Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Budaya Dayak dan Unsur-Unsur Magis dalam Novel Kembang Gunung Purei Karya Lan Fang
This study analyzes the dialectics and negotiation process between elements contained in the narrative mode of magical realism by Wendy B. Faris. The material object is Kembang Gunung Purei novel by Lang Fang. The novel raises the issue of friction between two different cultures. The character of Nanang is described as a modern and logical cultural agent of a big city, while Bua is described as a figure who comes from the traditional Dayak community who believes in local cultural customs and magical things to solve various problems in life. This cultural background difference causes the emergence of dialectical and negotiation processes which can be explained by the five elements of Wendy B. Faris’ magical realism, such as irreducible elements, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, and identity. The five elements seek to equate the dominant subject with the marginalized subject. The results of the study show that the dialectic and negotiation process paved the way for the possibility of heterogeneity, not only from the dominant discourse (Nanang-modern), but also the marginalized discourse (Bua-traditional), not only from the subject called ‘West’ (immigrants-foreigners-city), but also the subject of the so-called ‘Timur’ (Dayak tribe). AbstrakPenelitian ini membahas dialektika dan proses negoisiasi antarelemen yang terdapat dalam mode naratif realisme magis yang digagas oleh Wendy B. Faris. Objek material yang digunakan adalah novel Kembang Gunung Purei karya Lang Fang. Novel tersebut mengangkat isu gesekan antara dua budaya berbeda. Tokoh Nanang digambarkan sebagai agen budaya kota besar yang modern dan logis, sementara Bua digambarkan sebagai tokoh yang berasal dari masyarakat tradisional Dayak yang banyak meyakini adat budaya lokal dan hal-hal magis sebagai solusi berbagai masalah dalam kehidupan. Latar belakang budaya yang berbeda itulah penyebab munculnya proses dialektika dan negosiasi yang dapat dijelaskan dengan lima elemen realime magis Wendy B. Faris, seperti irreducible element, phenomenal world, unsettling doubts, disruptions of time, space, dan identity. Kelima elemen tersebut berupaya untuk menyetarakan subjek yang dominan dengan subjek yang termaginalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dialektika dan negosiasi membuka jalan bagi kemungkinan heterogenitas tidak hanya dari wacana yang dominan (Nanang-modern), melainkan juga wacana yang termaginalkan (Bua-tradisional), tidak hanya dari subjek yang disebut ‘Barat’ (pendatang-orang asing-kota), melainkan juga subjek yang disebut ‘Timur’ (suku Dayak)
The use of online learning videos in BIPA program for Arabic speakers
This research departs from developing BIPA teaching materials for Arabic speakers. Teaching materials are made in form of interactive learning videos presenting cultural diversity and Indonesian local wisdom. Furthermore, these BIPA learning videos are shared on social media. Therefore, learners of Arabic BIPA from various countries in the Middle East can access this material teaching. A qualitative descriptive method was used in this study. The data were obtained from observation, interviews, and documentation. The study used purposive sampling. The study results stated that those learning videos were based on the BIPA learning syllabus determined by the Ministry of Education and Culture. Furthermore, these learning videos are presented in a cultural package with Arabic as the language of instruction. By sharing the videos on social media, this video can help learners without the limitations of space and tim
Representasi Sufistik Suku Sasak dalam Novel Sanggarguri Karya Lalu Agus Fathurrahman pada Era Digital
The Sasak people are known to have various noble values and norms that are still maintained today. One of these values is the sufistic concept which has become a guide for the ancestors of the Sasak tribe on the island of Lombok. The purpose of this study is to explore various things related to sufistic values possessed by the Sasak tribe and depicted in one of the novels written by the original Sasak author, Lalu Agus Fathurrahman. The excavation of sufistic values in the novel is carried out using interview techniques and literature studies. The result showed that the sufistic values of the Sasak tribe in Sanggarguri were realized through the symbolization of 10 types of flowers found on the island of Lombok. The flowers describe the level of characteristics and traits of the Sasak people so that they can be used as guidelines in living life from time to time.AbstrakMasyarakat suku Sasak dikenal memiliki berbagai nilai dan norma luhur yang masih dipertahankan hingga saat ini, salah satunya konsep sufistik sebagai pedoman bagi leluhur Suku Sasak di Pulau Lombok. Tujuan penelitian ini yaitu menggali berbagai hal terkait nilai sufistik yang dimiliki oleh Suku Sasak dan tergambar dalam salah satu novel yang ditulis oleh pengarang asli Sasak, Lalu Agus Fathurrahman. Penggalian nilai sufistik dalam novel tersebut dilakukan menggunakan teknik wawancara dan studi kepustakaan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, penelitian ini menghasilkan bahwa dalam novel Sanggarguri terwujud nilai-nilai sufistik suku Sasak melalui simbolisasi sepuluh jenis kembang yang terdapat di Pulau Lombok yang menggambarkan tingkat karakteristik dan sifat masyarakat Suku Sasak sehingga dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan dari masa ke masa
Kepercayaan terhadap Berbagai Larangan pada Wanita Hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang
The belief of the prohibitions on pregnant women in Tlogorejo, Lawang District, Malang Regency, is considered as one of the oral literary works. The community has various kinds of cultural traditions that still going on to this day, especially Javanese culture which is still preserved until now. This study aims to determine the community beliefs of the prohibitions on pregnant women and uses qualitative methods with data collection techniques using secondary and primary data. The data were obtained by conducting interviews with informants from the village and were analyzed using Roland Barthes semiotic theory. The results showed that the community believe that pregnant women (1) cannot go out at sunset, (2) cannot eat at the door, (3) cannot put a towel around their neck, (4) cannot kick the water, and (5) are not allowed to sleepover from place to place. AbstrakKepercayaan terhadap larangan wanita hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, merupakan salah satu karya sastra lisan. Masyarakat memiliki berbagai macam tradisi kebudayaan yang melekat sampai saat ini, khususnya kebudayaan Jawa, dan masih dilestarikan, salah satunya kepercayaan terhadap larangan wanita hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepercayaan masyarakat terhadap larangan-larangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data primer. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap narasumber yang berasal dari dusun tersebut. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yaitu analisis dengan menggunakan unsur tanda atau simbol dan terdapat dua makna, yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tlogorejo memercayai jika wanita hamil (1) tidak boleh keluar pada saat magrib, (2) tidak boleh makan di depan pintu, (3) tidak boleh mengalungkan handuk di leher, (4) tidak boleh menendang-nendang air, dan (5) tidak boleh tidur berpindah-pindah tempat
Penanda Publik Bahasa Kawi di Kota Probolinggo: Kajian Lanskap Linguistik
The purpose of this study is to determine the meaning and function of Kawi language in public signs in Probolinggo City. This research was a research that explored language data from aspects of monolingualism in the frame of the Linguistic Landscape. The problem formulation in this study was, how the meaning and function of Kawi language on public signs in Probolinggo City. The method in this study used a qualitative method with Landry and Bourhis's Linguistic Landscape theory approach. Data collection techniques in this study used tools such as a photo camera or qualitative audio and visual materials. However, data analysis techniques included data copy, data classification, and data translation. Data was collected in photos containing Kawi language writing on public signs. The results of this study indicated that there were 13 public signs that used Kawi language. Kawi language words in public signs had different meanings. AbstrakPenelitian penanda publik bahasa Kawi di Kota Probolinggo kajian lanskap linguistik ini meneliti penanda publik menggunakan bahasa Kawi yang tersebar di sepanjang ruas utama jalan raya kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arti dan fungsi bahasa Kawi pada penanda publik di Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori lanskap Linguistik Landry dan Bourhis 1997. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat berupa kamera foto atau qualitative audio and visual materials. Data yang dihimpun berupa foto yang berisi tulisan bahasa Kawi pada penanda publik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 13 penanda publik yang menggunakan bahasa Kawi. Ke-13 penanda publik yaitu, nama kota, gang, penginapan, toko, koperasi, tempat kesehatan, tempat pendidikan, tempat pemberhentian angkutan umum, tempat olahraga, nama terminal, motto, nama gedung, nama militer. Kata-kata bahasa Kawi pada penanda publik masing-masing memiliki arti tersendiri. Namun, terkait fungsi, penanda publik tersebut memiliki fungsi sebagai identitas atau nama. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menggali data bahasa dari aspek monolingualisme dalam bingkai Lanskap Linguistik
ANALISIS KOHERENSI DALAM TOPIK FIKSI MINI (Coherence Analysis in The Topic of Mini-Fiction)
Mini-fiction is a modern prose that is present on Twitter with its uniqueness on the topics that are thrown at the readers. In fact, not all readers who provide comments follow the systematic writing of mini-fiction, whereas in terms of discourse integration, omission or differences in the title and the topic can be a problem. This study aims to analyze the coherence of comments given by readers on the topic of mini-fiction. This study uses a qualitative descriptive study using a critical discourse paradigm. The data source used was the @fiksimini account on Twitter during March 2020. Data collection was carried out using reading techniques and note-taking techniques in data cards. The data collection instrument is the researcher himself (human instrument) using the coherence relation parameter. The data analysis technique in this study used semantic and pragmatic equivalents in analyzing reader comments based on their coherence relationships. The data analysis stage was carried out in three stages, namely (1) word reduction; (2) data presentation; and (3) drawing conclusions. The results showed that the coherence between the topic of and readers' comments was 65.6%. The coherence relation tools found in the discourse are divided into (1) causation; (2) equations; (3) options; (4) conflict; (5) temporal; (6) objectives; (7) conditions; (8) comparison; (9) affirmation; (10) sequence; and (11) the situation Fiksi mini merupakan prosa modern yang hadir di Twitter dengan keunikan pada topik yang dilempar kepada pembaca. Faktanya, tidak semua pembaca yang memberikan komentar mengikuti sistematis penulisan fiksi mini padahal dalam keterpaduan wacana, penghilangan atau perbedaan judul dengan topik dapat menjadi sebuah masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis koherensi komentar yang diberikan pembaca terhadap topik fiksi mini. Penelitian ini menggunakan penelitian deskripsi kualitatif dengan menggunakan paradigma wacana kritis. Sumber data yang digunakan adalah akun @fiksimini di Twitter selama bulan Maret 2020. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca dan teknik catat dalam kartu data. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri (human instrument) dengan menggunakan parameter relasi koherensi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan padan semantik dan pragmatik dalam menganalisis komentar pembaca berdasarkan relasi koherensinya. Tahap analisis data dilakukan dengan tiga tahap, yakni (1) reduksi kata; (2) penyajian data; dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koherensi antara topik dengan komentar pembaca sebesar 65,6 %. Piranti relasi koherensi yang ditemukan dalam wacana dibedakan atas (1) sebab-akibat; (2) persamaan; (3) pilihan; (4) pertentangan; (5) temporal; (6) tujuan; (7) syarat; (8) perbandingan; (9) penegas; (10) urutan; dan (11) situasi.
Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas Karya J.S. Khairen
Penelitian ini berawal dari sebuah latar belakang masalah tentang tindak tutur ilokusi yang akan dianalisis dari sebuah novel. Tujuan pembuatan artikel jurnal yakni, ingin mendeskripsikan tentang tindak tutur dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen. Tindak tutur ilokusi merupakan tindak tutur yang diberitahukan oleh si penutur biasanya berupa peringatan, sambutan, dan janji. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang menghasilkan suatu data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari setiap orang beserta perilaku yang telah dianalisis oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini adalah novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen. Penelitian ini terfokus pada analisis tindak tutur ilokusi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindak tutur kata maupun kalimat yang mengandung tindak tutur ilokusi dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen. Hasil dari penelitian ini tentang makna tindak tutur ilokusi yang terdiri dari: tindak tutur ilokusi asertif, tindak tutur ilokusi direktif, tindak tutur ilokusi ekspresif, tindak tutur ilokusi komisif, dan tindak tutur ilokusi deklaratif
BENTUK DAN STRUKTUR KATA MONOSILABEL DALAM BAHASA WEHEA DI KALIMANTAN TIMUR
AbstrakBahasa Wehea yang ada di Kalimantan Timur memiliki keunikan sistem fonotaktiknya, yaitu pada bentuk dan struktur kata monosilabel. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mendeskripsikan bentuk dan struktur kata monosilabel dalam bahasa Wehea. Pengumpulan data menggunakan metode dokumen dengan teknik baca dan catat. Sumber dokumen berupa data tulis yang berisi data penyusunan kamus bahasa Wehea. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan kajian fonotaktik. Pada tahap analisis data, penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dengan model interaktif. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa simpulan, yaitu ada tujuh klasifikasi bentuk kata monosilabel berdasarkan daerah artikulasi fonem yang mengawalinya, yaitu vokal, konsonan hambat, konsonan afrikatif, konsonan frikatif, konsonan nasal, konsonan lateral, dan semivokal. Berdasarkan keterbukaannya, ada tiga klasifikasi, yaitu terbuka di posisi awal, terbuka di posisi akhir, dan tertutup. Struktur atau struktur suku kata monosilabel dalam bahasa Wehea ada lima, yaitu VK, KV, KVK, KKV, KKVK. Kaidah kata monosilabel tersebut memberikan salah satu ciri khas atau keunikan bahasa Wehea