Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Representasi Hegemoni Kekuasaan Masyarakat Jawa dalam Novel Dasamuka Karya Junaedi Setiyono
Karya sastra tidak hanya berperan sebagai potret kompleksitas kehidupan di masyarakat, tetapi juga mampu membentuk, mengubah, dan menata kembali ideologi pembacanya. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan potret hegemoni kekuasaan dan struktur sosial masyarakat Jawa era 1810—1824 yang terepresentasikan dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono. Pendekatan sosiologis dipilih karena sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat sebagai objek pembahasan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah hegemoni Gramsci. Metode penelitian yaitu deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan potret hegemoni dengan melibatkan kompleksitas permasalahan masyarakat yang tergambarkan di dalam novel tersebut, dan untuk mendeskripsikan struktur sosial masyarakat Jawa di era 1810—1824 dalam novel tersebut. Data penelitian berupa satuan cerita berwujud kutipan dialog dan monolog tentang hegemoni kekuasaan, juga struktur sosial. Sumber data penelitian berasal dari novel. Berdasarkan hasil penelitian, hegemoni kekuasaan berlangsung pada masyarakat politik dan masyarakat sipil, yang keduanya memiliki konkritisasi tersendiri. Adapun struktur sosial yang tergambar dalam novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono diduduki oleh penjajah/kolonialisme, bangsawan, dan wong cilik.Not only work as complexity in real life, creation of literature also create, change, reorganize the reader’s ideology. The goal of this research is describing portrait of hegemony power and Java social structure era 1810 – 1824 that has been presented on novel titled Dasamuka, by Junaedi Setiyono. A sociological approach was chosen because literature cannot be separated from existence of society as topic object. This research is using hegemony Gramsci theory. Therefore, this research method using descriptive qualitative to describing portrait of hegemony by involving complexity social problems which is imaged on that novel, and describing Java’s social structure at 1810—1824 on that novel. The data is formed as story existed as quotation dialog and monolog abut hegemony power and social structure. The source of this data research is from novel. Based on research result, hegemony power goes on politic society andc civil society, both of them have their own concretization. As for social structure that pictured on novel titled Dasamuka by Junaedi Setiyono occupied by invaders/colonialism, nobleman, and low class people.
Konseptualisasi Perempuan dan Wanita pada Judul Berita di Media Daring
Penelitian ini bertujuan menggambarkan berbagai konsep yang muncul berkaitan dengan penggunaan kata wanita dan perempuan pada judul berita di media daring dan mengukur frekuensi kemunculannya. Data dalam penelitian ini berjumlah 120 judul berita yang berasal dari 6 media daring. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teori semantik konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik kata perempuan maupun wanita, keduanya sama-sama dapat berada dalam satu konsep yang sama. Namun, dari segi ranah penggunaannya, kedua kata tersebut tidak selalu berada dalam ranah yang sama. Sementara itu, berdasarkan frekuensi kemunculannya. Secara keseluruhan frekuensi yang paling tinggi ada pada judul berita yang berkaitan dengan konsep perempuan atau wanita sebagai korban dari suatu peristiwa, yakni 50% untuk frekuensi penggunaan kata perempuan dan 48,3% untuk frekuensi penggunaan kata wanita. Tingginya frekuensi kemunculan kata perempuan dan wanita pada konsep ini tidak terlepas dari keberadaan media sebagai cermin dari realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Maraknya tindak kekerasan yang melibatkan perempuan atau wanita menjadikan sosok tersebut seringkali menjadi objek pemberitaan di berbagai media, termasuk media daring.This study aims to describe several concepts that come up and have connection with the using of wanita (woman) and perempuan (woman) in online media head.lines and measure the frequency in which they occur. The data in this study are 120 news headlines from 6 online media. The data are analyzed qualitatively and quantitatively by using conceptual semantic theory. The result shows that the words perempuan and wanita in online media headlines are in the same concept. However, from the realm of their use, both of those words are not always in the same realm. Meanwhile, based on the frequency of occurrence, in overall the highest frequency is found in the news headlines related to the concept of perempuan or wanita as a victim of an event, that is 50% for the frequency of using the words perempuan and 48,3% for the frequency of using the words wanita. The high frequency of occurrence the word perempuan and wanita in this concept is inseparable from the existence of media as a reflection of social reality that occurs in society. The rising act of violence involving perempuan or wanita often make this figure becomes the object of news in various media, including online media.
Analisis Hermeneutika dalam Kumpulan Puisi Pohon Tanpa Hutan Karya HE. Benyamine
Penelitian ini bertujuan mengkaji heterotematik puisi-puisi “Pohon tanpa Hutan” yang menitikberatkan pada resepsi sejumlah puisi yang ditulis oleh HE. Benyamine. Kajian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan hermeneutika, data diperoleh melalui kajian pustaka. Sebagai bidang kajian filsafat, analisis hermeneuitika mendedah bahasa dan makna di balik rangkaian strukturnya. Hermeneutika (tafsir) adalah suatu usaha untuk membongkar rahasia yang terselubung dari tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam kumpulan puisi “Pohon tanpa Hutan”, olehnya yang menjadi analisis persoalan di sini tidak hanya diksi, simbol, dan sosial budaya tetapi pemaknaan dari peristiwa taktil yang terjadi. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan masalah dalam pencapaian eksistensi dari suasana-suasana yang bersandar pada realita sosial, ketidakpastian, kesyahduan, kesedihan yang mendalam. Puisi-puisi pada ‘Pohon tanpa Hutan’ yang terdiri dari lima tema berdasarkan analisis hermeneutika menunjukkan puisi-puisi yang salah tema atas kategori dan klasifikasi heterotematik.The analysis study was conducted interpretative by selected poems ‘a tree without foresting’ which emphasize reception on several poems produced by HE. Benyamine. There was found poems which wrong space of category dan heterotematics clasification. This analysis uses descriptive method with hermeneutics approach, data was obtained through literature. As a study of philosophy, hermeneutics exposed are language and meaning contained structure series behind. Hermeneutics are efforts to take apart a secret veiled by tiers of meaning on literature’s work. Therefore, linguistic analysis on holistic attempted to understand of relation between linguistics meaning and coherent solid’s structures, so the problem analysis here are diction, symbol, and social culture. The results by analysis of hermeneutics to show existence of atmospheres achievement of social reality, uncertainly, in a state of calm, and anguish. The selected poems also convey criticism of natural management with identity of symbolism in local wisdom.
Variasi Maksud Kata Emotif “Wela” dalam Bahasa Jawa: Perspektif Sosiopragmatik
This study aims to describe manifestation of the variations of meanings of the emotive word 'wela' in Javanese language. The research data were in the form of snippets of utterances which contain variations of meanings of the Javanese emotive word 'wela'. The source of the substantive data was the daily speech of villagers in which there were manifestations of variations in the meaning of the emotive word 'wela'. The data were collected using the observation and interview method. The observation method was done by using the recording and note-taking technique. The interview method was carried out with the face-to-face interview and the indepth interviewing techniques. The next step is the data identification, data classification, and data typification. Data that had been typified were then subjected to data analysis methods and techniques, but previously triangulated to the experts. Data analysis was performed using extralingual equivalent analysis method. Through this research, six meanings of the emotive word 'wela' have been found in Javanese language, namely: (1) showing the intention of surprise, (2) showing the intention of defense, (3) showing the intention of reminding, (4) showing the intention of surprise, (5) shows the intention of relief to give thanks, (6) shows the intention of disappointment. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi manifestasi maksud kata emotif ‘wela’ dalam bahasa Jawa. Data penelitian berupa cuplikan-cupkikan tuturan yang di dalamnya terkandung variasi maksud kata emotif ‘wela’. Sumber data substantifnya adalah tuturan keseharian warga masyarakat perdesaan yang di dalamnya terdapat manifestasi variasi maksud kata emotif ‘wela’. Data dikumpulkan dengan metode simak dan cakap. Metode simak dilakukan dengan teknik rekam dan catat. Metode cakap dilaksanakan dengan teknik cakap semuka dan cakap tansemuka. Langkah selanjutnya adalah identifikasi data, klasifikasi data, dan tipifikasi data. Data yang telah ditipe-tipekan lalu dikenai metode dan teknik analisis data, tetapi sebelumnya ditriangulasikan terlebih dahulu kepada pakar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis padan ekstralingual. Melalui penelitian ini telah ditemukan enam maksud kata emotif ‘wela’dalam bahasa Jawa, yakni maksud: (1) menunjukkan maksud keterkejutan, (2) menunjukkan maksud pembelaan, (3) menunjukkan maksud mengingatkan, (4) menunjukkan maksud keheranan, (5) menenunjukkan maksud kelegaan untuk bersyukur, (6) menunjukkan maksud kekecewaan
GAYA BAHASA SINDIRAN SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI TIDAK LANGSUNG DALAM BAHASA LAIYOLO
The use of satire language in Laiyolo people's lives is quite intense. This is because it is motivated by the nature of the people of Laiyolo who do not like to be frank by sticking to the attitude of tasipakaito, 'humanizing each other' or posianggarangi 'mutual respect'. Therefore, Laiyolo people use satirical language as a form of indirect communication to people who have done something that is not pleasant. This paper discusses figure of speech of satire as a form of indirect communication in Laiyolo. The purpose of this paper is to describe the use of satirical as a form of indirect communication in Laiyolo. The method used is descriptive qualitative, the data collection technique through observational, conversation, and recording. The results of the data analysis show that satirical, namely irony, cynicism, and sarcasm. These three satirical are basically contrary to the principle of cooperation and the principle of politeness. However, these three satirical are considered safer spoken than criticizing, insulting, berating, mocking, and so on
EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM: KAJIAN EKOLOGI BUDAYA DALAM DUA CERPEN KALIMANTAN TIMUR
AbstrakDua cerpen Kalimantan Timur, yaitu “Banjirkap” dan “Batun Kokoq” bercerita tentang eksploitasi hutan Kalimantan. Ekslpoitasi hutan tersebut berakibat pada kehidupan masyarakat sekitarnya. Tulisan ini berupaya untuk mengungkapkan proses eksploitasi dan proses adaptasi masyarakatnya setelah itu dengan menggunakan teori budaya dan pendekatan ekologi budaya. Perubahan sebagai akibat eksploitasi tidak hanya berupa perubahan lingkungan, tetapi juga perubahan budaya yang meliputi mata pencaharian, sosial, yaitu gaya hidup dan perilaku masyarakatnya. Manusia berupaya beradaptasi dengan berbagai cara setelah perubahan alam.Kata kunci: eksploitasi, teori budaya, ekologi budaya, hutan , adaptasi AbstractTwo East Kalimantan short stories, “Banjirkap” and “Batun Kokoq”, are about the forest exploitation in Kalimantan. The exploitation affected the people’s life around the forest. This paper tries to reveal the processes of the exploitation and the people’s adaptation using the cultural theory and cultural ecological approach. Theexploitation affects not only the ecosystem change but also the cultural change, like occupation, and the social change, like lifestyle and people’s behavior. Due to the ecosystem change, people try to get used to it.Keywords: exploitation, cultural theory, cultural ecology, forest, adaptatio
PENGGUNAAN DEIKSIS DALAM HEADLINE TRIBUN KALTIM EDISI 10 FEBRUARI 2013 "ANAS MELAWAN TITAH SBY" (SUATU KAJIAN PRAGMATIK)
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk deiksis yang sering digunakan dalam ranah surat kabar. Subjek penelitian ini adalah headline Surat Kabar Tribun Kaltim Edisi 10 Februari 2013 yang berjudul “Anas Melawan Titah SBY”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Deiksis yang terdapat dalam headline Surat Kabar Tribun Kaltim Edisi 10 Februari 2013 yang berjudul “Anas Melawan Titah SBY” meliputi deiksis persona, deiksis spasial, dan deiksistemporal. Deiksis persona yang ditemukan adalah saya, kita, ia, -nya, calon Bupati Lebak yang diusung Demokrat, tokoh Sengkuni, dan mereka. Deiksis spasial yang ditemukan adalah pemakaian demonstratifini dan itu. Deiksis temporal yang digunakan adalah bentuk nomina temporal sembilan jam setelah...., sebelumnya, dan sekarang ini.Kata kunci : deiksis, deiksis persona, deiksis spasial, deiksis temporal. AbstractThis study aims to reveal deixis in newspapers. The subject of this study is a headline of Tribun Kaltim on February 10th, 2013 titled “Anas Melawan Titah SBY”. It is descriptive study. The result shows that it applies personal deixis (saya, kita, ia, -nya, calon Bupati Lebak yang diusung Demokrat, tokoh Sengkuni, and mereka), spacial deixis (ini and itu), and temporal deixis (sembilan jam setelah....,sebelumnya, and sekarang ini).Keywords: deixis, personal deixis, spacial deixis, temporal deixi
KALIMAT BAHASA SLANG
AbstrakMetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif karena metode dan teknik penelitian ini mencerminkan kenyataan berdasarkan fakta-fakta (fact findings) yang ada di lapangan sebagaimana adanya. Masalah yang dituntaskan dalam penelitian ini adalah masalah masalah yang berkaitan dengan sistem sintaksis bahasa Siang. Dengan demikian, penelitian ini secara umum bertujuan mengumpulkan data, menganalisis, dan mendeskripsikan secara mendalamdan terperinci mengenai sistem sintaksis bahasa Siang. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstituen kalimat dalam bahasa Siang meliputi konstituen inti dan konstituen pinggiran. Urutan konstituen yang lazim adalah subjek-predikat-objek atau hanya subjek dan predikat. Berdasarkan ciri modalnya, ciri, tipe, dan pola kalimat dalam bahasa Siang meliputi kalimat deklaratif, imperatif, dan interogatif. Berdasarkan ciri predikatnya kalimat dalam bahasa Siang meliputi 1) kalimat aktif yang terdiri atas kalimat aktif transitif, aktif bitransitif, aktif intransitif berpelengkap,dan kalimat intransitif, 2) kalimat statif terdiri atas kalimat statif ejuatif, lokatif, deskriptif, eksistensional, dan posesif. Ciri, tipe dan pola kalimat bahasa Siang berdasarkan diatesisnya meliputi kalimat dengan diatesis aktif dan diatesis pasif.Kata kunci: kualitatif, deskriptif, sintaksis, konstituen AbstractThe method used in this research is descriptive qualitative because the method and technique of this research are fact findings. It is an in-depth study aiming to collect, analyze, and describe the data about the syntax system of Siang language. The results of this study indicate that the constituents of sentences in Siang languageinclude core and peripheral constituencies. The common constituent sequence is subject-predicate-object or subject-predicate. Based on the modals, characteristics, types, and patterns of sentences in Siang language consist of declarative, imperative and interrogative sentences. Based on the characteristics of the predicate, sentences in Siang language are composed of 1) active sentences containing active transitive, active bitransitive, active intransitive transitive and intransitive sentences, 2) stative sentences containing ejuatif stative, locative, descriptive, existensional, and possessive sentences. Characteristics, types, and patterns of Siang language sentences involve active and passive diathesis.Keywords: qualitative, descriptive, syntactic, constituent