Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Refleksi Budaya Banjar dan Dayak dalam Novel Jendela Seribu Sungai Karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli (Kajian Etnolinguistik)

    Get PDF
    Masyarakat Banjar dan Dayak masih memegang teguh budaya mereka masing-masing dan diikuti sampai sekarang. Bagaimana budaya itu direfleksikan oleh para tokoh dalam novel Jendela Seribu Sungai menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan budaya Banjar dan Dayak yang direfleksikan dalam novel Jendela Seribu Sungai karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli dikaji dari pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tahapan membaca, menginventarisasi, mereduksi, menganalisis, dan terakhir memberi simpulan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa refleksi budaya Banjar dan Dayak dalam novel Jendela Seribu Sungai dapat dilihat dari tradisi dan adat kebiasaan masyarakat Banjar dan Dayak yang masih dilaksanakan;, ungkapan dan peribahasa yang menjadi pedoman hidup masyarakat Banjar dan Dayak; ritual dan kepercayaan yang masih diyakini; permainan tradisional yang masih dimainkan oleh masyarakat Banjar dan Daya;, makanan  tradisisonal yang menjadi ciri khas masyarakat Banjar dan Dayak; serta mantra atau doa yang masih dibaca dalam setiap prosesi upacara. Banjar and Dayak communities uphold their cultures and they still follow them until now. How that culture is reflected by the characters in the novel Jendela Seribu Sungai becomes an issue in this study. This research aims to describe Banjar and Dayak culture reflected in the novel Jendela Seribu Sungai by Miranda Seftiana and Avesina Soebli and it is reviewed from ethnolinguistics approach. The methods used in this study are qualitative descriptive methods by reading the novel Jendela Seribu Sungai, inventorying data, reducing data, analyzing data, and giving conclusion. From the results of this study it can be concluded that the reflections of Banjar and Dayak culture in the novel Jendela Seribu Sungai displays various traditions and customs of Banjar and Dayak communities and it still implemented; phrases and proverbs that become the guidelines of Banjar and Dayak people; rituals and beliefs that are still believed; traditional games that are often played by Banjar and Dayak people; food that becomes the characteristic of Banjar and Dayak people; and also spells or prayers that are still read in each ceremonial procession.  

    Opresi Pernikahan Bagi Perempuan dalam Cerpen “Jemari Kiri” Karya Djenar Maesa Ayu

    Get PDF
    This study aims to discuss the forms of oppression that occur in a marriage. In the short story “Jemari Kiri” by Djenar Maesa Ayu found oppression carried out in a marriage is very detrimental to women. This research uses literature study method and data collection through the reading of the “Jemari Kiri” short story which is conducted to obtain the description of the oppression that occurs in the short story. The data were then analyzed using descriptive methods and feminist theory by linking oppression in marriage and women depicted in the short story “Jemari Kiri”. The results showed that the oppression that occurs in marriage described in the short story “Jemari Kiri” caused women to experience limitations in living their lives as free human beings so that equality of rights between husband and wife was needed to achieve an ideal marriage and provide happiness for both parties. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk opresi yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Dalam cerpen “Jemari Kiri” karya Djenar Maesa Ayu ditemukan opresi dalam pernikahan yang sangat merugikan kaum perempuan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan pengumpulan data melalui pembacaan cerpen “Jemari Kiri” yang dilakukan untuk memperoleh gambaran opresi yang terjadi dalam cerpen tersebut. Data kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif dan teori feminis dengan menghubungkan opresi dalam pernikahan dan perempuan yang tergambar dalam cerpen “Jemari Kiri”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opresi yang terjadi dalam pernikahan yang digambarkan dalam cerpen “Jemari Kiri” menyebabkan perempuan mengalami keterbatasan dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia yang bebas sehingga dibutuhkan kesetaraan hak antara suami dan istri untuk mencapai pernikahan yang ideal dan memberikan kebahagiaan bagi kedua belah pihak

    Penggunaan Bahasa Nonverbal dalam Upacara Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta: Kajian Simbolik Etnopragmatik

    Get PDF
    This research is an interpretive reflective research with ethnopragmatic symbolic study theory. The source of the research data was taken from the documents of two makeup artists from Yogyakata, namely the makeup dresser Lisandra and the makeup dresser Hj. Rochayati. The research data are in the form of Javanese traditional wedding document of Yogyakarta style. The data collection technique is in the form of observation of photo documentation to obtain data in the form of a marriage ceremony sequence that uses verbal and nonverbal language from preparation to the end. The data analysis technique is interpretive reflective. The concrete steps of data analysis are (a) identifying documents, (b) classifying the sequences of marriages, and (c) interpreting each stage of the ceremony. The objectives of the research are (1) to describe the form of nonverbal language in traditional marriage ceremonies, and (2) to describe the non-verbal symbolic meaning of non-verbal language in marriage ceremonies. The findings of the research are that (a) the form of Yogyakarta-style traditional wedding events there are 15 stages, ranging from paningsetan to reception, and (b) ethnopragmatic symbolic meaning in general in the form of prayer requests so that what is desired can be realized.AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian reflektif interpretatif dengan teori kajian simbolik etnopragmatik. Sumber data penelitian diambil dari dokumen dua orang juru rias dari Yogyakata, yaitu rias pengantin Lisandra dan rias penantin Hj. Rochayati (nama disamarkan). Data penelitian berupa dokumen foto perkawinan adat Jawa gaya Yogyakarta. Teknik pengumpulan data berupa observasi dokumentasi foto untuk mendapatkan data berupa urutan upacara perkawinan yang menggunakan bahasa verbal dan bahasa nonverbal dari persiapan sampai dengan akhir. Teknik analisis data dilakukan secara reflektif interpretatif. Langkah konkret analisis data adalah (a) mengidentifikasi dokumen, (b) mengklasifikasi urut-urutan acara perkawinan, dan (c) menginterpretasi tiap tahapan upacara. Tujuan penelitiannya adalah (1) mendeskripsikan wujud bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan, dan (2) mendeskripsikan makna simbolik etnopragmatik bahasa nonverbal dalam upacara adat perkawinan. Temuan hasil penelitian adalah bahwa (a) wujud acara adat perkawinan gaya Yogyakarta terdapat 15 tahapan, mulai dari paningsetan sampai dengan resepsi, dan (b) makna simbolik etnopragmatik pada umumnya berupa doa permohonan agar apa yang diinginkan dapat terwujud

    Wujud Pelanggaran Kesantunan Tuturan Manyambati dalam Bahasa Banjar

    Get PDF
    Penelitian ini  bertujuan untuk memaparkan tuturan manyambati  dalam bahasa Banjar. Masalah yaitu bagaimana wujud pelanggaran kesantunan berbahasa  tuturan manyambati     dalam bahasa Banjar.Tujuan penelitian mendeskripsikan  wujud pelanggaran kesantunan berbahasa  tuturan manyambati     dalam bahasa Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan tiga langkah kerja yaitu tahap penyedian data, analisis data, dan penyajian data.Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah teknik  rekam dan dokumentasi.Waktu pengambilan data dari bulan Januari 2019 s.d Maret 2019. Tempat dan sumber  data adalah tuturan masyarakat di Banjarmasin, Banjar baru, dan Martapura. Data berasal tuturan masyarakat Analisis data dilakukan berdasarkan teori tindak tutur Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan teknik interpretatif. Hasil analisis data disajikan dengan kata-kata biasa. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa wujud pelanggaran kesantunan berbahasa  tuturan manyambati  dalam bahasa Banjar terdiri atas manyambati  dengan penyebutan kekurangan fisik, pekerjaan negatif, nama orang tua dan benda kotor.Keempat  maksud  tuturan manyambati  ini telah melakukan pengancaman muka kepada mitra tutur.Penutur telah melanggar prinsip kesantunan berbahasa.This study aims to present manyambati utterances in the Banjarese language. The problem is how does the form of violations of politeness utterance manyambati in Banjar language. The purpose of this study is to describe the form of violation of politeness utterance manyambati in Banjar language. It is a qualitative study using a descriptive method. This study uses three steps of work, they are providing data, analyzing data, and presenting data. The technique used in data collection is recording and documentation. The data are taken from January 2019 to March 2019. The place and source of data are taken from people who live in Banjarmasin, Banjarbaru, and Martapura. To analyze the data this study uses the speech act theory. This study uses a descriptive and interpretative technique. The result of data analysis is presented in common words. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the form of violations of politeness utterance manyambati in Banjar language consists of mentioning someone's physical deficiency, negative work, names of parents, and dirty objects. These four manyambati utterances have already threatened someone's dignity. The speaker has already violated the principal politeness language

    Formula dan Struktur Mantra Banjar: Sumpah Serapah Mamburu Hantu Kuyang

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan formula mantra ‘Sumpah Sarapah Mamburu Hantu Kuyang’. Mantra merupakan puisi lama berisi susunan kata-kata unik dengan kandungan tuah-tuah magis tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Penelitian ini menganalisis mantra Banjar pengusir hantu kuyang “Sumpah Sarapah Mamburu Hantu Kuyang (SSMHK)”. Mantra SSMHK biasa dipergunakan oleh bidan atau dukun beranak di Banjar pada zaman dahulu supaya tidak diganggu hantu kuyang saat membantu persalinan. Hantu kuyang dipercaya sebagai hantu perempuan pengisap darah yang menggunakan minyak kuyang untuk mencari mangsanya. Minyak kuyang sebagai sarana untuk membuat wajah seorang perempuan menjadi tampak cantik jelita. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi pustaka dengan memanfaatkan pendekatan struktural yang menekankan pada analisis tekstual.  Hasil analisis memberikan gambaran singkat mengenai aspek-aspek kelisanan berupa struktur mantra, formula repetisi, formula pararelisme, formula sintaksis dan ekspresi formulaik pada mantra Banjar ‘Sumpah Sarapah Mamburu Hantu Kuyang’.This study aims to describe the structure and formula of mantra 'The Oath To Hunt Kuyang Ghosts'. Mantra is an old literary poetry that contains a unique arrangement of words and certain magical power to achieve a goal. This study analyzes the Banjar mantra to exorcize Kuyang ghosts (SSMHK). Mantra SSMHK is usually used by midwives or traditional birth attendants in Banjar a long time ago so that they wouldn't be disturbed by Kuyang ghosts when they are helping people to give birth. Kuyang is believed as a bloodsucking female ghost who uses Kuyang oil to find her prey. Kuyang oil is used as a means to make a woman's face look beautiful. This study uses a structural approach that emphasizes on textual analysis. The results of the analysis provide a brief description of the oral aspects in the form of mantra structures, repetition formulas, parallelism formulas, syntactic formulas, and formulaic expressions on Banjar mantra 'The Oath To Hunt Kuyang Ghost'

    HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM CERPEN SUNDA KAWUNG RATU KARYA WAHYU WIBISANA KAJIAN EKOKRITIK

    Get PDF
    Humans and the natural environment should have a mutually beneficial and mutually beneficial symbiotic relationship. Humans need the natural environment to survive, as well as the natural environment requires humans to maintain their habitat. But in fact, humans actually take advantage of the natural environment and over-exploit it with greed, causing environmental damage. Humans tend to think of themselves as anthropocentric, which then backfires on themselves, because nature is corrupted and humans become miserable. In a Sundanese short story entitled "“Kawung Ratu”" by Wahyu Wibasana, it is described how the human relationship with nature is so close and friendly. Nature and the environment are represented by kawung / aren / enau trees. There is a symbiotic relationship between mutualism that occurs in the main character (human) and the kawung tree (plant) which can then be interpreted as one of the ways the Sundanese are so close to nature. In the short story, the presence of nature and the environment is not to be overexploited but to be used as partners and friends in life. The research method used is a qualitative descriptive method, with a focus on ecocritical ethical studies. The results of his research clearly illustrate how the attitude of the main character Aki Sukarma towards the kawung tree which is named “Kawung Ratu” (nature), such as how responsibility, affection, care and caution are so as not to disturb their natural life. Through the short story “Kawung Ratu”, the Sundanese people can be said to be very close to nature and treat nature as well as they treat themselves. AbstrakManusia dan lingkungan alam seharusnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Manusia membutuhkan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Begitu juga lingkungan alam membutuhkan manusia untuk memelihara habitat hidupnya. Namun, pada kenyataanya manusia justru memanfaatkan lingkungan alam dan mengekspolitasinya secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Manusia cenderung menganggap dirinya antroposentris yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena alam rusak hidup manusia menjadi sengsara. Dalam cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Kawung Ratu” karya Wahyu Wibasana, digambarkan bagaimana hubungan manusia dengan alamnya yang begitu dekat dan bersahabat. Alam dan lingkungan diwakili oleh pohon kawung/aren/enau. Ada hubungan simbiosis mutualisme terjadi dalam tokoh utama (manusia) dengan pohon kawung (tumbuhan) yang kemudian dapat dimaknai sebagai salah satu cara orang Sunda bersahabat dengan alam. Dalam cerpen tersebut, kehadiran alam dan lingkungan bukan untuk diekspolitasi secara berlebihan tetapi dijadikan sebagai mitra dan sahabat dalam menempuh hidup. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan fokus kajian etis ekokritik. Hasil penelitiannya tergambar jelas bagaimana sikap dari tokoh utama Aki Sukarma terhadap pohon kawung yang diberi nama “Kawung Ratu”, seperti bagaimana tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian dan kehati-hatiaannya agar tidak mengganggu kehidupan alamnya. Melalui cerpen ““Kawung Ratu””, masyarakat Sunda dapat dikatakan begitu dekat dengan alam dan memperlakukan alam sebaik ia memperlakukan dirinya sendiri

    Bahasa Adang di Pulau Alor: Kajian Vitalitas Etnolinguistik

    Get PDF
    Language use is a critical indicator for ethnolinguistic vitality. The greater the number of domains where a language used, the stronger a language. This study aims to examine the vitality of Adang language in Adang Buom, Teluk Mutiara District, Alor Regency based on indicator of language use. The Adang use is observed in five domains such as home, religion, transaction, education, government and health institution. Data are collected using questionaire and analyzed within ethnolinguistic vitality theory. This study finds that the number of Adang domains amongst Adang Buom community has decreased. Adang is used in conjuction with Indonesian (or Malay-alor), both in private and public domains. The young generation tends to use Indonesian (or Malay-Alor) in home domain. Based on the indicator of language use, Adang could be categorized as a language with dwindling domains. Trend in Indonesian usage amongst Adang community is motivated by communicative, economic, prestigious, and religious motivations.AbstrakPenggunaan bahasa dalam ranah merupakan indikator penting vitalitas etnolinguistik. Sebuah bahasa yang digunakan di ranah yang beragam akan memiliki daya hidup yang kuat. Kajian ini bertujuan untuk mengukur tingkat daya hidup bahasa Adang di Adang Buom, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor berdasarkan indikator penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa Adang dilihat dalam lima ranah, yaitu rumah, ibadah, transaksi, pendidikan, dan institusi pemerintahan dan kesehatan. Data kajian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan teori vitalitas etnolinguistik. Hasil kajian menunjukkan jumlah ranah penggunaan bahasa Adang dalam komunitas tutur Adang Buom mengalami penyusutan. Bahasa Adang digunakan bersamaan dengan penggunaan bahasa Indonesia (atau Melayu-Alor), baik di ranah yang bersifat pribadi maupun publik. Generasi muda cenderung menggunakan bahasa Indonesia (atau Melayu-Alor) di ranah rumah dengan keluarga. Dari indikator penggunaan bahasa, Adang dapat dikategorikan sebagai bahasa dengan ranah yang berkurang atau dwindling domains. Adanya kecenderungan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan komunitas Adang didorong oleh motivasi komunikatif, ekonomi, prestisius, dan religius

    LOA COVER DEPAN

    No full text

    Campur Kode Dialog Interaktif;Parlemen Berbicara

    Get PDF
    Campuran kode sering terjadi karena kemampuan seseorang menguasai bahasa lebih dari satu. Penguasaan lebih dari satu bahasa ini dalam sosiolinguistik disebut bilingual atau multibahasa. Penelitian ini difokuskan  bagaimana campur code dalam dialog interaktif; parlemen berbicara di Televisi Republik Indonesia Kalimantan Barat. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan campuran kode dalam dialog interaktif; parlemen berbicara di Televisi Republik Indonesia Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan data dengan cara permohonan permintaan sorffile ke stasiun TVRI Kalimantan Barat dalam bentuk data lunak (sorffile) tahun 2017. Kemudian, data yang telah diperoleh ditranskripsikan dan diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi campur kode dalam dialog interaktif; parlemen berbicara di Televisi Republik Indonesia Kalimantan Barat terdiri dari campur kode ke dalam dan ke luar. Campur kode  yang ditemukan meliputi bahasa Indonesia - Melayu dialek Pontianak, Indonesia-Melayu dialek Betawi, Indonesia - Inggris, dan Indonesia-Arab.   

    Formula Glorifikasi Pemimpin Dalam Hikayat Banjar

    Get PDF
    Dalam penciptaan teks sastra kuno Melayu, narator tidak terlepas dari formula-formula sebagai gawai untuk menata sistem kebahasaan dengan gaya-gaya retoris tertentu. Formula-formula penceritaan tersebut merupakan salah satu ciri-ciri adanya jejak tradisi lisan yang ditemukan di dalam naskah tertulis. Hal ini juga terjadi pada penciptaan teks Hikayat Banjar (HB). Sebagai salah satu naskah kanon yang berasal dari kerajaan di Kalimantan, di dalam masyarakat Banjar yang memiliki tradisi lisan yang masih berkembang hingga saat ini, HB memiliki formula-formula khusus dalam penceritaannya yang kemungkinan besar merupakan rekaman jejak sastra lisan masyarakat Banjar. Makalah ini berusaha menjelaskan mengenai formula-formula yang digunakan di dalam HB, khususnya formula yang digunakan untuk mengglorifikasikan pemimpin yang dikisahkan di dalamnya. Elemen-elemen yang berkaitan dengan raja atau pemimpin dikisahkan dengan sarana-sarana retorika seperti enumerasi, paralelisme, dan repetisi, baik repetisi dalam jajaran kata, frase, klausa hingga repetisi dalam bentuk wacana. Penggunaan sarana retorika tersebut untuk menekankan betapa dominan dan istimewanya raja yang digambarkan di dalam teks HB

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇