Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Memotret Hoaks Covid-19 di Awal Pandemi Melalui Analisis Wacana Berbasis Linguistik Korpus

    Get PDF
    This study aims to identify the themes, characteristics and aspects behind the Covid-19 hoakses, particularly those appearing in Indonesia at the beginning of the pandemic, i.e March 2020. This study used a qualitative method by involving researchers as research instruments. The analysis was carried out through a critical discourse analysis framework supported by corpus linguistics. The data of this study are the Covid-19 hoaks corpus which has been confirmed as fake news and has been released by TurnBackHoaks.ID website managed by MAFINDO (Indonesian Anti Hoaks Society). The hoakses analyzed in this study were those which appeared sequentially for 16 days, from March 15 to March 31, 2020. The corpus of the Covid-19 hoakses consisted of 94 texts, 2,367 types, and 6,872 tokens, processed by using Antconc software. The analysis of word lists, concordances, and collocations was used to see texts’ composition of Covid-19 hoakses in Indonesia. The word list selected based on the results of corpus processing is the word with the highest frequency in the first to fiftieth rank. The chosen words are those other than prepositions or which is denoted by the symbol (p) in Indonesian Language Official Dictionary. The selection of non-prepositional words aims to facilitate data analysis with more specific keywords. The selected collocations are 1R (one right) and 1L (one left). Word lists and concordance analyses are used to see the tendency of hoaks texts’ content. Meanwhile, the collocation analysis aims to see the composition of words that appear in the Covid-19 hoaks texts. The results of the processing of the Covid-19 hoaks corpus were further deepened with a discourse analysis framework. In particular, the critical discourse analysis framework is used to analyze and explore the social and political context of circulating hoakses, especially hoakses involving the president as a symbol of the state and government. The results show that there are four hoaks themes about the Covid-19 in March 2020 i. e. health (29%), government policies (30%), criticism of President Joko Widodo (13%), and religion (5%). In terms of hoakses on criticism of President Joko Widodo, critical discourse analysis shows that the hoaks maker has the opposite ideology with him. These hoakses can also be seen as a portrayal of the socio-political condition in Indonesia after the 2014 presidential election. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema, ciri dan aspek yang melatarbelakangi kemunculan hoaks-hoaks Covid-19, khususnya hoaks yang muncul di Indonesia pada awal pandemi, yaitu bulan Maret 2020. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan peneliti sebagai instrumen penelitian. Analisis dilakukan dengan kerangka analisis wacana kritis yang didukung oleh linguistik korpus. Data dalam penelitian ini adalah korpus hoaks Covid-19 yang terkonfirmasi sebagai berita bohong dan telah dirilis oleh situs TurnBackHoaks.ID yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti hoaks Indonesia). Hoaks Covid-19 yang dianalisis dalam penelitian ini adalah hoaks yang muncul secara berurutan selama 16 hari, yaitu tanggal 15 Maret hingga 31 Maret 2020. Korpus hoaks Covid-19 yang diteliti terdiri atas 94 teks, 2.367 tipe, dan 6.872 token. Korpus diolah menggunakan perangkat lunak Antconc. Analisis daftar kata, konkordans, dan kolokasi digunakan untuk melihat komposisi teks hoaks Covid-19 di Indonesia. Daftar kata yang dipilih berdasarkan hasil pengolahan korpus adalah kata dengan frekuensi tertinggi pada peringkat pertama sampai ke-50. Kata yang dipilih adalah kata selain preposisi atau yang dalam KBBI dilambangkan dengan simbol (p). Pemilihan kata non-preposisi bertujuan untuk mempermudah analisis data dengan kata kunci yang lebih khusus. Kolokasi yang dipilih adalah 1R (satu kanan) dan 1L (satu kiri). Analisis pada daftar kata dan konkordans digunakan untuk melihat kecenderungan isi teks hoaks. Sementara itu, analisis kolokasi bertujuan untuk melihat komposisi kata yang muncul pada teks-teks hoaks Covid-19. Hasil pengolahan korpus hoaks Covid-19 selanjutnya diperdalam dengan kerangka analisis wacana. Secara khusus, kerangka analisis wacana kritis digunakan untuk menganalisis dan mendalami konteks sosial dan politik dari hoaks yang beredar, khususnya hoaks yang melibatkan presiden sebagai simbol negara dan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat tema hoaks terkait Covid-19 pada Maret 2020, yaitu hoaks bertema kesehatan (29%), kebijakan pemerintah (30%), kritik terhadap Presiden Joko Widodo (13%), dan keagamaan (5%). Terkait hoaks bertema kritik terhadap Presiden Joko Widodo, analisis dengan pendekatan wacana kritis menunjukkan bahwa pembuat hoaks memiliki ideologi yang berseberangan dengan Joko Widodo. Jika dirunut lebih jauh, hoaks-hoaks tersebut juga dapat dipandang sebagai gambaran dari kondisi sosial politik Indonesia pasca pilpres 2014

    Kajian Linguistik Kognitif Pada Imbuhan Ber- dalam Bahasa Indonesia

    Get PDF
    Academic discourse on beR- affixes in Indonesian has been widely studied and analyzed. Generally, the studies only focus on three main valences: form, structure, and meaning. In its development, cognitive linguistics can be another alternative to examine beR- affixes in Indonesian by looking at the symptoms of expanding their meaning. By basing on the theory of categorization of prototype meanings and expansion meanings, cognitive linguistics is felt to be able to answer problems that often arise in the realm of beR- meaning meanings that tend to overlap. The results of this study suggest that cognitive linguistics can be an alternative study to fill the gaps in the study of beR- affixes in Indonesian. From the perspective of cognitive linguistics, the meanings present in the beR affix can be said to have expansion symptoms. The categorization analysis can see this of the meaning of the prototype and the meaning of its expansion. The prototype meaning of ¬beR- is mainly "doing something" with five types: holding something, acquiring something, and untransitive, reflexive, and reciprocal deeds. The meaning of the expansion is only identified four types: owning, wearing, state, and number. AbstrakWacana akademik tentang imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia sejatinya telah banyak dikaji dan dianalisis. Umumnya, kajian yang dilakukan hanya berkutat pada tiga valensi utama, yakni bentuk, struktur, dan makna. Pada perkembangannya, linguistik kognitif bisa menjadi alternatif lain untuk mengkaji imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia dengan melihat gejala perluasan maknanya. Linguistik kognitif dengan mendasarkan pada teori kategorisasi makna prototipe dan makna perluasan dirasa mampu menjawab persoalan yang kerap muncul pada ranah makna imbuhan beR- yang cenderung tumpang-tindih. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa linguistik kognitif bisa menjadi alternatif kajian untuk mengisi rumpang kekosongan pada kajian imbuhan beR- dalam bahasa Indonesia. Ditilik dari perspektif linguistik kognitif, makna-makna yang ada pada imbuhan beR- bisa dikatakan mengalami gejala perluasan. Hal ini bisa telihat dengan adanya analisis kategoriasi pada makna prototipe dan makna perluasannya. Makna prototipe imbuhan ­beR- berdomain utama “melakukan sesuatu” dengan lima jenis, yakni mengadakan sesuatu, memperoleh sesuatu, perbuatan taktransitif, refleksif, dan resiprok. Adapun makna perluasannya hanya teridentifikasi empat jenis, yakni memiliki, memakai, keadaan, dan jumlah

    PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI

    No full text

    Motif Kawung Pada Batik Tradisional Yogyakarta: Kajian Semantik Inkuisitif

    Get PDF
    This study uses an inquisitive semantic approach as the main analysis. The data and sources of data in this study were obtained through interviews with sources, namely the Javanese people, especially the Yogyakarta area who lived in Siak Regency with an age range of 40-60 years. The resource persons were selected only in this age range because they have followed the journey of batik kawung from the area of origin with the manual manufacturing process until now in the transmigration area and its manufacture using a printing machine. Two different circumstances and two different processes certainly give birth to different points of view which are very interesting to study. Data collection techniques are by interviewing, taking notes, and analysis. The analysis process uses 3 stages, namely script semantics to find general meaning or a dictionary, then cognitive semantic analysis stage to understand meaning based on its relationship with the user community, and finally inquisitive semantics to find reasons for using kawung motifs in batik with high-level thinking and a combination various discipline. The results of the study explain that the kawung batik motif was chosen because it reflects on the original tree, namely sugar palm, all of which are very useful for daily life. The community hopes that the use of kawung batik cloth will be useful for many people and the surrounding environment. The kawung motif symbolizes the value of holiness, perfection, and purity for the Javanese people. This can be seen from the shape of the kawung pattern which is very neatly described in the form of four kawung seeds arranged around each other. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Data dan sumber data pada penelitian diperoleh melalui wawancara narasumber yaitu masyarakat Jawa khususnya daerah Yogyakarta yang tinggal di Kabupaten Siak dengan rentang usia 40—60 tahun. Narasumber dipilih hanya pada rentang usia tersebut karena mereka telah mengikuti perjalanan batik kawung mulai dari daerah asal dengan proses pembuatannya yang manual hingga sekarang di daerah transmigrasi dan pembuatannya yang sudah menggunakan mesin cetak. Dua keadaan yang berbeda dan juga dua proses berbeda tentu melahirkan sudut pandang yang berbeda yang sangat menarik untuk diteliti. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, catat, dan juga analisis. Proses analisis menggunakan 3 tahap yaitu semantik skrip untuk menemukan makna secara umum atau kamus, kemudian tahap analisis semantik kognitif untuk memahami makna berdasarkan hubungannya dengan masyarakat pengguna, dan yang terakhir semantik inkuisitif untuk menemukan alasan penggunaan motif kawung dalam batik dengan pemikiran aras tinggi dan juga gabungan berbagai disiplin ilmu. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif batik kawung dipilih karena bercermin dari pohon asalnya yaitu aren yang ke semua bagiannya sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Masyarakat berharap bahwa pengguna kain batik motif kawung akan berguna bagi orang banyak dan juga lingkungan sekitar. Motif kawung melambangkan nilai kesucian, kesempurnaan dan juga kemurnian bagi masyarakat Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pola kawung yang digambarkan dengan sangat rapi berbentuk empat buah biji kawung yang disusun saling mengelilingi

    The use of Think, Talk, and Write (TTW) model to foreign students learning Indonesian language at Overnewton College

    Get PDF
    This research was conducted with the aim of knowing how students at Overnewton College learned Indonesian using the Think, Talk, and Write (TTW) learning model. This research was conducted online using Zoom as media. This research uses qualitative research with the descriptive-analytical method. The study used 11th grade students as the sample in this study. This study also examines how students' perspectives on learning are carried out and analyzes students' writing skills. Research finds that using the Think, Talk, and Write (TTW) model in learning the Indonesian language for foreign students can help students practice their speaking and writing skills in Indonesian. In conducting learning using the think, talk, write model, there are three primary stages students must go through to understand, that is, (1) think, (2) speaking, and (3) writing or expressing thoughts through written media.  In general, students' perceptions on the learning are good. Besides, students also feel happy with the learning because it uses audio-visual media that can help students' listening skill

    EFL POSTGRADUATE STUDENTS’ TENDENCY IN TRANSLATING CULTURAL TERMS FROM INDONESIAN LANGUAGE TO ENGLISH (Kecenderungan Mahasiswa Magister Bahasa Inggris dalam Menerjemahkan Istilah Budaya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecenderungan mahasiswa terhadap domestikasi dan foreignization dalam menerjemahkan istilah budaya. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan yang terlibat adalah 12 orang mahasiswa pascasarjana di Program Studi Magister Bahasa Inggris pada sebuah universitas negeri di Provinsi Banten, Indonesia. Para partisipan merupakan mahasiswa semester III yang mengambil mata kuliah Advanced Translation. Data penelitian diperoleh dari hasil terjemahan mahasiswa. Mereka diminta untuk menerjemahkan beberapa istilah budaya dalam novel karya Sindhunata yang berjudul ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Pengamatan dilakukan ketika mahasiswa menerjemahkan. Kemudian, wawancara secara mendalam dilaksanakan untuk mendalami teknik penerjemahan yang digunakan dan kecenderungan mahasiswa dalam menentukan domestikasi atau foreignization dalam versi terjemahan mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa (57%) cenderung mendomestikasi versi terjemahannya. Hasil wawancara juga menunjukkan ada tiga pertimbangan mahasiswa dalam mendomestikasi versi terjemahannya: (1) mereka menganggap bahwa pembaca bahasa sasaran berasal dari budaya yang berbeda; (2) mereka mampu menerjemahkan secara sepadan ke dalam bahasa sasaran; dan (3) mereka mampu menggunakan teknik penerjemahan yang tepat untuk menyelesaikan hambatan budaya dalam menerjemakan.     AbstractThis study aims at analyzing the students’ tendency toward domestication and foreignization in translating cultural terms. This study employed qualitative research through a case study. The participants were twelve postgraduate students of the English Department at one public university in Banten Province, Indonesia. They were the third semester students currently taking Advanced Translation class. The data was collected from the students’ translation works. They were asked to translate some cultural terms in Sindhunata’s Novel entitled ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ from Indonesian Language to English. Observation was conducted while students were working. Next, an in-depth interview was conducted to find out translation techniques and students’ tendency in domesticating or foreignizing their translation versions. The result shows that the students tend to use domestication in their works (57%). The interview results also reveal that there are three considerations of choosing domestication among students: (1) they consider that the target readers are from different cultures; (2) they can transfer the equivalence meaning in the target language; and (3) they can apply appropriate translation techniques to overcome the cultural barriers

    Model Growth Mindset dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita Anak

    Get PDF
    The purpose of this study was to describe the growth mindset model in improving children's story writing. Writing children's stories is part of the learning process to develop literary skills with mastery of language. This type of research is development research, qualitative descriptive method. The method of data collection was carried out by interviewing, documenting, and compiling products to be tested on students and teachers. The research subject is at one school, namely SDIT in Gorontalo City. The results show that writing stories using the growth mindset model can increase students' writing of children's stories. The interest of students in writing is because the guide model includes various types of exercises in creating ideas through positive stories, writing creatively and revealing the wisdom of stories, so that they can retell the contents of the story. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model growth mindset dalam meningkatkan menulis cerita anak. Menulis cerita anak adalah bagian dari proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bersastra dengan penguasaan bahasa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan penyusunan produk untuk diujicobakan pada peserta didik dan guru.  Subjek penelitian pada satu sekolah yaitu SDIT di Kota Gorontalo.  Hasilnya menunjukkan bahwa  menulis cerita dengan menggunakan model growth mindset dapat meningkatkan peserta didik menulis cerita anak. Ketertarikan peserta didik dalam menulis dikarenakan model panduannya mencantumkan beragam jenis latihan dalam menciptakan ide melalui kisah positif, menulis kreatif dan mengungkapkan  hikmah cerita, sehingga dapat  menceritakan kembali  isi cerita

    BAHASA LORANG, BAHASA BARAKAI, DAN BAHASA DOBEL DI KEPULAUAN ARU DALAM KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK (Lorang Languages, Barakai Languages, and Dobel Languages in Aru Islands in Lexicostatistic Study)

    Get PDF
    This study aims to determine the kinship relationship between Lorang, Barakai, and Double languages in the Aru Islands Regency, Maluku Province through lexicostatistical studies. In addition to this language being in the same geographical area, it also has some of the same vocabularies so that it is very possible to have linguistic kinship both phonemically and lexically. To prove this assumption, linguistic research needs to be done by documenting the three languages. This study uses a quantitative approach with the method lexicostatistics. The purpose of this research is the kinship relationship between Lorang language, Barakai language, and Double language. Data collection was carried out using direct observation, listening, and recording methods. The results showed that the three languages are still related as language families. The percentage of kinship/kinship between Lorang language and Barakai language is 52%, Lorang language is Double language is 46%, and Barakai language is Double language is 68%. Meanwhile, the separation time between the Lorang language and the Barakai language was about six thousand years ago, between the Lorang language and the Double language about 18 thousand years ago, and between the Barakai language and the Double language it is estimated to have separated about two thousand years ago.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel yang ada di Kabupaten Kepualauan Aru, Provinsi Maluku melalui kajian leksikostatistik. Selain bahasa ini berada pada wilayah geografis yang sama juga memiliki beberapa kosakata yang sama sehingga sangat memungkinkan adanya kekerabatan bahasa, baik secara fonemis maupun leksikal, untuk membuktikan asumsi tersebut perlu dilakukan penelitian kebahasaan dengan cara mendokumentasikan ketiga bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode leksikostatistik. Tujuan penelitian ini adalah hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi langsung, simak, dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bahasa tersebut masih berkerabat sebagai keluarga bahasa. Persentase kekognatan/kekerabatan antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai sebesar 52%, bahasa Lorang dengan bahasa Dobel sebesar 46%, dan bahasa Barakai dengan bahasa Dobel sebesar 68%. Sementara itu, waktu pisah antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai, yaitu sekitar 6 ribu tahun yang lalu, antara bahasa Lorang dan bahasa Dobel sekitar 18 ribu tahun yang lalu, dan antara bahasa Barakai dan bahasa Dobel diperkirakan berpisah sekitar dua ribu tahun yang lalu.

    CERITA RAKYAT PUTRI JAMBUL EMAS BAGI MASYARAKAT ACEH: ANALISIS STRUKTURAL LEVI-STRAUSS (Putri Jambul Emas Folklore for Aceh People: Levi-Strauss Structural Analysis)

    Get PDF
    This study aims to describe the analysis of the Putri Jambul Emas with the Levi-Strauss structural theory. The data source of this research was Putri Jambul Emas, which was originally entitled Putroe Gumbak Meuh which was translated into Indonesian by Ramli Harun. The data collection technique was done by readingand taking notes, namely reading accompanied by careful and thorough recording of the whole story. This research is a qualitative descriptive study. This technique is carried out through 1) identification, 2) classification, 3) interpretation, and 4) inference. The results show that the structural analysis of the myth of Putroe Geumbak Meuh (Putri Jambul Emas) has provided a description of the reality of life of the Acehnese people and can even be linked to the values of local wisdom, history, regional resilience, children's devotion to their parents, choosing a life partner, the religiosity of the Acehnese people, and people's views on virginity.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis Putri Jambul Emas dengan teori Struktural Levi-Strauss. Sumber data penelitian ini Putri Jambul Emas yang semula berjudul Putroe Gumbak Meuh yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ramli Harun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan baca catat, yaitu pembacaan disertai dengan pencatatn dengan cermat dan teliti keseluruhan cerita. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik ini dilakukan melalui langkah-langkah, 1) identifikasi, 2) pengklasifikasian, 3) interpretasi, dan 4) inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis struktural terhadap mitos Putroe Geumbak Meuh (Putri Jambul Emas) ini telah memberikan deskripsi mengenai realitas kehidupan masyarakat Aceh bahkan bisa dikaitkan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sejarah, ketahanan wilayah, rasa bakti anak terhadap orang tua, memilih pasangan hidup, religiusitas masyarakat Aceh, dan pandangan masyarakat terhadap virginitas.

    STRUKTUR DAN FUNGSI GUGUS LEKSIKAL DALAM TEKS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN, SURAT RESMI, DAN SURAT BISNIS (Structure and Function of Lexical Bundles in Legal Texts, Formal Letters, and Business Letters)

    Get PDF
    Lexical bundles are defined as a sequence of three or more words that indicate a statistical tendency to occur together in a register. This research focuses on identifying the frequency, structure, and function of lexical bundles in registers of regulations and letters. This is a corpus based research with inductive approach. The corpus of data in this research are 1,019,326 words that come from 5 different kinds of text, which are laws, presidential regulations, ministerial regulations, formal letters and business letters. The frequency limit used to identify lexical bundles in this study is 20 times in at least 5 different texts. The result shows that there are 345 lexical bundles with three to seven words sequences, such as sebagaimana dimaksud pada, oleh karena itu, and yang dimaksud dengan. From those five texts, laws has the most lexical bundles. Meanwhile, in the analysis of the structure of three words bundles from those five texts are dominated by the complete structural pattern (56.85%), such as verbal phrase (e.g. dilakukan dengan cara), whereas the incomplete structural pattern (43.15%) is dominated by verbal phrase + preposition with the word “yang” as its modifier (e.g. yang diatur dalam). Related to the function of lexical bundles, it was found that there were functions that were oriented to the regulatory and textual aspects, while there were no functions that were oriented towards the interaction between the writer and the reader.Gugus leksikal (lexical bundles) didefinisikan sebagai rangkaian tiga kata atau lebih yang menunjukkan kecenderungan secara statistik untuk terjadi secara bersama dalam sebuah register. Penelitian ini berfokus mengidentifikasi frekuensi, struktur, dan fungsi gugus leksikal dalam register peraturan perundang-undangan dan teks surat. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis korpus dengan pendekatan induktif. Korpus data dalam penelitian ini berjumlah 1.019.326 kata yang bersumber dari 5 jenis teks, yaitu undang-undang, peraturan presiden, peraturan menteri, surat resmi, dan surat bisnis. Batasan frekuensi yang digunakan untuk mengidentifikasi gugus leksikal dalam penelitian ini adalah 20 kali dalam setidaknya 5 teks yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa ditemukan 345 gugus leksikal dengan panjang rangkaian tiga kata hingga tujuh kata, dengan didominasi rangkaian tiga kata, seperti sebagaimana dimaksud pada, oleh karena itu, dan yang dimaksud dengan. Dari kelima jenis teks tersebut, undang-undang memuat gugus leksikal dengan jumlah terbanyak. Sementara itu, dalam analisis struktur gugus leksikal tiga kata pada kelima jenis teks tersebut didominasi oleh pola struktur lengkap (56,85%), seperti frasa verba (mis., dilakukan dengan cara), sedangkan struktur tidak lengkap (43,15%) didominasi oleh frasa verba + preposisi dengan pewatas “yang” (mis., yang diatur dalam). Pada fungsi gugus leksikal ditemukan fungsi yang berorientasi pada aspek peraturan dan tekstual, sedangkan tidak ditemukan fungsi yang berorientasi pada hubungan interaksi antara penulis dan pembaca. 

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇