Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Fenomena Lingkungan dalam Cerpen Daring Melalui Tanggapan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Studi Ekokritik)
Penelitian ini bertujuan: Pertama, menganalisis dan mendeskripsikan tanggapan mahasiswa melalui penentuan tema dan penokohan dalam cerpen Asa dan Hutan Kalimantan. Kedua, menganalisis dan mendeskripsikan fenomena lingkungan dalam cerpen melalui tanggapan mahasiswa sesuai konsep Garrard. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori ekokritik Greg Garrard (2004). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Populasi sebanyak 247 mahasiswa. Sampel sebanyak 28 mahasiswa. Penarikan sampel dilakukan dengan cara purposive. Sumber data penelitian, yaitu: 1) cerpen diunduh melalui web https://www.scribd.com, 2) angket berisi tanggapan mahasiswa. Data penelitian adalah tanggapan mahasiswa sesuai angket yang telah diberikan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik angket, baca, dan catat. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teori dan sumber. Analisis data dilakukan dengan tahapan: (a) pereduksian; (b) penyajian; (c) penyimpulan; dan (d) verifikasi hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Tema dan penokohan. Tema cerpen Asa dan Hutan Kalimantan adalah tema perlindungan/menjaga hutan, tema perburuan hewan, dan tema variatif. Penokohan, yaitu diperankan oleh tokoh Asa yang tidak pernah melakukan pengrusakan terhadap hutan Kalimantan serta tokoh Asa memanfaat alam sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, tokoh Asa memunyai karakter ‘melindungi’ dan tidak serakah pada alam; (2) fenomena lingkungan ditemukan melalui tanggapan mahasiswa adalah fenomena binatang, yaitu perusakan alam akibat perburuan orang utan Kalimantan.This study aims, (1) to analyze and describe student responses through the determination of themes and characterizations in the Asa and Forest Kalimantan short stories. Secondly, analyzing and describing environmental phenomena in the short story through student responses according to Garrard's concept. The theory used in this study is Greg Garrard's (2004) ecocritical theory. This type of research is a qualitative descriptive study. The population is 247 students. The samples were 28 students. Sampling is done by a purposive method. Research data sources, namely (1) short stories are downloaded via the web https://www.scribd.com, (2) questionnaires containing student responses. The research data is the students' responses according to the questionnaire given. Data collection is done through a questionnaire, read, and note down techniques. The validity of the data is done through the triangulation of theories and sources. Data analysis is carried out in stages: (a) reduction; (b) presentation; (c) the conclusion; and (d) verification of results. The results of this study indicate (1) Themes and characterizations. The theme of the Asa and Forest Kalimantan short stories is the theme of protection/preservation of the forest, the theme of animal hunting, and varied themes. Characterization, which is played by Asa figures who have never done damage to the forests of Kalimantan and Asa figures use nature as needed. In other words, the character of Asa has the character of ‘protect’ and is not greedy to nature; (2) environmental phenomena discovered through student responses are animal phenomena, namely natural destruction due to the hunting of Bornean Orang Utans.
CULTURAL HYBRIDITY AND ITS COMPLEXITY IN ESMERALDA SANTIAGO’S ALMOST A WOMAN
Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan hibriditas dalam novel Almost A Woman karya Esmeralda Santiago. Novel ini menceritakan permasalahan kultural yang dialami Negi, tokoh utama, sebagai imigran Puerto Rico di New York, di mana ia harus mengapropriasi budaya Amerika agar bisa diterima oleh masyarakat induk. Untuk membahas permasalahan tersebut, kami akan menggunakan teori poskolonial Bhabha. Analisis tekstual digunakan untuk menjelaskan data terpilih dengan cara pandang poskolonial tanpa mengabaikan keterkaitan kontekstualnya dengan dinamika imigrasi dan diaspora. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tokoh utama harus menjalankan strategi kultural berupa mimikri dan hibriditas agar bisa diterima di masyarakat induk dan bisa mendukung impian modernnya. Meskipun menikmati budaya Amerika secara apropriatif, ia masih berusaha untuk tidak melupakan budaya Puerto Rico. Dengan strategi ini subjek diasporik bisa menegosiasikan kepentingannya di tengah-tengah masyarakat induk dan kuasa budaya dominan, tanpa harus meninggalkan sepenuhnya budaya Puerto Rico. Abstract. This paper discusses hybridity in Esmeralda Santiago’s Almost A Woman. This novel tells about cultural problems experienced by Negi, the main character, as a Puerto Rican immigrant in New York, where she must appropriate American cultures in order to be accepted by the host community. To discuss this problem, we will apply Bhabha's postcolonial theory. Textual analysis is used to explain selected data from a postcolonial perspective without ignoring its contextual relationship with the dynamics of immigration and diaspora. The results of this study show that the main character must carry out a cultural strategy in the form of mimicry and hybridity in order to be accepted in the parent community and be able to support his modern dreams. Despite enjoying appropriately American culture, she still tries not to forget Puerto Rican cultures. With this strategy the diasporic subject can negotiate its interests in the midst of the host society and the dominant cultural power, without having to completely abandon Puerto Rican culture
RELASI MAKNA ANTONIM VERBA BAHASA DAYAK KANAYATN KALIMANTAN BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi makna antonim verba dalam bahasa Dayak Kanayatn Kalimantan Barat. Kajian tersebut dibatasi hanya pada antonim mutlak, antonim hubungan, dan antonim majemuk. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Data penelitian berbentuk tuturan berupa kata-kata dan kalimat bahasa Dayak Kanayatn yang mengandung relasi makna antonim, serta sumber datanya adalah tiga orang masyarakat sebagai instrument kunci utama dan dibantu oleh masyarakat. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian ditemukan (a) antonim mutlak seperti: kata ŋeak (menangis) dengan kata galak (tertawa), kata makatn (makan) dengan kata nocok (minum), kata tidur (tidur) dengan kata lumpat (bangun). (b) Antonim majemuk seperti: antonim hubungan seperti: kata ɲual (menjual) dengan kata mali (membeli), kata maju (maju) dengan kata mundur (mundur), kata turutn (turun) dengan kata naik (naik), kata pulakŋ (pulang) dengan kata ampus (pergi). (c) antonim majemuk seperti: kata badiri (berdiri) dengan kata duduk (duduk) dan gurikŋ (berbaring), tidur (tidur)
Penerapan dan Evaluasi Pendekatan Berbasis Teks dalam Pembelajaran BIPA di Hanoi, Vietnam
BIPA students who learn texts in authentic social contexts will be more effective. Teachers may try to implement text-based approach. This research aims to describe implementations and evaluations of text-based approach of BIPA learning in Ha Noi, Vietnam. This qualitative research used descriptive method in which the subject was BIPA third-level students in Indonesia Center-Umah Indo and Ministry of Defense in Ha Noi, Vietnam. Observations were made for data collection. Journals and documentation books were used as data analysis references. The result shows that in the text-based approach implementation of BIPA learning, (1) learning goals analysis is required by implementing stages of building learners’ background, knowledge, modeling and arranging text collectively and individually (2) studies in finding advantages and challenges can be produced. The result can be used to implement BIPA learning based on text-based approach by observing learning goals and learners’ characteristic. Keywords: implementation, evaluation, and text-based approac
Aspek Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia oleh Siswa Sekolah Dasar di Kota Medan
The first step in this research is the always dominant the noun aspect in mastering Indonesian vocabulary. The focus in this study is how the control of Indonesian vocabulary in grade 5 SD students in Medan City. There are two sub-focusses in this study: (1) what is the level of qualification and (2) aspects of Indonesian vocabulary mastery by grade 5 elementary school students. This study aims to identify control of Indonesian vocabulary by grade 5 elementary school students based on the level of qualification and aspects of Indonesian vocabulary mastery. The method used is the case study method. The population in this study were elementary school students. The sample in this study were students of grade 5 elementary school accredited A and C in Medan City who were respondents. The findings of this study were the mastery of Indonesian vocabulary by elementary students in Medan City on a good scale, namely 78%. The mastery of Indonesian vocabulary in the noun aspect that was first recognized by the students did not show the dominant aspect in this study, but the adjective aspect. AbstrakAspek nomina dalam penguasaan kosakata bahasa Indonesia (BI) selalu dominan yang menjadi langkah awal penelitian ini. Fokus dalam penelitian ini adalah penguasaan kosakata BI oleh siswa kelas 5 SD di Kota Medan. Ada dua subfokus dalam penelitian ini, yaitu bagaimana tingkat kualifikasi dan aspek penguasaan kosakata bahasa Indonesia oleh siswa kelas 5 SD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penguasaan kosakata BI oleh siswa kelas 5 SD berdasarkan (1) tingkat kualifikasi dan (2) aspek penguasaan kosakata BI. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SD. Sampel dalam penelitian ini ialah siswa kelas 5 SD yang berakreditasi A dan C di Kota Medan yang menjadi responden. Temuan penelitian ini ialah penguasaan kosakata BI oleh siswa SD di Kota Medan pada skala baik, yaitu 78%. Penguasaan kosakata BI aspek nomina yang pertama dikenal siswa tidak menunjukkan yang dominan dalam penelitian ini, tetapi aspek adjektiva
Transmisi Memori dan Wacana Rekonsiliasi dalam Cerpen “Perempuan Sinting Di Dapur” Karya Ugoran Prasad: Kajian Postmemory
This study aims to explain the structure of memory transmission in the short story "Perempuan Sinting di Dapur" by Ugoran Prasad and the reconciliation discourse offered by the author. Overall, this short story raised the 1965 Event in Indonesia. Ugoran Prasad tried to discuss the impact caused by the incident, both in terms of the perpetrators and victims. The theory used is the postmemory theory developed by Marianne Hirsch. The results of this study indicate that the structure of memory transmission in short stories is mediated by behavior and narratives, both from the perspective of victims and perpetrators. Both of these parties turned out to be equally save the deep trauma that was carried throughout his life. Then, through this short story, Ugoran Prasad presented a discourse of reconciliation to those who had a traumatic impact on the 1965 event, both generations who were traumatized and post-generation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur transmisi memori dalam cerpen “Perempuan Sinting di Dapur” karya Ugoran Prasad dan wacana rekonsiliasi yang ditawarkan oleh penulis. Secara keseluruhan, cerpen ini mengangkat Peristiwa 1965 di Indonesia. Ugoran Prasad berusaha membahas mengenai dampak yang ditimbulkan dari peristiwa itu, baik dari segi pelaku maupun korban. Adapun teori yang digunakan adalah teori postmemory yang dikembangkan oleh Marianne Hirsch. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa struktur transmisi memori dalam cerpen dimediasi oleh perilaku dan narasi atau cerita, baik dari perspektif korban maupun pelaku. Kedua pihak ini ternyata sama-sama menyimpan trauma mendalam yang dibawa seumur hidupnya. Kemudian, melalui cerpen ini Ugoran Prasad menghadirkan wacana rekonsiliasi kepada pihak-pihak yang berdampak trauma akan Peristiwa 1965, baik generasi yang mengalami trauma maupun post-generatio
MAKIAN BAHASA WAKATOBI DIALEK KALEDUPA (Invective Wakatobi Language Kaledupa Dialect)
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis makian bahasa Wakatobi dialek Kaledupa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode observasidengan teknik observasi partisipatif moderat, teknik rekam, dan teknik catat. Data dianalisis secara deskriptif sesuai dengan teori makianWijana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis makian bahasa Wakatobi dialek Kaledupa ada lima belas, yakni (1) makian yang bertalian dengan agama/kepercayaan; (2) makian yang bertalian dengan gaib; (3) makian yang bertalian dengan kelamin; (4) makian yang bertalian dengan bagian tubuh; (5) makian yang bertalian dengan fungsi tubuh; (6) makian yang bertalian dengan bentuk tubuh; (7) sinonim kata bodoh; (8) makian yang bertalian dengan nama binatang; (9) makian yang bertalian dengan nama orang dungu; (10) makian yang bertalian dengan kekerabatan; (11) makian yang bertalian dengan profesi rendah; (12) makian yang bertalian dengan suku/etnis; (13) makian yang bertalian dengan asal daerah terpencil; (14) makian yang bertalian dengan benda abstrak; (15) makian yang bertalian pada penyakit yang menjangkiti subjek. Berbagai jenis makian tersebut ditemukan dalam bentuk piranti linguistik seperti kata, frasa, dan bentuk gramatikal.This study aimed to describe the inverse type of Wakatobi Kaledupa dialect. This research was a qualitative research. Data were collected using observation methods with moderate participatory observation techniques, recording techniques, and note taking techniques. Data were analyzed descriptively according to Wijana's. The results showed that there were fifteen types of Wakatobi language dialects in the dialect, namely (1) invective related to religion/belief; (2) invective related to unseen; (3) invective related to sex; (4) invective relating to parts of the body; (5) invective relating to bodily functions; (6) invective relating to body shape; (7) synonym for the word stupid; (8) invective relating to the name of the animal; (9) invective relating to the name of an ignorant person; (10) invective related to kinship; (11) invective relating to low professions; (12) invective related to ethnicity; (13) invective relating to the origin of remote areas; (14) invective relating to abstract objects; (15) invective related to a disease that affects the subject. Various types of invective are found in linguistic devices such as words, phrases, and grammatical forms.
Pronomina Persona Bahasa Melayu Ambon di Wilayah Tutur Kota Ambon
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk pronomina persona bahasa Melayu Ambon. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif mengkaji fenomena kebahasaan yang secara objektif. Data dalam penelitian berupa data lisan yang bersumber dari tindak komunikasi masyarakat Kota Ambon dan sekitarnya yang terdiri atas semua rentang usia, yang menggunakan bahasa Melayu Ambon. Data dikumpulkan menggunakan metode observasi melalui teknik rekam dan catat. Data yang telah diklasifikasi dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pronomina bahasa Melayu Ambon terdiri atas pronomina persona pertama tunggal dan jamak, pronomina persona kedua tunggal dan jamak, pronomina persona ketiga tunggal dan jamak, dan pronomina persona leksem kekerabatan.The objective of this study is to describe the types of personal pronouns in the Ambonese Malay language. This research applies the qualitative descriptive method to analyze the language phenomenon objectively. The research data are oral data taken from communication between the people in Ambon City and its surroundings, which consists of all ages of the Ambonese Malay language speaker. The data are collected using the observation method, recording, and writing technique. The analysis of selected data is using a descriptive qualitative method. The results show that there are several pronouns of the Ambonese Malay language. They are first-singular personal pronouns, and first-plural personal pronouns; second-singular personal pronouns, and second-plural personal pronouns; third-singular personal pronoun, and third-plural personal pronouns; kinship lexeme personal pronouns
KELAYAKAN BUKU PELAJARAN MUATAN LOKAL BAGI SISWA KELAS ATAS (IV—VI) DI SD NEGERI DENPASAR
Pengajaran bahasa, aksara, dan sastra daerah Bali wajib diajarkan pada tingkat pendidikan dasar hingga menengah yang diselenggarakan dalam pelajaran muatan lokal. Pelaksanaan pembelajaran bahasa Bali tersebut mengarah pada tiga fungsi pokok, yaitu sebagai alat komunikasi, edukatif, dan kultural yang dapat dituangkan dalam sebuah buku teks pelajaran. Penelitian ini menelisik kelayakan buku teks pelajaran Bahasa Bali yang digunakan oleh siswa kelas IV, V, dan VI di SD Negeri Denpasar. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui kelayakan buku teks pelajaran tersebut dengan penilaian yang mengacu pada kriteria-kriteria kelayakan sebuah buku teks pelajaran yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 tentang Buku Yang Digunakan Oleh Satuan Pendidikan. Pemeroleh data pada penelitian ini menerapkan metode studi pustaka dan observasi yang selanjutnya data diakumulasi melalui hitungan statistik. Tahap analisis penelitian ini menerapkan metode analisis kontens dengan teknik interpretatif. Penilaian terhadap kulit buku, bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir buku teks pelajaran yang berjudul Pradnya Sari tersebut memperoleh nilai sebesar 80%. Nilai tersebut dinyatakan bahwa buku teks tersebut sangat layak digunakan sebagai buku teks utama pelajaran Bahasa Bali yang digunakan oleh siswa SD kelas atas (IV, V, dan VI)