oleh tiga menteri pada pentas drama Prestasi Tanpa Korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pembangunan komedi yang dilakukan oleh menteri pada pentas drama Prestasi Tanpa Korupsi. Pengungkapan identitas pada komedi menggunakan teori praanggapan atau presupposisi yang dimiliki oleh ilmu pragmatik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menelaah data rekaman pentas drama Prestasi Tanpa Korupsi. Penelitian ini mengungkapkan hasil berupa komedi yang dibangun dari identitas ketiga menteri. Komedi dibangun secara sederhana dan dapat diimitasi oleh masyarakat yang awam dalam dunia komedi
Nilai Lingkungan dalam Kumpulan Cerpen Pilanggur Salusin Kisdap Banjar Karya Hatmiati Masy’ud
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kearifan lingkungan dalam kumpulan cerpen Pilanggur Salusin Kisdap Banjar karya Hatmiati Masy’ud yang diwakili oleh Palak (Asap), Tambun (Hantu Banyu), dan Tulak Bala (Tolak Bencana). Teori ekokritik dan teori sosiologi digunakan dalam penelitian ini sebagai alat untuk menganalisis karya sastra dari sudut pandang lingkungan dan menghubungkannya dengan fakta sosial yang diacunya. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif sedang teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik simak, teknik catat, dan teknik kepustakaan. Prosedurnya membaca secara cermat; meneliti masalah kearifan lingkungan; mengklasifikasikan dan mengalisis permasalahan lingkungan berdasarkan pendekatan sosiologi karya sastra dalam teori sosiologi sastra dan teori ekokritik kemudian menyimpulkan kearifan lingkungan dalam cerpen pilihan tersebut adalah (1) penghargaan alam; (2) masalah lingkungan alam; dan (3) kearifan lokal dalam mengatasinya.This study is motivated by the increasing issue of global environmental warming. This study aims to describe environmental value in the short story collection of Pilanggur Salusin Kisdap Banjar by Hatmiati Masy’ud. This study uses descriptive qualitative method. The data are in the form of sentences containing environmental value in the short story collection of Pilanggur, they are; (1) Palak (smoke), (2) Tambun (Water Ghost), (3) Tulak Bala. The data technique used in this study is reading, note-taking, and library technique. The data analysis is done through several stages, they are (1) reading carefully, (2) identifying the problem, (3) classifying the environmental value, (4) analyzing the problem of environmental value based on extrinsic approach in sociology literature theory and ecology theory, (5) summarizing the environmental value about the solution offered in the story. The result shows that there are environmental values with its conflict and solutions offered, they are; (1) Palak short story, the conflict is about prolonged smoke pollution and environmental value with its offered solution, they are from action and spiritual aspect, (2) Tambun short story, the conflict is about polluted and dirty river and the solution is by maintaining the existence of the river, (3) Tulak Bala short story, the conflict is about village fire and the solution is by raising the knowledge of the people about the importance of environmental awareness. Afterward, ecocriticism in the short story collection of Pilanggur Salusin Kisdap Banjar are (1) the representation of nature in the short story, (2) the role of physical background (environment) in the plot of the short story, (3) the values of local wisdom, and (4) the metaphor of land (earth) and its attitudes.