Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    ANALISIS UNSUR SOSIOPSIKOLOGIS SASTRA PUISI “LAGU MURAM PEDALAMAN” KARYA HABOLHASAN ASYARI

    Get PDF
     AbstrakKarya sastra berupa puisi lahir dari lingkungan sosial masyarakat. Pengarang menggali ide-idenya dari lingkungan sosialnya. Berdasarkan hal tersebut maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah unsur sosio-psikologis sastra pada  puisi “Lagu Muram Pedalaman” Karya Habolhasan Asyari. Tujuan pada kajian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan unsur sosio-psikologi sastra puisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi “Lagu Muram Pedalaman” Karya Habolhasan Asyari bertemakan kehidupan masyarakat pedalaman yang tersisih di kampung sendiri. Puisi ini mengungkapkan eksploitasi sumber daya alam dan hilangnya  tradisi dan budaya masyarakat. Sikap Penyair yang menonjol adalah kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap tradisi dan budaya tradisional. Di samping itu,  ketidaksetujuan dengan eksploitasi sumber daya alam yang mengakibatkan kerusakan ladang dan sumber kehidupan mereka.Kata Kunci : Puisi, Sosio-Psikologi Sastra  AbstractLiterary works, in the form of poetry, are products of social environment. Authors explore ideas from their environment. This research discusses about socio-psychological aspects of literature and aims to identify and describe those in "Lagu Muram Pedalaman" poem by Habolhasan Asyari. It is a descriptive qualitative research. Conclusions are that the poem of "Lagu Muram Pedalaman" is about the life of rural people who are frozen out in their own environment. This poem depicts the exploitation of natural resources and the loss of community traditions and culture. The poet's prominent attitude concerns for the environment, traditions, and traditional culture. In addition, disagreement of the natural resources’ exploitation brings about destruction of the field and source of employment.Keywords: poetry, socio-psychological literatur

    FUNGSI KIASAN PATAH HATI BAHASA BALI DALAM GEGURITAN “SAMPIK” (The Function of Balinese Figure of Speech on Broken Heart in Geguritan Sampik)

    Get PDF
       This study aimed to examine the form, function, and meaning of Balinese expressions from the perspective of systemic functional linguistic theory (SFL). This study used a phenomenological-based approach. The data consisted of 51 stanzas and each stanza contained 7 to 9 lines collected through document analysis and they were classified into language meta function elements. The data were analyzed through the classification of the content of the text, the characteristics of the text, and the application of the SFL model. The findings of this study indicate that Gaguritan Sampik has 4 types of figures of speech, namely similes, metaphor, hyperbole, and personification with comparative meaning that bridges cognitive meaning to imaginative meaning. The findings of the LSF analysis show that all of the poems in Gaguritan Sampik have ideational, interpersonal, and textual metafunction elements, but this model cannot access chronological stages and holistic meanings due to position shifting, phrase deletion, or phrase duplication in the literary writing system. However, the LSF model proves that a coherent and coherent figure of speech mechanism can evoke the reader's imagination so that it absorbs philosophical values in the text. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, fungsi, dan makna kiasan ungkapan majas patah hati bahasa Bali dalam geguritan “Sampik” dari perspektif teori linguistik sistemik fungsional (LSF). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis fenomenologi. Data terdiri atas 51 stanza dan tiap stanza terdiri atas 7 sampai 9 baris dikumpulkan melalui analisis dokumen dan diklasifikasikan ke dalam unsur metafungsi bahasa. Data dianalisis melalui tahapan klasifikasi isi teks, karakteristik teks, dan penerapan model LSF.  Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa geguritan “Sampik” memiliki empat jenis majas, yaitu perbandingan, metafora, hiperbola, dan personifikasi dengan makna komparatif yang menjembatani makna kognitif menuju makna imajinatif. Temuan analisis LSF menunjukan semua syair pada geguritan “Sampik” memiliki unsur-unsur metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual, tetapi model ini tidak dapat mengakses tahapan kronologis dan makna secara holistik akibat adanya pemindahan posisi, pelesapan prasa, atau duplikasi prasa pada sistem penulisan sastra. Walaupun demikian, model LSF membuktikan bahwa mekanisme majas yang runut dan padu dapat membangkitkan imaji pembaca sehingga meresapi nilai filosofis dalam teks.

    Nilai-Nilai Nasionalisme dalam Novel 5 Cm Karya Donny Dhirgantoro

    Get PDF
    Someone who has read a novel must have a good personality and attitude. This study aims to describe the form of nationalism values in 5 cm by Donny Dhirgantoro. This study uses a qualitative descriptive method to view, analyze, and describe data regarding the values of nationalism in the novel. Data collected by listening and note-taking, while the analysis used analytical techniques according to Miles and Huberman. The results showed that the novel describes the lives of young people in implementing the values of nationalism in the form of (1) respect for the state symbol, (2) participation in the independence ceremony on top of Mount Semeru, and (3) sayings of the figures. From the results of the analysis, it can be said that the values of nationalism in the novel are used to invite the readers to have a spirit of nationalism and love for their nation.  AbstrakSeseorang yang telah membaca novel tentunya memiliki kepribadian dan sikap yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk nilai-nilai nasionalisme di dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melihat, menganalisis, dan mendeskripsikan data mengenai nilai-nilai nasionalisme di dalam novel tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik menyimak dan mencatat, sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis menurut Miles dan Huberman. Hasil analisis menunjukan bahwa novel 5 cm menggambarkan kehidupan kalangan muda dalam mengimplementasikan nilai-nilai nasionalisme berupa (1) penghormatan kepada simbol negara, (2) keikutsertaan dalam upacara kemerdekaan yang berada di atas puncak Gunung Semeru, dan (3) berbagai ucapan para tokoh. Hasil analisis menyimpulkan bahwa nilai-nilai nasionalisme di dalam novel 5 cm digunakan untuk mengajak para pembaca memiliki jiwa nasionalisme dan rasa cinta terhadap bangsanya

    Bentuk dan Makna Nama-Nama Dusun di Kecamatan Nelle Kabupaten Sikka

    Get PDF
    This study aims to describe the form, categorization, and meaning of the names of hamlets in the Nelle Subdistrict. The data in this study are the names of hamlets in Nelle Subdistrict, Sikka Regency. They were collected with the method of listening, recording and note-taking. The data is analyzed by using fixed comparison methods. The analysis of the data was presented with informal methods. The results of this study are as follows. The forms of the names of the hamlets consist of monomorphism and polymorphism. The names of the hamlets that include monomorphic are Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, and Ritat. The hamlet’s name includes polymorphism, namely Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, and Keduwair. The categorization of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into aspects of embodiment and aspects of society. Aspects of embodiment are divided into several parts, namely location, geography, plants, water forms, and combinations. The name of the hamlet in the aspect of society is divided again in the aspect of nicknames. The name of the hamlet in another aspect, namely the number. The meaning of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into several types, such as lexical-grammatical, referential-nonrefferential, denotative-connotative, conceptual-associative, and word-terms. So, the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict has a peculiarity that can be seen from its form, categorization, and meaning. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, kategorisasi, dan makna nama-nama dusun di Kecamatan Nelle. Data dalam penelitian ini adalah nama-nama dusun di Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik simak libat cakap, dan teknik lanjutannya ialah teknik rekam dan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode perbandingan tetap. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Bentuk nama-nama dusun terdiri atas monomorfemis dan polimorfemis. Nama-nama dusun yang termasuk monomorfemis adalah Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, dan Ritat. Nama dusun yang termasuk polimorfemis, yakni Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, dan Keduwair. Kategorisasi nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi atas aspek perwujudan dan aspek kemasyarakatan. Aspek perwujudan terbagi dalam beberapa bagian, yakni letak, geografis, tanaman, wujud air, dan kombinasi. Nama dusun dalam aspek kemasyarakatan terbagi lagi dalam aspek julukan. Nama dusun dalam aspek lain, yakni jumlah. Makna nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi dalam beberapa jenis, seperti makna leksikal-gramatikal, referensial-nonreferensial, denotatif-konotatif, konseptual-asosiatif, dan kata-istilah. Jadi, nama dusun di Kecamatan Nelle memiliki kekhasan yang dapat dilihat dari bentuk, kategorisasi, dan maknanya

    UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT KERINCI SEBAGAI SUMBER NILAI MORAL UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER (The Traditional Expression of The Kerinci Community as A Source of Moral Values for Character Education)

    Get PDF
    The Kerinci language is one of the regional languages in Indonesia that still lives and develops in the Kerinci community. The Kerinci community also uses language as a social control for their people, which is expressed in the form of expressions. The purpose of this study was to describe moral values in the traditional expressions of the Kerinci community as a source of moral values for character education. The method used was descriptive qualitative. Based on the research results, the moral values contained in the traditional expressions of the Kerinci community are individual, social, and religious moral values. Examples of individual moral values are honest, open, responsible, obedient, disciplined, diligent. Examples of social moral values are loyalty, helping others, keeping promises, friendly, polite, democratic, fair, considerate, compact. Examples of religious moral values are sincerity, gratitude, optimism, do not confuse the halal and the haram, the good and the bad. These moral values can be used as a source of moral values for character education in educating young people as the next generation of this nationBahasa Kerinci merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia yang masih hidup dan berkembang pada masyarakat Kerinci. Masyarakat Kerinci juga menggunakan bahasa sebagai kontrol sosial masyarakatnya yang tertuang dalam bentuk ungkapan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral dalam ungkapan tradisonal masyarakat Kerinci sebagai sumber nilai moral untuk pendidikan karakter. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, nilai moral yang terdapat dalam ungkapan tradisional masyarakat Kerinci yaitu nilai moral individual, sosial, dan religi. Contoh nilai moral individual yaitu jujur, terbuka, bertanggung jawab, patuh, disiplin, tekun. Contoh nilai moral sosial yaitu setia, menolong orang lain, menepati janji, ramah, sopan, demokratis, adil, tenggang rasa, dan kompak. Contoh nilai moral religi yaitu ikhlas, bersyukur, optimis, jangan mencampuradukkan yang halal dan haram, yang baik dan yang buruk. Nilai-nilai moral tersebut dapat dijadikan sebagai sumber nilai moral untuk pendidikan karakter dalam mendidik anak muda sebagai generasi penerus bangsa ini

    Representasi Tokoh Utama dalam Novel Kawi Matin di Negeri Anjing Karya Arafat Nur: Tinjauan Psikologi Sastra

    Get PDF
    Tokoh utama berperan penting untuk cerita yang ingin dikisahkan oleh pengarang dalam novel. Selain itu, permasalahan-permasalahan yang muncul dalam kepribadian tokoh-tokoh yang lain selalu dipusatkan untuk mengungkapkan kepribadian tokoh utama. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan id, ego, dan superego tokoh utama dalam novel Kawi Matin di Negeri Anjing karya Arafat Nur tinjauan psikologi sastra. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini ialah berupa kutipan paragraf, dialog, dan kalimat teks novel Kawi Matin di Negeri Anjing Karya Arafat Nur yang mengandung id, ego, dan superego tokoh utama.. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik baca dan catat. Adapun hasil penelitian yang ditemukan adalah berupa id, ego, dan superego tokoh utama pada novel Kawi Matin di Negeri Anjing karya Arafat Nur yang berjumlah 90 data yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: (1) Id, berjumlah 28 data, (2) Ego, berjumlah 30 data, (3) superego, berjumlah 32 data. Data yang paling banyak adalah superego, dan data yang paling sedikit adalah id. Dengan demikian, tokoh Kawi Matin didominasi oleh kepribadian superego berupa rasa bersalah, dan inferior

    KESANTUNAN TUTUR SISWA KELAS XII SMA VETERAN 1 SUKOHARJO TERHADAP GURU MELALUI MEDIA WHATSAPP

    Get PDF
    Penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dalam bertutur di media whatsapp kepada guru. Mengingat, begitu banyaknya atau beberapa siswa yang mulai perlahan terkisisnya sikap sopan santun di dalam media whatsapp. kerena terlalu lama berdiam diri di rumah dan mungkin kurang adanya perhatian dari orang tua dalam memperhatikan tuturan anak. hal itu juga dapat mempengaruhi sikap kesantunan tutur seorang anak kepada orang lain/guru/masyarakat di dalam lingkungannya

    VARIASI PEMAKAIAN BAHASA JAWA DIALEK REMBANG PADA MASYARAKAT PEDESAAN: KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI

    Get PDF
    The focus of this research is on variations in the use of the Javanese dialect of Rembang by rural communities. Research data in the form of written data and oral data. Case study in Tuyuhan Village, Pancur District, Rembang Regency. The objectives of this research are (1) to reveal vocabulary variations and (2) to describe variations in speech level usage. In collecting data, the researcher used the listening method and the speaking method. The results of the study include: (1) there are variations in vocabulary in 11 fields of meaning, namely greeting words/pronouns, animals, plants, clothes, body parts, kinship patterns, work, household equipment, diseases, activities/activities, and natural conditions. (2) there is an influence of Indonesian into Javanese, both Krama and Ngok

    Sociophonetic Analysis of the Characters' Speech in "Troubled Blood" by R. Galbraith

    Get PDF
    British English has several regional varieties for almost every English county, e.g. Yorkshire, Lancashire, Cornwall, and so on. Each dialect can be distinguished by distinct vocabularies and pronunciation; for example the Cockney dialect use the glottal stop [?] instead of alveolar stop [t] in words like butter and bitter, so they are pronounced as [bΛ?ər] and [bɪ?ər]. These distinctive dialects’ pronunciation can be identified easily in spoken interaction, but it would be more problematic if it was represented in written text, such as in a novel. This paper attempts to analyse the distinguishing features of six intra-national varieties of British English found in the detective novel ‘Troubled Blood’ by Robert Galbraith, which is a pseudonym of J.K. Rowlings. The data for this study were taken from the speech samples of six characters from six regional dialects: Irish, Cornish, Scottish, Cockney, Eastender, and Essex. The speech samples data were extracted from the chapters in which the detective (Strike) or her partner (Robin) conversed with the chosen characters whose language backgrounds were stated clearly in the novel. The data were analysed by transcribing the speech samples phonetically, then from the transcriptions, phonetic features of each regional variation were identified using the theories of sociophonetic and regional variations. The interpretation of the sounds was based on the standard British English pronunciation. Results showed that a woman with East End dialect had some characteristics such as omission of initial h-sound, as in ‘appens, ‘ad, ‘eadaches, while a Scottish dialect was identified by the use of ‘havenae’ for ‘have not’. These results indicate that regional dialects or variations can be represented accurately in written text. Yet, it also suggests that the writer should have ample knowledge of each dialect to be able to represent distinctive variations in their writing.  AbstrakBahasa Inggris British memiliki beberapa variasi regional untuk hampir setiap wilayah Inggris, misalnya Yorkshire, Lancashire, Cornwall, dan sebagainya. Setiap dialek dapat dibedakan dengan kosakata dan pengucapan yang berbeda; misalnya dialek Cockney menggunakan glottal stop [?] alih-alih alveolar stop [t] dalam kata-kata seperti ‘butter’ dan ‘bitter’ sehingga diucapkan sebagai [bΛ?ər] dan [bɪ?ər]. Pengucapan dialek yang khas ini dapat diidentifikasi dengan mudah dalam interaksi lisan, tetapi akan lebih bermasalah jika direpresentasikan dalam teks tertulis, seperti dalam novel. Makalah ini mencoba menganalisis ciri-ciri pembeda dari enam dialek intra nasional Bahasa Inggris British yang ditemukan dalam novel detektif 'Troubled Blood' karya Robert Galbraith, yang merupakan nama samaran dari J.K. Rowling. Data untuk penelitian ini diambil dari sampel tuturan enam karakter dari enam dialek daerah: Irlandia, Cornish, Skotlandia, Cockney, Eastender, dan Essex. Data sampel ujaran diambil dari bab-bab di mana detektif (Strike) atau pasangannya (Robin) berbicara dengan karakter terpilih yang latar belakang bahasanya disebutkan dengan jelas dalam novel. Data dianalisis dengan mentranskripsikan sampel ujaran secara fonetis, kemudian dari transkripsi tersebut diidentifikasi ciri-ciri fonetik masing-masing variasi regional dengan menggunakan teori sosiofonetik dan variasi regional. Penafsiran suara didasarkan pada pengucapan bahasa Inggris standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita dengan dialek East End memiliki beberapa karakteristik seperti penghilangan bunyi h awal, seperti pada 'appens, 'ad, 'eadaches, sedangkan dialek Skotlandia diidentifikasi dengan penggunaan 'havenae' untuk 'have not' . Hasil ini menunjukkan bahwa dialek atau variasi daerah dapat direpresentasikan secara akurat dalam teks tertulis. Namun, hal itu juga mensyaratkan bahwa penulis harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang setiap dialek untuk dapat mewakili variasi yang berbeda dalam tulisan mereka

    Pembelajaran BIPA yang berorientasi pada aktivitas pemelajar di KBRI Kopenhagen 2021

    Get PDF
    This study aims to describe the application of student action-oriented learning in BIPA 2 Class at the Indonesian Embassy in Copenhagen. Action-oriented learning is an approach that has become the standard of the CEFR (Common European Framework of Reference for Languages). The curriculum system and Indonesian Language Competency Standards for Foreign Speakers (SKL BIPA) adapt the curriculum from the CEFR, therefore this approach can be considered in teaching BIPA abroad, especially in Europe. This research is descriptive qualitative research, this research describes in detail and in-depth the portrait of conditions in a natural context (natural setting), about what actually happened according to what was in the field of study in the application of a learning approach oriented to student action in the classroom BIPA 2 of the Indonesian Embassy in Copenhagen. The results showed that it is easy to use this action-oriented approach because this approach is already known for foreign language learning in Europe. There are 3 phases in the lesson, namely the contextualization phase, development phase, and processing phase. In the contextualization phase, students can update and build contexts in their reflections on the topics to be learned.  In the development phase, students begin to develop their language skills. In the processing phase, students no longer have language barriers that limit their creativity. Through this approach, students can be more active in learning Indonesian language because there are lots of media that require them to be active in class

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇