Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
PEMERTAHANAN LINGKUNGAN DARI EKSPLOITASI KAPITALIS DI BUKIT BARISAN DALAM NOVEL SI ANAK PEMBERANI KARYA TERE LIYE (Environmental Protection from Capitalist Exploitation Along The Barisan Mountains in Tere Liye's Novel Si Anak Pemberani)
Literary works have a profound impact on environmental literacy. Through the story of a novel entitled Si Anak Pemberani by Tere Liye, this study aims to determine the environmental preservation of community in the Barisan Mountains found in the novel. This study used a descriptive qualitative method about literary criticism approach. The data employed are text (documents) in the form of quotes, snippets, sentences, dialogues, and others contained in the novel objectively. Data collection techniques are carried out by reading and analyzing the phenomena related to environmental exploitation. Furthermore, the data are analyzed utilizing eco-criticism by reviewing the themes and messages to preserve nature through criticism of environmental damage contained in the novel. As a result, this study shows efforts to protect the environment among four principles of compassion and concern for nature. The four principles are (a) the rights of living things to be protected, (b) the rights of living things to be cared for, (c) the rights of living things not to be hurt, and (d) the obligation to protect and care for all living things.Karya sastra memiliki andil kuat dalam literasi lingkungan. Melalui kisah dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye, penelitian ini bertujuan mengetahui pemertahanan lingkungan masyarakat di lembah Bukit Barisan dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik sastra. Data yang digunakan adalah teks (dokumen) berupa kutipan, cuplikan, kalimat, dialog, dan lainnya yang terdapat dalam novel secara objektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca dan menganalisis data fenomena di dalam cerita novel terkait eksploitasi lingkungan. Data kemudian dianalisis menggunakan ekokritik dengan tahapan mengkaji tema dan pesan upaya pemertahanan kelestarian alam melalui kritik terhadap kerusakan lingkungan yang terdapat dalam novel. Sebagai hasilnya, penelitian ini menunjukkan adanya upaya pemertahanan lingkungan dengan wujud empat prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Keempat prinsip tersebut, yaitu (a) hak makhluk hidup untuk dilindungi, (b) hak makhluk untuk dipelihara, (c) hak makhluk hidup untuk tidak disakiti, dan (d) kewajiban perlindungan dan pemeliharaan terhadap semua makhluk hidup.
KONSEP JIHAD DALAM HIKAYAT SAMAUN: SEBUAH TINJAUAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Naskah sebagai salah satu sumber historis sarat akan pengajaran-pengajaran di dalamnya. Selain memuat berbagai ajaran yang penting, naskah juga mengandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan di masa sekarang ini. Salah satu naskah tersebut adalah Hikayat Samaun (selanjutnya disingkat HS) yang tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor kode inventarisasi W 92. HS adalah salah satu naskah yang transisi periode Hindu ke Islam, yang berkisah tentang tokoh kepahlawanan. Artinya, pada periode transisi tersebut, identitas tokoh yang beralih kiblat dari India ke Timur Tengah. Hal itu terlihat melalui penggunaan entitas nama. Ternyata, selain memuat nilai-nilai moral, HS juga mengandung ajaran berjihad. Jihad disini mempunyai arti, yaitu usaha yang sungguh-sungguh untuk melawan tidak hanya orang kafir, tetapi juga melawan nasfu dan syahwat yang diharamkan oleh Islam. Tentu saja, fenomena tersebut menarik untuk diamati dan dilihat dari perspektif semiotik.Pada kajian kali ini, HS akan ditinjau dengan pendekatan semiotik Roland Barthes. Dengan demikian, akan dapat diungkap tanda-tanda yang digunakan untuk menjelaskan konsep jihad tersebut.Kata kunci: Naskah, Hikayat Samaun, Jihad, Semiotik, dan Roland Barthe
ANALISIS ISI BUKU AJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING ‘BAHASAKU 1: AYO BICARA BAHASA INDONESIA’
Teaching material is crucial for any teaching and learning process, including the Indonesian Language for Foreign Speakers (BIPA). Thus, the textbook becomes the essential facilitator and acts as the deciding factor for the success of the BIPA program. This study aims to deeply explore the content of the textbook planned and designed by Alam Bahasa Indonesia. The findings of this study would contribute as a recommendation for other BIPA course institutions, tutors, and activists of BIPA in terms of the BIPA textbook. The research method applied was descriptive qualitative. Data gathering utilized comprehensive documentation of the textbook. The source textbook is BIPA ‘Bahasaku 1: Ayo Bicara Bahasa Indonesia’. The researcher became the critical instrument for data gathering and analysis. The results show that the textbook is printed in A4 size (21 x 29,7 cm) with a paper width of 80 gsm. The book consists of 10 units of lessons, and each has illustrated conversation, grammar focus in a text box, grammar exercises, cultural notes, and a vocabulary list. The materials included in every lesson unit are (1) target language grammatical structure; and (2) materials in written text, topic, and exercises
Deiksis Waktu dan Waktu Referensial dalam Sastra Lisan Minangkabau
Minangkabau oral literature is a folk literature that tells the story of the past, when people were not familiar with the clock as a means of telling time or modern time concepts such as hours, minutes, and seconds were not used by the community. This article describes how the Minangkabau people of the past explained the deixis of time and referential time. It also explains about the concept of time or time reference and the indication of time throughout the day, duration, time reference used, and the concepts of past, present, and future time. Katopusako utterances, petatah-petitih, and oral literature, such as Tambo Minangkabau, and kaba, especially the classic one, are used as data sources. Ferdinand de Saussure's semiotic theory was used in analysis to find signified data and the meaning of the signifier of the time deixis. The research findings show that time deixis gives an indication of time, time duration,and time reference. All time deixis of Minangkabau and referential time refer to the surrounding natural conditions and human routine activities, as the Minangkabau philosophy says,“alam takambang (nature) becomes the teacher”. AbstrakSastra lisan Minangkabau adalah karya sastra rakyat yang menceritakan kisah masa lampau ketika masyarakat belum mengenal jam sebagai alat penunjuk waktu, atau konsep waktu modern seperti jam, menit, dan detik belum digunakan. Artikel ini memaparkan bagaimana masyarakat Minangkabau masa lalu menuturkan deiksis waktu dan waktu referensial, menjabarkan konsep waktu atau rujukan waktu, serta menjelaskan indikasi waktu sepanjang hari, durasi, acuan waktu yang digunakan, dan konsep waktu masa lalu, sekarang, dan masa depan.Sumber data adalah tuturan kato pusako, petatah-petitih, dan sastra lisan, seperti Tambo Minangkabau, dan kaba, khususnya kaba klasik Minangkabau. Analisis data menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure untuk menemukan data petanda (signified) dan menemukan makna penanda (signifier) dari deiksis waktu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa deiksis waktu memberikan indikasi waktu, durasi waktu, acuan waktu, dan referensi waktu. Semua deiksis waktu dan waktu refensial Minangkabau merujuk kepada kondisi alam sekitar dan kegiatan rutin manusia sebagaimana filosofi Minangkabau mengatakan alam takambang jadi guru
Perbandingan Sistem Vokoid Minimal Bahasa Indonesia Antara Penyandang Hambatan Majemuk dan Anak Normal
The limitations of people with multiple disabilities cause the development of vocoid production in children to be different from normal children. Therefore, this study aims to describe the differences and similarities of minimal Indonesian vocoid produced by persons with multiple disabilities and normal children. Through these differences and similarities, there was hope can be made that an appropriate response to vocoids the production of multiple disabilities. The approach used is descriptive qualitative with longitudinal data collection methods. The data is in the form of minimal vocoid that provides information on the differences and similarities of the Indonesian minimal vocoid system with multiple disabilities and normal children. Data collection uses observation techniques supported by fishing, recording, and field recording techniques. Data analysis uses techniques of sorting, turning, and connecting. The validity of the data used triangulation of theories, sources, and methods. The results of the study found differences, the minimal vocoid system of normal Indonesian children in sequence [a], [i], [u], while those with multiple disabilities were [a], [o], [u]. The similarity, there is a universal minimum vocoid system in Indonesian with multiple disabilities and normal children based on the position of the tongue and mouth shape due to the use of minimum effort rules. AbstrakKeterbatasan yang dimiliki penyandang hambatan majemuk menyebabkan perkembangan produksi vokoid anak berbeda dengan anak normal. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perbedaan dan persamaan vokoid minimal bahasa Indonesia yang dihasilkan penyandang hambatan majemuk dan anak normal. Dengan mengetahui perbedaan dan persamaan tersebut diharapkan dapat dilakukan penyikapan yang tepat terhadap produksi vokoid penyandang hambatan majemuk. Pendekatan yang digunakan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data longitudinal. Data berupa vokoid minimal yang memberi informasi perbedaan dan persamaan sistem vokoid minimal bahasa Indonesia penyandang hambatan majemuk dan anak normal. Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan yang didukung teknik pemancingan, perekaman, dan pencatatan lapangan. Penganalisisan data menggunakan teknik pilah, balik, dan hubung. Keabsahan data menggunakan triangulasi teori, sumber, dan metode. Hasil penelitian menemukan perbedaan, yaitu sistem vokoid minimal bahasa Indonesia anak normal berurutan [a], [i], [u], sedangkan penyandang hambatan majemuk [a], [o], [u]. Persamaannya, ada keuniversalan sistem vokoid minimal bahasa Indonesia penyandang hambatan majemuk dan anak normal berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut karena penggunaan kaidah usaha minimal
ANALISIS TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA CAPTION AKUN INSTAGRAM @LAMBETURAH_OFFICIAL
This study aims to describe the types of expressive speech acts contained in the Instagram caption @lambeturah_official. The subject of this study is the admin of the @lambeturah_official Instagram account. The objects of this study is all expressive speech in the caption of the @lambeturah_official Instagram account. This is a descriptive qualitative study. Data collection techniques is by using listening and note-taking techniques. The theory used in this research, namely Searle's theory in Manaf (2011:212)which classifies speech acts into five types, namely representative, directive, expressive, commissive, and declarative speech acts. Chaer (2010:83) further explains that there are three speech acts in the study of pragmatics, namely locutionary, illocutionary, and perlocutionary speech acts. The results show that there are 21 data on the form of expressive speech acts in the caption of the @lambeturah_official Instagram account. Expressive speech 2 data of speech acts of praise. Expressive speech 1 speech act data say thank you. Expressive speech 3 data of speech acts of hope. Expressive speech 3 data of contradictory speech acts. Expressive speech 2 speech act data apologizing. Expressive speech 7 speech act data expressing condolences. Expressive speech 3 speech act data say congratulations
KAJIAN POETIKA KOGNITIF KETERLIBATAN PEMBACA TERHADAP FIKSI DIGITAL (The Study of Cognitive Poetics to the Readers' Engagement with Digital Fiction)
Developing the observation of the intensity of students' engagement with digital texts, which tend to increase significantly during the pandemic Covid-19, this research raises questions on the cognitive poetics process and experiences in readers' engagement with digital fiction. Of such phenomenon, this research applies cognitive poetics, which refers to the appreciation of the texts experiencing artistic enjoyment and creativity. In the context of digital fiction, this research assumes that readers experience mental immersion and create some forms of transportation. Subsequently, this research studies the readers' immersion in narratives and identifies forms of transportation as a conceptual metaphor projected to different media. This research applies qualitative content analysis to the data obtained from a survey posted on social media. Data are analyzed based on the trend and generalized to identify the causal relationship between the act of reading, the sensory immersion, and the forms of transportation. Adopting cognitive psychology theory, this research argues that readers' immersion process in digital fiction is not holistic and stable. Instead, it is a situation creating different forms and intensities. The result shows that digital text variations and the freedom of expression provide a space for readers to project the conceptual metaphor into various forms of transportation, which can be supportive and persuasive. Dari pengamatan terhadap semakin meningkatnya imersi mahasiswa terhadap teks digital yang semakin meningkat dalam situasi pandemi Covid-19, intensitas interaksi dengan fiksi digital menimbulkan pertanyaan, bagaimana proses kognitif dan keterlibatan pembaca dengan fiksi digital. Untuk mengkaji fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan teori poetika kognitif yang mengarah pada konsep apresiasi teks yang menimbulkan kenikmatan artistik dan kreatif. Dalam konteks fiksi digital, penelitian ini memiliki asumsi bahwa pembaca mengalami imersi mental dan melakukan transportasi dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji imersi pembaca terhadap naratif dan mengidentifikasi bentuk-bentuk transportasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis konten terhadap data yang diperoleh melalui survey yang disebarkan melalui media sosial. Data dianalisis berdasarkan trend dan digeneralisasikan untuk mengidentifikasi relasi kausal perilaku membaca dan pengalaman imersi sensoris serta bentuk transportasi yang dilakukan. Dengan mengadopsi cabang teori kognitif psikologis, penelitian ini berusaha membangun argumen bahwa proses imersi pembaca terhadap fiksi digital bukanlah imersi yang bersifat holistik atau stabil, tetapi selalu terjadi perubahan baik dalam jenis maupun intensitas, tergantung pada situasi saat berinteraksi dengan teks digital. Hasil survey menunjukkan bahwa keragaman teks digital dan kebebasan untuk berekspresi di berbagai medium digital memberikan ruang pembaca untuk mengekpresikan bentuk-bentuk transportasi yang sifatnya bisa berupa supportif maupun persuasif
"JARIMU HARIMAUMU": FENOMENA UJARAN KEBENCIAN MASYARAKAT KOTA KENDARI DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK ("Jarimu Harimaumu": The Phonomenon of Hate Speech among Kendari Community in Facebook Social Media)
Although many experts have examined hate speech on Facebook social media, little is known about the hate speech of the Kendari community. To fill this void, the empirical study examines Kendari community's hate speech on Facebook social media. The research adopted a qualitative research approach with a case study research design. Data were garnered by analyzing documents, conducting in-depth interviews, and distributing questionnaires. Document analysis was used to examine types of hate speech, while in-depth interviews and questionnaires were conducted to analyze why hate speech emerged. The findings showed that the types of hate speech in Kendari community were classified into five, namely (1) defamation, (2) insults, (3) blasphemy, (4) incitement, and (5) spreading hoaxes. The factors causing hate speech are classified into internal and external factors. Internal factors include hurt and fun factors, while external factors encompass political interests, group interests, and SARA. Because hate speech has legal implications, this research is expected to foster critical awareness of the community to avoid legal cases related to hate speech. Meskipun para pakar sudah banyak melakukan penelitian mengenai ujaran kebencian, masih sedikit yang membahas ujaran kebencian masyarakat kota Kendari. Untuk merespons hal itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ujaran kebencian masyarakat kota Kendari di media sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara analisis dokumen, wawancara mendalam, dan penyebaran angket. Analisis dokumen digunakan untuk membahas jenis ujaran kebencian, sementara wawancara mendalam, dan penyebaran angket dilakukan untuk menganalisis mengapa ujaran kebencian itu muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ujaran kebencian masyarakat kota Kendari diklasifikasi menjadi lima, yaitu (1) pencemaran nama baik, (2) penghinaan, (3) penistaan, (4) penghasutan, dan (5) penyebaran hoaks. Faktor-faktor penyebab munculnya ujaran kebencian diklasifikasi menjadi dua, faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi faktor sakit hati dan iseng-iseng, sementara faktor eksternal meliputi faktor kepentingan politik, kepentingan golongan, dan SARA. Karena ujaran kebencian memiliki dampak hukum, penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat agar dapat terhindar dari kasus hukum yang berkaitan dengan ujaran kebencian