Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    KEBUTUHAN PENGGUNA BAHASA TERHADAP MATERI PENYULUHAN DI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    AbstrakPenelitian Kebutuhan Pengguna Bahasa terhadap Materi Penyuluhan Bahasa Indonesia di Kalimantan Timur merupakan sebuah penelitian kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebermanfaatan kegiatan penyuluhan bahasa Indonesia, yaitu dengan menjaring data dan informasi dari para pesuluh yang pernah menjadi peserta kegiatan penyuluhan. Hasil penelitian ini akan dijadikan rekomendasi bagi pengambilan kebijakan selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pengguna bahasa terhadap materi penyuluhan. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang harus dijawab oleh responden. Kuesioner ini berupa pengetahuan yang menyajikan 20 soal pilihan ganda yang terdiri atas lima soal materi ejaan, lima soal materi bentuk dan pilihan kata, lima soal materi struktur kalimat, dan lima soal materi kalimat efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif inferensial, yaitu metode yang bukan hanya mendeskripsikan data, melainkan juga menganalisis dan menyimpulkan hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis data, sebagian besar guru di Provinsi Kalimantan Timur menguasai kaidah ejaan, bentuk dan pilihan kata, serta kalimat dan kalimat efektif. Kata kunci: kebutuhan, pengguna bahasa, materi penyuluhan. AbstractResearch on Language Users’ Needs for Indonesian Language Extension Materials in East Kalimatan is a policy research. This study aims to determine the usefulnes of Indonesian language extension activities, namely by collecting data and information from extension participant who have been joined in extension activities. The result of this study will be used as recommendations for further policy making, especially those related to the needs of language users for extension materials. This study uses a questionnaire that must be answered by the respondent. This questionnare is in the form of knowledge that presents 20 multiple choice questions consisting of question on spelling material, question on form and word choice, question on sentence structure and effective sentence materials. The method used in this research is descriptive inferential, which is a method that not only desribes the data, but also analyzes and concludes the research results. Based on the results of the data analysis, most of the teachers in East Kalimantan Province mastered the rules of spelling, word form and choice, as well as effective sentences and sentences. Keywords: needs, language users, extention materials

    Redaksi, Daftar Isi, Pengantar Redaksi, Abstrak, Petunjuk Penulisan

    No full text

    DONGENG MANUSIA LUAR BIASA: FOLKLOR LISAN “ISSUNBOUSHI: SANG KSATRIA MUNGIL” DAN “SI KELINGKING” (Super Ordinary Human Fairy Tales: Structural Analysis of “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” and “Si Kelingking”)

    Get PDF
    This study examines two fairy tales from Japanese and Indonesian people namely the fairy tales “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” (Japan) and “Si Kelingking” (Indonesia) which have the same motif with different versions. This was done to answer the formulation of the problem in this study, how to compare the elements in the structure of the story which includes the similarities and differences in the story “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” with "Si Kelingking". To find out the similarities and differences in the structure of the fairy tales "Issunboushi: Sang Ksatria Mungil" (Japan) and "Si Kelingking" (Indonesia), the two stories have been analyzed used a narrative structure approach by A.J. Greimas. The writer used the structural approach of narratology by A.J. Greimas in order to produce an actant and functional scheme that show the similarities and differences in the structure of these fairy tales. The results of the study show that both have the same story stages, namely the initial situation, transformation, and the final situation. The different elements of the story included the actors (subjects) and their strengths, contradictions, solutions in getting helpers, and the form of helping objects. In addition, the two-fairy tales also have almost similar themes or motives, characterizations and plotting. The moral message of the story conveyed was also not much different. Based on these differences, it can be concluded that the fairy tales "Issunboushi: Sang Ksatria Mungil" and "Si Kelingking" were not related. These differences can be seen from the peculiarities of the two-fairy tales as a form of representation of people's lives at the time the fairy tales were created. In addition, the storytelling of each of these fairy tales took advantage of local geographical conditions to become the object of the story. Penelitian ini menelaah dua dongen dari masyarakat Jepang dan Indonesia, yang bermotif sama, tetapi memiliki versi berbeda, yaitu “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” (Jepang) dan “Si Kelingking” (Indonesia). Hal ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni bagaimana perbandingan unsur-unsur dalam struktur cerita yang mencakupi kemiripan dan perbedaan cerita “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” dengan “Si Kelingking”. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan struktur cerita dongeng “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” (Jepang) dan “Si Kelingking” (Indonesia), kedua cerita tersebut akan dianalisis menggunakan pendekatan struktur naratologi oleh A.J. Greimas. Melalui pendekatan struktur naratologi oleh A.J. Greimas akan dihasilkan skema aktan dan fungsional yang menunjukkan persamaan dan perbedaan struktur cerita dongeng-dongeng tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya memiliki tahapan cerita yang sama, yakni situasi awal; transformasi; dan situasi akhir. Adapun unsur cerita yang berbeda mencakupi pelaku (subjek) dan kekuatannya, pertentangan, solusi dalam mendapatkan bantuan penolong (helper) dan wujud benda penolong. Selain hal tersebut, kedua dongeng itu juga memiliki tema, motif, penokohan, dan pengaluran yang hampir mirip. Amanat atau pesan moral cerita yang disampaikan juga tidak jauh berbeda. Berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dongeng “Issunboushi: Sang Ksatria Mungil” dan “Si Kelingking” tidak saling terkait. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dari kekhasan kedua dongeng sebagai bentuk representasi Kehidupan masyarakat pada saat dongeng tersebut tercipta. Selain itu, pengisahan masing-masing dongeng tersebut memanfaatkan keadaan geografis setempat untuk dijadikan objek cerita

    VERBA BERKLITIK DALAM BAHASA LAMAHOLOT DIALEK LEWOKLUOK (Clitic Verb on Lamholot Language Lewokluok Dialect)

    Get PDF
    This reseacrh contains: (1) morphosyntax and semantic-syntax classification of clitic verb and (2) shape of clitic verb in Lamaholot language Lewokluok dialect (BLDL). In morphosyntax clitic verb on BLDL only consist of action verbs and process-action verb and  syntactically is a transitive verb (V. trans+action). In addition, proclitic verbs on BLDL also have a semantic features action but syntactically is an intransitive verb (V. intrans+action). BLDL does not have proclitic verb which is syntactically ditranstive category.  While the enclitic verbs on BLDL consists of action verbs, motion verbs), and cognition verbs, and semantic-syntactically is a verb that has semantic features action and process, but generally enclitic verb on BLDL is syntactically intransitive category.  Based on its form, BLDL’s verb consist of (1) verbs that cannot stand alone (bound root morpheme) that must be attached to proclitic; and (2) verbs that can stand alone (free root morpheme) and can attach themselves to clitic. In addition, BLDL verb forms also can appear as (3) verbs that can stand alone, without experiencing any process-called simple verb; (4) The verb that has serialization structure or serial verbs.  Tulisan ini berisi tentang (1) klasifikasi verba berklitik secara morfosintaksis dan  semantis-sintaksis dalam bahasa Lamaholot dialek Lewokluok (BLDL); (2) bentuk verba berklitik dalam BLDL. Secara morfosintaksis verba berproklitik pada BLDL hanya terdiri atas verba aksi (actions) dan verba aksi-proses (action-process) dan secara sintaksis merupakan verba transitif (V. trans+aksi). Selain itu, verba berproklitik pada BLDL juga memiliki ciri semantis tindakan namun secara sintaksis merupakan verba intransitif (V. intrans+aksi). BLDL tidak memiliki verba berproklitik yang secara sintaksis berupa dwitransitif.  Sedangkan pada verba berenklitik pada BLDL terdiri atas verba aksi (actions), verba gerakan (motion), dan verba kognisi, dan secara semantis-sintaksis merupakan verba yang  memiliki ciri semantis tindakan (actions) dan proses. Namun, umumnya secara sintaksis verba berenklitik pada BLDL berkategori verba intransitif. Verba BLDL ditinjau dari segi bentuk terdiri atas (1) verba yang tidak dapat berdiri sendiri (bound root morpheme)  sehingga wajib mendapat bentuk klitik, dan dalam penelitian ini peneliti menyebutnya sebagai verba berprolitik; dan (2) verba yang dapat berdiri sendiri (free root morpheme) dan bisa melekatkan diri pada klitik. Selain itu, bentuk verba BLDL juga dapat tampil menjadi (3) verba yang dapat berdiri sendiri, tanpa mengalami proses apapun atau disebut dengan verba sederhana; (4) verba yang memiliki struktur serialisasi atau verba serial

    KRITIK SOSIAL DALAM WEB SERIES CINTA FISABILILLAH KARYA FILM MAKER MUSLIM DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI MADRASAH ALIYAH

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi adanya permasalahan yang muncul pada web seriesCinta Fisabilillah karya Film Maker Muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kritik sosial yang muncul dalam web series Cinta Fisabilillah karya Film Maker Muslim dengan tinjauan sosiologi sastra, (2) untuk mengetahui relevansi web series Cinta Fisabilillah karya Film Maker Muslim terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di MA. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian studi pustaka. Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif menggunakan pendekatan sosiologi sastra dengan mendeskripsikankritik sosial yang muncul dalam web series Cinta Fisabilillah karya Film Maker Muslim dengan tinjauan sosiologi sastra. Selain itu, juga untuk mendeskripsikan relevansi web series Cinta Fisabilillah karya Film Maker Muslim terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di MA. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah web series Cinta Fisabilillahkarya Film Maker Muslim dan sumber buku referensi, jurnal, skripsi, tesis, maupun artikel yang mendukung dan menunjang permasalahan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan teknik catat. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini mengguakan teknik triangulasi teori. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan teknik analisis data interakif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat (1) 7 kritik sosial yang muncul dalam web series Cinta Fisabilillah, diantaranya adalah kebudayaan terdiri dari 2 data, agama terdiri dari 2 data, ketimpangan gender terdiri dari 1 data, konflik sosial terdiri dari 2 data, kemiskinan terdiri dari 1 data, kejahatan terdiri dari 1 data, dan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat terdiri dari 1 data, (2) relevan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia di MA kelas XI semester genap, yaitu dengan materi sastra, tepatnya KD 3.19 Menganalisis isi dan kebahasaan drama atau film yang dibaca atau ditonton. Sehingga drama atau film tersebut sangat relevan untuk dijadikan sebagai penunjang pembelajaran Bahasa Indonesia

    Singularitas dan Identitas dalam Cerpen “Aroma Tanah Moncongloe”

    Get PDF
    This study aims to uncover the praxis of singularity and self-identity (kedirian) as presented in a short story titled Aroma Tanah Moncongloe (ATM). This research uses a descriptive-qualitative method by applying the post-marxist perspective by Antonio Negri and Jean-Luc Nancy. The results signified that there is a labeling of identity constructed by the state as a form of uniformity that is in line with the empire or external power. This uniformity can be seen from the identity of former political prisoners who are isolated and find it difficult to find work. Through the concept of singularity and identity, the existence of political prisoner (ex-tapol) in turn is seen as bad, evil, and can pollute a clean society. On the other hand, this stigma forms a community of ex-tapol who were marginalized politically, socially, and economically. Furthermore, in the subject’s effort to grasp the singularity, there are two indications, shown by Nanni and the Moncongloe Tapol Community (KTM). Nanni is not tied to a single identity as a child (genealogical-biological), but tend to be an open-minded, rational, and trusting teacher (sociological). Meanwhile, KTM stands outside the global political order or empire which minimizes them being entangled in the global capitalist system.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membongkar praksis singularitas dan identitas kedirian sebagaimana dihadirkan teks cerpen Aroma Tanah Moncongloe (ATM). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan menerapkan perspektif post-marxisme Antonio Negri dan Jean-Luc Nancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi labelisasi identitas yang dikonstruksi oleh negara sebagai bentuk penyeragaman yang sejalan dengan empire atau kekuasaan eksternal. Penyeragaman ini dapat dilihat dari identitas eks tapol yang terkucilkan dan sulit mendapatkan pekerjaan. Melalui konsep singularitas dan identitas, keberadaan eks tapol pada gilirannya dipandang sebagai sosok yang buruk, jahat, serta dapat mencemari masyarakat yang bersih. Stigmatitasi tersebut di sisi lain melahirkan komunitas eks tapol yang termarginalkan secara politik, sosial, dan ekonomi. Selanjutnya, upaya subjek merengkuh singularitas menunjukkan terdapat dua indikasi; yang diperlihatkan tokoh Nanni dan Komunitas Tapol Moncongloe (KTM). Nanni tidak terikat pada identitas yang tunggal sebagai seorang anak (genealogis-biologis), melainkan cenderung sebagai guru yang berpandangan terbuka, rasional, serta penuh kepercayaan (sosiologis). Sementara KTM berdiri diluar tatanan politik global atau empire yang meminimalisir mereka terjerat dalam sistem kapitalisme global

    Nilai Pendidikan Karakter dalam Ungkapan Bahasa Kaili Dialek Rai

    Get PDF
    The Kaili language expression of the Rai dialect has special characteristics in education. The purpose of this research is to describe the form of the values and functions of the characters in the Kaili language expression of the Rai dialect as part of the values of character education. The research method used is descriptive qualitative. The type of data is in the form of oral data sourced from predetermined informants. Data collection techniques include; (1) observation, (2) interviews, (3) recording, and 4) note-taking techniques, so the stages in the analysis technique are collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. As for how to analyze it, namely transcribing and translating data findings, classifying data, analyzing forms and functions, and testing data to obtain conclusions. The research results obtained are that there are three forms of character education values, including; (1) educational value, (2) social value, and (3) moral value. In conclusion, the Kaili dialect of Rai can manifest educational values that are oriented towards character building, both for students at school and in living life as a society. AbstrakUngkapan bahasa Kaili dialek Rai memiliki karakteristik khususnya pada pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk nilai dan fungsi karakter dalam ungkapan bahasa Kaili dialek Rai sebagai bagian nilai pendidikan karakter. Metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif kualitatif. Jenis data berupa data lisan yang bersumber dari informan yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data antara lain; (1) observasi, (2) wawancara, (3) perekaman, dan 4) teknik catat, sehingga tahapan dalam teknik analisis yaitu mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, menarik kesimpulan. Adapun cara menganalisisnya yaitu mentranskripsi dan menerjemahkan temuan data, mengklasifikasian data, analisis bentuk serta fungsi, dan menguji data agar memperoleh kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat tiga bentuk dari nilai pendidikan karakter, antara lain; (1) nilai edukasi, (2) nilai sosial, dan (3) nilai moral. Kesimpulannya, bahasa Kaili dialek Rai dapat memanifestasikan nilai pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, baik kepada siswa di sekolah, maupun dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat

    Keragaman Kultur Film Kartun “Adit & Sopo Jarwo” dalam Perspektif Analisis Multimoda

    Get PDF
    Children's cartoons are television shows that are an alternative for children to watch. This audiovisual presentation contains a lot of educational value. This paper aims to describe the cultural diversity contained in the children's cartoon film “Adit & Sopo Jarwo from the perspective of multimodal analysis. The method used in analyzing this cartoon is a qualitative method using content analysis. The content analysis model used is the multimodal analysis model proposed by Teo van Leeuwen. The results showed that the multimodal content in the ASJ film can be seen from the actors, characteristics, social relations, action and reaction, property, and criticality. AbstrakFilm kartun anak merupakan sajian pertelevisian yang menjadi alternatif tontonan bagi anak. Sajian audiovisual ini banyak mengandung nilai edukasi. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keragaman kultur yang terdapat dalam film kartun anak “Adit & Sopo Jarwo dalam perspektif analisis multimoda. Metode yang digunakan dalam menganalisis film kartun ini adalah metode kualitatif, yaitu analisis konten.  Model analisis konten yang digunakan adalah model analisis multimoda yang dikemukakan oleh Teo van Leeuwen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multimoda yang terdapat dalam film ASJ dapat ditinjau dari pelaku, karakterisasi, hubungan sosial, aksi reaksi, properti, dan kekritisan

    PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI

    No full text

    Exploring EFL Teachers’ Teaching Process in Reading PISA-Like Reading Texts

    Get PDF
    This paper presents partial results of a research project aiming to develop a training program for teachers to teach PISA-like reading texts with 24 participating teachers (10 Indonesian language teachers and 14 English language teachers) conducted in 2021. The result of the study has also been reported in Emilia, Sujatna, and Kurniasih (2022).  This study centers around the early stage of training, focusing on the teachers’ initial ability in teaching reading practice prior to the training. The data were collected from peer teaching and lesson plans made by the teachers prior to the sessions on teaching PISA-like reading texts. The data were then analyzed based on the theory of PISA Reading (OECD, 2019), reading as a social process (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), and teaching reading through the use of text-based instructions (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Rose, 2020). The result of the study shows that some teachers had bridged the students’ access to text by activating their prior knowledge to help them understand the text. Nevertheless, some teachers had not provided guidance for the students when they read. This result suggests that the teachers still need guidance to teach reading, especially in teaching PISA-like reading texts. Hence, the data confirm the need for training teachers to teach PISA-like reading texts. AbstrakJurnal ini menyajikan sebagian hasil dari proyek penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan program pelatihan bagi guru untuk mengajar teks membaca setara PISA dengan 24 guru peserta (10 guru bahasa Indonesia dan 14 guru bahasa Inggris) yang dilakukan pada tahun 2021. Bagian lain dari proyek penelitian ini juga telah telah dilaporkan dalam Emilia, Sujatna, dan Kurniasih (2022). Studi ini berpusat pada tahap awal pelatihan, yang berfokus pada kemampuan awal guru dalam mengajarkan membaca sebelum diberikan input pelatihan. Data penelitian diperoleh dari sesi peer teaching dan RPP yang dibuat oleh guru sebelum diberikan sesi input pengajaran teks bacaan mirip PISA. Data penelitian kemudian dianalisis berdasarkan teori PISA Reading (OECD, 2019), membaca sebagai proses sosial (Wallace, 1992; Gibbons, 2014), dan pengajaran bahasa berbasis teks (Emilia, 2011; Rose & Martin, 2012; Mawar, 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa guru terlihat mampu untuk menjembatani akses siswa untuk membaca teks dengan mengaktifkan pengetahuan awal mereka yang dapat membantu mereka memahami teks. Namun demikian, beberapa guru terlihat masih belum memberikan bimbingan kepada siswa ketika mereka membaca. Hasil ini menunjukkan bahwa guru masih membutuhkan bimbingan untuk mengajar membaca, terutama dalam mengajar teks bacaan mirip PISA. Oleh karena itu, data mengkonfirmasi perlunya pelatihan guru untuk mengajar teks bacaan seperti PISA

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇