Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
CITRA TOKOH PEREMPUAN DALAM CERITA RAKYAT JAWA TIMUR
Sastra lisan merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mempunyai peran penting dalam perekembangan kesusastraan Indonesia. Salah satu bentuk sastra lisan adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita atau cipta sastra yang hidup atau pernah hidup dalam se-buah masyarakat. Cerita itu tersebar, berkembang, atau diturunkan secara lisan dari suatu generasi ke generasi yang lebih muda. Salah satu bentuk cerita rakyat yaitu cerita rakyat Jawa Timur. Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk citra tokoh perempuan yang ada di dalam cerita rakyat Jawa Timur. Tokoh perempuan yang dibahas adalah tokoh utama dalam cerita. Pendekatan penelitian ini menggunakan feminisme dengan sumber data sepuluh cerita rakyat dari Jawa Timur. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam cerita rakyat Jawa Timur yang menggambarkan citra perempuan. Keenam cerita rakyat tersebut menggambarkan dua bentuk citra tokoh perempuan yaitu citra fisik dan tingkah laku atau psikis. Citra fisik digambarkan melalui kecantikan tokoh perempuan dan citra tingkah laku atau psikis digambarkan melalui kebaikan hati, kesetiaan, penurut, berani mengambil keputusan, dan kesabaran.
GRAMMATICAL SHIFTING OF DETERMINER PHRASE IN TRANSLATION OF DRAMA MACBETH AS THE RESULT OF USING TRANSLATION TECHNIQUE (Perubahan Struktur Gramatikal Frasa Determiner dalam Teks Terjemahan Drama Macbeth sebagai Dampak Penggunaan Teknik Penerjemahan)
”Macbeth” is one of Shakespeare’s works that has deeper conceptual references to expression. Those expression were well delivered in the determiner phrases. The translation techniques use gave impact to the grammatical shift of the phrases. This study aims to discuss the patterns of grammatical structure shift that happened on the translation of determiner phrases in the drama “Macbeth” as the impact of using certain translation techniques. This study is a descriptive qualitative research. The data are 50 determiner phrases and their translated version in Bahasa Indonesia. Those data are taken from an English drama manuscript the source text, and the target text are retrieved from the translated version. The result shows that there are three forms of grammatical shift which are omission, addition and the shift of source language adjunct. These shifts were generally caused by different grammatical system of the two languages and specifically caused by the use of thirteen translation techniques. The techniques include adaptation, compensation, reduction, particularization, generalization, established equivalent, modulation, calque, transposition, amplification, linguistic amplification, discursive creation, and linguistic compression. The techniques that caused omission are reduction, linguistic compression, transposition, adaptation and particularization. The addition was caused by amplification, modulation, generalization, and amplification technique. The technique that caused the shift of adjunct is discursive creation. “Macbeth” adalah salah satu karya sastra dari penulis Shakespeare yang memiliki penyampaian ekspresi yang memiliki referensi konseptual yang kompleks. Ekspresi tersebut salah satunya ada dalam frasa determiner. Penggunaan teknik penerjemahan cukup memengaruhi perubahan struktur gramatikal frasa determiner. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergeseran struktur gramatikal yang terjadi pada hasil terjemahan frasa determiner dalam drama “Macbeth” yang merupakan akibat dari dampak penggunaan teknik terjemahan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian merupakan 50 frasa determiner dan versi terjemahan Indonesianya. Data tersebut diambil dari naskah drama Bahasa Inggris sebagai teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran diambil dari versi terjemahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk pergeseran tata bahasa yaitu pelesapan, penambahan dan perubahan bentuk adjung bahasa sumber. Pergeseran ini umumnya karena sistem tata bahasa yang berbeda dari dua bahasa dan secara khusus juga disebabkan oleh penggunaan tiga belas teknik terjemahan. Teknik-teknik tersebut meliputi adaptasi, kompensasi, reduksi, partikulasi, generalisasi, kesepadanan lazim, modulasi, kalke, transposisi, amplifikasi, kompilifikasi linguistik, kreasi diskursif, dan kompresi linguistik. Teknik yang menyebabkan penghilangan adalah reduksi, kompresi linguistik, transposisi, adaptasi, dan partikulasi. Bentuk penambahan disebabkan oleh teknik amplifikasi, modulasi, generalisasi, dan amplifikasi. Teknik yang menyebabkan perubahan bentuk adjung adalah kreasi diskursif
PERJUANGAN PEREMPUAN MENCAPAI EKSISTENSI DIRI DALAM NOVEL SINTREN (Women’s Struggle in Achieving Self-Existence in the Novel Sintren)
Konstruksi budaya yang dibentuk oleh kaum laki-laki membuat perempuan tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Perempuan tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukan kemampuan dan eksistensi dirinya. Novel Sintren merepresentasikan perjuangan tokoh perempuan untuk meraih eksistensinya. Masalah dalam penelitian ini ialah problematikayang dihadapi oleh kaum perempuan untuk mencapai eksistensi diri dan perjuangan kaum perempuan dalam novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira terhadap pembumian mitos tentang perempuan. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis persoalan yang dibahas. Teori feminisime eksistensialisme digunakan sebagai dasar untuk menjawab persoalan. Hasil temuan menunjukkan bahwa problematika yang dihadapi oleh kaum perempuan dalam mencapai eksistensi diri adalah tradisi patriarki yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat, kemiskinan, dan sifat ambivalen yang muncul dari diri perempuan itu sendiri. Pendidikan, menjadi diri sendiri atau pembebasan diri, dan menghasilkan modal capital menjadi startegi yang digunakan oleh tokoh perempuan agar dapa tmenunjukkan eksistensi dirinya. A cultural construction established by men has hindered women to be themselves. Women do not get equal opportunity as men to perform their abilities and to come into their existences. A novel, Sintren written by Dianing Widya Yudhistira, represents struggles performed by a female character to come into her existence. The problem in this research covers some problems faced by women to come into their self-existences and struggles performed by women characters in the novel amidst grounding efforts of myths about women. Descriptive method is applied in this study to analyze the problems of this research. The existentialist feminist theory is applied as a basis for answering the problems. The findings of the research show that the problems faced by women to come into their self-existences cover a strong determinant of patriarchal tradition in community life, poverty, and the ambivalent personality possessed by the women. To improve the quality of higher education, tp struggle to be themselves or self-liberation, and to earn capital are some strategies set by female characters in the novel to come into their existences
Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Serangan Bom Afghanistan Portal Online Media SINDOnews.com dan republika.ac.id
This research is the result of Critical Discourse Analysis (CDA) on news of the bomb attack at Afghanistan's Kabul International Airport. The purpose of this research is to find out the textual practice of the discourses of the two Indonesian national media as those that can influence the reader's view of news issues. This research uses a qualitative descriptive method with a three-dimensional theoretical approach from Fairclough, namely textual practice, discourse practice and socio-cultural practice. This discourse analysis research uses three stages in analyzing Fairclough's perspective discourse, namely description, interpretation, and explanation. The results of the text analysis show that the two news’ media have different content. The text on SINDOnews.com often shows actor Joe Biden as the President of the United States who demands accountability and will retaliate against those who carried out the bombings. Meanwhile, Republikasi.ac.id tends to focus more on representing the victims of the bombing. The difference in the focus of news representation in the two media seems to coincide with the different institutional and social contexts of each media.AbstrakPenelitian ini hasil Analisis Wacana Kritis (AWK) pada berita serangan bom di Bandara Internasional Kabul Afghanistan. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui praktik tekstual wacana kedua media nasional Indonesia sebagai alat informasi yang dapat mempengaruhi pandangan pembaca terhadap isu pemberitaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori tiga dimensi dari Fairclough yaitu praktik tekstual, praktik wacana dan praktik sosial budaya. Penelitian analisis wacana ini menggunakan tiga tahapan dalam menganalisis wacana perspektif Fairclough, yaitu deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Hasil analisis teks menunjukkan bahwa kedua media berita tersebut memiliki konten yang berbeda. Teks di SINDOnews.com lebih sering memunculkan aktor Joe Biden sebagai Presiden Amerika serikat yang meminta pertanggungjawaban dan akan membalas pihak yang melakukan pengeboman. Sementara itu, Republikasi.ac.id cenderung lebih fokusmerepresentasikan korban-korban akibat peristiwa bom tersebut. Perbedaan fokus representasi berita yang ada dalam kedua media tersebut tampak bertepatan dengan perbedaan konteks institusi dan sosial tiap-tiap media.
Sastra Lisan Kidung Rumeksa Ing Wengi Karya Sunan Kalijaga sebagai Materi Ajar BIPA Tingkat Lanjut
Pembelajaran BIPA berbasis kearifan lokal dengan mengenalkan lagu sebagai wujud dari kekayaan budaya nusantara merupakan sebuah cara menarik minat pelajar asing. Budaya nusantara yang memiliki keanekaragaman dapat dimanifestasikan melalui lagu yang bernafaskan ajaran moral dan tata nilai untuk hidup seimbang. Tujuan penelitian ini yaitu memaparkan sastra lisan yang berupa kidung rumeksa ing wengi sebagai materi ajar untuk mahasiswa asing yang berminat mendalami budaya nusantara khususnya Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Teknik validasi data menggunakan triangulasi teori dan teknik analisis data dengan semiotik Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi ajar sastra lisan Kidung Rumeksa ing Wengi dapat diberikan kepada pembelajar BIPA tingkat lanjut dengan cara mengartikannya terlebih dahulu dalam bahasa Indonesia kemudian baru diperdengarkan versi aslinya. Kata kunci: BIPA, materi ajar, sastra lisan, kidun
HARGA DIRI DAN STATUS SOSIAL: MOTIF MERANTAU ORANG MINANGKABAU DALAM FILM (Pride and Social Status: The Migrating Motive Minangkabau People in Cinema)
Merantau has known as the Minangkabau ethnic identity. As a social behavior, merantau shows a change in concepts and motives. Technological developments, especially in transportation, are slowly shifting the concept of merantau to broaden its reach, followed by changes in motives. Merantau is no longer seen as a learning behavior and process, but is more economical, looking for a better life. This article explores and describes the merantau in the film with merantau from the Minangkabau community through a semiotic study. As a result, the change in the concept and motive for merantau in the film represents the merantau Minangkabau society. Through the movie characters, the motive for merantau, who seems to have an educational background in the film driveby personal motivation, namely self-esteem and social status, which in directly indicates economic motives.Merantau telah dikenal sebagai identitas etnik Minangkabau. Sebagai sebuah perilaku sosial, merantau menunjukkan perubahan konsep dan motifnya. Perkembangan teknologi, terutama transportasi, secara perlahan menggeser konsep merantau menjadi meluas jangkauannya yang diiringi pula dengan perubahan motifnya. Merantau tidak lagi dipandang sebagai perilaku dan proses pembelajaran melainkan lebih bersifat ekonomis, yaitu mencari kehidupan yang lebih baik. Melalui kajian tekstual, artikel ini menggali dan menguraikan perilaku merantau yang ditampilkan dalam film dalam hubungannya dengan perilaku merantau masyarakat Minangkabau. Hasilnya, perubahan konsep dan motif merantau dalam film adalah bentuk representasi merantau masyarakat Minangkabau. Melalui tokoh-tokohnya, motif merantau yang tampaknya berlatar belakang pendidikan dalam film didorong oleh motivasi personal, yaitu harga diri dan status sosial yang secara tidak langsung menunjukkan motif ekonomis
INTERLANGUAGE PRODUCED BY JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS IN RECOUNT TEXT (Interlanguage (Bahasa Antara) yang Dihasilkan oleh Siswa Sekolah Menengah Pertama dalam Teks Rekon)
Karangan yang ditulis oleh siswa sekolah menengah pertama mengandung kalimat-kalimat salah yang menggambarkan bahasa mereka. Bahasa yang dihasilkan oleh siswa-siswa ini biasa dirujuk sebagai interlanguage (bahasa antara). Apakah bahasa pertama atau bahasa sasaran memengaruhi kesalahan-kesalahan tersebut? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interlanguage yang digunakan oleh siswa-siswa yang mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa asing dalam teks rekon. Subjek penelitian ini terdiri atas 20 orang siswa sekolah menengah pertama di Buleleng. Data dikumpulkan melalui latihan menulis terbimbing dalam bentuk teks rekon. Empat langkah ditempuh dalam menganalisis data, yaitu mengidentifikasi, mengklasifikasikan, mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk linguistik dalam tulisan siswa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengaruh bahasa ibu terhadap bahasa antara siswa antara lain adalah penggunaan tata bahasa Indonesia, penggunaan kata-kata Indonesia, penghilangan pemarkah jamak -s, penghilangan TO BE dan aspek kala dari verba. Pengaruh bahasa sasaran antara lain adalah padanan yang salah, penambahan kata sandang, kesalahan dalam memilih pronomina dan overgeneralisasi bentuk lampau -ed. English text written by junior high school students consists of erroneous sentences which describe learners' language. Either the native language or target language influences the errors. This term is called interlanguage. The study aimed at describing the interlanguage produced by EFL students in recount text. The subjects of the study were 20 students of junior high school in Buleleng Regency. The data was collected through a guided writing exercise in the form of recount text. There were four steps in analyzing the data, namely identifying errors, classification, description, and explanation. The result shows that native language influence includes Indonesian grammar patterns, Indonesian words, wrong selection of word form, the omission of plural marker -s, TO BE deletion, and verb tense. Target language influence includes false friend, the addition of articles, wrong choice of pronoun, and overgeneralization of past form -ed
GEJALA SOSIAL PADA TIGA CERPEN KALIMANTAN TIMUR TAHUN 1980-AN
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala sosial yang terdapat dalam tiga cerpen Kalimantan Timur tahun 1980-an. Ketiga cepen tersebut berjudul “Kembali ke Desa”, Surat dari Kekasih”, dan “Keping Hati Menguak Badai”. Dengan teori sosiologi sastra, penelitian ini menganalisis berbagai gejala sosial yang terjadi dalam relasi tokoh dengan lingkungannya. Analisis menunjukkan bahwa gejala sosial yang terjadi pada ketiga cerpen tersebut berupa tokoh yang melakukan pertahanan eksistensinya dengan bermigrasi ke luar daerahnya. Di daerah baru tersebut tokoh mengalami konflik-konflik selama melakukan pertahanan eksistensi. Konflik-konflik yang terjadi menimbulkan tokoh mengambil keputusan untuk kembali ke daerahnya. Selain konflik-konflik, terdapat pula nilai-nilai sosial yang ditampilkan dalam relasi antarindividu. Nilai-nilai tersebut yaitu solidaritas dan empati. Analisis juga menunjukkan pula terdapat tujuan tokoh melakukan pertahanan eksistensi ke luar daerahnya bukan hanya untuk meningkatkan status ekokonomi dirinya, melainkan untuk kembali dan membangun daerahnya yang belum mengalami kemajuan. Tiga cerpen Kalimantan Timur tahun 1980-an menunjukkan gejala sosial manusia melalui pergulatan pertahanan eksitensi di luar daerahnya.Kata kunci: fenomena sosial, eksistensi, migrasiAbstract This study aims to determine the social phenomena in three East Kalimantan short stories in the 1980s. Those are “Kembali ke Desa”, “Surat dari Kekasih”, and “Keping Hati Menguak Badai”. Using the theory of literature sociology, this research analyzes various social phenomena in characters’ relationship with their environment. The analysis shows that the social phenomena in those short stories are characters who defend their existence by migrating from his or her place.In their new environment, the characters experience conflicts while fighting for their existence. Those conflicts make them return to their old place. In addition, there are also social values portrayed in relationships between individuals, solidarity and empathy. The analysis also reveals that there is a purpose in defending their existence away from their home, not only to improve their economic status, but also to return and make their environment a better place. Those three short stories show social phenomena through the struggle of defending existence away from their environment. Keywords: social phenomena, existence, migr
PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN
Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat kesewenangan kaum ménak. Adapun kaum ménak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah. Semangat meruntuhkan penindasan kaum ménak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum ménak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci: perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial AbstractThis article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who "learned" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” "Temptation for Youths" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonia