Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
REFLEKSI REFORMASI PERILAKU MASYARAKAT DALAM CERPEN “KARANGAN BUNGA DARI MENTERI” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (Reflection on Community Behavior Reform in The Short Story “Karangan Bunga dari Menteri” by Seno Gumira Ajidarma)
Masalah yang diungkap dalam karya tulis ilmiah ini adalah bagaimanakah kritik sosial atas kebobrokan perilaku pejabat negara dan/atau anggota masyarakat yang terkandung dalam cerpen “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma? Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik sosial atas kebobrokan perilaku pejabat negara dan/atau anggota masyarakat yang terkandung dalam cerpen “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma. Karya tulis ilmiah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif interpretatif. Dikaji menggunakan pendekatan sosiologi sastra dari tinjauan aspek sosial dan budaya. Data karya tulis ilmiah berupa teks narasi dan dialog dalam “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dengan cara menyimak dan mencatat pokok persoalan yang akan dikaji. Teknik analisis data menggunakan metode pembacaan heuristik dan hermeneutika. Hasil karya tulis ilmiah menunjukkan kritik sosial yang dimaksud adalah kritikan terhadap pemerintahan yang disajikan dengan cara yang cukup halus, tetapi terbuka. Dalam hal ini, pengarang melambangkannya dengan sosok seorang menteri yang sangat sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga menganggap undangan pernikahan yang dialamatkan kepadanya tidak penting. Dalam cerpen itu, tampak kepiawaian Seno Gumira Ajidarma dalam mengolah kritik sosial yang dibalut dengan alur cerita dan penokohan yang apik. Pengarang tampil sebagai sosok “hakim sosial kemasyarakatan” dalam merawat dan mengawal kehidupan masyarakat yang berbudaya. The problem revealed in this study is how is social criticism of the depravity of the behavior of state officials and / or members of the community itself contained in the short story "Garlands of Ministers" by Seno Gumira Ajidarma? This study aims to describe the social criticism of the depravity of the behavior of state officials and / or members of the community itself contained in the short story "Wreath of the Minister" by Seno Gumira Ajidarma. This study uses a descriptive qualitative interpretive method. The elaboration uses a sociological approach to literature from the viewpoint of social and cultural aspects. The research data are in the form of narrative texts and dialogues in "Garlands of Ministers" by Seno Gumira Ajidarma. Data collection techniques using literature study by listening and noting the main issues that will be decomposed. Data analysis techniques used heuristic and hermeneutic reading methods. The results showed that the social criticism concerned was criticism of government presented in a fairly subtle, but open way. In this case the author symbolizes it with the figure of a minister who is so busy with his work affairs that he considers the marriage invitation addressed to him unimportant. In this short story, Seno Gumira Ajidarma's expertise in processing his social criticism was wrapped with neat storylines and characterizations. The author appears as a figure of "social social judge" in caring for and guarding the life of a civilized society
KOMPOSITUM IDIOMATIS DALAM BAHASA MANDAR (Idiomatic Compound in Mandarese Language)
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kompositum idiomatis bahasa Mandar. Tulisan ini menggunakan teori morfologi struktural dengan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi,pencatatan, dan retrospeksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konstruksi kompositum idiomatis bahasa Mandar dapat dibentuk dari beberapa pola, yaitu pola (kata dasar+kata dasar), (kata berimbuhan+kata dasar), (kata dasar+ kata berimbuhan), (kata ulang+kata dasar), dan (kata dasar+kata ulang). Konstruksi unik ditemukan pada pola (kata berimbuhan+kata dasar), komponen kedua kompositum ini semuanya diisi oleh nama binatang yang menjadi analogi bagi bentuk, keadaan, dan sifat manusia. Muatan makna kompositum adalah solidaritas dan pendidikan di samping muatan yang bersifat positif dan negatif. Kompositum idiomatis bahasa Mandar dapat menduduki fungsi subjek, predikat, objek, dan keterangan dalam konstruksi kalimat.The writing aims at uncovering idiomatic compounds in Mandarese language. It applies structural morphology theory using descriptive qualitative through technique of collecting data such as: observation, taking note, and retrospection. Result of research shows that the construction of idiomatic compound in Mandarese language could be formed based on some patterns, namely (base form+base form), (affixes word+base form), (base form+affixes word), (repetition+base form), and (base form+repetition) patterns. Unique construction is found in (affixes word+base form) pattern, the component of both compounds consists of animal names that become analogy of form, situation and nature of human being. The meaning of compound is solidarity and education but also implies positive and negative meaning. Idiomatic compound of Mandarese language places the function of subject, predicate, object, and adverb in construction of sentence
KRITIK SOSIAL DALAM TIGA CERPEN DI KORAN MANUNTUNG TAHUN 1980-AN DI KALIMANTAN TIMUR
AbstrakPengkajian ini memaparkan gambaran kritik sosial dalam tiga cerpen yang dimuat dalam koran di Kalimantan Timur pada tahun 1980-an, yaitu “Nomer”, “Suatu Sore di Pinggiran Desa”, dan “Tatkala Takbir Menggema”. Fenomena sosial di masyarakat dalam cerpen yang dimuat dalam media cetak berbentuk koran ini layak diungkapkan. Pengungkapan fenomena sosial dalam tiga cerpen tersebut sangat diperlukan untuk melihat kondisi sosial masyarakat di tahun 1980-an karena pada tahun-tahun tersebut dapat dikatakan sebagai awal kemunculan karya sastra berbentuk cerpen dalam media cetak berbentuk koran di Kalimantan Timur. Metode kualitatif digunakan penulis untuk mengungkapkan gambaran sosial yang terjadi pada tahun 1980-an di Kalimantan Timur. Pendekatan sosiologi sastra digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan masalah sosial dalam tiga cerpen ini. Namun, sebagai pijakan awal, penulis akan memanfaatkan struktural untuk mengungkapkan salah satu unsur intrinsik yang terdapat dalam karya cerpen yang dibahas. Gambaran masalah sosial yang terdapat dalam tiga cerpen di atas adalah masalah kemiskinan, disorganisasi dalam keluarga, disorganisasi keluarga, generasi muda dalam masyarakat modern, pelanggaran terhadap norma masyarakat, kependudukan, lingkungan hidup, dan birokrasi. Kata kunci: kaltim, kritik sosial, koran, cerpen Abstract This study presents a picture of social criticism in three short stories published in newspapers in East Kalimantan in the 1980s, namely "Nomer", "Suatu Sore di Pinggiran Desa", and "Tatkala Takbir Menggema". Social phenomena in the society in those short stories are worth disclosing. It is necessary to see the social conditions in the society in the 1980s. It can be considered to be the beginning of literary works in the form of short stories in print media of newspapers in East Kalimantan. The author uses qualitative methods to reveal the social picture in the 1980s in East Kalimantan. It also uses the sociological approaches to literature to show social problems in these three short stories. However, as a starting point, the writer will use the structure to reveal one of the intrinsic elements in the short stories. Social problems in those short stories are poverty, disorganization in the family, family disorganization, young people in modern society, violations of social norms, demography, environment, and bureaucracy. Keywords: East Kalimantan, social criticism, newspaper, short stories
Legenda Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Pengaruhnya pada Masyarakat Banjar
Cerita para datu merupakan cerita dalam bentuk legenda yang menceritakan kiprah para datu dalam membina masyarakat dan menyebarkan ajaran Islam. Legenda Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari merupakan cerita yang terdapat di Martapura yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Penelitian ini akan membahas tentang legenda salah seorang datu yang menyebarkan agama Islam di Kabupaten Banjar, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Penelitian ini bertujuan menguraikan tentang mitos Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, mendeskripsikan perjalanan hidupnya dan keramat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi deskritif. Dengan metode akan diuraikan pengaruh yang muncul dari legenda Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pada budaya dan kehidupan masyarakat Banjar. Dengan menggunakan metode ini ditemukan bahwa legenda Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari telah membentuk karakter orang Martapura menjadi suka akan ilmu, peduli pada pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, yaitu pesantren dan memandang keramat sebagai pelengkap keilmuan, bukan menjadi fokus dalam menuntut ilmu dan ibadah. The story of the datu is a story in the form of a legend that tells the role of the datu in developing society and spreading Islamic teachings. The legend of Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari is a story from Martapura, which has an important role in the spread of Islam in South Kalimantan. This study will discuss the legend of one of the datu who spread Islam in Banjar Regency, namely Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. The objective of this study is to describe the myth of Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, the story of his life, and the sacredness of Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Using the ethnographic descriptive method, it will reveal the influence that emerged from the legend of Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari in the Banjar society. This method has shown that the legend of Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari has shaped the character of the Martapura people. They like studying and care about the development of educational facilities and infrastructure, such as Islamic boarding schools, and view of sacredness as a part of science, not as a focus in studying and worship
TOKOH-TOKOH NATIVEPHILIA DALAM ANTOLOGI CERPEN SEMUA UNTUK HINDIA KARYA IKSAKA BANU: ANALISIS PASCAKOLONIAL HOMI K. BHABA
Pada tahun 2014 antologi cerpen Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu dinobatkan sebagai buku prosa terbaik oleh Kusala Sastra Khatulistiwa. Selain kelihaiannya dalam meramu ruang imaji di celah fakta historis, ada hal lain yang menarik dari antologi tersebut, yakni hadirnya tokoh-tokoh Eropa selaku narator atau tokoh sentral, namun tingkah laku mereka tak seperti orang Eropa pada umumnya. Mereka berpotensi memiliki keberpihakan (empati) pada Pribumi. Empati tokoh-tokoh Eropa tersebut bahkan menjadi konflik berulang. Pada penelitian ini, tokoh-tokoh Eropa yang berhaluan kepada Pribumi diistilahkan sebagai nativephilia. Dengan konsep split (terpecah / terbelah) yang dipopulerkan oleh Homi K. Bhabha, penelitian ini menguatkan pandangan Bhabha bahwa Timur (Pribumi) juga ternyata dapat membentuk Barat (Eropa). Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh Eropa tersebut terbelah jiwanya, antara dirinya yang asli (penjajah) dengan dirinya yang lain yang bersimpati pada pribumi (terjajah).Kata kunci: Pascakolonial, Semua untuk Hindia, Nativephilia, Homi K Bhabha
Antara Ideal dan Utopis dalam Cerpen “Dongeng Tarka dan Sarka”:Telaah Konsep Kebersamaan Jean-Luc Nancy
The discourse about human existence in the world is a form of dasein communality that forms a certain group. The existence of groups then brings human life in the dimension of Being-In-Common. With the concept of Being-In-Common the subject continues to move and proceed towards an ideal situation. This situation become to the concept of Literary Utopia, where the subjects lives continued to share in togetherness. This part of the meaning of life is possible to lead in ideal conditions, a fantasy of a better life for the future with a sense of brotherhood as the key. Meanwhile, the ideal situation is a condition where the community goes to a dimension that has not yet been perfectly translated, so that a series of processes of division into a utopian step. It's no longer towards the ideal, but the mechanism that makes the lives of subjects share meaning. This condition then becomes the navigation’s subject determined in his ideal life, because if there is no dialectics, then life will be finished and no part of the expected meaning. Short story "Tarka and Sarka" by Yanusa Nugroho illustrates the existence of various meanings in the life of the subject. Internalization of religious values embedded in Tarka and Sarka figures is a form of dialectics that functions as a utopia in life. To analyze this, this study uses Jean-Luc Nancy's social philosophy theory. The results of this study are 1). Exploring the concept of life There-In-Togetherness and; 2). The existence of the conception of Literary Utopia as a process for approaching an ideal life for the subject.Keywords: Being-In-Common, Ideal, Utopia, Jean-Luc Nancy
STRUKTUR SEMANTIS VERBA PSIKOLOGI BAHASA MANDAILING
Penelitian ini mendeskripsikan struktur semantis predikat mental BM pada subkategori verba sebagai subjek pengalam dan verba sebagai objek pengalam. Adapun yang melatar belakangi penulisan ini mengingat bahwa predikat mental atau verba psikologi termasuk verba yang memiliki pemetaan komponen semantis yang sangat rumit dan membutuhkan strategi yang tepat untuk menghindari kekeliruan dalam membatasi makna butir leksikal yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa verba mental yang bersumber dari Bahasa Mandailing (BM). Kemudian data dianalisis dengan menggunakan teknik prafrase untuk mengidentifikasi butir-butir leksikal yang secara intuitif termasuk predikat mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna verba kognisi ‘malamun’ dan ‘mangangankon dibentuk dari MEMIKIRKAN berpolisemi MENGATAKAN dan MEMIKIRKAN berpolisemi TERJADI, makna verba pengetahuan ‘mamboto’ dan ‘ingot’ dibentuk dari MENGETAHUI berpolisemi MENGATAKAN, makna verba emosi ‘mabiar’ dan ‘manyolop’ dibentuk dari MERASAKAN berpolisemi MEMIKIRKAN, makna verba persepsi ‘manyirik’ dan ‘manatap’ dibentuk dari MELIHAT berpolisemi MERASAKAN, MELIHAT berpolisemi MENGATAKAN
TRADISI PEMAMANEN ‘PAMAN’ PADA MASYARAKAT ALAS DI ACEH TENGGARA : KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK
Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan tradisi pemamanen ‘paman’ pada masyarakat Alas di Aceh Tenggara atau yang dikenal dengan adat Siempat pekhkakhe atau Siempat Perkara, khususnya pada tradisi Rezeki (khitanan). Juga membahas hal-hal yang berhubungan dan berkaitan dengan adat istiadat yang masih hidup dan berkembang dan menemukan kearifan lokal pada tradisi Rezeki. Konsep yang digunakan dalam penelitian adalah konsep Antropolinguistik. Penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif yang dilakukan dengan mewawancarai narasumber secara langsung dan merekam. Struktur teks pada penelitian ini dianalisis menurut pragmatik dan sintaksis.
Persepsi dan Produksi Tuturan BIPA Penutur Jati Bahasa Inggris
Speakers of two or more languages or known as multilinguist who could produce speech yet differently from their perception. A language which used outside their social context generally known as foreign language. The Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia has since 2017 held a program titled Apresiasi PemenangLomba Berpidato dan Bercerita (APLBB BIPA) which awardees are from around the globe. In 2019, the awardees were the winner of speech and story-telling competition in Indonesian Embassies and Consulates from twenty-one countries, including the L1 English-speaker from Australia, and the United States of America. L2 speakers often produce different speech than they have perceived, in this case, with the awardees of APLBB BIPA L1 English-speakers. Based on perception and speech production analysis, it is found that phonological variables such as vocals, consonants, and sound-added vocals produced by L1 English-speaker awardees appeared. This means that they perceived the sounds differently from their speech productionsSpeakers of two or more languages or known as multilinguist who could produce speech yet differently from their perception. A language which used outside their social context generally known as foreign language. The Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia has since 2017 held a program titled Apresiasi Pemenang Lomba Berpidato dan Bercerita (APLBB BIPA) which awardees are from around the globe. In 2019, the awardees were the winner of speech and story-telling competition in Indonesian Embassies and Consulates from twenty-one countries, including the L1 English-speaker from Australia, and the United States of America. L2 speakers often produce different speech than they have perceived, in this case, with the awardees of APLBB BIPA L1 English-speakers. Based on perception and speech production analysis, it is found that phonological variables such as vocals, consonants, and sound-added vocals produced by L1 English-speaker awardees appeared. This means that they perceived the sounds differently from their speech productions
Representasi Gender dalam Buku BIPA 7 Seri Pelajar “Sahabatku Indonesia”
Gender bias in textbook material affects learners in learning language. The purpose of this research is to reveal the gender representation in the BIPA 7 Learners Series “Sahabatku Indonesia”. Content analysis is carried out on the textual and visual material contained in the book. The results of this study reveal that the male character representation is more dominant than the female textually. Based on their social roles, male characters in textual materials are more diverse than characters that represent women. In addition, the results of the analysis of visual material in the form of pictures, photographs and illustrations also show the dominance of men over women with a ratio of 4: 1. In conclusion, the material contained in the analyzed books has not provided equal opportunities between women and men in Indonesian language teaching materials for foreigners