Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Sistem Fonem Isolek Kuntu Kabupaten Kampar

    Get PDF
    This synchronic study describes the phoneme system of the Kuntu isolect, one of the isolects used in Kampar Regency, Riau Province. The data is the informant's speech using the Kuntu isolect related to the prepared vocabulary. Data was collected by recording and interviewing selected informants, using the listening and speaking method, and analyzed using the equivalent method and the basic premise of Pike (1966). Based on the results of the analysis, IKKK has 42 sounds, namely vocoid, contoid, and diphthong sounds. The IKKK phoneme system has 33 phonemes consisting of five vowel phonemes, eighteen consonant phonemes, and ten diphthong phonemes. Kuntu isolect syllables consist of eight patterns, namely V, VK, KV, KD, KVK, KKV, KDK, and KKVK. The diversity of Kuntu isolect diphthong phonemes found in this study is not much different from previous studies. This proves that the Kuntu isolect of Kampar Regency is a Minangkabau dialect even though Kuntu Village is administratively located in the Riau Province. In addition, the customary system used by the people of Kuntu Village (matrilineal) is another proof that Kuntu Village, Kampar Regency has a relationship with Minangkaba

    REPRESENTASI ATAS PENGAKUAN KULTURAL MASYARAKAT PERANAKAN TIONGHOA INDONESIA DALAM NOVEL MISS LU KARYA NANING PRANOTO (Representation of the Cultural Recognition of Indonesian Chinese in Miss Lu by Naning Pranoto)

    Get PDF
    Miss Lu karya Naning Pranoto merupakan refleksi dan respons terhadap situasi sosial masyarakat Indonesia pasca-1998 atas pengakuan kultural etnik peranakan Tionghoa. Kajian ini bertujuan untuk menginterpretasikan tanggapan sosial teks Miss Lu atas situasi kultural-sosial di era pasca-Mei 1998 atau reformasi dengan prespektif sosiologi sastra. Data dalam penelitian ini adalah isi atau isu dari novel Miss Lu, latar sosial, dan biografi sosiologis Naning Pranoto. Teknik pengumpulan dilakukan dengan cara membaca dan mencatat informasi dari sumber data. Metode analisis data dilakukan dengan menghubungkan latar sosial, biografi pengarang, dan isi teks untuk melihat representasi dunia sosial yang dihadirkan novel. Hasil yang diperoleh adalah teks ini mewakili kelompok sosial moderat dan mencerminkan situasi sosial 2000-an. Teks ini juga menyuarakan dan mendukung hak dan pengakuan kultural kelompok yang termarginalkan, terutama peranakan Tionghoa-Indonesia. Jadi, teks ini merupakan interpretasi dari semangat reformasi atau Mei 1998.Miss Lu by Naning Pranoto represents the social situation of Indonesian society after the 1998s and provides an answer to the Chinese Indonesians' cultural recognition. This study aimed  to interpret the social responses of Miss Lu text on the socio-cultural situation in the post-May 1998 era or reformation through sociology literature perspective. The data in this study were the content or issues of the Miss Lu novel, social background, sociological biography of Naning Pranoto. The data were technically collected through reading and recording information from data sources. The data analysis method was carried out by linking the social background, author's biography, and text content to see the social mirror presented by the novel.  The result showed that this text portrays moderate social groups and reflects the social situation of the 2000s. This text also voices and supports the rights and recognition of the cultural of marginalized groups, especially the Chinese-Indonesian. Thus, this text is an interpretation of the heart of reform or May 1998

    NARASI NASIONALISME SENTRIPETAL DALAM NOVEL PEMENANG SAYEMBARA “SEBERAPA INDONESIAKAH DIRIMU?” (Centripetal Nationalism In Contest Winners Novel Winners of Seberapa Indonesiakah Dirimu?)

    Get PDF
    This study aims to describe the direction of nationalism narrated in the three winning novels of the contest “How Indonesia Are You?”. This type of research is descriptive qualitative using a post-colonial perspective. The data sources used are the novel Because I'm Not Blind by Redy Ugeng Kuswanto, Kaki Langit Talumae by Wishnu Mahendra, and the novel How to Love Indonesia by Dumamilanta S. Brahmana. The research data are in the form of words, phrases, sentences, or paragraphs that narrate the concept of the nation and the form of nationalism. The results of this study indicate that 1) the three novels describe the construction of the nation as a community with a collective consciousness in the form of history, customs, and natural resources; 2) nation construction contains problematization. The nation is vaguely divided into traditional and modern spaces resulting in social inequality; and 3) Overall the three novels want the integration of locality in nationalism. Thus, the direction of nationalism narrated in the three novels is centripetal nationalism. The direction of centripetal nationalism is believed to be a solution in overcoming the problem of nationalism.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan arah nasionalisme yang dinarasikan dalam tiga novel pemenang Sayembara “Seberapa Indonesiakah Dirimu?”. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan perspektif pascakolonialisme. Sumber data yang digunakan adalah novel Karena Aku Tak Buta karya Redy Ugeng Kuswanto, Kaki Langit Talumae karya Wishnu Mahendra, dan novel How to Love Indonesia karya Dumamilanta S. Brahmana. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, atau paragaraf yang menarasikan konsep bangsa dan bentuk nasionalisme. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) ketiga novel menggambarkan konstruksi bangsa sebagai komunitas dengan kesadaran kolektif berupa sejarah, adat istiadat, dan sumber alam; 2) konstruksi bangsa mengandung problematisasi. Bangsa secara samar terpecah dalam ruang tradisional dan modern yang mengakibatkan ketimpangan sosial; dan 3) Secara keseluruhan ketiga novel menginginkan intregasi lokalitas dalam nasionalisme. Dengan demikian, arah nasionalisme yang dinarasikan di dalam ketiga novel adalah nasionalisme sentripetal. Arah nasionalisme sentripetal diyakini menjadi solusi dalam mengatasi problematisasi kebangsaan

    Telaah Freud : Kepribadian dan Pertahanan Tokoh Utama Novel Seputih Hati yang Tercabik Karya Ratu Wardarita

    Get PDF
    Tujuan Penelitian ini adalah mendeskripsikan kajian psikoanalisis tokoh utama  novel “Seputih Hati yang Tercabik” karya Ratu Wardarita dengan teori Sigmund Freud sebagai pisau bedahnya untuk menganalisis kepribadian dan pertahanan tokoh utama pemeran utama dalam novel.  Peneliti menggunakan metode deskriptif analitis  dengan pendekatan kualitatif.  Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik, yaitu baca, catat dan kepustakaan.  Kutipan berupa kata, frasa dan kalimat yang didapat dalam novel yang berfungsi memperkuat analisis data terkait teori Freud, selanjutnya dianalisis dengan prosedur (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa struktur kepribadian menimbulkan pergumulan antara id, ego, dan superego.   Sedangkan mekanisme pertahanan konflik menghasilkan efek represi, rasionalisasi, regresi, reaction formulation, perasaan trauma, dan intelektual. The purpose of this study is to describe the psychoanalytic study of the main character of the novel "Seputih Hati Tercabik" by Ratu Wardarita with Sigmund Freud's theory as the scalpel to analyze the personality and defense of the main character in the novel. Researchers used descriptive analytical methods with a qualitative approach. Meanwhile, data collection was carried out using three techniques, namely reading, taking notes and literature. Quotations in the form of words, phrases and sentences obtained in the novel serve to strengthen data analysis related to Freud's theory, then analyzed by procedures (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) drawing conclusions. The results of this study indicate that the personality structure causes a struggle between the id, ego, and superego. Meanwhile, conflict defense mechanisms produce effects of repression, rationalization, regression, reaction formulation, feelings of trauma, and intellectuality

    RELASI MAKNA LEKSIKAL LIRIK LAGU KESENIAN RODAD SEKARWANGI BOYOLALI

    Get PDF
    AbstrakPenelitian ini membahas mengenai relasi makna leksikal lirik lagu pada kesenian rodad sekarwangi  yang terletak di desa Kendelban, Kecamatam Kemusu Kabupaten Boyolali. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah teori dari I Dewa Putu Wijana dan Josh Daniel Parera. Pengumpulan data diperoleh dari dokumentasi dan  diperkuat dengan wawancara serta observasi. Analisis data dilakukan dengan (1) mengumpulkan data dari lirik lagu kesenian rodad, (2) melakukan klasifikasi dari data yang termasuk ke dalam bagian relasi makna leksikal, (3) menyajikan data dalam bentuk tabel dan analisis, kemudian (4) menyimpulkan temuan data. Hasil penelitian menunjukkan, dalam lirik lagu kesenian rodad terdapat relasi makna leksikal berupa, antonimi 12 data, sinonimi 32 data makna denotasi sebanyak 72 data dan konotasi 13 data. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa makna denotasi dominan guna mengetahu makna secara kongkrit sehingga merepresentasikan budaya masyarakat, agama masyarakat, kondisi bahasa, proses pembentukan kata dan penuturan yang berbeda. Kata kunci: semantik, relasi makna, rodad AbstractThis study discusses the relation of the lexical meaning of song lyrics in the Sekarwangi rodad art located in Kendelban village, Kemamatu Kemusu, Boyolali Regency. The type of research used is descriptive qualitative. The theory used is the theory of I Dewa Putu Wijana and Josh Daniel Parera. Data collection was obtained from documentation and strengthened by interviews and observations. Data analysis was performed by (1) collecting data from the lyrics of the rodad song, (2) classifying data included in the lexical meaning relation, (3) presenting data in tabular form and analysis, then (4) summarizing the data findings. The results showed, in the lyrics of the rodad art song there is a relation of lexical meaning in the form, antimony 12 data, synonym 32 data meaning denotation as much as 72 data and connotation of 13 data. So it can be concluded, that the meaning of the dominant denotation in order to find out the meaning concretely so that it represents the culture of the community, the religion of the people, the condition of the language, the process of word formation and different speech. Keywords: semantics, lexical relation, rodad 

    WISRAN HADI, REPRESENTASI PADRI, & SUARA-SUARA MODERASI: TELAAH ATAS EMPAT NASKAH SANDIWARA

    No full text
    Artikel ini menelaah empat lakon sandiwara yang terkumpul dalam Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi. Empat lakon ini berbicara tentang suatu periode penting (lagi krisis) dalam sejarah Islam di Minangkabau. Menggunakan pendekatan neo-historisisme, artikel ini melihat gagasan moderasi Islam yang diusung pengarangnya dalam citra-citra tentang tokoh-tokoh Padri yang ditampilkan pada keempat lakon. Menjawabnya sekaligus akan memperlihatkan wacana keislaman yang diketengahkan Wisran Hadi di dalamnya. Dari hasil pengkajian ditemukan bahwa keempat lakon ini merupakan representasi Wisran atas keempat tokoh Padri (tokoh-tokoh utama Padri: Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, & Tuanku Sembahyang). Representasi Wisran atas mereka tampak punya garis yang sewarna: representasi Padri yang korektif dan evaluatif atas keradikalan gerakan yang dicetuskan dari dan oleh kalangan mereka sendiri. Di tengah bangkitnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama Tuhan, Wisran tetap memenangkan akal-sehat, kewajaran, dan kepatutan sebagai puncak dari praktik menuju kebenaran. Yang dimenangkannya, dalam konteks ini, adalah suara-suara tokoh-tokohnya yang moderat yang menawarkan jalan-jalan akomodatif untuk mengubah masyarakat, sementara suara-suara yang menginginkan perubahan cepat dengan gerakan kekerasan sebagai pilihan dibuatnya acap tidak berdaya di hadapan suara-suara yang pertama. Tokoh-tokoh radikal mengakui kekeliruan dari kekerasan tindakan mereka dan ‘menyerah’ bersalah di hadapan suara-suara yang lebih moderat. Representasi itu terhubung dengan latar sosial dan politik (semangat zaman) ketika keempat lakon itu ditulis dan terhubung pula dengan latar belakang pengarangnya secara biografis

    Kesalahan Pemahaman dan Pengaplikasian Kalimat Pasif dan Kalimat Benefaktif Bahasa Jepang

    Get PDF
    Passive sentence is one of the universal language features that all languages have. In spite of its universality, every language have its own specific form of passive sentences. Japanese and Indonesian, for specific case, have their own rules regarding passive sentence constructions. Japanese passive constructions, are marked with the use of ‘jodoushi’ (passive suffixes reru/rareru) which inflectionally embedded to the roots (core verbs). Meanwhile, Indonesian passive sentences uses affixes di-, ter-, and ke-an. However, there is an interesting construction in Japanese benefactives,  which semantically may convey passive meaning. Thus, they may appear as Indonesian passive sentences when being translated. This often leads Indonesian Japanese learners to misunderstand and misapply Japanese passive sentences. This study discusses errors in understanding and applying Japanese passive sentences produced by the 4th and 6th semesters of Japanese students of Universitas Kristen Maranatha Bandung. The study was conducted by giving passive and benefactive sentences to the students and asking them to choose which correct construction to use.  AbstrakBentuk kalimat pasif merupakan salah satu ciri universal yang dimiliki oleh bahasa yang ada. Oleh karena itu, semua bahasa mempunyai bentuk kalimat pasif.Bahasa Jepang dan bahasa Indonesia pun memiliki kalimat pasif. Bentuk kalimat pasif bahasa Jepang ditandai dengan penggunaan jodoushi (sufiks penanda bentuk pasif) reru/rareru yang secara inflektif melekat pada verba inti. Sementara itu, bentuk kalimat pasif bahasa Indonesia menggunakan afiks di-, ter-, dan ke-an. Namun, ada satu hal yang menarik.Di dalam bahasa Jepang terdapat struktur benefaktif yang secara semantis bermakna pasif sehingga jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kalimat pasif. Hal itulah yang membuat pemelajar dari Indonesia sering salah memahami dan mengaplikasikan kalimat pasif dalam bahasa Jepang.Dalam penelitian ini dibahas kesalahan pemelajar Indonesia semester 4 dan 6 di Universitas Kristen Maranatha dalam memahami dan mengaplikasikan kalimat pasif bahasa Jepang. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan soal kalimat pasif dan kalimat benefaktif, lalu meminta mahasiswa memilih bentuk pasif ataukah benefaktif yang tepat digunaka

    Fungsi Kognitif dan Pragmatik Metafora dalam Debat Pilgub DKI Jakarta 2017

    Get PDF
    Metaphors have long been studied in literature yet the study of metaphors on the political discourse of Indonesia is still difficult to be found. The researches on metaphors are mostly in finding the type of metaphor but rarely studies the function of metaphor. In addition, the researches on metaphors are still dominated by a semantic approach rather than a pragmatic approach, whereas metaphor is part of the language in use. This study aims to find the cognitive and pragmatic functions of metaphors in the debate of the 2017 Jakarta Governor election. The method in this research was a qualitative method with cognitive and pragmatic approaches. The data were collected by the read and record techniques. The data were analyzed by the referential and abductive inference method. The result of this study shows that most metaphorical expressions found in this study cognitively have ontological and structural functions. Whereas, pragmatically metaphors have a function to influence listeners by using target domains that are close to everyday life. In general, the metaphors that emerged at the debate of the 2017 DKI Jakarta Governor election have a function to help simplify abstract and complex political issues. AbstrakMetafora telah lama menjadi kajian sastra, tetapi pengkajian metafora pada wacana politik di Indonesia masih sangat jarang. Penelitian tentang metafora kebanyakan masih terbatas pada menemukan jenis dari metafora, tetapi kajian mengenai fungsi metafora masih jarang dilakukan. Selain itu, penelitian metafora masih didominasi oleh pendekatan semantik daripada pendekatan pragmatik. Padahal, metafora merupakan bagian dari penggunaan bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan fungsi kognitif dan pragmatik metafora pada debat pemilihan Gubernur Jakarta. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kognitif dan pragmatik. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik baca tulis. Data dianalisis dengan metode padan referensial dan inferensi abduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ungkapan metaforis yang ditemukan dalam penelitian ini secara kognitif memiliki fungsi ontologikal dan fungsi struktural. Sementara itu, secara pragmatik metafora berfungsi untuk memengaruhi pendengar dengan menggunakan ranah sasaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Secara umum metafora yang muncul pada debat pemilihan Gubernur DKI Jakarta memiliki fungsi untuk membantu menyederhanakan isu-isu politik yang abstrak dan rumit

    Pemanfaatan Aplikasi SPAI untuk Mahasiswa Asing dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Get PDF
    Mastery of vocabulary in Indonesian properly and correctly is not an easy thing. This problem is often conveyed by Indonesian language learners for foreign speakers (BIPA) at the Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. The purpose of writing this article is to convey the use of the SPAI application carried out by foreign students to obtain the definition of a foreign word and find the right word equivalent in Indonesian. This research belongs to the type of descriptive qualitative research using the online direct action research approach using zoom. The use of zoom was used because of the pandemic that made face-to-face classes impossible. Based on the research conducted, the researcher found that the SPAI application was very effective in using foreign students in finding the equivalent of a word in Indonesian

    Penilaian Mahasiswa BIPA terhadap Pembelajaran Tatap Muka dan Online

    Get PDF
    The transition of face-to-face learning to online in a short time due to the Covid-19 pandemic is certainly not easy, both for teachers and for students. In this regard, the purpose of this paper is to explain 1) an overview of BIPA learning before and at the beginning of Covid-19; 2) learners' assessment of the ease, constraints of online learning, and their comparison with face-to-face; 3) learners' written opinion regarding online and face-to-face learning. This research is a qualitative descriptive design. Data were collected through observation and questionnaires. As a result, the form of face-to-face assignments consists of individuals, groups, and fields, whereas online is only individual assignments; the learning material is the same: grammar, 4 language skills, culture; PPSX, WA, e-mail learning tools. Learners experience problems in online learning. The learner has written advice in interactive learning and the use of English. Face-to-face learning is better than online learning.

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇