Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Kebutuhan Para Pendidik terhadap Materi Penyuluhan Apresiasi Sastra di Kalimatan Selatan
Masalah penelitian ini ialah bagaimana gambaran kemampuan mengapresiasi sastra para pendidik pada jenjang sekolah dasar dan bagaimana gambaran materi yang dibutuhkan oleh pendidik untuk meningkatkan kemampuannya dalam apresiasi sastra. Tujuan penelitian ini ialah untuk memperoleh gambaran kemampuan mengapresiasi sastra para pendidik pada jenjang sekolah dasar dan untuk mengetahui materi yang dibutuhkan oleh pendidik untuk meningkatkan kemampuannya dalam apresiasi sastra. Kemampuan para pendidik terhadap materi apresiasi sastra memerlukan observasi atau survei. Berdasarkan uraian itu, penelitian ini akan menggunakan metode survei. Metode survei ialah metode pengamatan dan melakukan penyebaran kuisioner. Hasil pengolahan data survei ialah suatu metode untuk memperoleh bahan penyuluhan sastra, dari data itu disusun pedoman atau bahan kegiatan penyuluhan sastra yang akan dilakukan oleh Badan Bahasa, balai, dan kantor bahasa. Hasil penelitian ini akan memperoleh gambaran tentang jawaban soal dan prosentase kemampuan para pendidik dalam mengapresasi sastra. Hasil penelitian ini nantinya dapat dibuat satu model, materi khusus, sebagai upaya meningkatkan kemampuan para pendidik dalam mengapresasi sastra.
Kekuasaan dan Kekuatan Bhuta dalam Teks Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Covid-19 di Bali: Analisis Etnolinguistik
This paper discusses the power of bhuta in the lontar (palm leaf) manuscript of Roga Sanghara Bhumi (RSB), in the context of Covid-19 in Bali, from an ethnolinguistic perspective. The RSB manuscript is a treasure documenting local knowledge reflecting Balinese Hindu culture about the existence of bhuta as a negative force causing disease outbreaks. The linguistic aspects examined and discussed include the integration of various lexico-grammatical elements, textually and contextually related to power and pandemics. The study is qualitative descriptive; important findings include the use of ethnolinguistic capital and local Balinese-Hindu symbols related to the conception/role of bhuta's power and rituals practiced by the Balinese, and how the Balinese maintain the dynamic balance of the universe's harmony and well-being. Evidence of ethnolinguistic resources includes multi-lingual diglossic features of Old Javanese-Sanskrit-Balinese and local Balinese-Hindu symbols, including the Balinese script and evil force repellent rituals such as caru offerings. RSB's striking textual feature is the persuasive narrative in the imperative mood. This is closely related to the function of RSB as a reference of advice to deal with pandemics. Cultural contextual features in RSB describe the cosmology, description and explanation of the occurrences of various outbreaks (sasab, gering, mrana, grubug) and the role of butha and its handling. Analysis in the context of Covid-19 is also provided. This paper underscores the importance of using local-traditional wisdom approaches in pandemic management to complement modern ones. AbstrakMakalah ini mengkaji power (kekuasaan/kekuatan) bhuta dalam teks lontar Roga Sanghara Bhumi (RSB), terkait Covid-19 di Bali, dari perspektif etnolinguistik. Teks RSB merefleksikan khazanah budaya Hindu-Bali terkait dengan keberadaan bhuta sebagai kekuatan negatif penyebab wabah penyakit. Aspek kebahasaan yang diperiksa dan dibahas mencakup integrasi berbagai elemen lexico-grammar kekuasaan/kekuatan, secara tekstual dan kontekstual terkait dengan pandemi. Kajiannya bersifat deskriptif kualitatif, menunjukkan temuan penting diantaranya penggunaan sumber daya etnolinguistik (ethno-linguistic capital) dan simbol-simbol lokal Bali-Hindu terkait konsepsi/peran power bhuta dan praktik-praktik ritual, serta dinamikanya untuk menjaga keseimbangan kerahayuan alam semesta. Bukti-bukti sumber daya etnolinguitik mencakup fitur diglosik multi/dwibahasa Jawakuna-Sanskerta-Bali dan simbol-simbol lokal Bali-Hindu termasuk aksara Bali dan ritual penolak kekuatan jahat seperti sesaji caru. Fitur tekstual RSB yang mencolok adalah naratif persuasif bermodus imperatif; ini terkait erat dengan fungsi RSB sebagai sumber petujuk/acuan untuk menghadapi pandemi. Fitur kontekstual kultural menggambarkan kosmologi, deskripsi dan penjelasan terjadinya berbagai wabah (sasab, gering, mrana, grubug) dan peran butha serta penanganannya. Analisisnya dalam konteks Covid-19 juga diberikan. Makalah ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan pendekatan kearifan lokal-tradisional dalam penanganan pandemi untuk melengkapi pendekatan modern
Sosiofonologi Leksikon Serapan dari Bahasa Arab yang Berfonem Asal ث , ذ, ,ص ض , dan ظ dalam Bahasa Indonesia
The aims of this study are to describe the form of the variation of the Arabic loan lexicon in Indonesian on social media, and to explain the possible social factors that cause its emergence. This research approach is a qualitative sociophonological approach. The data of this research is in the form of an absorption lexicon from Arabic in Indonesian. The data source of this research is speech on social media mass accounts (Facebook) in the religious domain which is thought to contain the Indonesian language lexicon which is absorbed from Arabic. The data collection method used is the listening method and the analysis method is the matching method. The method of presenting the results of data analysis is the informal method. From the results of data collection found 150 absorption lexicon. Based on the results of the discussion, it is stated that the variation of the absorption lexicon from Arabic in Indonesian is mostly found in lexicon containing the original phonemes ﺙ, ذ, ص, ض, and ظ and both in the first, second, third, and so on syllables, both in the onset position, nucleus, and coda. The possible factors causing the variation of the absorption lexicon are (1) a lack of understanding of the current Arabic-Latin transliteration guidelines; (2) the flexibility of the speaker's attitude in language; (3) differences in socio-humanities background: education level, field of science, and field of profession (livelihood); (4) speech channel. The results of this study can be useful as a contribution of ideas in language planning and Indonesian language teaching planning, both for native speakers and foreign speakers. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsi wujud variasi leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia pada media social, dan menjelaskan kemungkinan faktor sosial penyebab kemunculannya. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan sosiofonologis kualitatif. Data penelitian ini berupa leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Sumber datanya adalah tuturan pada akun-massa media sosial (Facebook) dalam ranah agama yang diduga memuat leksikon bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Metode penjaringan data yang digunakan adalah metode simak dan metode analisisnya adalah metode padan. Adapun metode penyajian hasil analisis datanya adalah metode informal. Dari hasil penjaringan data ditemukan 150 leksikon serapan. Berdasarkan hasil pembahasan dinyatakan bahwa variasi leksikon serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia banyak ditemukan pada leksikon-leksikon yang memuat fonem asal ﺙ, ذ, ص, ض, dan ظ baik dalam silabel pertama, kedua, ketiga, maupun seterusnya, baik dalam posisi onset, nuklus, maupun koda. Adapun kemungkinan faktor penyebab kemunculan variasi leksikon serapan tersebut adalah: (1) kurangnya pemahaman terhadap pedoman transliterasi Arab-Latin yang masih berlaku; (2) kelenturan sikap penutur dalam berbahasa; (3) perbedaan latar sosial-humaniora: jenjang pendidikan, bidang ilmu, dan bidang profesi (mata pencaharian); (4) saluran tutur. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dalam perencanaan bahasa dan perencanaan pengajaran bahasa Indonesia, baik untuk penutur jati maupun penutur asing.
REPRESENTASI KECINTAAN TERHADAP PRODUK LOKAL DALAM IKLAN TOP COFFEE (KAJIAN STILISTIKA) (The Representation of Love of Local Products in Top Coffee Advertisement: A Stylistic Study)
The purpose of this research is to identify the elements of language style found on Top Coffee product advertisements. This study also aims to describe the meaning and function of the language style used in the advertisement as a representation of love for local products. In addition to linguistic factors, this study also identifies the symbolic meanings contained in advertising posters. This research is descriptive qualitative. The data collection technique was carried out by observing and taking notes on Top Coffee's product advertisements in print and television media. The data obtained were then analyzed using a stylistic approach, to analyze linguistic factors, and semiotics to analyze the visual elements in advertising posters. The results of this study indicate that the three advertisements for Top Coffee products use a conversational style based on word choice; simple language style and noble and powerful language style based on tone; anticlimactic, parallelism, and climax based on sentence structure; synecdoche, metaphor, metonymy, and hyperbole based on whether or not the meaning is direct. Meanwhile, advertising visualization includes typography, advertisement stars, logos, product displays, colors and patterns, batik motif fibers that represent local products and their love for them. This advertisement uses the spirit of nationalism that is built from its consumers as a tool to promote its products through the style of language and symbols contained in the poster.Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi unsur gaya bahasa yang terdapat dalam iklan produk Top Coffee. Penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan makna dan fungsi gaya bahasa yang digunakan dalam iklan tersebut sebagai representasi kecintaan terhadap produk lokal. Selain faktor kebahasaan, penelitian ini juga mengidentifikasi makna-makna simbolis yang terdapat pada poster iklan. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat terhadap iklan produk Top Coffee di media cetak dan televisi. Data-data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan stilistika untuk mengetahui faktor kebahasaan dan teori semiotika untuk menganalisis unsur-unsur visual pada poster iklan. Dari hasil penelitian ini, ditunjukkan bahwa tiga iklan produk Top Coffee menggunakan gaya bahasa percakapan sebagai berikut: (1) berdasarkan pilihan kata: gaya bahasa sederhana, gaya bahasa mulia, dan gaya bahasa bertenaga; (2) berdasarkan nada: antiklimaks, paralelisme, dan klimaks; (3) berdasarkan struktur kalimat: sinekdoke, metafora, metonimia, dan hiperbola; dan (4) berdasarkan langsung tidaknya makna. Sementara itu, visualisasi iklan meliputi tipogafi, bintang iklan, logo, tampilan produk, warna dan corak, serta serat motif batik yang merepresentasikan produk lokal dan kecintaan terhadapnya. Iklan ini menggunakan semangat nasionalisme yang dibangun dari minat konsumen sebagai alat untuk mempromosikan produknya melalui gaya bahasa dan simbol-simbol yang terdapat pada posternya.
INTERJEKSI HA! DALAM FILM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK: PENDEKATAN SEMANTIK METABAHASA ALAMI
Interjection is a word used to express feelings or something spontaneously. In Indonesian there are many interjection words, but here what will be discussed is an interjection HA! which can be used in various spontaneous expressions. Not only that, Interjection HA! have similarities and differences with interjections in other Indonesian languages. This study aims to find the meaning of the Ha! which is used in the film "The sinking of the Van Der Wijck ship" a work by a famous writer from Padang, namely Buya Hamka. This research uses a Natural Metalanguage Semantic approach, and this study uses a qualitative descriptive research method with listening and note-taking techniques. Data were collected by watching or viewing the film or by listening to conversations containing the Ha! in the film. Furthermore, the data from the results of this study, it was found that there were 6 meanings of the Ha! in the film "The sinking of the Van Der Wijck ship" namely Emotive Interjection Ha! which shows feelings of pleasure or happiness, angry, disappointed, suspicious, surprised, and Kogitive Interjection Ha! funny (laughing out loud)
SATIRE DALAM RUBRIK KUMPARAN, PANDEMI SEMAKIN MENUNJUKKAN POTRET KESENJANGAN PENDIDIKAN INDONESIA, EDISI 11 JULI 2021
This study analyzes comparative language styles in the Kumparan Rubric, Pandemic Shows More Portraits of the Indonesian Education Gap, Author Sarah Novianti, 11 July 2021 Edition of satire consisting of irony, sarcasm and cynicism. This type of research is descriptive-qualitative, with a satire or satire style theory approach. The source of the data for this research is the Kumparan Rubric, Pandemic Shows More Gaps in Indonesian Education, Author Sarah Novianti, July 11, 2021 Edition and the data for this research is that the sentences in it contain several types of satire (satire). Data collection techniques in this study using documentation techniques. The data to be studied has been previously documented, this aims to assist researchers in obtaining the desired data by recording satire (satire) sentences in the form of sentence fragments that have a complete context. Based on the results of data analysis, found the results of several types of satire, irony, sarcasm and cynicism. The most dominant type of comparative language style used from the Kumparan Rubric, Pandemic Shows a Portrait of Indonesian Education Gaps, Author Sarah Novianti, Edition 11 July 2021 is a type of sarcasm style. Based on the findings, it can be concluded that the use of language styles in the Kumparan Rubric, Pandemic Shows a Portrait of Indonesia's Education Gap, Writer Sarah Novianti, July 11, 2021 Edition is more dominant in using the type of satire language style (satire) by using harsh words by replacing good words. be bad words
Kritik Sosial dalam Puisi “Berikan Aku Keadilan” Karya Fitri Nganthi Wani dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra
Social criticism in poetry is the author's strategy to respond various problems that exist in society. The poem "Give Me Justice" by Fitri Nganthi Wani is interesting to study because it is considered a form of social criticism that represents the voice of the community with a picture of the impact of the riots during the New Order era, especially family disorganization. This is illustrated through the suffering of the author's life which is also felt by the same fate and struggle. This study aims to describe the various forms of social criticism in the poem and their relevance to literature learning in high school. The study used a qualitative descriptive method with a sociology of literature approach, while data collection technique was carried out by note-taking because it was in writing form. The content analysis technique to analyze the data. The results showed that there were three forms of social criticism, namely (1) social criticism of the arbitrariness of state officials, (2) social criticism in the form of family disorganization, and (3) social criticism of government injustice. The social critique in this poem can be used as a reference for literature learning teaching materials, both in the 2013 curriculum and the independent curriculum in high school. AbstrakKritik sosial dalam puisi menjadi siasat pengarang untuk memberikan tanggapannya terhadap berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Puisi Berikan Aku Keadilan karya Fitri Nganthi Wani menarik untuk diteliti karena dianggap sebagai bentuk kritik sosial yang mewakili suara masyarakat dengan gambaran dampak kerusuhan masa Orde Baru, utamanya disorganisasi keluarga. Hal tersebut digambarkan melalui derita hidup pengarang yang juga dirasakan kaum senasib dan seperjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai bentuk kritik sosial dalam puisi Berikan Aku Keadilan dan relevansinya dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak catat karena data berupa tulisan, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan tiga macam bentuk kritik sosial yaitu, (1) kritik sosial terhadap kesewenang-wenangan aparat negara, (2) kritik sosial dalam bentuk disorganisasi keluarga, dan (3) kritik sosial terhadap ketidakadilan pemerintah. Kritik sosial dalam puisi ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi bahan ajar pembelajaran sastra, baik dalam kurikulum 2013 maupun kurikulum merdeka di tingkat SMA
Perbandingan Peribahasa Jepang dengan Peribahasa Sunda terkait Hubungan Manusia: Kajian Semantik Kognitif
Proverbs are a local wisdom or folksy wisdom that contains morals or truths that are values embraced by a society. This is in accordance with Foley (1997, 361) who states that proverbs are a remarkable example of describing the relationship between culture, language, and the human mind. This simple contrast research of the analysis will adjust to important variables in the content analysis. The first time that is done is to analyze proverbial data in two languages, namely Sundanese and Japanese, meaning the same based on a cultural point of view to which four content variables will be analyzed. These four variables are the concept of Warnaen, (1987, 5) in facilitating the grouping of proverbial contents. After that, it is continued with an analysis scheme that refers to the prism model developed by Geeraerts in Langlotz's book entitled Idiomatic Creativity. The model illustrates the existence of a metaphorical relationship between the true meaning of a proverb and the language used in the idiom (Langlotz, 2006, 109). Sundanese and Japanese proverbs in the variable content category are closely related to humans as individuals and humans in social life. In addition, Sundanese proverbs found in oral tradition have a deep meaning in a process of human behavior that behaves, while the dominant Japanese proverb tells of a human behavior from the beginning of the event then continued with a result accompanied by a causal relationship. AbstrakPeribahasa merupakan suatu kearifan lokal atau folksy wisdom yang mengandung moral atau kebenaran yang menjadi nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Hal ini sesuai dengan Foley (1997, 361) yang menyatakan bahwa peribahasa (proverb) merupakan contoh yang luar biasa untuk menggambarkan hubungan antara budaya, bahasa, dan pikiran manusia. Penelitian kontrastif analisis yang sederhana ini akan menyesuaikan dengan variabel penting dalam analisis isi. Pertama kali yang dilakukan adalah menganalisis data peribahasa dalam dua bahasa, yaitu Sunda dan Jepang, bermakna sama berdasarkan sudut pandang budaya yang akan dianalisis empat kategori isi. Empat kategori ini merupakan konsep dari Warnaen, (1987, 5) dalam memudahkan pengelompokan isi peribahasa. Setelah itu dilanjutkan dengan skema analisis yang mengacu pada model prisma yang dikembangkan oleh Geeraerts dalam buku Langlotz yang berjudul Idiomatic Creativity. Model tersebut menggambarkan akan adanya hubungan metafora antara makna sesungguhnya suatu peribahasa dengan bahasa yang digunakan dalam idiom tersebut (Langlotz, 2006, 109). Peribahasa Sunda dan Jepang dalam kategori variabel isi sangat berkaitan erat dengan manusia sebagai pribadi dan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, peribahasa Sunda yang ditemukan dalam tradisi lisan memiliki makna yang dalam pada suatu proses manusia itu berperilaku, sedangkan peribahasa Jepang dominan menceritakan sebuah perilaku manusia dari awal kejadian kemudian dilanjutkan dengan hasil yang disertai dengan hubungan sebab akibatnya