Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Daya pikir kritis pemelajar BIPA 4 dalam penilaian keterampilan berbicara berkonteks sosiokultural
Critical thinking skills can help BIPA learners improve their speaking competence. BIPA teachers need to stimulate learners' critical thinking by using sociocultural context. This study aims to address the need for stimulating learners' critical thinking in responding to sociocultural contexts. The research method used is descriptive-qualitative. The data source for this study is the performance assessment results of four BIPA level 4 learners. The findings of this study indicate that the average learner’s final score in the speaking assessment is 89. The acquisition of this final score indicates that the sociocultural context in BIPA evaluation can stimulate critical thinking for learners to express their opinions in speaking. Learners' critical thinking is reflected in the preparation of performance assessment, idea processing, and delivery of the speech context. Furthermore, this research can serve as an initial study to enhance learners' critical thinking skills in BIPA learning
Penerapan teori pengulangan (repetisi) dalam oral practicing (kelas percakapan) pemelajar BIPA di Australia
Speaking skill is an important skill in learning a language. In learning Indonesian for Foreign Speakers (BIPA), speaking skill is considered difficult to teach because of students’ different language backgrounds. The use of repetition theory is proven to be applicable in Indonesian language learning activities in Australia. The author tries to conduct repetition theory to BIPA students at Mount Erin College. In this research, the method used is case study research with qualitative analysis. This paper aims to describe the use of repetition theory in conversation classes (oral practicing) to BIPA students and to describe the result of conversation between teacher and BIPA students simply. This research is hoped that it will provide benefit for BIPA teachers and BIPA activists in general
Kearifan Lokal dalam Dua Novelet Anak Karya Dadan Sutisna
This study aims to reveal the value of local wisdom in the two children's stories by Dadan Sutisna, Nu Ngageugeuh Legok Kiara, and Mystery Haur Geulis. After being analyzed using the content analysis method, it was found that these two stories have five values of local wisdom related to the fields of education, social, ethics, culture, and religiosity. In the conclusion of this study, the novellet entitled Nu Ngageugeuh Legok Kiara contains the value of local wisdom related to the relationship between humans and nature. Humans as intelligent beings must be able to live in harmony with nature. Meanwhile, the novellet Mystery of Haur Geulis contains the value of local wisdom related to culture and people's beliefs that must be respected and recognized as our national identity. Therefore, these two children's stories deserve to be used as teaching materials in schools to introduce the local wisdom of the Sundanese people to maintain a local culture in the younger generation.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai kearifan lokal yang terkandung dalam kedua cerita anak karya Dadan Sutisna yang berjudul Nu Ngageugeuh Legok Kiara dan Misteri Haur Geulis. Setelah dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi konten dan teknik pengkajian isi dokumen, ditemukan hasil bahwa kedua cerita ini memiliki lima nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan bidang pendidikan, sosial, etika, budaya, dan religiositas. Kesimpulan dari penelitian ini, novelet berjudul yang Nu Ngageugeuh Legok Kiara mengandung nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan alam, intinya manusia harus bisa hidup selaras dengan alam, sedangkan novelet Misteri Haur Geulis mengandung nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat yang harus dihormati dan diakui sebagai identitas kebangsaan. Oleh sebab itu, kedua cerita anak ini bisa dijadikan alternatif bahan ajar di sekolah untuk memperkenalkan khasanah sastra daerah dan sekaligus nilai kearifan lokal kepada peserta didik
Aktualisasi Diri Tokoh Utama pada Novel Merindu Cahaya De Amstel Karya Arumi E.
This research was conducted to describe (1) the forms of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. and (2) the factors that cause the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. The approach used in this research is a humanist psychology approach. The research method used is descriptive qualitative. The results of the study show that (1) the forms of self-actualization possessed by the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E. are acceptance of self, other people, and natural things, simplicity, discrimination between ways and goals, constantly new rewards, and strong interpersonal relationships. (2) the factors that cause self-actualization of the main character in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, namely environmental factors, the need for a high sense of security, and habits. The conclusion of the main character's self-actualization in the novel Merindu Cahaya de Amstel by Arumi E, is formed because of the main character's awareness which is influenced by several factors. AbstrakPenelitian ini mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E., dan (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi humanisme. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk aktualisasi diri yang dimiliki tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E. yaitu penerimaan akan diri, orang lain, dan hal-hal alamiah, kesederhanaan, diskriminasi antara cara dan tujuan, penghargaan yang selalu baru, dan hubungan interpersonal yang kuat. Adapun, (2) faktor-faktor penyebab aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terdiri dari faktor lingkungan, kebutuhan akan rasa aman yang tinggi, dan kebiasaan-kebiasaan. Kesimpulan aktualisasi diri tokoh utama dalam novel Merindu Cahaya de Amstel karya Arumi E, terbentuk karena kesadaran tokoh utama yang dipengaruhi oleh beberapa faktor
Verb Structure and Grammatical Encoding in the Spontaneous Speech of Indonesian Speakers with Broca’s Aphasia
This study aimed to obtain the characteristics of verb structure in the speech of Indonesian speakers with Broca’s aphasia and their relation to the Argument Structure Complexity Hypothesis (ASCH) and grammatical encoding. There are three questions, namely the interrelationships of verbs and syntactic functions, interrelationship of verbs and semantic functions, and the contribution to the ASCH and grammatical coding. Eight participants took part, divided into four with aphasia and four Non-Brain Damaged (NBD) participants as controls. The research used an experimental research method. The instruments were five images adapting Cookie Theft (an instrument used in an aphasia test in various languages) and 3 instructions to tell about daily activities. The results showed that participants with aphasia tended to use verbs in simpler structures than controls. Therefore, this study supports the ASCH about the argument simplification and tendency of grammatical coding problems, important as coming from Indonesian, an Austronesian language. Clinical implications are discussed. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik struktur verba dalam tuturan spontan penutur Bahasa Indonesia dengan afasia Broca dan hubungannya dengan Argument Structure Complexity Hypothesis (ASCH) dan pengkodean gramatikal. Ada tiga pertanyaan penelitian, yaitu keterkaitan verba dan fungsi sintaksis, keterkaitan verba dan fungsi semantik, dan kontribusi terhadap ASCH dan pengkodean gramatikal. Delapan peserta ikut serta, dibagi menjadi empat dengan afasia dan empat peserta tanpa gangguan syaraf (Non-Brain Damaged: NBD) sebagai kontrol. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Instrumen yang digunakan adalah lima buah gambar yang mengadaptasi Cookie Theft (instrumen dalam tes afasia lintas bahasa) serta tiga buah instruksi untuk bercerita tentang kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan afasia cenderung menggunakan verba dalam struktur yang lebih sederhana daripada peserta NBD. Oleh karena itu, penelitian ini mendukung ASCH tentang penyederhanaan argumen dan kecenderungan terjadinya masalah pengkodean gramatikal. Dukungan ini penting karena datang dari Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa rumpun Austronesia. Implikasi klinis juga disarankan
Pengaruh Model RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) dan Motivasi Belajar Terhadap Keterampilan Menulis Teks Eksposisi Siswa
Research into the impact of the RADEC model on expository text writing proficiency is crucial as it presents a comprehensive methodology linked to various steps, from reading to creating content. This study is expected to provide an understanding of the extent to which the RADEC model can be an answer to address writing proficiency issues. The objectives of this research are (1) to understand the effect of RADEC model and conventional model on exposition text writing proficiency; (2) to understand the effect of RADEC learning model on exposition text writing proficiency of students with high learning drive; (3) to understand the effect of RADEC model on writing proficiency of students with low drive; and (4) to understand the relationship between RADEC model and learning drive in influencing exposition text writing proficiency. This research applied experimental technique with quantitative methodology and the type was quasi experiment, and used 2x2 factorial design. The sample was taken by purposive sampling technique and obtained Class X E6 and X E5 as samples in this study. The results of hypothetical investigation and research show some significant results. First, there is an effect of proficiency in writing exposition texts for students taught using the RADEC model and proficiency in writing exposition texts for students taught using the conventional model. Secondly, there is an effect of proficiency in writing exposition text for high learning motivation students taught using RADEC model and proficiency in writing exposition text for high learning motivation students taught using conventional model. Third, there is an effect of proficiency in writing exposition text for low learning motivation students taught with RADEC model and proficiency in writing exposition text for low learning motivation students taught with conventional model. Fourth, there is no interaction between RADEC learning model and learning motivation on the exposition text writing proficiency of Adabiah Padang high school grade X students because the FAB/Fcount is 1.81. Ftable at the significance level (α = 0.05) with dk for numerator = 1 (dbAB) and dk for denominator = 36 (n-ab) is 4.15. AbstrakPenelitian dampak model RADEC pada kemahiran menulis teks eksposisi krusial karena menyajikan metodologi komprehensif yang terkait dengan berbagai langkah, mulai dari membaca hingga membuat konten. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang sejauh mana model RADEC dapat menjadi jawaban untuk mengatasi masalah kemahiran menulis. Tujuan dari riset ini, yaitu (1) memahami pengaruh model RADEC dan model konvensional terhadap kemahiran menulis teks eksposisi; (2) memahami pengaruh model pembelajaran RADEC terhadap kemahiran menulis teks eksposisi murid yang berdorongan belajar tinggi; (3) memahami pengaruh model RADEC terhadap kemahiran menulis murid yang penguasaan dorongan rendah; dan (4) memahami hubungan model RADEC dengan dorongan belajar dalam memengaruhi kemahiran menulis teks eksposisi. Penelitian ini menerapkan teknik eksperimen dengan metodologi kuantitatif dan jenisnya adalah eksperimen semu (quasi experiment), serta menggunakan desain factorial 2x2. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dan mendapatkan Kelas X E6 dan X E5 sebagai sampel. Hasil penyelidikan hipotesis dan penelitian menunjukkan beberapa hasil yang signifikan. Pertama, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi siswa yang diajar menggunakan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi yang diajar dengan menggunakan model konvensional. Kedua, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar tinggi yang diajarkan dengan menggunakan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa yang berdorongan belajar tinggi yang diajarkan dengan menggunakan model konvensional. Ketiga, terdapat pengaruh kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar rendah yang diajarkan dengan model RADEC dan kemahiran menulis teks eksposisi untuk siswa berdorongan belajar rendah yang diajarkan dengan model konvensional. Keempat, tidak terjadi interaksi antara model pembelajaran RADEC dengan dorongan belajar terhadap kemahiran menulis teks eksposisi siswa kelas X SMA Adabiah Padang karena diperoleh FAB/ Fhitung sebesar 1,81. Ftabel pada taraf signifikansi (α = 0,05) dengan dk untuk pembilang = 1 (dbAB) dan dk untuk penyebut = 36 (n-ab) adalah 4,15
PRODUKTIVITAS MORFEMIS PADA LIRIK LAGU TULUS DALAM ALBUM MANUSIA (Morpheme Productivity in Tulus’s Lyric in Manusia Album)
The nature of language is dynamic. It makes the linguistics phenomena always develop and one of them is related to the formation of potential new words in Indonesian. This research starts from the creativity of Tulus in his lyrics that often did not follow the existing linguistic form. This creativity of making new words can be found in his album “Manusia”, The purpose of this research is to describe the productivity form of morphemes in Tulus’s song lyric in “Manusia” album. The album is the latest album which was released on March 3, 2022. The data used in this research is verbal lyric of ten songs (1) Tujuh Belas, (2) Kelana, (3) Remedi, (4) Interaksi, (5) Ingkar, (6) Jatuh Suka, (7) Nala, (8) Hati-Hati di Jalan, (9) Diri, and (10) Satu Kali. The data collected by simak method with detail technique are simak libat bebas cakap (SLBC), tapping, and taking a note. Meanwhile, the analysis method used is intralingual comparison (padan intralingual). The results of this research are (1) enclitic, (2) prefixes of ber-, ter, and se- which have new attachment patterns, (3) suffixes -i, and (4) pracategorial form is found alone. Sifat bahasa yang selalu dinamis membuat fenomena kebahasaan selalu berkembang, salah satunya berkaitan dengan pembentukan kata-kata baru yang potensial dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini berangkat dari masalah bahwa kreativitas penyanyi Tulus dalam albumnya seringkali tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang ada, namun kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata yang potensial. Penelitian ini akan mendeskripsikan bentuk-bentuk produktivitas morfemis yang terdapat pada lirik lagu Tulus dalam albumnya yang bertajuk Manusia. Album ini merupakan album terbaru Tulus yang dirilis pada 3 Maret 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data verbal lirik sepuluh lagu yang terdapat dalam album Manusia, yakni (1) “Tujuh Belas”, (2) “Kelana”, (3) “Remedi”, (4) “Interaksi”, (5) “Ingkar”, (6) “Jatuh Suka”, (7) “Nala”, (8) “Hati-Hati di Jalan”, (9) “Diri”, dan (10) “Satu Kali”. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, teknik sadap, dan teknik catat. Adapun metode analisisnya menggunakan padan intralingual. Bentuk-bentuk potensial yang ditemui dalam album ini adalah penggunaan bentuk (1) enklitik, (2) prefiks ber-, ter-, dan se- yang memiliki pola keterikatan baru, (3) sufiks -i, dan (4) bentuk prakategorial sebagai morfem terikat yang dijumpai berdiri sendiri
PERSPEKTIF MASYARAKAT BENUAQ TERHADAP HUTAN DAN ALAM SEMESTA DALAM CERITA RAKYAT
AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dan alam semesta dalam cerita rakyat mereka. Cara pandang suku Benuaq tersebut dapat ditemukan dalam cerita rakyat “Si Kerongo”, “Budai Meratapi Kijang”, “Bullu”, “Bulau Mate”, “Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari Langit”, dan “Asal-Usul Tepung Tawar”. Permasalahan tulisan ini dirumuskan dalam dua bagian, yaitu (1) bagaimana cara pandang masyarakat Benuaq terhadap hutan dalam cerit rakyatnya? dan (2) bagaimanakah cara pandang mereka terhadap alam semesta yang tertyang dalam cerita rakyatnya? Tulisan ini adalah tulisan kualitatif menggunakan metode deskripstif. Analisis dilakukan dengan teknik analisis konten atau analisis isi. Teori yang digunakan adalah antropologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Benuaq (1) menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan mereka sehingga mereka mengelola hutan secara bijak, dan (2) menjaga keharmonisan alam semesta dengan cara menaati tata krama dan adat istiadat. Tulisan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat masyarakat Benuaq memiliki banyak nilai-nilai budaya, terutama tentang cara pandang mereka tentang pengelolaan lingkungan dan menyeimbangkan kehidupan antarmanusia dan kehidupan spiritual. Kata kunci: cara pandang, hutan, alam semesta, cerita rakyat AbstractThis article aims to describe the Benuaq people's perspective on the forest and the universe in their folklore. Those perspective depicted in the folklore of "Si Kerongo", "Bullu", "Bulau Mate", "Tatau Kilip dan Ilmu Adat dari langit", and "Asal-usul tepung Tawar". The problem of this paper is formulated in two parts, (1) how do the Benuaq people view the forest in their people's stories? and (2) how do they view the universe as depicted in their folklore? This article is a qualitative article using descriptive methods. Analysis is carried out using content analysis techniques or content analysis. The theory used is cultural anthropology. The results of the research show that the Benuaq (1) regard the forest as part of their life so that they manage the forest wisely, and (2) maintain the harmony of the universe by obeying manners and customs. This paper shows that the folklore of the Benuaq people has many cultural values, especially regarding their perspective on environmental management and balancing human life and spiritual life. Keywords: perspective, forest, universe, folktales