Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Praktik Akomodasi Bahasa di Kabupaten Pangandaran

    Full text link
    This study aims to explain the pattern of language accommodation and the factors that influence the occurrence of language accommodation in Pangandaran Sub-district so that the language choices of the community can be known. The focus of this research is linguistic variables so that language accommodation in Pangandaran Sub-district can be illustrated. This research uses qualitative methods with instruments in the form of questionnaires and lists of swadesh words and lists of basic cultural words according to the meaning field. The approach used in this research is sociolinguistic approach. The data in this study were obtained from direct observation and interviews. The data were classified to identify the language accommodation patterns and the factors causing the language accommodation. The findings of this research are language accommodation patterns in Pangandaran Sub-district in the form of convergence and divergence. The language accommodation is influenced by social identity factor and individual experience. Based on the pattern of accommodation and the factors that influence it, it can be seen that the language choice of Pangandaran Sub-district people is in the form of single language, code switching, and code mixing. The findings can show the language accommodation in Pangandaran Sub-district so that it can be used as a basis for planning appropriate efforts in language and culture preservation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pola akomodasi bahasa dan faktor yang memengaruhi terjadinya akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran sehingga dapat diketahui pilihan bahasa masyarakatnya. Fokus penelitian ini adalah variabel linguistik sehingga dapat tergambar akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan instrumen berupa kuesioner serta daftar kata swadesh dan daftar kata budaya dasar menurut medan makna. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiolinguistik. Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara secara langsung. Data diklasifikasi untuk diidentifikasi pola akomodasi bahasanya dan faktor penyebab terjadinya akomodasi bahasa tersebut. Hasil temuan penelitian ini adalah pola akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran berupa konvergensi dan divergensi. Akomodasi bahasa tersebut dipengaruhi oleh faktor identitas sosial dan pengalaman individual. Berdasarkan pola akomodasi dan faktor yang memengaruhinya dapat terlihat bahwa pilihan bahasa masyarakat Kecamatan Pangandaran berupa tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Hasil temuan-temuan itu dapat menunjukkan akomodasi bahasa di Kecamatan Pangandaran sehingga dapat dijadikan landasan untuk merencanakan upaya yang tepat dalam pelestarian bahasa dan budaya

    LGBT dalam Perspektif Tempo.com dan Republika.com: Kajian Wacana Kritis

    Full text link
    This research is based on news reports with different perspectives on LGBT in various mass media. The purpose of this study is to describe LGBT from the perspective of online media coverage Tempo.com and Republika.com. This research is a qualitative study with a critical approach. Based on the results of the analysis of diction and sentences, it was found that Tempo chose a human rights perspective in viewing LGBT. Through this perspective, Tempo will be free to defend LGBT and their existence in Indonesia. The humanist perspective in human rights is the basis for Tempo to lead readers' opinions that LGBT have the right to obtain their human rights. On the other hand, Republika prefers a religious perspective with its dogmas to assess LGBT. Through this, Republika has a basis for leading readers' opinions to reject LGBT behavior in Indonesia.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi pemberitaan dengan sudut pandang berbeda mengenai LGBT di berbagai media massa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memaparkan LGBT dalam perspektif pemberitaan media daring Tempo.com dan Republika.com. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritis. Berdasarkan hasil analisis diksi dan kalimat didapat temuan bahwa Tempo memilih perspektif  HAM dalam memandang LGBT. Melalui perspektif ini, Tempo akan leluasa untuk membela LGBT dan eksistensi mereka di Indonesia. Sudut pandang humanisme dalam HAM menjadi dasar bagi Tempo untuk menggiring opini pembaca bahwa LGBT berhak untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya. Di sisi lain, Republika lebih memilih perspektif agama dengan dogma-dogmanya untuk menilai LGBT. Melalui hal ini Republika memiliki dasar menggiring opini pembaca untuk menolak perilaku LGBT di Indonesia

    Kajian Komparatif Onomatope dalam Webtoon Bahasa Indonesia dan Bahasa Prancis

    Full text link
    In general, each country has different forms of onomatopoeia. The purpose of this study is to examine (1) the differences in the form and lexical meaning of onomatopoeia; (2) the similarities in the form of contextual meaning of onomatopoeia; and (3) the form of onomatopoeic referents found in the Webtoon “Kisah Usil Si Juki Kecil” and Mez et Les Filles de Sar. As a teak speaker who is learning French, the three objectives are very interesting to study because of a number of differences. The research data were obtained through intensive observations which were analyzed qualitatively comparatively. The data sources used are the Webtoon “Kisah Usil Si Juki Kecil” by Faza Meonk and “Mez et Les Filles de Sar” by Cécile Garcia. The results show that the lexical form and meaning of onomatopoeia in the two Webtoons are caused by differences in the author's setting and different phonetic systems. The form and contextual meaning of onomatopoeia in the two Webtoons concerned have similarities in onomatopoeic writing but the meaning in representing different sounds. In the research on both Webtoons, 10 data were found with natural referensi (humans), 2 data with natural referents, namely animals, and 4 data with artificial sound referents from objects. The results of this study are very helpful for foreign language learners in understanding French onomatopoeia.     AbstrakPada umumnya, setiap negara memiliki bentuk onomatope yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji (1) perbedaan bentuk dan makna leksikal onomatope; (2) persamaan bentuk makna kontekstual onomatope; dan (3) bentuk referen onomatope yang terdapat pada Webtoon “Kisah Usil Si Juki Kecil dan Mez et Les Filles de Sar. Sebagai penutur jati yang sedang memperlajari bahasa Prancis, ketiga tujuan tersebut sangat menarik untuk dikaji karena sejumlah perbedaan. Data penelitian diperoleh secara observatif intensif yang dianalisis secara kualitatif komparatif. Sumber data yang digunakan adalah Webtoon “Kisah Usil Si Juki Kecil” karya Faza Meonk dan “Mez et Les Filles de Sar” karya Cécile Garcia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan makna leksikal onomatope pada kedua Webtoon tersebut disebabkan oleh perbedaan latar tempat pengarang dan sistem fonetis yang berbeda. Bentuk dan makna kontekstual onomatope pada kedua Webtoon yang bersangkutan memiliki persamaan penulisan onomatope tetapi makna dalam merepresetasikan bunyi yang  berbeda. Pada penelitian di kedua Webtoon, ditemukan 10 data dengan referen alami (manusia), 2 data dengan referen alami, yakni hewan, dan 4 data dengan referen bunyi buatan dari benda. Hasil penelitian ini sangat membantu pembelajar bahasa asing dalam memahami onomatope bahasa Prancis.                                                              

    PRESUPOSISI DALAM KESAKSIAN ASISTEN RUMAH TANGGA (ART) FERDY SAMBO PADA PERSIDANGAN PERDANA 31 OKTOBER 2022: SEBUAH KAJIAN PRAGMATIK (Presupposition in The Witness of Ferdy Sambo’s Household Assistants at The First Hearing On October 31st 2022: A Pragmatic Study)

    Full text link
    Cases that are tried often attract public attention and are discussed by many groups, especially cases that involving high-ranking officials or important people in a country. In disclosing cases, the thing that is considered is the disclosure of the proffesing faith of the witnesses. Language becomes a tool for such disclosure. This paper aims to describe the forms and motives of presupposition in the witness of Ferdy Sambo’s household assistants at the first hearing. The analysis of this paper uses qualitative methods. The data collection method use basic techniques of tapping and advanced techniques use taking a note. The results of the analysis show that there are five forms of presupposition that appear in the witness of Ferdy Sambo’s household assistants, namely existential, factive, lexical, non-factive, and counterfactual presuppositions. Meanwhile, the motive of "protecting" is indicated by the appearance of the five presuppositions. Kasus yang dipersidangkan sering kali menarik atensi masyarakat dan menjadi pembicaraan oleh banyak kalangan, terutama kasus yang melibatkan petinggi atau orang penting di suatu negara. Dalam pengungkapan kasus, hal yang diperhatikan adalah pengungkapan kesaksian dari para saksi. Bahasa menjadi alat untuk pengungkapan tersebut. Makalah ini bertujuan mendeskripsikan wujud dan motif presuposisi dalam kesaksian ART Ferdy Sambo pada persidangan perdana. Analisis makalah ini menggunakan metode kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan berupa catat. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima wujud presuposisi yang muncul dalam kesaksian ART Ferdy Sambo, yaitu presuposisi eksistensial, faktif, leksikal, nonfaktif, dan kontrafaktual. Sementara itu, motif  “melindungi” terindikasi dari kemunculan kelima presuposisi tersebut

    VARIASI TEKNIK NARATIF METAFIKSI DALAM NOVEL HARI-HARI YANG MENCURIGAKAN (Variations of Metafictional Narrative Techniques in The Novel Hari-Hari yang Mencurigakan)

    Full text link
    A novel can be written in a very flexible way, such as interfering with the narrative with "playful" techniques and contaminating the logic of the story through the involvement of the author (from the real world) into the universe of the story (fiction). This research aims to uncover the application of variations in metafiction writing, which is practiced by Dea Anugrah in the novel Hari-Hari yang Mencurigakan. Research data collection was carried out using the close reading method, while data analysis used descriptive qualitative with a metafiction theory approach. Data analysis was carried out by identifying findings, then annotating various combinations of metafictional tools in the novel. After that, interpret all the findings according to the categories or combinations that have been prepared. From the research results, it was found that variations in the application of metafiction techniques in the novel Hari-Hari yang Mencurigakan are as follows: (1) use of parody of the content or title of another author's work, (2) parody of the author's own work, (3) addressing the reader or by consciously inviting the reader to talk, (4) involving him or herself in events or situations surrounding the character, (5) giving the reader the opportunity to choose the narrative, and (6) allusions to famous names, strange actions of the author, and gossip in literature. Sebuah novel dapat ditulis dengan cara sangat lentur, seperti mencampuri narasinya dengan teknik “main-main” dan mengontaminasi logika berceritanya melalui keterlibatan pengarang (dari dunia nyata) masuk ke semesta cerita (fiksi). Penelitian ini bertujuan menguak penerapan variasi penulisan metafiksi, yang dipraktikkan oleh Dea Anugrah dalam novel Hari-Hari yang Mencurigakan. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan metode close reading, sementara analisis data menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan teori metafiksi. Analisis data dilakukan lewat identifikasi temuan, lalu memberi anotasi terhadap berbagai kombinasi penerapan perkakas metafiksi dalam novel. Setelah itu, menginterpretasikan semua temuan sesuai kategori atau kombinasi yang telah disusun. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa variasi penerapan teknik metafiksi dalam novel Hari-Hari yang Mencurigakan, adalah sebagai berikut: (1) penggunaan parodi terhadap isi atau judul karya pengarang lain, (2) parodi terhadap karya pengarang sendiri, (3) menyapa pembaca atau dengan sadar mengajak bicara pembaca, (4) melibatkan dirinya dalam peristiwa atau pada situasi yang melingkupi karakter, (5) memberi kesempatan pembaca untuk memilih narasi, dan (6) alusi terhadap nama-nama terkenal, tindakan aneh para pengarang, serta gosip-gosip dalam kesusastraan

    PERGESERAN MAKNA PADA KATA RADIKAL DALAM MEDIA SOSIAL TWITTER

    No full text
    Kata radikal merupakan kata yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Kata radikal dalam KBBI memiliki arti ‘secara mendalam, sampai ke akar – akarnya’. Namun demikian, sekarang ini kata radikal  banyak mengalami pergeseran makna. Pergeseran makna dalam sebuah kata dapat diakibatkan oleh luasnya pemakaian bahasa. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mendeskripsikan pergeseran makna kata radikal yang sering digunakan dalam media sosial twitter. Metode yang digunkan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan metode agih sebagai metode analisisnya. Data dalam penelitian ini berupa kalimat yang mengandung kata radikal. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan teknik catat. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik ganti. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa kata radikal  mengalami pergeseran makna meluas dan peyoratif. Kata radikal digunakan untuk menggantikan kata intoleran, fanatik, militan, oportunistis, getol, frontal, keras, kritis, reformatif, ekstremis, sesat/keliru, dan psikopat. Kata radikal paling banyak mengalami pergeseran makna peyoratif yaitu digunakan untuk menggantikan kata ekstremis. Selain itu, kata radikal mengalami perubahan makna meluas yaitu digunakan untuk menggantikan kata intoleran dan fanatik

    VERNAKULARISASI AL-QUR'AN: UPAYA PELESTARIAN BAHASA TOLAKI MELALUI PENERJEMAHAN (Al-Qur’an Vernacularization: Attempt of Tolaki Language Preservation Through Translation)

    No full text
    The present study aims to analyze the process of translating the Qur'an into Tolaki. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. Analysis was conducted using Hans J. Vermeer's Skopos theory. The findings indicate that the translation process of the Qur'an into Tolaki is tailored to the translation's purpose, utilizing Indonesian as the source language. The predominant translation ideology favors foreignization over domestication; the method employed is more inclined towards semantic rather than communicative translation. The prevalent levels of speech include 'anakia' and 'iwawo', and Arabic is sometimes used to clarify ambiguous meanings in Indonesian. Consequently, this study underscores the importance of adapting sacred texts to local social and cultural contexts. This adaptation involves selecting methodologies sensitive to the nuances of Tolaki society and employing language strategies that preserve authenticity and religious relevance. As a result, this translation serves as an effective communication tool and a symbol of the integration of religious and cultural identities in the lives of the Tolaki people. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Tolaki. Wawancara mendalam, observasi partisipan dan analisis dokumen digunakan dalam mengumpulkan data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori Skopos Hans J Vermeer. Hasil penelitian melaporkan bahwa proses penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Tolaki disesuaikan dengan tujuan penerjemahan, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber, ideologi penerjemahan lebih dominan menggunakan ideologi forenisasi daripada domestikasi, metode penerjemahan lebih cenderung menggunakan penerjemahan semantik daripada penerjemahan komunikatif, level tuturan lebih dominan menggunakan tuturan anakia dan iwawo, serta bahasa Arab terkadang digunakan sebagai konfirmasi lanjutan mengenai makna kurang jelas di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini mengimplikasikan pentingnya adaptasi teks suci sesuai dengan konteks sosial dan kultural lokal. Proses ini melibatkan pemilihan metodologi yang sensitif terhadap nuansa masyarakat Tolaki dan penggunaan bahasa untuk menjaga autentisitas dan relevansi religius. Hasilnya, terjemahan ini menjadi alat komunikasi yang efektif dan simbol integrasi identitas keagamaan dan budaya dalam kehidupan masyarakat Tolaki

    Nilai Estetika pada Puisi Mantra Sunda di Kecamatan Cilawu Kabupaten Garut

    No full text
    Mantra is one of the ancient forms of poetry that holds its own uniqueness in the realm of literature. Its uniqueness lies not only in its linguistic aspects, which are captivating, but also in its perceived magical powers. This study aims to inventory mantras that are still found scattered in Cilawu District, Garut Regency, accompanied by an aesthetic value analysis. The method employed is descriptive analytics with fieldwork techniques including observation, documentation, and interviews. The data collected from the field consists of 50 mantras, comprising 15 asihan mantras, 12 jangjawokan mantras, 5 jampe mantras, 9 singlar mantras, 2 rajah mantras, and 7 ajian mantras. However, for the purpose of this study, 6 types of mantras were sampled for analysis. The aesthetic values embedded in the mantras encompass philosophical aesthetics, language style, and linguistic sound. The philosophical aesthetic values found in the mantra poems encompass moral, social, psychological, historical, and religious values. The language styles employed include metaphor, association, hyperbole, personification, and simile. The linguistic sounds exhibit eight patterns, namely purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, and purwakanti mindoan kawit.AbstrakMantra merupakan salah satu bentuk puisi lama yang memiliki keunikan tersendiri dalam khazanah sastra. Keunikan tersebut di samping terletak pada aspek kebahasaannya yang bersifat eksitoris, juga dianggap memiliki kekuatan magis. Kajian ini bertujuan untuk menginventarisasi mantra yang masih tersebar di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, dengan disertai kajian nilai estetika. Metode yang digunakan, yaitu deskriptif analitik dengan teknik kerja lapangan berupa inventarisasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang terkumpul dari lapangan adalah 50 mantra, yang terdiri atas 15 mantra asihan, 12 mantra jangjawokan, 5 mantra jampe, 9 mantra singlar, 2 mantra rajah, dan 7 mantra ajian. Namun, pada penelitian ini diambil sampel 6 jenis mantra untuk dianalisis. Nilai estetika yang terkandung dalam mantra tersebut meliputi estetika filosofis, gaya bahasa, dan bunyi bahasa. Nilai estetika filosofis pada puisi mantra, yaitu nilai moral, nilai sosial, nilai psikologis, nilai historis, dan nilai religi. Gaya bahasa yang digunakan di antaranya majas metafora, majas asosiasi, majas hiperbola, majas personifikasi, dan majas simile. Adapun bunyi bahasa memiliki delapan pola, yaitu purwakanti pangluyu, purwakanti mindoan kawit, purwakanti laras madya, purwakanti cakraswara, purwakanti rangkepan, purwakanti laras wekas, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, purwakanti laras purwa, dan purwakanti mindoan kawit

    Unsur Budaya dalam Naskah “Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari”

    No full text
    This research aims to describe the cultural elements in the Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari manuscript, which generally contains matters of Islamic monotheism. This research uses a descriptive qualitative approach with literature and document study methods. Data sources in the form of WSKGKS manuscripts were obtained from the National Library of Indonesia website with the number Plt. Plt 36 case 121. Then, the data was obtained using the seven elements of culture according to Koentjaraningrat. Of the seven cultural elements studied, only six elements appear in this manuscript, which include 1) religious system, 2) organizational system, 3) knowledge system, 4) language, 5) art, and 6) technology system, while the livelihood system does not appear at all. From the analysis of each of these cultural elements it shows that the elements or cultural systems that emerge are very attached and wrapped in Islamic principles. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur budaya yang ada dalam naskah Wawacan Suluk Ki Ganda jeung Ki Sari (WSKGKS) yang secara umum memuat perihal ketauhidan agama Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dari pemanfaatan langkah kerja filologi dan penggunaan teori tujuh unsur budaya menurut Koentjaraningrat. Sumber data berupa naskah WSKGKS yang didapatkan dari laman Perpustakaan Nasional RI dengan nomor Plt. Plt 36 peti 121. Dari tujuh unsur budaya yang diteliti, hanya enam unsur yang muncul dalam naskah ini, yaitu 1) sistem religi, 2) sistem organisasi, 3) sistem pengetahuan, 4) bahasa, 5) kesenian, dan 6) sistem teknologi, sedangkan sistem mata pencaharian tidak muncul sama sekali. Dari hasil analisis setiap unsur budaya tersebut terlihat bahwa unsur-unsur atau sistem-sistem kebudayaan yang muncul sangat melekat dan dibalut oleh prinsip keislaman

    A Representation of Education in Film Hindi Medium

    No full text
    This research describes the representation of education in the film Hindi Medium. This research is qualitative descriptive research. The analysis shows that "Hindi Medium" is a captivating film that offers a poignant representation of the education system in India, particularly through the lens of social class and privilege. In "Hindi Medium," representation plays a pivotal role in dissecting various societal intricacies. Firstly, the film meticulously delineates the socioeconomic chasm, starkly portraying the divide between the affluent and the less privileged, particularly evident in access to education. Secondly, it navigates the intricate terrain of language barriers, emphasizing the significance of English-medium education and the challenges faced by those lacking proficiency in the language. Thirdly, "Hindi Medium" delves into the depths of parental aspirations, vividly depicting the lengths to which parents go to secure their child's educational future, often confronting the complexities of the system and resorting to unconventional means. Fourthly, the film employs satire and humor as its primary tools, effectively critiquing the flaws within the education system and broader societal structures. Fifthly, it touches upon the delicate balance between cultural identity and assimilation, highlighting the tension arising from the prioritization of English-medium education over cultural preservation. Lastly, "Hindi Medium" illuminates the privilege and entitlement entrenched within elite private schools, shedding light on preferential treatment and the disregard for students from less privileged backgrounds. Together, these representations form a comprehensive narrative that prompts reflection on the multifaceted issues surrounding education, social class, and cultural identity in contemporary Indian society. This film can frame criticism of the education system through a satirical comedy-drama that is built from the dialogue and conflicting roles of the characters. Apart from that, this film will make us realize that sometimes school is only a tool for parents to maintain prestige. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan representasi pendidikan dalam film Hindi Medium. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa "Hindi Medium" adalah film menawan yang menawarkan representasi tajam sistem pendidikan di India, khususnya melalui kacamata kelas sosial dan hak istimewa. Dalam "Hindi Medium", representasi memainkan peran penting dalam membedah berbagai seluk-beluk masyarakat. Pertama, film ini dengan cermat menggambarkan jurang sosio-ekonomi, dengan jelas menggambarkan kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat kurang mampu, khususnya terlihat dalam akses terhadap pendidikan. Kedua, panduan ini mengatasi rumitnya hambatan bahasa, menekankan pentingnya pendidikan berbahasa Inggris dan tantangan yang dihadapi oleh mereka yang kurang mahir dalam bahasa tersebut. Ketiga, "Hindi Medium" menggali kedalaman aspirasi orang tua, dengan jelas menggambarkan upaya orang tua untuk menjamin masa depan pendidikan anak mereka, sering kali menghadapi kompleksitas sistem dan menggunakan cara-cara yang tidak konvensional. Keempat, film ini menggunakan sindiran dan humor sebagai alat utamanya, yang secara efektif mengkritik kelemahan dalam sistem pendidikan dan struktur masyarakat yang lebih luas. Kelima, artikel ini menyentuh keseimbangan antara identitas budaya dan asimilasi, menyoroti ketegangan yang timbul dari prioritas pendidikan berbahasa Inggris di atas pelestarian budaya. Terakhir, "Hindi Medium" menyoroti keistimewaan dan hak yang tertanam di sekolah swasta elit, menyoroti perlakuan istimewa dan pengabaian terhadap siswa dari latar belakang yang kurang mampu. Secara keseluruhan, representasi-representasi ini membentuk narasi komprehensif yang mendorong refleksi terhadap beragam isu seputar pendidikan, kelas sosial, dan identitas budaya dalam masyarakat India kontemporer. Film ini dapat membingkai kritik terhadap sistem pendidikan melalui drama komedi satir yang dibangun dari dialog dan konflik peran para karakter. Selain itu, film ini akan menyadarkan kita bahwa terkadang sekolah hanya menjadi alat orang tua untuk menjaga gengsi

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇