Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Cermin Eksploitasi Ekososial Pertambangan dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye: Kajian Sosiologi Sastra Ian Watt

    Full text link
    Teruslah Bodoh Jangan Pintar is a reflection of the government's policy discourse on mining downstreaming, which is busy in 2024. This research aims to reveal the ecosocial mirror in Tere Liye's latest work using Ian Watt's Sociology of Literature approach. The research data is taken from the text of the novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. The research technique uses reading and note-taking techniques with the method of connecting the relationship between the author's sociology, the content of literary works, and social functions. The results found a mirror of ecosocial exploitation in mining so that this work can be classified as being born from civil society groups representing the voices of marginalised local residents. This work is present because of the protest of mining passivation, the spirit of intelligence on the impact of mining, and efforts to make people critical of mining issues. Ecosocial exploitation mirrors were found in the form of (1) No post-mining activities; (2) Media blackout; (3) Lawyers willing to lie; (4) Officials unwilling to listen to the people; (5) The impact of mining on public health; (6) Mining seizes people's land; (7) Exploitation of workers; and (8) Corruption of mining projects. AbstrakTeruslah Bodoh Jangan Pintar merupakan cerminan dari wacana kebijakan pemerintah tentang hilirisasi pertambangan yang ramai di 2024. Penelitian ini bertujuan mengungkap cermin ekososial dalam karya terbaru Tere Liye menggunakan pendekatan Sosiologi Sastra Ian Watt. Data penelitian diambil dari teks novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Teknik penelitian menggunakan teknik membaca dan mencatat dengan metode menghubungkan keterkaitan antara sosiologi pengarang, isi karya sastra, dan fungsi sosial. Hasilnya ditemukan cermin eksploitasi ekososial dalam pertambangan sehingga karya ini dapat digolongkan lahir dari kelompok masyarakat sipil yang mewakili suara warga setempat yang termarjinalkan. Karya ini hadir karena protes pemasifan pertambangan, semangat pencerdasan dampak tambang, dan upaya membuat masyarakat kritis terhadap isu pertambangan. Ditemukan cermin eksploitasi ekososial berupa (1) Tidak ada aktivitas paska tambang; (2) Pemberedelan media; (3) Pengacara rela berbohong; (4) Pejabat tidak mau mendengarkan rakyat; (5) Dampak pertambangan bagi kesehatan masyarakat; (6) Pertambangan merampas tanah rakyat; (7) Eksploitasi pekerja; dan (8) Korupsi proyek tambang

    Eksplorasi Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dalam Serial Novel Dear Allah Karya Diana Febiantria

    Full text link
    Literary works are a reflection of the nature of society in real life that the author modifies through imaginative power. Writers often raise humanistic issues in literary works. Maslow's humanism illustrates that every individual needs aspects of physical and psychological needs. The novel Dear Allah tells the problem of phenomena that often occur in households, families, friendships, and friendships. This study aims to explore Maslow's hierarchical needs of the main and supporting characters in the Dear Allah novel series. This research uses descriptive qualitative method. The data source in this study is the Dear Allah novel series in the romance genre published in 2018 and 2022. Data collection techniques were carried out by reading the Dear Allah novel series, creating an analysis table, determining Maslow's hierarchy of needs, grouping data based on analysis criteria, and entering into the analysis table. Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Based on the results and discussion, it shows that the characters Naira, Wildan, and Silla succeeded in fulfilling Maslow's hierarchy of needs from the physiological level to self-actualization, such as financial stability, love, and self-acceptance. In contrast, Zulfa fails to achieve her need for security due to emotional and physical conflicts, while Genta achieves self-actualization through the acceptance of unrequited love. The whole story reflects the characters' psychological journey in fulfilling their basic to highest needs according to Maslow's theory. AbstrakKarya sastra merupakan cerminan dari sifat masyarakat dalam kehidupan nyata yang dimodifikasi penulis melalui daya imajinatif. Penulis seringkali mengangkat isu humanistik di dalam karya sastra. Humanistik Maslow memberikan gambaran bahwa setiap individu membutuhkan aspek kebutuhan fisik dan psikis.Novel Dear Allah menceritakan problematika mengenai fenomena yang sering terjadi dalammahligai rumah tangga, keluarga, persahabatan, dan pertemanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan hierarki Maslow pada tokoh utama dan pendukung dalam serial novel Dear Allah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah serial novel Dear Allah bergenre romantisme terbitan tahun 2018 dan 2022. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca serial novel Dear Allah, membuat tabel analisis, menentukan hierarki kebutuhan Maslow, mengelompokkan data berdasarkan kriteria analisis, dan memasukkan ke dalam tabel analisis. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan menunjukkan bahwa tokoh Naira, Wildan, dan Silla berhasil memenuhi kebutuhan hierarki Maslow dari tingkat fisiologis hingga aktualisasi diri, seperti stabilitas finansial, cinta, dan penerimaan diri. Sebaliknya, tokoh Zulfa gagal mencapai kebutuhan rasa aman karena konflik emosional dan fisik, sementara Genta mencapai aktualisasi diri melalui penerimaan cinta yang tidak terbalas. Keseluruhan cerita mencerminkan perjalanan psikologis tokoh dalam memenuhi kebutuhan dasar hingga tertinggi sesuai teori Maslow

    Kentrung Solokuro sebagai Representasi Toponimi Desa-Desa di Wilayah Pesisir Kabupaten Lamongan

    Full text link
    This study aims to describe the toponymy of villages in the coastal area of Lamongan Regency. The researcher used the oral speech of Solokuro kentrung art as data to explore toponyms. In this study, the forms of linguistic units and categories of toponymy meaning of villages in the coastal area of Lamongan Regency will be identified. This study uses a qualitative descriptive method with a linguistic anthropological approach. The data in this study are the utterances of the mastermind behind the kentrung Solokuro, namely Mr. Ahmad Kusairi. The source of the data comes from a video of the Kentrung Solokuro art performance which was uploaded on the YouTube site entitled “Stories of Pesisir Lamongan 1”. The spoken data in the video is transcribed into written data and presented in the form of words based on the results of the researcher's interpretation of the observed behavior. Based on the results of the study, the names of the villages in the coastal area of Lamongan Regency are dominantly using polymorphemic words and based on their meanings are dominantly using aspects of cultural toponymy in the form of folklore. Efforts to document kentrung art need to be made to capture cultural and linguistic landscapes that future generations can benefit from. The results of this study are expected to provide an overview of the artistic values of Kentrung Solokuro from a linguistic point of view. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan. Peneliti memanfaatkan tuturan lisan kesenian kentrung Solokuro sebagai data guna menelusuri toponim. Dalam penelitian ini, akan diidentifikasi bentuk satuan kebahasaan dan kategori makna toponimi desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi linguistik. Data dalam penelitian ini adalah tuturan dalang kentrung Solokuro yaitu bapak Ahmad Kusairi. Sumber data berasal dari video pertunjukan kesenian Kentrung Solokuro yang diunggah di situs youtube berjudul “Cerita Pesisir Lamongan 1”. Data lisan pada video tersebut ditranskripsi ke data tulis dan disajikan dalam bentuk kata-kata berdasarkan hasil interpretasi peneliti terhadap perilaku yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian, nama desa-desa di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan dominan menggunakan kata polimorfemis dan berdasarkan maknanya dominan menggunakan aspek toponimi kebudayaan berupa folklor. Upaya pendokumentasian kesenian kentrung perlu diupayakan untuk memotret lanskap kebudayaan dan kebahasaan yang dapat dimanfaatkan generasi mendatang. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai nilai-nilai kesenian Kentrung Solokuro dari sudut pandang linguistik

    STRUKTUR SEMANTIK VERBA NJUPUK ‘MENGAMBIL’ DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (Semantic Structure of Javanese Verb Njupuk ‘To Take’: Natural Semantics Metalanguage Analysis)

    Full text link
    The study of the Javanese verb njupuk 'take' presents an intriguing exploration. This verb's usage is intricately influenced by various factors such as the instrument, the object taken, the manner of usage, and the resultant effects, all of which dictate the lexicon selection. Employing a qualitative descriptive approach, this research aims to elucidate the semantic framework of the verb njupuk 'take' in Javanese, utilizing the Natural Semantic Metalanguage (NSM) framework pioneered by Wierzbicka (1996). Data collection involved observations, interviews with Javanese speakers, and references to the Javanese Bausastra dictionary. The analysis proceeded through four sequential steps: identifying the fundamental meaning, exploring semantic derivations, discerning polysemy, and explicating meanings through paraphrasing. The findings unveil 16 lexicons for njupuk 'take' in Javanese, encompassing terms like njupuk, nyomot, ngrogoh, njumphut, nyopet, shoplifting, metil, ngrampok, ndudut, nyukil, nyerok, nyiduk, nyenggek, ngeruk, ngangsu, and nyuplik. These lexicons are further categorized into two groups based on the method and instrument employed. Penelitian tentang verba Jawa njupuk 'mengambil' merupakan eksplorasi menarik. Penggunaan verba ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti instrumen, objek yang diambil, cara penggunaan, dan efek yang dihasilkan, yang semuanya memengaruhi pemilihan leksikon. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur semantik dari verba njupuk dalam bahasa Jawa, menggunakan pendekatan Natural Semantic Metalanguage (NSM) yang diperkenalkan oleh Wierzbicka (1996). Sumber data diperoleh dari observasi, wawancara dengan penutur bahasa Jawa, dan referensi kamus Bausastra Jawa. Analisis dilakukan melalui empat langkah berurutan: mengidentifikasi makna dasar, mengeksplorasi derivasi semantik, memahami polisemi, dan menjelaskan makna melalui parafrase. Hasil penelitian mengungkapkan 16 leksikon untuk njupuk dalam bahasa Jawa, mencakup istilah seperti njupuk, nyomot, ngrogoh, njumphut, nyopet, shoplifting, metil, ngrampok, ndudut, nyukil, nyerok, nyiduk, nyenggek, ngeruk, ngangsu, dan nyuplik. Leksikon ini dikelompokkan lebih lanjut menjadi dua kelompok berdasarkan metode dan instrumen yang digunakan

    IMPAK TRAUMA ATAS SUBJEK DALAM CERPEN SEBUAH CERITA SEDIH, GEMPA WAKTU, DAN OMONG KOSONG YANG HARUS ADA: PENDEKATAN TRAUMA CARUTHIAN (Impact of Trauma on the Subject in Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada: Caruthian Trauma Approach)

    Full text link
    This study intends to describe the complexity brought about by trauma in a short story entitled "Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada" by Dea Anugrah: the source of trauma creation, the impact of trauma on the subject, and efforts to recover from trauma. Thus, the basis for analysis is the study of trauma in literature by Cathy Caruth and the concept of secondary trauma described by Charles Figley. The research method is descriptive qualitative which can be classified as humanist literary criticism. This study found that the trauma of the subject Mother arose from the catastrophic event she experienced, namely in the form of sexual violence. As an impact, the trauma turned the subject into an Other: losing self-agency, running away from home, getting drunk, gambling, and prostituting herself. This impact also extended to the son who continued to care for his traumatized mother. As a result of continuously struggling intensely with the victim of trauma, the child subject unconsciously creates trauma—secondarily—in himself generating thoughts of suicide. However, the final effort always made by the subject is to continue  bargaining with the mother. In this case, the efforts made in responding to the trauma experienced by the mother and himself are a resilience to the situation. Penelitian ini mencoba menjabarkan kompleksitas yang dibawa oleh trauma dalam cerpen berjudul “Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada” karya Dea Anugrah: sumber penciptaan trauma, impak trauma atas subjek, dan upaya pemulihan atas trauma. Dengan demikian, landasan yang dijadikan dasar analisis ialah kajian trauma dalam sastra oleh Cathy Caruth dan konsep trauma sekunder oleh Charles Figley. Metode penelitian yang digunakan berupa deskriptif kualitatif yang dapat digolongkan sebagai kritik sastra humanis. Penelitian ini menemukan bahwa trauma subjek Ibu timbul akibat peristiwa katastrofe yang dialaminya, yaitu berupa kekerasan seksual. Sebagai impak, trauma tersebut mengubah subjek Ibu menjadi liyan: kehilangan agensi diri, kabur dari rumah, mabuk, berjudi, dan melacurkan diri. Impak ini nyatanya juga merembet kepada sang anak yang terus merawat Ibu yang merupakan korban trauma. Sebagai hasil terus menerus bergelut secara intens dengan korban trauma, subjek anak tanpa sadar menciptakan trauma—secara sekunder—dalam dirinya dengan memunculkan pemikiran-pemikiran bunuh diri. Meski demikian, upaya akhir yang selalu dilakukan oleh subjek anak ialah terus merawat sang Ibu. Dalam hal ini, upaya yang dilakukan dalam merespons trauma yang dialami sang Ibu dan dirinya adalah suatu resiliensi atas keadaan.

    VARIASI BAHASA DAN SINGKATAN PADA STATUS DI FACEBOOK

    No full text
    Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah variasi bahasa dan singkatan pada status di facebook. Mendeskripsikan variasi bahasa dan singkatan pada status teman di facebook. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik analisis data adalah teknik analisis isi yaitu menganalisis data dengan memperoleh informasi dengan cara membaca, mendokumentasi, penelitian menunjukan terdapat 42 data yang ada dimedia sosial facebook yang diperoleh melalui observasi yang telah dilakukan, dan menyimpulkan. dua bagian dari penelitian ini yaitu (1) variasi bahasa yang terbagi menjadi tiga bagian diantara yaitu dari segi dialek, idiolek, dan sosiolok. Dialek yang diteliti terbagi lagi menjadi tiga bagian yaitu dialek regional, dilake sosial dan dialek temporal. (2) singkatan atau akronim yang terbagi menjadi lima yaitu: singkatan yang menggunakan huruf  awal kapital, bentuk pemenggalan, angka sebagai pengganti kata dan suku kata, gabungan huruf dan angka, singkatan yang menghilangkan huruf vokal atau konsonan. Hasil penelitian menunjukan terdapat 42 data yang ada dimedia sosial facebook yang diperoleh melalui observasi yang telah dilakukan, diantaranya : 9 data variasi bahasa dari segi dialek, 5 data variasi bahasa dari segi idiolek, 9 data variasi bahasa dari segi sosiolek, 4 data dari singkatan yang menggunakan huruf awal dengan kapital, 5 data dari bentuk pemenggalan, 4 data dari  angka sebagai pengganti kata dan suku kata, 2 data dari gabungan huruf dan angka dan 5 data dari singkatan yang menghilangkan huruf vokal atau konsonan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan variasi bahasa dan singkatan sering digunakan dalam pada status di facebook

    OPINI “DILEMA PEMBELAJARAN JARAK JAUH” (ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN DIJK)

    No full text
     Abstrak Penelitian ini membahas opini “Dilema Pembelajaran Jarak Jauh” di media daring Kliksamarinda.com kota Samarinda. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan strategi wacana dari opini tersebut. Metode yang dipakai adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Sumber data adalah teks yang terdapat dalam opini di media daring pada tanggal 27 Agustus 2020 (kliksamarinda.com), teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, teknik simak, dan catat.Hasil penelitian menunjukkan opini tersebut didominasi oleh pandangan siswa yang menekankan peran orang tua dalam membimbing anak belajar di rumah. Struktur teks pada penelitian ini adalah struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro.  Kata-kata kunci : PJJ, Opini, AWK, Model Van Dijk  AbstractThis research discusses the opinion "Distance Learning Dilemma" in the online media Kliksamarinda.com, Samarinda city. The object of the research is to describe the discourse strategy of this opinion. The method used is descriptive qualitative, with a critical discourse analysis approach modeled by Teun A. van Dijk. The data source is text contained in opinions in online media on August 27 2020 (kliksamarinda.com), data collection techniques were carried out using library research, listening, and note-taking techniques.The research results show that this opinion is dominated by the views of students who emphasize the role of parents in guiding children's learning at home. The structure of the text in this study is the macro structure, super structure and micro structure. Keywords: Distance Learning, Opinion, CDA, van Dijk Model    

    Metafora Konseptual Perempuan dalam Lirik Lagu Christina Aguilera dan Little Mix

    Full text link
    This research purposes to analyze the conceptual metaphor of women in song lyrics by Christina Aguilera and Little Mix. This research was conducted at the library of the University of Riau, Pekanbaru, Riau. Using qualitative research because the data is in the form of words and using descriptive qualitative which focuses on describing the conceptual metaphors about women in song lyrics. The researcher used the Metaphor Identification Procedure (MIP) to identify the metaphorical conceptualization of women in song lyrics with the stages of re-reading all data, reducing unnecessary data, marking metaphors, interpreting data, and making conclusions. The results of the research showed 10 conceptual metaphors about women have been found, such as; women are fighters, women are victims, women are songs, women are flowers, women are stars, women are witches, women are thieves, women are butterflies, women are survivors, and women are mirrors. Women are survivors is the conceptual metaphor about women whose metaphorical expression is most often found in the song lyrics 13 times which illustrates that women are very great who are able to survive in any situation. AbstrakPenilitian ini bertujuan untuk menganalisis metafora konseptual perempuan yang digambarkan dalam lirik lirik lagu Christina Aguilera dan Little Mix. Penelitian ini dilakukan di perpustakaan Universitas Riau, Pekanbaru, Riau. Menggunakan penelitian kualitatif karena data dalam bentuk kata dan menggunakan kualitatif deskriptif yang fokus untuk mendeskripsikan konseptual metafora tentang perempuan di dalam lirik lagu. Peneliti menggunakan Prosedur Identifikasi Metafora atau Metaphor Identification Procedurre (MIP) untuk mengidentifikasi metafora konseptual terhadap perempuan di lirik lagu dengan tahapan membaca kembali semua data, mengurangi data yang tidak perlu, menandai metafora, menginterpretasikan data, dan membuat kesimpulan. Dari penelitian ini, telah ditemukan 9 konseptual metafora tentang perempuan, yaitu; perempuan adalah pejuang, perempuan adalah korban, perempuan adalah lagu, perempuan adalah bunga, perempuan adalah bintang, perempuan adalah penyihir, perempuan adalah pencuri, perempuan adalah kupu kupu, dan perempuan adalah orang penyintas. Perempuan adalah penyintas merupakan konseptual metafora tentang perempuan yang metafora ekspresinya paling banyak ditemukan di dalam lirik lagu sebanyak 13 kali yang menggambarkan bahwa perempuan itu sangat hebat yang mampu bertahan hidup dalam situasi apapun

    Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dan Implementasinya dalam Cerita Rakyat Batu Goloq

    Full text link
    This article discusses the educational values contained in the Lombok folktale entitled Batu Goloq. This study uses a qualitative research approach with a narrative method to explore educational values. The main data sources are Batu Goloq folklore books and other related literature. Data collection techniques involved reading, listening, and recording, and data analysis was done descriptively. The study's findings discussed a variety of educational ideals, including the importance of empathy and social awareness, the value of accountability and sacrifice, the importance of believing and the efficacy of prayer, and the importance of self-reflection. Furthermore, these values can be applied in character education through a variety of methods, such as curriculum alignment for Social and Emotional Learning (SEL) to improve students' social and emotional skills, the use of inspirational stories to reinforce understanding, and a multicultural approach to recognize value diversity. The goal of all these tactics is to create people who interact with society in a responsible, compassionate, and empathic manner. AbstrakArtikel ini membahas nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Lombok berjudul Batu Goloq. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode naratif untuk mengeksplorasi nilai-nilai pendidikan. Sumber data utamanya adalah buku cerita rakyat Batu Goloq dan literatur terkait lainnya. Teknik pengumpulan data melibatkan pembacaan, menyimak, dan pencatatan, analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian memaparkan berbagai bentuk nilai-nilai pendidikan, seperti nilai kesadaran sosial dan empati, nilai tanggung jawab dan pengorbanan, nilai kepercayaan dan kekuatan doa, dan nilai tentang refleksi diri. Selanjutnya implementasi dalam pendidikan karakter dapat menerapkan nilai-nilai ini melalui berbagai pendekatan: menggunakan cerita inspiratif untuk memperkuat pemahaman, mengadopsi pendekatan multikultural untuk menghargai keragaman nilai, dan menyelaraskan Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL) dalam kurikulum untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional siswa. Semua strategi ini bertujuan membentuk individu yang bertanggung jawab, peduli, dan berempati dalam interaksi mereka dengan masyarakat

    Penggunaan Pronomina Persona sebagai Bentuk Sapaan di Kalangan Remaja Sunda

    Full text link
    Adolescents have different characteristics compared to adults and children. They also have distinct addressing characteristics, especially among Sundanese adolescents. The shift and change in the use of personal pronouns as a form of address among Sundanese adolescents is an intriguing area for further study. Sundanese addresses are dynamic and evolve with the times and societal developments, including those among adolescents. This research uses descriptive and qualitative methods to use personal pronouns as an address among Sundanese adolescents. Data collection involved observation and recording of speech among male and female Sundanese adolescents, as well as interviews to gather additional information. The research was conducted in three stages: data collection, analysis, and presentation of the results. The study was centered in Bandung City and found that the personal pronoun "manéh" is dominantly used by both male and female Sundanese adolescents in relaxed and informal speech situations. Additionally, "sia" is used among male Sundanese adolescents, "anjeun" among female Sundanese adolescents, "kamu" among both male and female adolescents, and " énté " specifically among male adolescents. AbstrakRemaja mempunyai karakter yang berbeda dengan orang dewasa juga anak-anak. Dalam hal menyapa pun mereka memiliki kekhasan yang berbeda dengan kalangan lainnya, tidak terkecuali remaja Sunda. Pergeseran dan perubahan fungsi pronomina persona sebagai bentuk sapaan di kalangan remaja Sunda merupakan kajian yang menarik untuk diteliti lebih jauh. Sehubungan dengan sapaan bahasa Sunda senantiasa berdinamika sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan yang terjadi di masyarakat Sunda itu sendiri, termasuk di kalangan remaja. Penelitian ini berfokus pada penggunaan pronomina persona sebagai sapaan di kalangan remaja Sunda. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menerapkan metode kualitatif. Metode yang digunakan dalam memupu data adalah observasi, yaitu dengan cara mengamati dan merekam pertuturan yang berlangsung di kalangan remaja Sunda, baik laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini juga memanfaatkan metode wawancara kepada informan remaja guna menggali informasi yang tidak diperoleh dalam obervasi, Metode dan teknik penelitian dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu tahapan penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Lokasi penelitian ini berpusat di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konteks situasi pertuturan yang santai dan informal, pronomina persona manéh ‘kamu’ merupakan pronomina yang paling dominan digunakan oleh remaja Sunda laki-laki dan perempuan. Pronomina sia ‘kamu’ digunakan di kalangan remaja Sunda laki-laki dan anjeun ‘kamu’ digunakan di kalangan remaja Sunda perempuan. Di samping itu, remaja Sunda juga menggunakan pronomina kamu di kalangan remaja laki-laki dan perempuan serta  énté di kalangan remaja laki-laki

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇