Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Fillers and Their Functions in Emma Watson’s Speech

    Get PDF
    Fillers are utterances or phrases that are used in speaking to fill in the moment of silence to connect thoughts or ideas. This paper investigated the types and functions of fillers used by Emma Watson in her speeches. The researchers formulated two questions to be resolved. First, what are the types of fillers used in Emma Watson’s speeches? Second, what are the functions of filler words in the speeches? Data, consisting of 93 occurrences of fillers, were collected from Emma Watson’s speech scripts in three videos. To solve the research questions, the researchers used the descriptive qualitative approach and discourse analysis. Results showed that Watson used two types of fillers, namely unlexicalized filled pauses (71 occurrences) and lexical filled pauses (22 occurrences) and five functions of fillers, namely hesitating, empathizing, mitigating, editing term and time-creating devices. AbstrakFiller atau kata pengisi merupakan ujaran atau frase yang digunakan dalam jeda percakapan untuk menghubungkan gagasan atau ide berikutnya. Makalah ini menyelidiki jenis dan fungsi kata pengisi yang digunakan oleh Emma Watson dalam pidatonya. Para peneliti merumuskan dua permasalahan. Pertama, apa jenis kata pengisi yang digunakan dalam pidato Emma Watson? Kedua, apa fungsi dari kata pengisi dalam pidato Emma Watson? Data, yang terdiri atas 93 kata pengisi, dikumpulkan dari tiga naskah video pidato Emma Watson. Untuk menjawab kedua permasalahan dalam studi ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis wacana. Hasil analisis menunjukkan bahwa Watson menggunakan dua jenis kata pengisi, yaitu jeda terisi non-leksikal (71 kali) dan jeda terisi leksikal (22 kali), serta lima fungsi kata pengisi, yaitu sebagai perangkat keragu-raguan, berempati, mengurangi efek, memperbaiki istilah, dan menambah waktu

    Klasifikasi Bentuk Kata Bilangan Bahasa Melayu Jambi

    Get PDF
    The objective of this research is to describe the classification of numeral forms in the Jambi Malay Language. The method used in this research is descriptive. Sources of research data include oral data from informants and written data taken from a collection of Jambi folklore. Overall this research was conducted in two locations, namely the district of Muaro Jambi and Jambi city. The research data were in the form of words, phrases, and sentences containing Jambi Malay Language numeral forms. The techniques collection used include interview, observation, introspection, and elicitation techniques. Data analysis is done by distributional method through substitution, expansion, and permutation technique. The results of data analysis showed that the numeral forms of Jambi Malay Language can be classified into 2 forms namely: 1) Basic form that includes monomorphemic form and polymorphemic form. Both forms are classified based on the amount of morphemes. 2) Complex forms or derivatives are classified based on their morphological processes, i.e. forms of affixed and reduplication. Based on these results, it can be concluded that from the morphological and syntactic aspects, the numeral forms of Jambi Malay Language has its own classification which is different from other word forms. AbstrakTujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan klasifikasi bentuk kata bilangan bahasa Melayu Jambi (BMJ). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan struktural. Sumber data penelitian mencakup data lisan yang berasal dari informan dan data tulisan yang diambil dari kumpulan cerita rakyat daerah Jambi. Secara keseluruhan penelitian ini dilakukan di dua lokasi yakni Kabupaten Muaro Jambi dan Kota Jambi. Data penelitian berupa kata, frasa dan kalimat-kalimat yang mengandung kata bilangan BMJ. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi teknik wawancara, observasi, introspeksi, dan elisistasi. Analisis data dilakukan dengan metode distribusional melalui teknik subsitusi, ekspansi dan permutasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara umum bentuk kata bilangan BMJ dapat diklasifikasikan atas 2 bentuk yakni: 1) bentuk dasar yang mencakup bentuk monomorfemis dan bentuk polimorfemis. Kedua bentuk ini diklasifikasikan berdasarkan jumlah morfemnya. 2) bentuk kompleks atau turunan diklasifikasikan berdasarkan proses morfologisnya, yakni  bentuk berafiks dan bentuk reduplikasi. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa klasifikasi bentuk kata bilangan bahasa BMJ merupakan kajian linguistik dari aspek morfologi dan sintaksis mempunyai klasifikasi tersendiri yang berbeda dari bentuk kata lainnya

    Referensi dalam Kumpulan Cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin Karya Hatmiati Masy’ud

    Get PDF
     Abstrak:Pengacuan  atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah apa saja referensi yang terdapat dalam  kumpulan cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin Karya Hatmiati. Penelitian ini bertujuan  a) mendeskripsikan referensi persona dalam kumpulan cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin Karya Hatmiat Masy’ud, b) Mendeskripsikan  referensi demostratif Kumpulan Cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin Karya Hatmiat Masy’ud, c) Kumpulan Cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin Karya Hatmiat Masy’ud. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan  pendekatan kualitatif. Dalam analisis data dilakukan penelaahan juga dilakukan metode agih, yaitu metode yang pelaksanaannya dengan menggunakan unsur bahasa itu sendiri. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana yang dikemukan oleh Haliday dan Hasan. Hasil kajian ini menunjukan bahwa dalam kumpulan Cerpen Turun Ranjang Menjaring Angin terdapat ada tiga referensi yaitu a) referensi persona,  diantaranya  kamu, saya, aku, kita, dia, dan –mu. b) referensi demostratif diantaranya  kedai, pingir kota, jembatan, malam, subuh, Jakarta, Balangan, di sini, Telaga Silaba, Amuntai, Bandara Syamsuddinoor. 3) Referensi  kompratif diantaranya seperti, laksana.

    TEMA DAN NILAI MORAL DALAM EMPAT CERITA PENDEK TERBITAN SURAT KABAR MANUNTUNG DI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan struktur cerita dalam empat cerpen  terbitan surat kabar harian Manuntung periode 1988 terkait dengan tema dan nilai moral. Masalah dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimana bentuk indentifikasi cerita dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung, (2) bagaimanakah tema dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung, dan (3) bagaimana pula nilai-nilai moral dalam keempat cerpen yang terbit di Manuntung. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan memanfaatkan teknik deskripsi, sedangkan teori yang digunakan adalah pendekatan intrinsik. Teknik analitik juga digunakan untuk menentukan makna isi cerita dalam cerpen-cerpen tersebut sebagai objek penelitian. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa tema dalam keempat cerita pendek terbitan surat kabar Manuntung periode 1988 di Kalimantan Timur memiliki perwatakan dan karakteristik penceritaan yang berbeda, sedangkan nilai moral dalam cerpen-cerpen itu sebagai cerminan kehidupan yang dialami masyarakat dengan latar, waktu, dan lingkungan tertentu yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa di lingkungan sosial dan budaya di Kalimantan Timur. Kata kunci: intrinsik, nilai, moral, sosial, budaya AbstractThe purpose of this study was to describe the structure of the story in the four short stories published by the 1988 Manuntung daily newspaper related to moral themes and values. The problems in this study include (1) what are the forms of story identification in the four short stories published in Manuntung, (2) what are the themes in the four short stories published in Manuntung, and (3) what are the moral values in the four short stories published in Manuntung. This research is qualitative by utilizing descriptive techniques, while the theory used is an intrinsic approach. Analytical techniques are also used to determine the meaning of the story content in the short stories as the object of research. The results of this study indicate that the themes in the four short stories published by the Manuntung newspaper in the 1988 period in East Kalimantan have different narrative characteristics and characteristics, while the moral values in the short stories reflect the life experienced by the community with a certain background, time and environment the background for the occurrence of events in the social and cultural environment of East Kalimantan.   Key words: intrinsic, value, moral, social, cultur

    PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI

    No full text

    Penanda Klausa Adverbial Dalam Bahasa Angkola

    Get PDF
    An adverbial clause is a subordinate clause that serves to provide information on the main clause. The presence of an adverbial clause is not a must, but it can help create coherence in a discourse. This study aims to describe the markers of adverbial clauses in Angkola language. The method used is descriptive qualitative markers. Data collections are conducted by speaking, listening, and taking notes. The data in this study are adverbial clauses in Angkola language obtained from native Angkola speakers and also written sources obtained from Angkola language books. Data analysis was carried out by matching the data with the theory contained in the study, namely adverbial clause markers in Angkola language sentences. The results showed that there were five types of adverbial clauses in Angkola language, namely temporal clauses marked by the word dung 'after' and dompak 'when', conditional clauses marked by the word molo 'if', causal clauses (causal clause) which is marked by the word harana 'because', the purpose clause (purposal clause) which is marked by the word anso 'so that/so', and the concession clause (consessive clause) which is marked by the words bope 'although' and aha pe 'what ever'. The use of adverbial clauses can be found at the initial or final position in a sentence

    Kesulitan Belajar Bahasa Indonesia oleh Pemelajar BIPA Level Dasar (BIPA 1) di Hanoi Vietnam

    Get PDF
    BIPA students in Hanoi, Vietnam have unique characteristics. For this reason, this study aims to reveal the learning difficulties of BIPA students at the basic level. This research is a case study that describes the difficulties of BIPA students in Hanoi, Vietnam in learning Indonesian language and culture. The research was conducted with an autoethnographic approach. The data of this research are fragments of speech and learning outcomes of BIPA students. This is generated from data sources in speech and discourse in BIPA learning in the classroom. The data is generated from the natural observation process. The data was presented informally. These difficulties become their unique and distinctive character. This can be used as a basis for preparing teaching materials and learning processes. In general, some difficulties are found at the phonological, morphological, syntactic, and discourse levels. For example, the word [rusak] becomes [lusak], [ramai] becomes [zamai], and [rajin] becomes [lajin]. This is influenced by the habits of Vietnamese speakers who often pronounce the sound [r] at the beginning of the word to become [z], such as [rau] to [zau] which means 'vegetable', [rεt] becomes [zεt] which means 'very'. The difficulty of BIPA students is generally influenced by their first or second language, namely Vietnamese and English. Therefore, these difficulties need to be identified and grouped as recommendations for learning BIPA in Hanoi, Vietnam in the next period

    INTERNET SLANG CONTAINING CODE-MIXING OF ENGLISH AND INDONESIAN USED BY MILLENNIALS ON TWITTER (Slang Internet Mengandung Campur-Kode Bahasa Inggris dan Indonesia yang Digunakan oleh Milenial di Twitter)

    Get PDF
    Penelitian ini membahas kreasi slang internet yang mengandung campur-kode bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang dilakukan oleh pengguna milenial Twitter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kreasi slang internet yang menerapkan campur-kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta alasan yang memotivasi penggunanya untuk melakukan itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang berarti data yang terkumpul dianalisis dengan penjelasan menggunakan kata-kata. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sepuluh kreasi campur-kode yang ditemukan pada tingkatan morfem, tujuh pada tingkatan frasa, dan enam lainnya dalam bentuk singkatan. Penelitian ini juga menemukan bahwa pengguna milenial membuat kreasi slang internet hanya untuk bersenang-senang dan agar percakapan antar sesama pengguna tidak terlalu canggung, kaku, dan formal.This research discusses the creation of internet slang which contains the code-mixing of English and Indonesian made by Twitter millennial users. The purposes of this research are to explore those creations of internet slang that implement the Indonesian-English code-mixing, as well as the reasons that motivate the users to do so. The method used in this research is a qualitative method which means the collected data are analyzed with explanation in words. The result of the research shows there are ten creations of code-mixing found on morpheme level, seven on phrase level, and six other in the form of abbreviation. This research also finds that millennial users create internet slang merely for fun and to make the conversations between fellow users less awkward, stiff, and formal

    IDENTITAS BUDAYA DAN PRADOKSAL KULINER TRADISIONAL DALAM CERPEN KETIKA SAATNYA DAN KISAH-KISAH LAINNYA (Cultural Identity and Traditional Culinary Paradoxal in the Short Story Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah Lainnya)

    Get PDF
    The formulation of the research problem is how literature combines culture, especially Bugis food and culinary delights; local culinary image is juxtaposed with modern food from abroad in a collection of short stories Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah by Darmawati Majid. The data of this research are food and culinary-themed texts, namely six short stories entitled “Tentang Hal yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Hari Sekitar Pukul 10 Pagi”, "Ningai", “Kiriman dari Inggris”, "Passampo Siri", "Nasu Likku", and “Kak Sulaeman”. The research data collection used the literature study method with the note-reading technique, which is to create a direct and indirect conversation corpus. Data analysis used an analytical descriptive method with critical interpretative techniques. The theory used in this research is Tobin's gastronomy. The results and discussion of this study indicate that first, literature and gastronomic aspects, namely the art of cooking and serving food, are cultural elements of the Bugis ethnic community. Second, there is an element of paradox and ambiguity when juxtaposing the image of traditional Bugis culinary delights and foreign culinary delights — foreign drinks — which can be felt by the characters in the short story. The two research results reinforce the presence of the image of Bugis traditional culinary and the image of foreign food which has a more practical and cleaner way of serving — as a form of discourse and the struggle for the power of the post-colonial nation's existence. Thus, through culinary literature, it can be a space for the presence of subaltern groups in the context of the regional culture of the Nusantara.Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana sastra meramu budaya, khususnya makanan dan kuliner khas Bugis; citra kuliner lokal disandingkan dengan makanan modern dari luar negeri dalam kumpulan cerpen Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah Lainnya karya Darmawati Majid. Data penelitian ini adalah teks cerita bertema makanan dan kuliner, yaitu enam cerpen berjudul “Tentang Hal yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Hari Sekitar Pukul 10 Pagi”, “Ningai”, “Kiriman dari Inggris”, “Passampo Siri”, “Nasu Likku”, dan “Kak Sulaeman”. Pengumpulan data penelitian digunakan metode studi pustaka dengan teknik baca catat, yaitu mencatat korpus percakapan langsung dan tidak langsung. Analisis data digunakan metode deskriptif analitik dengan teknik interpretatif kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah gastronomi Tobin. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, sastra dan aspek gastronomi, yaitu seni memasak dan menyajikan makanan merupakan unsur budaya masyarakat suku Bugis. Kedua, adanya unsur paradoksal dan ambiguitas ketika menyandingkan citra kuliner tradisional Bugis dan kuliner luar negeri—minuman luar negeri—yang dapat dirasakan para tokoh dalam cerpen tersebut. Kedua hasil penelitian memperkuat kehadiran citra kuliner tradisional Bugis dan citra makanan luar negeri yang memiliki cara penyajian lebih praktis dan lebih bersih—berbanding terbalik sebagai bentuk wacana dan pertarungan kuasa keberadaan bangsa pascakolonial. Dengan demikian, melalui sastra kuliner dapat menjadi ruang hadirnya kelompok subaltern dalam konteks kebudayaan daerah Nusantara

    REPRESENTASI IDENTITAS dan DEMOKRASI DALAM TRADISI LISAN DI WILAYAH 3T (MENTAWAI dan NIAS)

    No full text
    Penelitian ini fokus pada persoalan identitas dan demokrasi di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal dengan asumsi bahwa masyarakat 3T merupakan masyarakat yang masih hidup dengan nilai-nilai tradisional dan tertinggal secara ekonomi seperti hak ekosob (ekonomi, sosial, dan budaya). Ketertinggalan pada hak ekosob akan berujung pada ketiadaaan kesetaraan hak sebagai warga negara Indonesia. Untuk mengetahui identitas pada masyarakat di wilayah 3T adalah melalui penggalian cerita asal-usul nenek moyang dan suku bangsa yang biasanya masih tersimpan dalam ingatan para penutur dan pemilik cerita tersebut seperti pada masyarakat Mentawai dan Nias. Melalui cerita asal-usul tersebut juga akan digali bagaimana nenek moyang pada kedua masyarakat di Mentawai dan Nias mewariskan cara menyelesaikan konflik dan perbedaan yang terjadi di tengah mereka. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melaluI kerja lapangan (field research). Data yang tersimpan dalam ingatan masyarakat akan dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan perekaman, baik secara auditif maupun visual. Hasil dari penelitian diharapkan diperoleh gambaran identitas dan demokrasi yang tersimpan dalam tradisi lisan yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah 3T seperti di Mentawa dan Nias. Nilai-nilai lokal yang merepresentasikan identitas dan demokrasi tersebut biasanya dilegalkan dalam sebuah lembaga adat milik masyarakat tersebut. Satu cara bermusyawarah dan mufakat yang disebut dengan Orahu milik masyarakat dari desa Hilinawalo Batusalawa, Nias Selatan adalah model demokrasi lokal yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini. Orahu membuktikan bahwa praktik bermusyawarah mufakat dalam penyelesaian konflik masih digunakan oleh masyarakat tradisi di wilayah 3T. Hasil dari penelitian ini juga bertujuan mendukung komitmen pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan pendidikan demokrasi berbasis tradisi lisan di wilayah 3T

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇