Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Kappa: Makhluk Mitologis Penjaga Sungai dalam Cerita Rakyat Jepang
This article discusses one of the Japanese mythological creatures in the youkai category, the kappa which is believed to be river guardians. Data is taken from the anthology of Japanese folklore Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 edited by Sayumi Kawauchi. Folklore used as the object of research are two titles that were chosen selectively which are "Kasa Uri Ohana" (Ohana the Umbrella Seller) and "Kappa no Amagoi " (Rain Calling Prayer from Kappa). Data were analyzed with Peirce's semiotic trichotomy theory, namely icons, indices and symbols, and literary anthropological theory. This article concluded three things related to the form of a kappa, where they are believed to be present and the status of kappa in the Japanese belief system. Kappa in Japanese mythology resembles a frog's shape but has scales and has a weakness in its skull. Kappa is believed to live in rivers in Japan. Kappa is present and has a special place in Japanese society's trust, evidenced by the existence of kappa temples. Unlike other Japanese youkai, the kappa is believed that before the form of the kappa he was a god whose rank was demoted, therefore it was believed that he could be begged for rain. The existence of kappa, thus, not only has negative attributes but also positive ones. AbstrakArtikel ini mengkaji sosok kappa, salah satu makhluk mitologis dan gaib Jepang yang masuk kategori youkai (hantu) dan dipercaya sebagai makhluk penjaga sungai. Data diambil dari antologi cerita rakyat Jepang Mangga Nippon Mukashi Banashi 101 dengan editor Sayumi Kawauchi. Cerita rakyat yang digunakan sebagai objek penelitian ada dua judul yang dipilih secara selektif, yaitu “Kasa Uri Ohana” (Ohana si Penjual Payung) dan “Kappa no Amagoi” (‘Doa Pemanggil Hujan dari Kappa). Data dianalisis dengan teori trikotomi semiotika Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol, serta teori antropologi sastra. Artikel ini menyimpulkan tiga hal, yaitu wujud kappa, tempat mereka dipercaya hadir, dan eksistensi kappa dalam sistem kepercayaan Jepang. Kappa dalam mitologi Jepang menyerupai wujud katak, tetapi bersisik dan memiliki kelemahan di tempurung kepalanya. Makhluk gaib ini dipercaya tinggal dan sekaligus menjadi penjaga sungai-sungai di Jepang. Kappa hadir dan memiliki tempat yang khusus dalam kepercayaan masyarakat Jepang, yang dibuktikan dengan terdapatnya kuil kappa. Tidak seperti youkai Jepang lainnya, kappa dipercaya bahwa sebelum berwujud kappa dia adalah dewa yang derajatnya diturunkan. Oleh karena itu, kappa diyakini bisa dimohon untuk mendatangkan hujan. Dengan demikian, eksistensi kappa tidak saja memiliki atribut negatif, tetapi juga positif
Labelisasi Portal Berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn
This paper discusses Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn. The research questions that discussed in this paper are how does the form of lexical choices in labelling "pelakor" toward Jennifer Dunn and what ideology was built by Kompas.com in labelling "pelakor" toward Jennifer Dunn? The focus of this paper is the lexical choice found in Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn and the ideology built by Kompas.com. In this paper, the writer uses the method of critical discourse analysis (CDA) by Norman Fairclough (1992) and uses a qualitative descriptive approach. The results of this paper are that Kompas.com news labelling toward Jennifer Dunn is a negative label or a word that has a negative connotation because the word ‘pelakor' is identical with destroying other people's relationship, and the ideologies built by Kompas.com is to perpetuate patriarchally. AbstrakPenelitian ini membahas tentang Labelisasi Portal Berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn. Permasalahan yang dibahas dalam artikel penelitian ini adalah bagaimana bentuk pemilihan kata yang terdapat dalam labelisasi “pelakor” pada Jennifer Dunn dalam Kompas.com dan bagaimana ideologi yang dibangun oleh Kompas.com dalam pelabelan “pelakor” pada Jennifer Dunn? Fokus dari penelitian ini adalah pemilihan kata atau lexical choices yang terdapat pada labelisasi portal berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn serta ideologi yang dibangun oleh Kompas.com dalam pelabelan terhadap Jennifer Dunn. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis wacana kritis (AWK) oleh Norman Fairclough (1992) dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah labelisasi yang dilakukan oleh portal berita Kompas.com terhadap Jennifer Dunn adalah label negatif atau kata yang berkonotasi negatif sebab kata pelakor identik dengan perusak hubungan orang lain, serta ideologi yang dibangun oleh Kompas.com adalah melanggengkan nilai patriarki
Penerjemahan Frasa Verbal dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia
This research analyzes the translation of English phrasal verbs into Indonesian. The goal of this research is to identify the translators’ understanding by means of equivalent translation of the phrasal verbs in Indonesian. Such goal is valuable since it helps us to see how the translators were able to comprehend meanings in context. The translation results also enable us to recognize the translators’ understandings of phrasal verbs of source language and their meanings in target language. This is a qualitative research which employs content analysis method. The data analysis technique is categorizing, or separation of the translation results based on the source language’s phrasal verbs type prior to applying meaning equivalence principles to the translations. The results of the analysis show that the respondents still face difficulties in translating English phrasal verbs into Indonesian because they are fixated on the verbal structures of source language and lack of understanding of the rules of the source language structure (linguistic barrier). Metacognitive barrier plays a role in the translation process due to lack of background knowledge gained from experience, thus affecting the ability to build strategies and influence decision-making.AbstrakPenelitian ini menganalisis penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pemahaman penerjemah melalui kesepadanan makna frasa verbal bahasa Indonesia. Usaha identifikasi ini bermanfaat untuk mengenali bahwa pemahaman makna kombinasi frasa verbal bahasa sumber dan konteks penggunaan frasa verbal dalam kalimat dapat diserap dengan baik oleh penerjemah sehingga dapat menghasilkan terjemahan yang tepat. Penelitian ini didasarkan pada pendekatan kualitatif, yaitu menggunakan metode kajian isi. Teknik analisis data menggunakan kategori atau pemisahan hasil terjemahan berdasarkan jenis frasa verbal bahasa sumber, kemudian kriteria kesepadanan makna diterapkan pada hasil terjemahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa para responden masih menghadapi kesulitan menerjemahkan frasa verbal bahasa Inggris ke bahasa Indonesia karena mereka masih terpaku pada struktur frasa verbal bahasa sumber dan kurang memahami kaidah struktur bahasa sumber (linguistic barrier). Didapati juga metacognitive barrier, yaitu kurang latar belakang pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sehingga mempengaruhi kemampuan membangun strategi dan memengaruhi pengambilan putusan
RELASI BAHASA MELAYU RIAU, BUGIS, DAN BANJAR: KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekerabatan bahasa Melayu Riau, Bugis, dan Banjar: Kajian Linguistik Historis Komparatif. Penelitian ini menggunakan metode komparatif, leksikostatistik, dan glotokronologi.Berdasarkan analisis komparatif terdapat 16 data yang identik (kognat), 25 data korespondensi fonemis, dan 36 data korespondesi fonetis. Hasil perhitungan leksikostatistik didapatkan persentase kekerabatan Bahasa Melayu Riau (BMR) dan Bahasa Bugis (BBu) 32%, BBu dan bahasa Banjar (BBa) 30%, serta BMR dan BBa 83%. Dari perhitungan tersebut ditentukan status kebahasaan bahwa BMR dan BBa diklasifikasikan bahasa dari subkeluarga, sedangkan BBu diklasifikasikan sebagai bahasa. Hasil glotokronologi menunjukkan bahwa waktu pisah antara bahasa Melayu Riau (BMR) dan bahasa Bugis (BBu) adalah 699 tahun yang lalu (25-50 abad), BBu dan bahasa Banjar (BBa) adalah 852 tahun yang lalu (25-50 abad), dan BMR dan BBa adalah 1975 tahun yang lalu (0-5 abad). Hasil komparatif dan glotokronologi tersebut menunjukkan bahwa bahasa Melayu Riau (BMR), bahasa Bugis (BBu), dan bahasa Banjar adalah berkerabat
The relationship of professional goals and the readiness in acquiring foreign language among advertising students: basis for foreign language training
The present study aims to determine the relationship of professional goals and readiness of advertising students in learning foreign language to be the basis for foreign language training. This study also aims to identify the preferred teaching method for studying foreign language and the ASEAN native language that they are interested to learn. The descriptive research involved 157 first year advertising students from the Polytechnic University of the Philippines through a survey. After the data gathering and statistical treatment of data, it was found out that the respondents’ aspiration falls on material security and their multicultural aspiration is towards deeper understanding on other people. The respondents expressed the readiness to learn foreign language to better understand the values, ideals, and assumption in life of their foreign counterparts. Grammar translation approach was preferred for learning the language and the most preferred ASEAN native language are Mandarin, Chinese, Thai, and Bahasa Indonesia
DI ANTARA TIGA BAHASA: SIKAP BAHASA MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA--MALAYSIA
AbstrakWilayah perbatasan yang dikepung oleh tiga bahasa, yaitu bahasa daerah, nasional, dan negara tetangga menggambarkan kemultibahasaan masyarakat di wilayah tersebut. Pemilihan suatu bahasa oleh masyarakat perbatasan dapat mencerminkan sikap atau pandangan masyarakat terhadap bahasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan bahasa dan sikap masyarakat perbatasan Long Apari terhadap tiga bahasa yang ada di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Long Apari memiliki sikap positif terhadap bahasa daerah dan Indonesia. Sikap positif tersebut ditunjukkan dengan dominasi penggunaan bahasa daerah pada ranah-ranah keluarga dan masyarakat. Sementara itu, penggunaan bahasa Indonesia tercermin dalam ranah-ranah pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, dan keagamaan. Hal berbeda ditunjukkan pada bahasa negara tetangga yang disikapi oleh masyarakat Long Apari dengan sangat tidak positif. Penggunaan bahasa negara tetangga didominasi pada ranah-ranah tertentu, seperti ranah perdagangan, jual beli, dan transaksi.Kata Kunci: sikap bahasa, wilayah perbatasan, Long Apari AbstractA border area portrays multilingual people surrounded by three languages (local, national, and foreign languages). The language selection of multilingual border residents can reflect the language attitude. The aim of this study is to determine the language attitude and the language selection of Long Apari people on those three languages. The study uses quantitative descriptive approach. The result shows that Long Apari people have a positive language attitude on a local language (Aoheng) and the national language (Bahasa Indonesia). The local language is dominant in family and community domains. Bahasa Indonesia is used in work, education, government, and religion domains. On the contrary, Long Apari people have a negative language attitude on the foreign language (Melayu Malaysia). They use it for trading and transaction domains.Keywords: language attitude, border area, Long Apar
PEMBELAJARAN BAHASA BERBASIS TEKS DALAM KURIKULUM 2013
AbstrakPembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 berbasis teks. Langkah atau tahap dalam siklus pembelajaran berbasis teks itu sejalan dengan pembelajaran berdasarkan pendekatan ilmiah yang menjadi ciri pembeda Kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Kesejalanan dan kesejajaran pembelajaran berbasis teks ini mendukung capaian integratif pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang juga menjadi ciri pembeda Kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya. Selanjutnya, dengan pembelajaran berbasis teks itu peran alamiah bahasa sebagai penghela atau perealisasi ilmu pengetahuan dalam bentuk tata bahasa atau leksikogramar diperkuat. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia berperan lintas mata pelajaran, yang memperkuat cakupan belajar bahasa, belajar mengenai bahasa, belajar melalui bahasa, dan paradigma globalisasi dalam ilmu pengetahuan.Kata Kunci: pembelajaran berbasis teks, kurikulum 2013, pendekatan ilmiah AbstractCurriculum 2013 applies text-based approach for Indonesian learning. The stages or steps in this approach’s learning cycle are in accordance with the scientific based learning approach which differentiates Curriculum 2013 from the prior one. The equivalence and equality of this text-based learning supports integrative achievements of knowledge, skills, and attitudes that also differentiate Curriculum 2013 from the prior one. Then, by using that text-based learning, the language’s natural role as the trigger and realizer of knowledge in grammar and lexico-grammar is fortified. This way, Indonesian learning works across subjects, which fortifythe scope of learning the language, learning about the language, learning through language and the globalization paradigm of knowledge.Keywords: text-based learning, Curriculum 2013, scientific approac