Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Daftar Isi, Pengantar Redaksi, Abstrak

    No full text

    INTERLANGUANGE ANALYSIS: A RESEARCH ON ESL-SPEAKER'S STAGE OF ACQUISITION BASED ON THE PROCESSABILITY THEORY

    Get PDF
                                                         AbstractThe research was conducted to find out the language acquisition of a person who learnt English as the second language. The research was done by using quantitative design. The subject of this research was a Korean who came to an English speaking country, Australia. The subject was first learned English when the subject was in junior high school. The data was displayed in the form of number with description in analysis part. The theory used was Processability Theory by Piennemann. Thetheory stated that at anystage of development, the learner can produce and comprehend only those second language linguistic forms that the current state of processors can handle.There are 6 stages of language acquisition proposed by Piennemann regarding the morphological aspect of language learners. The result showed that the subject was on the stage 5 of the Processability Theory. It meantthat the subject was able to produce the third person singular (-s). This stage decision is based on the stages of acquisition of nominal and verbal morphology in ESL by Pienemann (2007) and Johnston and Brindley (1988).Keywords: language acquisition, processability theory.                                                      AbstrakPenelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui akuisisi bahasa dari orang yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah seseorang berkewarganegaraan Korea yang datang ke negara dengan bahasa nasional bahasa Inggris, yaitu  Australia. Subjek pertama kali belajar Bahasa Inggris ketika dia duduk di bangku SMP. Data disajikan dalam format angka dengan deskripsi di bagian analisis. Teori yang digunakan adalah Teori Prosesabilitas oleh Piennemann. Teori ini menyatakan bahwa pada tiap tahapan perkembangan, seorang pelajar dapat memproduksi dan memahami hanya format linguistik bahasa kedua yang bisa diterima oleh organ yang memproses bahasa. Terdapat 6 tahapan akuisisi bahasa yang disajikan Piennemann terkait dengan aspek morfologi dari pembelajar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berada pada tahapan 5 dariTeori Prosesabilitas. Hal ini berarti subjek dapat memproduksi struktur untuk orang ketiga tunggal (penambahanakhiran –s pada kata kerja). Keputusan pemosisian tahapan ini didasarkan pada tahapan-tahapan akuisisi morfologi nominal dan verbal pada ESL oleh by Pienemann (2007) dan Johnston dan Brindley (1988).Kata kunci: akuisisi bahasa, teori prosesabilita

    PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI CERPEN PADA SISWA KELAS VII-C MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER DAN TALKING STICK SERTA MEDIA FILM PENDEK DI SMP PATRA DHARMA 2 BALIKPAPAN TAHUN AJARAN 2014/2015

    Get PDF
                                                               AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalammengapresiasi cerpen dengan model pembelajaran Number Heads Together (NHT), Talking Stick, dan media pembelajaran berupa film pendek di SMP Patra Dharma 2 Balikpapan, khususnya pada kelas VII C tahun pelajaran 2014/2015. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitian yang digunakan berupa rubrik penilaian apresiasi cerpen, lembar observasi rencana pembelajaran, lembar observasipembelajaran, dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kompetensi pengetahuan siswa pada prasiklus penelitian adalah 68 yang menunjukkan belum tercapainya nilai ketuntatasan minimal pembelajaran mengapresiasi cerpen, yaitu 77. Dari 29 siswa, hanya 9siswa yang mampu mencapai nilai ketuntasan minimal. Pada siklus pertama setelah pemberian tindakan, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 81 dengan jumlah siswa yang mampu mencapainilai ketuntasan minimal sebanyak 22 siswa. Rata-rata nilai siswa pada siklus kedua sangat memuaskan. Persentase ketercapaian mencapai seratus persen dengan nilai rata-rata siswa ialah 92. Disamping itu, kompetensi sosial siswa seperti kesantunan, percaya diri, dan kerja sama meningkat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Number Heads Together, Talking Stick, dan media pembelajaran film pendek dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VII C SMP Patra Dharma 2 Balikpapan tahun ajaran 2014/2015 dalam mengapresiasicerita pendek.Kata Kunci : Model pembelajaran Number Heads Together dan Talking Stick, film pendek, mengapresiasi cerpen                                                              AbstractThe purpose of this research is to describe students’ increasing ability in appreciating short stories using Number Heads Together (NHT), Talking Stick Learning Model and short films as an instructional media in SMP Patra Dharma 2 Balikpapan, especially for VII-C grade in school year 2014/2015. It is classroom action research. The actions implemented in two cycles. The instruments used are short story’s assessment rubric appreciation, learning plan’s observation sheets, learning’s observation sheet, and questionnaires. The result shows that the average value of pre-cycle is 68. It means that it does not reach the minimum standard ofcompleteness criteria in appreciating short stories with its minimum score of 77. Nine of 29 students get the minimum score. In the first cycle after the action, twenty two students get the students’ average value, 81. The average value of the second cycle, 92, shows a very satisfactory result with 100% completeness percentage.Besides that, the competence of social attitudes such as politeness, confident, and cooperation has also increased.The conclusion is the implementation of Number Head Together and Talking Stick Learning Model, and short films can increase the ability of VII-C grade students of SMP Patra Dharma 2 Balikpapan school year 2014/2015 in appreciating short stories.Keywords: Number Head Together and Talking Stick Learning Model, Short film, Appreciating Short Story

    UNSUR KERAMAT DALAM LEGENDA DATU-DATU DI KALIMANTAN SELATAN

    Get PDF
                                                        AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perwujudan-perwujudan unsur keramat atau karomah dan fungsinya dalam hikayat yang dijadikan obyek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metote deskriptif dengan teknik studi pustaka. Berdasarkan kajian dapat diketahui bahwa perwujudan unsur-unsur keramat dalam hikayat Datu-Datu di Kalimantan Selatan antara lain (1) mampu memotong-motong batang besi hanya dengan jari tangan; (2) mampu salat(beribadah) langsung ke Mekah atau ke Madinah dalam waktu yang singkat; dan (3) dapat memprediksi cuaca.Kata kunci: keramat, datu, Kalimantan Selatan                                                          AbstractsThe purpose of the research is to obtain the manifestations of sacred elements (karomah) and their functions in folklore of Datu-Datu. This research uses descriptive method and literature review technique. It reveals that the manifestations of sacred elements (karomah) in the folklore of Datu-Datu in South Kalimantan are as follows: 1) the abilityto cut off iron bar using finger, 2) the ability to do prayer directly to Mecca or Madinah in a short time, and 3) the ability to do weather forecast.Keywords: sacred, datu, South Kalimanta

    IDEOLOGI DALAM NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA A. FUADI: TINJAUAN IDEOLOGI ALTHUSSER

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi dengan menggunakan pendekatan Ideologi Althusser. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desktiptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi yang terdapat dalam novel “Negeri 5 Menara” adalah ideologi kapitalis dan ideologi agama. Ideologi kapitalis terlihat dalam masyarakat bahwa orang yang belajar dalam lembaga formal karena ingin mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah. Ideologi lain yang terlihat dalam novel “Negeri 5 Menara” adalah ideologi agama, yaitu pesantren sebagai lembaga formal mengajarkan kepada para santrinya untuk menuntut ilmu hanya karena Allah semata

    STRUKTUR KALIMAT KAUSATIF DALAM BAHASA ACEH SINGKIL: ANALISIS TEORI X-BAR

    Get PDF
    Penelitian ini adalah analisis kalimat kausatif dalam bahasa Aceh Singkil. Kalimat kausatif bahasa Aceh Singkil merupakan kalimat yang melibatkan dua komponen atau kejadian sebab akibat. Di dalam konstruksi ini dikenal juga dengan konstruksi morfologis, sintaktis dan semantis. Penelitian ini menggunakan metode simak. Kemudian data dianalisis dan disajikan dengan metode formal dan informal. Tulisan ini menganalisis struktur kalimat kausatif tersebut menggunakan teori X-Bar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dasar kalimat kausatif dibentuk dari spesifier, infleksi, dan frasa verba

    LOA, Volume 15, Nomor 2, Desember 2020

    No full text

    STRATEGI KESANTUNAN POSITIF PRESIDEN JOKO WIDODO DALAM PIDATONYA BERKONTEKS DIPLOMASI LUAR NEGERI (The Positive Politeness Spoken by President Joko Widodo in A Context of International Diplomacy)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi kesantunan positif Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam pidatonya berkonteks diplomasi luar negeri. Penelitian ini menggunakan ancangan pragmatis. Data dalam studi ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang memenuhi rumusan strategi kesantunan positif yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson (1987). Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari video dan teks transkripsi pidato Presiden Jokowi pada Forum APEC CEO Summit dan Konferensi Asia Afrika. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan metode simak. Teknik analisis yang dipergunakan adalah model analisis interaktif. Hasil kajian ini menunjukkan Presiden Jokowi menggunakan tiga belas substrategi kesantunan positif yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson dalam pidatonya berkonteks diplomasi luar negeri, yaitu (1) memperhatikan kesukaan, keinginan, dan kebutuhan pendengar,      (2)membesar-besarkan perhatian, persetujuan, dan simpati kepada pendengar, (3) mengintensifkan perhatian pendengar dengan pendramatisiran peristiwa atau fakta, (4) menggunakan penanda identitas kelompok (bentuk sapaan, dialek, jargon, atau slang), (5) mencari persetujuan dengan  topik yang umum atau mengulang sebagian atau seluruh ujaran, (6) menghindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju, persetujuan yang semu (psedo agreement), menipu untuk kebaikan (white-lies), dan pemagaran opini (hedging opinions), (7)  menggunakan  basa-basi (small talk) dan presuposisi, (8) menggunakan lelucon, (9) memberikan tawaran atau janji, (10) menunjukkankeoptimisan,(11) melibatkan penutur dan pendengar dalam aktivitas, (12) memberikan pertanyaan atau meminta alasan, dan (13) memberikan hadiah (barang, simpati, perhatian, kerja sama) kepada pendengar. This research aims to describe the positive politeness strategy spoken by President Jokowi in his speech in a context of international diplomacy. This study uses a pragmatic approach. The data were words, phrases and sentences in President Jokowi's speech at the APEC CEO Summit Forum and the Asia Africa Conference. The data were collected by using documentation and note-taking. These data were analyzed using an interactive analysis model. The results of this study indicated that President Jokowi used 13 positive politeness sub-strategies developed by Brown and Levinson (1987) in his speech in the context of international diplomacy, namely (1) paying attention to the likes, desires and needs of listeners, (2) exaggerating attention, approval, and sympathy for listeners, (3) intensifying the listener's attention by dramatizing events or facts, (4) using group identity markers (greeting, dialect, jargon, or slang), (5) seeking an agreement on a general topic by repeating parts or all of the utterances, (6) avoiding disagreement by pretending to agree, pseudo agreement, white-lies, and hedging opinions, (7) using small talk and presupposition, (8) using jokes, (9) giving offers or promises, (10) showing optimism, (11) involving speakers and listeners in the activities, (12) giving questions or asking for reasons, and (13) giving gifts (goods, sympathy, attention, cooperation) to the listener

    NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA ANAK "DOA UNTUK AMANG KANI" KARYA SITI MAKIAH

    Get PDF
    Cerita anak  termasuk dalam sastra anak yang disajikan khusus untuk anak-anak. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam cerita anak Doa untuk Amang. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan karakter apa saja yang ada dalam cerita anak Doa untuk Amang  Kani dan indikator apa saja yang ada dalam setiap nilai pendidikan karakter tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat. Hasil analisis data bahwa dalam cerita anak Doa untuk Amang Kani terdapat lima nilai pendidikan karakter, yaitu (1) Keimanan dan ketakwaan, (2) Kejujuran. (3) Kecerdasan (4) Ketangguhan. (5) Kepedulian. Kelima nilai pendidikan karakter tersebut masing-masing mempunyai indikator

    Undas: Volume 16, Nomor 2

    No full text

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇