Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
KEKHASAN GAYA PIDATO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM KONGRES IV PDI PERJUANGAN DI BALI: TINJAUAN RETORIKA
AbstrakGaya bahasa sebagai bagian dari retorika memberikan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa. Gaya bahasa sering digunakan dalam pidato. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa Megawati Soekarnoputri dalam pidato politik pada pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan di Bali. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen. Sumber data dokumen, yaitu rekaman pidato Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan yang diunggah di Youtube. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan gaya bahasa dalam pidato tersebut sebagai berikut: penggunaan gaya bahasa resmi, nadanya bersifat mulia dan serius, menggunakan istilah-istilah politik kalangan PDI Perjuangan, dan Istilah-istilah Asing; penggunaan gaya mulia dan bertenaga diperkuat dengan nada suara tinggi dan nada suara rendah; penggunaan kekhasan gaya struktur kalimat, terwujud dalam gaya bahasa klimaks, antiklimaks, dan repetisi (epizeuksis, anafora, anadikplosis; penggunaan gaya bahasa retoris, berupa gaya bahasa pertanyaan retoris dan gaya bahasa hiperbol; penggunaan gaya bahasa kiasan, berupa gaya bahasa simile, gaya bahasa metafora, dan gaya bahasa personifikas; dan penggunaan humor saat menyapa para tamu undangan.Kata Kunci: Retorika, gaya bahasa, dan pidato AbstractLanguage user as a part of rhetoric changes the user soul and personality. Language style is often used in the speech. This research has a purpose to describe the used of Megawati Soekarnoputri’s language style in politics speech at the opening of the fourth congress PDI Perjuangan in Bali. The method used is qualitative researchdescription. The data used in this research is documentary. The source of data is from Megawati Soekarnoputri’s speech recording at the opening of the fourth congress PDI Perjuangan which is uploaded in Youtube. The result of the analysis show that the use of language style in the speech as follows: the use of formal language style, have noble and serious tone, use politics term in the PDI Perjuangan’s circle, and foreign term. The use of noble style and powerful are reinforced by accent. The use of special characteristic style structure sentencehave attained in language style climaxes, anticlimaxes, and repetition (epizeuksis, anaphora, anadikplosis). The use of rhetorical style, such as rhetorical question and hyperbola style. The use of figure of speech style, such as simile style, metaphor style, and personification style. The use of humor to accost the invitee.Keywords: Rhetoric, language style, and speec
DEIKSIS SOSIAL DALAM GALUH: SAKIDIT KISDAP BANJAR
AbstrakTulisan ini membahas mengenai jenis dan fungsi deiksis sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen Galuh: Sakidit Kisdap Banjar. Cerpen dalam bahasa Banjar sering disebut dengan kisdap (kisah handap). Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengolahan data deskriptif. Teknik analisis data dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam Galuh: Sakidit Kisdap Banjar terdapat deikisi sosial jenis 1) panggilan kehormatan, 2) jabatan, 3) gelar, 4) profesi, dan 5) julukan. Fungsi deiksis sosial yang terdapat dalam Galuh: Sakidit KisdapBanjar, yaitu menjadi 1) pembeda tingkat sosial, 2) alat memperjelas kedudukan seseorang dalam masyarakat, 3) alat identitas sosial, 4) alat memperjelas kedekatan hubungan sosial atau kekerabatan, 5) alat untuk menjaga sopan santun.Kata Kunci : deiksis sosial, fungsi, bentuk AbstractThis paper discusses about the types of social deixis and its social functions in short story collection “Galuh”. Short stories in Banjar are called kisdap (kisah handap). It is a qualitative and descriptive study. The technique used in the data analysis is content analysis. The result shows that there are types of social deixis in “Galuh” Kisdap: call of 1) honor, 2) position, 3) title, 4) profession, and 5) nickname. The functions of social deiksis in “Galuh” short story are 1) to differentiate the social level, 2) to clarify one’s position in society, 3) to show social identity, 4) to clarify the social closeness or kinship, 5) to keep up good manners.Keyword: social deixis, function, for
ANALISIS WACANA IKLAN PARANORMAL DALAM TABLOID POSMO
AbstrakWacana iklan paranormal ini merupakan wacana tertulis yang berisi penawaran sarana yang berhubungan dengan mistik atau daya magis. Pengiklan mencoba membujuk calon konsumen untuk menggunakan sarana ini serta memercayai adanya kekuatan supernatural yang mempengaruhi kehidupan manusia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengkaji wacana iklan paranormal dari perspektif analisis wacana. Pada iklan paranormal tabloid Posmo ditemukan penggunaan tindak tutur langsung dan struktur makro dan mikro. Penggunaanistilah dalam iklan paranormal terdiri atas kata atau frasa yang berasal dari bahasa Indonesia, Jawa, dan Arab.Kata kunci: iklan paranormal, analisis wacana, tindak tutur AbstractPsychic advertisements are written discourses containing items related to mystical and magical power. The advertisers persuade potential consumers to use these items and to believe in supernatural power that influences human life. This descriptive and qualitative study analyzes psychic advertisement from the perspective of discourse analysis. The finding reveals that the advertisements in Posmo tabloid use direct speech acts with macro and micro structures. The terms used in the advertisements are Indonesian, Javanese, and Arabic wordsor phrases.Keywords: Psychic advertisements, discourse analysis, direct speec
PERKEMBANGAN KRITIK SASTRA DI SUMATERA UTARA
Penelitian ini memaparkan sumbangsih para sastrawan dan kritikus Sumatera Utara dalam perkembangan sastra Indonesia. Para sastrawan yang lahir di Sumatera Utara telah memberi bukti keandalannya dalam menemukan estetika baru dalam karya sastra Indonesia. Para sastrawan dengan latar belakangnya dapat mengangkat budaya daerah masing-masing dalam karyanya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perkembangan sastra dan kritik sastra di Sumatera Utara, serta mendeskripsikan model kritik sastra di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kritik sastra di Sumatera Utara dimulai pada tahun 1980-an oleh para sastrawan yang menulis artikel berisi ulasan, resensi, timbangan, dan esai pada surat kabar Sinar Indonesia Baru dalam rubrik Abrakadabra yang telah banyak membuka ruang kreatif bagi para sastrawan, wartawan, kolumnis dan sarjana sastra. Model kritik sastra yang ada di Sumatera Utara adalah kritik akademis yang ditulis di perguruan tinggi, kritik sastra akademis yang ditulis untuk proyek penelitian, kritik sastra akademis yang ditulis untuk seminar atau simposium sastra, dan kritik sastra popular yang ditulis untuk surat kabar dan majalah. Kritik sastra feminis sudah berkembang di Sumatera Utara yang mulai oleh kalangan akademisi di USU dan UNIMED
PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN MELALUI METODE BERNYANYI DI PAUD NUR INSANI PIYAMAN, WONOSARI, GUNUNGKIDUL
Language is the main means of communication in human life in this world either in written form, oral and which is only a certain symbol. Without human language can not communicate because humans are social beings who inevitably have to interact with other humans. Language acquisition in humans begins with children when learning to speak. Language acquisition in each child is not the same, according to his age. In this research will be studied the acquisition of child language on phonology, morphology, and syntax aspects. This research uses qualitative research method with naturalistic technique. Sources of data in this study are the students of class A PAUD Nur Insani, Piyaman, Wonosari, Gunungkidul. The purpose of this study are: 1) explain the acquisition of phonology of children aged 2-3 years in early childhood Nur Insani Piyaman, Wonosari, Gunungkidul; 2) explain the acquisition of morphology of children aged 2-3 years in early childhood Nur Insani Piyaman, Wonosari, Gunungkidul; and 3) describes the acquisition of syntactics of children aged 2-3 years in early childhood Nur Insani Piyaman, Wonosari, Gunungkidul
Bentuk-Bentuk Satire Ekologis dalam Kumpulan Puisi Suara Anak Keerom: Tinjauan Ekokritik
The ecological satire is a ecocritical view that is study of critical and satire on environment literature. The satire is the massage delivery medium. Keerom is a area that are environment damage impacts. The problem is the exist of oil palm company. This study aims to describe the forms of ecological satire in the collection of Keerom Children's Voice poems written by students in Keerom. This research used ecocritical approach with discourse analysis method. The research tecniques used data collecting and data analysis. The data collecting tecniques used observation and book view. The data analysis technique through text analysis. The result founds three satire, there are abuse and insult form, nausea, and group or personal demerit telling. AbstrakSatire ekologis merupakan sebuah kajian ekokritik yang mengkaji kritik dan sindiran yang ada pada karya sastra yang berlatar lingkungan. Satire merupakan sarana penyampaian pesan. Keerom merupakan sebuah wilayah yang mengalami dampak kerusakan lingkungan. Penyebabnya adalah adanya perusahaan sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk satire ekologis dalam kumpulan puisi Suara Anak Keerom yang ditulis oleh anak-anak sekolah di Keerom. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan ekokritik dengan metode analisis wacana. Teknik penelitian yang digunakan ada dua, yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tinjauan kepustakaan. Teknik analisis data adalah dengan cara analisis teks. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tiga bentuk satire, yaitu berbentuk cemooh dan nista, perasaan muak, serta menceritakan kekurangan orang atau kelompok
Ketriaditisan Konteks Pragmatik Tuturan Tidak Santun: Perspektif Kultur Spesifik
The objective of this research was to describe the types of triadicities of pragmatic contexts on impolite utterances in the Indonesian language in culture-specific perspective. The research data were the natural utterances in a culture-specific domain intrinsically containing triadicity of pragmatic contexts. The data were collected and presented through the observation methods, both through the engaged conversation technique and uninvolved conversation technique. The data gathering techniques being applied in the observation method were the recording and note-taking techniques. In addition to the conversation technique, an interview technique was applied both the face-to-face and indirect conversations. The data gathering stage was completed when the data was ready to be analyzed. Data analysis was carried out using the identity method, especially the extralingual identity method. This aligned with the contextual analysis in pragmatics in which contextual aspects must be identified. The results of the study showedthat there were 10 types of triadicities of pragmatic contexts on impolite utterances in the Indonesian language in culture-specific perspective. They were triadicities of pragmatic contexts in: (1) pretense, (2) association, (3) taboos, (4) taunting, (5) arrogance, (6) pleonasm, (7) puns, (8) insults, (9) teasing, (10) interjection. The findings of research bring the significant contribution to the development of pragmatics, particularly the culture-specific pragmatics AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tipe-tipe ketriaditisan konteks pragmatik dalam bahasa Indonesia dengan perspektif kultur spesifik. Data penelitian berupa tuturan-tuturan natural manusia dalam domain kultur spesifik yang secara implisit mengandung triadisitas konteks pragmatik tersebut. Data dikumpulkan dengan menerapkan metode simak, baik simak libat cakap maupun simak bebas libat cakap. Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah teknik catat dan teknik rekam. Selain teknik-teknik tersebut, diterapkan pula teknik wawancara, baik yang sifatnya semuka maupun tidak semuka. Tahap pengumpulan data dipandang selesai ketika data benar-benar telah siap untuk dianalisis. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menerapkan metode padan, khususnya padan yang bersifat ekstralingual. Metode tersebut selaras dengan metode analisis kontekstual dalam pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis ketriaditisan konteks pragmatik dalam bahasa Indonesia dalam perspektif kultur spesifik. Kesepuluh jenis tersebut adalah ketriaditisan konteks pragmatik dalam tuturan yang mengandung makna: (1) kepura-puraan, (2) asosiasi, (3) tabu, (4) ejekan, (5) kesombongan, (6) pleonasme, (7) lelucon, (8) hinaan, (9) godaan, (10) interjeksi. Temuan penelitian ini diyakini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pragmatik, khususnya pragmatik dalam perspektif kultur spesifik
SUBJEK PSIKOTIK DALAM CERPEN “KELUARGA M” KARYA BUDI DARMA (Psychotic Subjects in The Short Story “Keluarga M” by Budi Darma)
Penelitian ini bertujuan menjelaskan pergerakan subjek dalam cerpen “Keluarga M”. Selain itu, penelitian ini juga melihat subjektivitas Budi Darma. Adapun objek material yang digunakan di dalam penelitian ini adalah cerpen “Keluarga M” karya Budi Darma, sedangkan teori yang digunakan adalah teori mengenai subjek dan gaze atau tatapan yang dikembangkan oleh tokoh post-marxist, Slavoj Žižek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah subjek di dalam cerpen “Keluarga M” karya Budi Darma terus mengalami pergerakan. Ia terus-menerus berusaha untuk keluar dari dimensi simbolik dan sosial dan usaha ini pun berhasil. Subjek pun sempat mengalami lack dan mencoba untuk meraih yang imajiner. Akibatnya, subjek sempat mengalami sinis, yakni sadar melakukan hal yang salah, tetapi tetap ia lakukan. Selanjutnya, pada satu saat, subjek sempat masuk dalam momen kosong dan menjadi subjek psikotik karena bisa berjarak terhadap dimensi simbolik dan sosial. Namun, subjek hanya mampu bergerak sampai di situ, ia tidak mampu melakukan tindakan radikal apa pun. Subjek malah kembali kepada dimensi simbolik dan sosial. Kemudian, subjektivitas Budi Darma tampak dari kegagalannya dalam membentuk subjek radikal dan hanya membentuk subjek psikotik.This study aimed to explain the movement of the subject in a short story. In addition, this study also looked at the subjectivity of Budi Darma. The material object used in this study is the short story "Keluarga M" by Budi Darma, while the theory used is a theory about the subject and gaze developed by a post-marxist figure, Slavoj Žižek. The method used in this research is qualitative method. The results of this study showed that the subject in the short story "Keluarga M" by Budi Darma continues to experience movement. He constantly tried to get out of the symbolic and social dimensions and this effort was successful. The subject also had experienced lack and tried to reach the imaginary. As a result, the subject had experienced cynicism, which was conscious of doing the wrong thing, but still he did. Furthermore, at one time, the subject had entered in an empty moment and became a psychotic subject because it could be distance from the symbolic and social dimensions. However, the subject was only able to move there, he was unable to carry out any radical actions. The subject instead returns to the symbolic and social dimensions. Then, Budi Darma's subjectivity appeared from his failure to form a radical subject and only formed a psychotic subject
PENANDA KALA ABSOLUT DALAM BAHASA MAKASSAR (Absolute Tense Markers in Makassarese Language)
Bahasa Makassar, sebagaimana bahasa daerah di Sulawesi Selatan pada umumnya, juga mengenal penanda kala yang digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat pendukungnya. Penelitian ini membahas kala absolut dalam bahasa Makassar, khususnya mengenai ciri-ciri kala, identifikasi bentuk kala, dan makna yang diungkapkan. Tujuan penelitian memperoleh deskripsi yang memadai tentang pernyataan kala absolut dalam bahasa Makassar, yang diungkapkan secara leksikal, beserta makna yang dikandung oleh pernyataan kala absolut tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan beberapa tahapan, yaitu (1) pengumpulan data dengan menerapkan teknik wawancara langsung dan seterusnya dengan narasumber kemudian mencocokan dengan bahasa yang dikuasai oleh peneliti sebagai penutur bahasa Makassar, lalu merekam dan mencatat hasil wawancara tersebut, (2) pengolahan data, pertama-tama dilakukan transkripsi data dari bahasa lisan ke bahasa tulis, lalu diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan makna yang dikandungnya, dan (3) tahap penganalisisan data. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis dengan menerapkan teknik distribusi untuk menguji keterangan letak antara leksem yang satu dengan leksem yang lainnya, berdasarkan waktu yang ditunjukkan. Sumber data diperoleh dari bahasa lisan dan bahasa tertulis. Bahasa lisan diperoleh dari narasumber (informan) dan bahasa tertulis yang diperoleh dari hasil penelitian dan buku-buku yang relevan dengan penelitian ini sebagai sumber acuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanda kala absolut dibentuk dari adverbia temporal yang dinyatakan dalam bentuk leksikal.The language of Makassarese, as well as regional language in South Sulawesi in general, also recognizes the markers used in conversations by the support community. This study discusses the absolute tense in Makassar language, especially regarding the characteristics of tense, tense identification, aspect, and modalities; as well as form, and meaning expressed. The purpose of this study to obtain an adequate description of the absolute tense makers in Makasarese language, which is expressed lexically, along with the meaning contained in the absolute tense markers. This research uses descriptive method with several techniques. (1) Data is collected by recording the direct interview with language informant then the data collected is matched with the language mastered by the researcher as a native speaker of Makassarese language.(2) The data is then transcribed is the analyzed; based on the from spoken language to written language; the it is classified according to the form and the meaning it contains. (3) The data is then analyzed based on the time it is designated. The data is collected from spoken and written languages. Oral language is derived from informants and written language is obtained from research results and books relevant to this research, i.e. as references. The results show that absolute tense markers are found in the form of temporal adverbs expressed in lexical forms