Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
KEPASRAHAN HIDUP TOKOH DALAM CERPEN "TUJUAN: NEGERI SENJA" KARYA SENO GUMIRA DAN CERPEN "SEHARI MENUNGGU MAUT" KARYA ERNEST HAMINGWAY
Abstrak Kepasrahan merupakan salah satu bentuk dari eksistensi hidup manusia. Seperti pada tokoh dalam cerpen “Tujuan: Negeri Senja” karya Seno Gumira Ajidarma dan cerpen “Sehari Menunggu Maut” karya Ernest Hamingway yang memilih pasrah dalam memandang kematian. Tujuan penelitian dalam artikel ini untuk memberikan deskripsi perbedaan dan persamaan mengenai makna kepasrahan yang dialami seorang tokoh dalam cerpen “Tujuan: Negeri Senja” karya Seno Gumira Ajidarma dan cerpen “Sehari Menunggu Maut” karya Ernest Hamingway. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisis komparatif dengan teori psikologi sastra. Teknik pengumpulan data adalah studi pustaka dengan sumber data berupa cerpen “Tujuan: Negeri Senja” karya Seno Gumira Ajidarma dan cerpen “Sehari Menunggu Maut” karya Ernest Hamingway. Teknik analisis dengan deskriptif interpretatif. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pada kedua cerpen tersebut terdapat persamaan tema cerita yaitu kematian. Perbedaanya terletak pada karakter tokoh dalam memaknai kepasrahan dengan sikap merelakan, menerima, mengatasi sesuatu, dan melakukan tindakan. Kata-kata kunci: eksistensi, kepasrahan, tokoh, cerita pendek AbstractSurrender is one form of existence of human life. As in the characters in the short story “Tujuan: Negeri Senja” by Seno Gumira Ajidarma and the short story “Sehari Menunggu Maut” by Ernest Hamingway who chose resignation in looking at death. The purpose of the research in this article is to provide a description of the differences and similarities regarding the meaning of surrender experienced by a character in the short story “Tujuan: Negeri Senja” by Seno Gumira Ajidarma and the short story “Sehari Menunggu Maut” by Ernest Hamingway. The method used is descriptive method with comparative analysis with literary psychology theory. Data collection techniques are literature study with data sources in the form of short stories “Tujuan: Negeri Senja” by Seno Gumira Ajidarma and the short story “Sehari Menunggu Maut” by Ernest Hamingway. Analytical techniques with interpretive descriptive. The results found in this study are in the two short stories there are similarities in the theme of the story that is death. The difference lies in the character's character in interpreting surrender by giving up, accepting, organizing something, and taking action. Keywords: existence, surrender, character, short storie
Bahasa Indonesia language program impact analysis in the Polytechnic University of the Philippines Manila: a basis for the bahasa Indonesia’s inclusion in the ab English language studies’ and ab literary and cultural studies’ curriculum
The present study aims to know the impact of the Bahasa Indonesia (BIPA) training on enabling the macro skills among the 144 respondents from the Polytechnic University of the Philippines in Sta. Mesa, Manila as well as the perceived benefits of including the language as one of the foreign language courses in the respondents’ curriculum. The researchers used the descriptive research design. The respondents were selected using purposive sampling and the data were gathered through a survey form with 9 questions. Through the grand mean, it was found out that powerpoint presentations were impactful in enabling them to perform reading tasks. Writing paragraphs were impactful for their writing tasks while Listening to lecture and doing dialogues were impactful for enabling them to perform listening and speaking tasks. Opportunity to work in other South East Asian Countries emerged as the mostly agreed benefit of including Bahasa Indonesia in the curriculum
LATAR SURABAYA DALAM KARYA PROSA SUPARTO BROTO
AbstrakTulisan ini bertujuan mendeskripsikan latar Surabaya dalam karya prosa Suparto Brata. Sumber data yang digunakan dalam tulisan ini adalah novel Mencari Sarang Angin dan kumpulan cerpen Trem. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi yang ditopang dengan teknik baca dan catat. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi. Hasil temuan menunjukkan bahwa latar sosial-budaya dalam karya prosa Suparto Brata tampak dari adanya penggunaan bahasa Jawa subdialek Surabaya dalam dialog antartokoh, pandangan hidup tokoh, dan dari adatkebiasaan hidup sehari-hari. Latar sosial tersebut menggambarkan dan mewakili Surabaya sebagai bagian dari wilayah budaya arek.Kata kunci: latar, budaya arek, prosa AbstractThis paper aims to describe Surabaya as the setting of Suparto Brata’s prose. Source data of this paper are Mencari Sarang Angin novels and the anthology of short story Trem. The data collection technique is documentation method which is supported by read and writes techniques. The data analysis was done by using content analysis technique. The results finding show that social-culture setting in Suparto Brata’s prose could be seen from the using of Surabaya subdialect of Javanese in the dialog among the character, the character’s way of life, and from the every day life local custom of the character. That social setting described and represented Surabaya as one of Arek culture area.Keywords: background, arek culture, pros
CITRA WANITA BANJAR DALAM CERPEN "EPISODE DURIAN" KARYA NAILIYA HIKMAH
AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui citra wanita Banjar dalam cerpen “Episode Durian” karya Nailiya Nikmah. Penelitian mengenai citra wanita Banjar dalam karya sastra dilakukan karena masih sedikitnya penelitian yang membahasnya.Citra wanita Banjar yang dianalisis dalam cerpen “Episode Durian” ini adalah semua wujud gambaran atau lukisan mental spritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresikan oleh wanita dalam cerita. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil analisis engungkapkan bahwa citra wanita Banjar yang terdapat dalam cepern “Episode Durian” ini adalah menjaga kesucian, mencintai suami, taat pada suami, memiliki akhlak yang baik, dan sosok istri yang salihah.Kata kunci: citra, wanita, cerpen. AbstractThe aim of this study is to find out Banjarese women’s images in a short story “Episode Durian” by Nailiya Nikmah. The study about Banjarese women’s images in literature work is only a few. The images analyzed in this short story are the women’s spiritual and mental descriptions and daily activities. The result shows that the images of Banjarese women are keeping their chastity, loving and obeying their husband, having good attitude, and being a pious wife.Keywords: image, women, short stor
ANALISIS BENTUK SAPAAN TERHADAP ANAK PEREMPUAN DALAM BAHASA BATAK TOBA PADA LIRIK LAGU "BORU PANGGOARAN, BORU BUHA BAJU DAN SUPIR PANJANG"
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk sapaan anak perempuan dan faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan bentuk sapaan tersebut dalam bahasa Batak Toba pada lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju, dan Supir Panjang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-deskriptif dengan teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan dan agih. Objek penelitian adalah seluruh kata sapaan yang digunakan untuk menyapa anak perempuan dalam lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan Supir Panjang.Hasil penelitian ini menunjukkan bentuksapaan yang digunakan terhadap anak perempuan dalam bahasa Batak Toba pada lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan Supir Panjang, antara lain: (1) kata sapaan berdasarkan hubungan kekerabatan meliputi boru dan inang, kata sapaan berdasarkan urutan kelahiran meliputi boru panggoaran dan boru buha baju, kata sapaan berdasarkan panggilan kesayangan meliputi boru hasian dan kata sapaan berdasarkan gelar meliputi boru ni raja. Bentuk kata sapaan tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, situasi, dan status sosial.Kata Kunci: lirik lagu, bahasa Batak Toba, bentuk sapaan anak perempuan AbstractThis study aims to describe the terms of address of a daughter and the factors affecting to it in Batak Toba language on the lyrics of “Boru Panggoaran, Boru Buha Bajuand Supir Panjang”. It uses sociolinguistics approach. It applies qualitative-descriptive method with scrutinize and note taking techniques. The data analysis uses quality and distributional methods. The object of the researh is the address terms of a daughter in the lyrics of “Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan SupirPanjang”. The result shows that the address terms of daughter on those lyrics are based on the kinship terms such as “boruand inang”, the birth order such as “boru panggoaran and boru buha baju”, terms of endearment such as “boru hasian”, and titles such “asboru ni raja”. Also, it reveals that age, sex, situation and social status affect the terms of address chosen.Keywords: lyrics, batak toba language, address terms of daughte
KLASIFIKASI KLAUSA DALAM IKLAN KOSMETIK DI TELEVISI
AbstrakBerbagai jenis iklan yang ditampilkan di televisi telah berhasil menarik simpati penonton sebagai calon pembeli. Selain faktor visual yang menarik calon pembeli, keberhasilan sebuah iklan sangat bergantung pada bentuk bahasa yang digunakan, baik diksinya, jenis bahasanya, maupun bentukbentuk klausa atau kalimat yang digunakan. Penelitian ini berusaha mendeskrisikan dan mengklasifikasikanklausa yang digunakan iklan kosmetik di televisi. Dengan metode simak, rekam, dancatat, iklan-iklan kosmetik tersebut berhasil diklasifikasikan sebagai berikut. Secara intern unsur klausa, penggunaan klausa pada iklan kosmetik di televisi dapat dibedakan atas klausa bebas (klausa lengkap), klausa tak lengkap, dan klausa terikat. Berdasarkan kategori yang menduduki fungsi predikat, penggunaan klausa pada iklan kosmetik di televisi meliputi klausa verbal, klausa nominal, klausa numeralia, klausa adverbia, dan klausa adjektiva. Secara intern, klausa yang palingsering digunakan adalah klausa tak lengkap dan klausa bebas (klausa lengkap). Sementara itu, berdasarkan kategori yang menduduki fungsi predikat, klausa yang paling sering digunakan adalah klausa verbal.Kata kunci: sintaksis, klasifikasi klausa, iklan kosmetik AbstractVarious types of advertisements on television have attracted television viewers as prospective buyers. Instead of interesting visualization, the success of advertisements depends on the language used, especially diction, types of language, and forms of clauses or sentences. This study attempts to describe and classify clauses on television cosmetics advertisements. It applies tapped, listened, and note taking methods. The result shows that based on the clause elements, clauses on television cosmetics advertisements can be classified as independent clauses and dependent clauses. Based on the predicates, clauses on television cosmetics advertisements can be classified as verbal, nominal, numeral, adverbial, and adjectival clauses. Dependent and independent clauses are frequently used in the advertisements. Verbal clauses are also commonly used in those advertisements.Keywords: syntactic, clausa classification, cosmetic advertisemen
GAMBARAN KEHIDUPAN MASYARAKAT LAUT DALAM CERITA RAKYAT BONTANG
AbstrakTulisan ini berusaha menjelaskan bentuk perpaduan budaya laut yang dibawa oleh pendatang ke daerah Bontang dalam cerita rakyat Bontang. Masyarakat pendatang di daerah Bontang tinggal di daerah pesisir laut. Mereka membawa budaya dari daerah asal dan kemudian beradaptasi dengan budaya daerah perantauan. Analisis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Teori yang digunakan untuk mengolah tulisan ini adalah teorifolklor dengan empat fungsi yang diutarakan oleh Bascom. Kehidupan masyarakat pendatang di pesisir laut tergambar dalam cerita rakyatnya. Analisis menunjukkan mereka menyadari bahwa laut adalah kehidupan mereka sehingga mereka berusaha mempertahankan kelangsungan sumber kehidupan di laut dengan cara melakukan upacara Pesta Laut.Kata kunci: cerita rakyat, masyarakat laut, kehidupan. AbstractThis paper attempts to explain the forms of maritime cultural blend brought by the immigrants of Bontang as shown in Bontang’s folktales. The immigrants live along the shore. They bring along their origin culture as they also try to adapt to the culture of the current place. This descriptive research applies qualitative method in analyzing the folktales. Bascom’s four-function theory of folklore is used to examine the immigrants’ life in Bontang’s folktales. The analysis shows that sea people realize that their life completely depends on the sea. That is why they try to maintain their sea resources by having Pesta Laut (Sea Festival).Keywords: folktales, sea people, lif
AFIKSASI DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM GAUL DI KOTA SAMARINDA: SEBUAH KAJIAN MORFOLOGI
AbstrakTulisan ini mendeskripsikan bentuk afiks dan afiksasinya dalam bahasa Indonesia ragam gaul di Kota Samarinda. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) dan teknik catat. Adapun teknik analisis data dengan melalui langkah-langkah, yaitu mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menganalisis bentuk afiks dan proses afiksnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entuk afiks yang digunakan dalam bahasa Indonesia ragam gaul di Kota Samarinda, meliputi prefiks ke-, simulfiks N-, infiks /p/ + vokal, infiks /g/ + vokal, infiks /s/ +vokal, infiks /ok/, sufiks –in, sufiks –an, dan konfiks N- + -in.Kata kunci: afiksasi, ragam gaul, morfologi AbstractThis paper describes affixes and affixations in Indonesian slang in Samarinda. It uses SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) and note-taking techniques. The data analysis techniques involve three major steps: identifying, classifying, and analyzing the affixes and the affixes formation. The result shows that Indonesian slang inSamarinda uses prefix ke-, simulfix N-, infix /p/ + vowel, infix /g/ + vowel, infix /s/ + vowel, infix /ok/, suffix –in, suffix –an, and confix N- + -in.Keywords: affixation, slang, morpholog
MAKNA DAN FUNGSI MAGIS SYAIR ACAPELLA PADA RITUAL PEMANDIAN SENJATA TRADISIONAL MASYARAKAT KEC. KEDUNGDUNG
Penelitian mengenai makna dan fungsi magis pada ritual pemandian senjata tradisional masyarakat Kec. Kedungdung dilaksanakan setiap tanggal satu suro. Ritual pemandian senjata tradisional dilaksanakan untuk memperingati rokat dhisah atau yang disebut dengan selamatan desa. Masyarakat kedudung percaya bahwa dengan mengucapkan syair acapella akan menambah kesakralan terhadap upacara tersebut. Penelitian ini perlu dilakaukan lebih lanjut mengingat semakin pudarnya sastra lisan yang ada di Indonesia khususnya Madura akibat dari dampak kebudayaan asing yang masuk tanpa difilter. Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan budaya masyarakat Madura dengan mencari makna dan fungsi magis terhadap syair acapella. Penelitian ini juga menggunakan metode hermenotika yaitu pencarian makna yang optimal pada syair acapella dan menggunakan jenis penelitian deskrptif kualitatif serta menggunakan pendekatan antropologi sastra. Sumber data yang digunakan yaitu syair acapella dan informant serta menggunakan teknik dokumentasi, perekaman, pengamatan, pencatatan, dan wawancara. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian yaitu teknik triangulasi teori dan metode yang didapatkan dari buku dan jurnal