Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
ANALISIS SEMANTIK PADA PUISI “SEPUCUK NASI DI JEMARIMU” KARYA CANDRA MALIK
Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna semantik dalam puisi Sepucuk Nasi Di Jemarimu karya Candra Malik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian semantik. Sumber data yang digunakan adalah teks puisi berjudul Sepucuk Nasi Di Jemarimu karya Candra Malik. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian terkait analisis makna semantik puisi Sepucuk Nasi Di Jemarimu memfokuskan pada empat jenis makna serta terdapat penggunaan kosakata yang memiliki makna sebenarnya. Puisi tersebut menceritakan tentang kebahagiaan seseorang ketika dapat berbagi dengan orang lain meskipun dengan hal-hal yang sederhana. Kata-kata kunci: analisis semantik, puisi, Sepucuk Nasi Di Jemarim
KETIDAKSANTUNAN PELANGGAN TERHADAP CUSTOMER SERVICE PROVIDER INTERNET DI TWITTER PADA AWAL PANDEMI COVID-19 (Customers’ Impoliteness Strategies toward ISP’s Customer Service on Twitter at The Beginning of Covid-19 Pandemic)
This study aims to describe the use of impoliteness strategies used by customers to customer service of one of Indonesia’s internet providers. The method used in this study has three stages. The first stage is data collection. Data collection was carried out using the non-participant observation method, tweet scraping using the python package, and note-taking technique with annotation. The second stage is data analysis. Data analysis was carried out by applying Culpeper's impoliteness theory. Third, the presentation of the results of data analysis with formal and informal methods. The results of this study indicate that there are several impoliteness strategies used by customers, namely: 1) insulting, 2) sarcasm, 3) threatening, 4) using taboo words, 5) using inappropriate terms of address, 6) not taking the speech partner seriously, 7) being unsympathetic, 8) using obscure/secretive language, and 9) withholding politeness. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan strategi ketidaksantunan pelanggan kepada customer service salah satu provider internet di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, tweet scraping menggunakan python package, serta teknik catat melalui proses anotasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa twit keluhan pelanggan salah satu provider di Indonesia kepada customer service yang disampaikan melalui akun Twitter resmi provider tersebut yang berjumlah sebanyak 2.500 twit dalam kurun waktu 15 April—30 Juni 2020. Tahap kedua adalah analisis data. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori ketidaksantunan Culpeper. Ketiga, penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beberapa strategi ketidaksantunan yang digunakan pelanggan, yaitu: 1) menghina, 2) menyindir, 3) mengancam, 4) menggunakan kata-kata tabu, 5) menggunakan sapaan yang tidak seharusnya, 6) menganggap tidak serius mitra tutur, 7) tidak simpatik, 8) menggunakan bahasa yang tidak jelas, dan 9) menahan kesantunan
REVITALISASI BAHASA MELAYU KUTAI MELALUI LOMBA BEMAMAI
AbstrakPenelitian Revitalisasi Bahasa Melayu Kutai Melalui Lomba Bemamai bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk atau model revitalisasi bahasa Melayu Kutai melalui Lomba Bemamai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dokumentasi dan observasi. Berdasarkan analisis data tuturan bemamai dapat disimpulkan bahwa tradisi bemamai dalam masyarakat suku Kutai sarat dengan kearifan lokal. Bentuk lomba bemamai ini merupakan mini drama yang terdiri atas minimal dua orang. Dari data tuturan bemamai yang dianalisis oleh peneliti tidak satu pun ditemukan ungkapan-ungkapan tradisional berupa peribahasa, pepatah, atau semboyan yang sarat dengan kearifan lokal. Oleh karena itu, pada saat panitia melaksanakan lomba bemamai yang berbentuk mini drama, hendaknya dipersyaratkan kepada peserta bahwa di dalam tuturan bemamainya tersebut bisa diungkapkan satu atau lebih ungkapan-ungkapan tradisional yang mengandung nilai kearifan lokal suku Kutai agar kekayaan budaya suku Kutai tetap eksis dan lestari. Kata kunci: revitalisasi, bahasa Melayu Kutai, lomba bemamai AbstractResearch on the Revitalization of the Kutai Malay Language through the Bemamai Competition aims to describe the form or model of revitalization of the Kutai Malay language through the Bemamai Competition. The method used in this research is a qualitative method and is descriptive. The data collection techniques used in this research are documentation and observation. Based on the analysis of bemamai speech data, it can be concluded that the bemamai tradition in the Kutai tribal community is full of local wisdom. The form of this group competition is a mini drama consisting of a minimum of two people. From the bemamai speech data analyzed by researchers, not a single traditional expression was found in the form of proverbs, proverbs or slogans that are full of local wisdom. Therefore, when the committee carries out a bemamai competition in the form of a mini drama, it should be required of the participants that in their bemamai speech one or more traditional expressions containing local wisdom values of the Kutai tribe can be expressed so that the cultural richness of the Kutai tribe continues to exist and be preserved. Keywords: revitalization, Kutai Malay Language, bemamai comptetitio
NASIONALISME PENDUDUK PERBATASAN ENTIKONG-SERAWAK DALAM PERSPEKTIF KEBAHASAAN
The population in the border area is the stronghold of the leading Indonesian. Sense of nationalism they have to stay awake, for the integrity of NKRI awake.However, their presence in remote areas causing less attention from thegovernment for incompleteness of facilities and inadequate infrastructure. Thissituation is a factor decreasing their sense of nationalism. Entikong is a districtdirectly adjacent to the Sarawak state of Malaysia. Striking differences whencomparing the social and economic situation in Entikong with towns in Sarawak.This discussion aims to discuss the sense of nationalism from the perspective oflinguistic Entikong population. Data obtained from direct observation andinterviews with residents in the district Entikong. From the foregoing it is knownthat sense of nationalism of Entikong people in linguistic perspective is quit high. Penduduk yang berada di daerah perbatasan merupakan benteng terdepanbangsa Indonesia. Oleh karena itu, rasa nasionalisme mereka harus tetapterjaga agar integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga.Namun, keberadaan mereka di daerah yang terpencil menyebabkan merekakurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kelengkapan sarana danprasarana jauh dari kata memadai. Keadaan yang demikian dapat menjadifaktor penyebab surutnya rasa nasionalisme penduduk yang tinggal di daerahperbatasan. Entikong merupakan sebuah kecamatan yang berbatasan langsungdengan negara bagian Serawak, Malaysia. Perbedaan cukup mencolok dapatditemui jika membandingkan keadaan sosial dan ekonomi di Entikong dengankota-kota di Serawak, Malaysia. Pembahasan ini bertujuan untuk membahasrasa nasionalisme penduduk Entikong dari perspektif kebahasaan. Datadiperoleh melalui opservasi langsung dan wawancara dengan penduduk dikecamatan Entikong. Dari pembahasan ini diketahui bahwa walaupun terdapatperbedaan yang signifikan antara Entikong dan Serawak, nasionalismependuduk Entikong dalam perspektif kebahasaan cukup tinggi
“The Forbidden Kingdom”: Dari Representasi sampai Dependensi Kajian Orientalisme Edward Said
The objectives of this research are to describe the representation and the dependency of the East and West using Edward Said's Orientalism. This research uses a descriptive qualitative method. The data collection method uses library research. The researcher watched The Forbidden Kingdom movie, then read books and journals that related to the topic. Data analysis was carried out by descriptive analysis between the data obtained and the explanation of the theory. The findings are the author represents the East through Lu Yan, The Silent Monk, Warlord, and Monkey King. Lu Yan represents a lazy and irrational person, The Silent Monk represents a harbored suspicion person, Warlord represents a depravity and inhuman person, and Monkey King represents a foolish person. The author also represents the East through the forests which have high grass and the deserts which have extreme weather. These places are dangerous and not friendly. The author also represents the East through citizens who are irrational and love violence. The author describes dependency on East to West, through China to Jason, while Jason is pulled by the golden staff to China in order to make China peaceful. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi serta ketergantungan Timur dan Barat menggunakan teori orientalisme milik Edward Said. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Peneliti menonton film The Forbidden Kingdom kemudian melakukan pembacaan terhadap buku dan jurnal terkait dengan topik yang akan diteliti. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif antara data-data yang diperoleh dengan penjelasan teori. Hasil dari penelitian ini yaitu pengarang merepresentasikan Timur melalui tokoh Lu Yan, Biksu Pendiam, Warlord, dan Raja Monyet. Lu Yan digambarkan sebagai sosok yang pemalas dan irasional, Biksu Pendiam digambarkan sebagai sosok yang memendam rasa curiga, Warlord digambarkan sebagai sosok yang bejat moral dan tidak manusiawi, serta Raja Kera digambarkan sebagai sosok yang bodoh. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui hutan yang mempunyai rerumputan tinggi dan padang pasir yang bercuaca ekstrim. Dua tempat ini berbahaya dan tidak bersahabat. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui kehidupan sosial warga yang irasional dan mendahulukan kekerasan. Pengarang merepresentasikan ketergantungan Timur terhadap Barat melalui China terhadap Jason yang diawali dengan ditariknya Jason oleh tongkat emas menuju China untuk membuat China damai kembali.The objectives of this research are to describe the representation and the dependency of the East and West using Edward Said's Orientalism. This research uses a descriptive qualitative method. The data collection method uses library research. The researcher watched The Forbidden Kingdom movie, then read books and journals that related to the topic. Data analysis was carried out by descriptive analysis between the data obtained and the explanation of the theory. The findings are the author represents the East through Lu Yan, The Silent Monk, Warlord, and Monkey King. Lu Yan represents a lazy and irrational person, The Silent Monk represents a harbored suspicion person, Warlord represents a depravity and inhuman person, and Monkey King represents a foolish person. The author also represents the East through the forests which have high grass and the deserts which have extreme weather. These places are dangerous and not friendly. The author also represents the East through citizens who are irrational and love violence. The author describes dependency on East to West, through China to Jason, while Jason is pulled by the golden staff to China in order to make China peaceful. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi serta ketergantungan Timur dan Barat menggunakan teori orientalisme milik Edward Said. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Peneliti menonton film The Forbidden Kingdom kemudian melakukan pembacaan terhadap buku dan jurnal terkait dengan topik yang akan diteliti. Analisis data dilakukan dengan cara analisis deskriptif antara data-data yang diperoleh dengan penjelasan teori. Hasil dari penelitian ini yaitu pengarang merepresentasikan Timur melalui tokoh Lu Yan, Biksu Pendiam, Warlord, dan Raja Monyet. Lu Yan digambarkan sebagai sosok yang pemalas dan irasional, Biksu Pendiam digambarkan sebagai sosok yang memendam rasa curiga, Warlord digambarkan sebagai sosok yang bejat moral dan tidak manusiawi, serta Raja Kera digambarkan sebagai sosok yang bodoh. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui hutan yang mempunyai rerumputan tinggi dan padang pasir yang bercuaca ekstrim. Dua tempat ini berbahaya dan tidak bersahabat. Pengarang juga merepresentasikan Timur melalui kehidupan sosial warga yang irasional dan mendahulukan kekerasan. Pengarang merepresentasikan ketergantungan Timur terhadap Barat melalui China terhadap Jason yang diawali dengan ditariknya Jason oleh tongkat emas menuju China untuk membuat China damai kembali
ANALISIS MAKNA LEKSIKAL DAN IDOMATIKAL UMPASSA (LIMBAGA DALAM ADAT PRANIKAH BATAK SIMALUNGUN): KAJIAN SEMANTIK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna leksikal dan idiomatik Unpassa dalam kebiasaan pranikah Simalungun batak untuk mengetahui makna keseluruhan Unpassa dalam kebiasaan pranikah Simalungun batak. Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahasa daerah terutama di provinsi Sumatera Utara. Ada beberapa bahasa daerah di Sumatera Utara, salah satunya adalah bahasa Batak Simalungun. Orang Simalungun sudah sangat berbeda dengan orang Batak lain dalam dialek dan sistem afinitas bahasanya. Budaya Simalungun batak memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan pesan, harapan, dan kegembiraan dalam aktivitas sehari-hari, terutama saat prosesi pernikahan. Oleh karena itu, tim peneliti menganalisis makna leksikal dan idiomatik Unpassa dalam kebiasaan pranikah Simalungun batak untuk mengetahui makna keseluruhan Unpassa dalam kebiasaan pranikah Simalungun batak
Javanese Pitutur in the Speech of Sri Sultan Hamengku Buwono X on Hardship Caused by the Corona Virus
Expressions of culture in a region can be seen as a discourse that represents the cultural activities of people, and it may show the nature and characters of the society in dealing with problems. This research aims to interpret the Javanese pitutur delivered by Sri Sultan Hamengku Buwono X as the King of Yogyakarta to people living in his realm during the coronavirus pandemic. This descriptive qualitative research used a recording of Sri Sultan Hamengku Buwono’s speech entitled “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona”. Data were collected through a note-checking technique and were analyzed by using content analysis. The validity was maintained through expert judgment, while the reliability was through intrarrater and interrater. The results show that Javanese pitutur or advice found in Sri Sultan Hamengku Buwono X’s speech were in four Javanese quotes, namely: a) patient people earn the greatest fortune, and surrendering their life in faith shall result in more blessings; b) God gives way to anyone who wants to obey; c) Be wise and careful; and d) Do not be jealous if you get a trial, and do not feel bad if you lose something. The Javanese pituturs as the noble expressions of Javanese culture likely represent the nature and character of Javanese society in the face of various obstacles and problems, in this case facing the COVID-19 virus pandemic in the Yogyakarta region. The messages conveyed in the pitutur are expected to be a reminder to the people of Yogyakarta that in the face of all problems they should always hold fast to their cultural values and humbly surrender and submit themselves to God the Almighty. AbstrakUngkapan budaya suatu daerah merupakan suatu wacana yang merepresentasikan aktivitas budaya masyarakat, dan menunjukkan sifat dan karakter suatu masyarakat dalam menghadapi suatu permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan pitutur Jawa dalam pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Raja Yogyakarta kepada masyarakat selama masa pandemik virus corona. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data berupa rekaman pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X berjudul “Cobaning Gusti Allah Awujud Virus Corona”. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak-catat dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten. Validitas data dilakukan dengan expert judgement, sedangkan reliabilitas yang digunakan ialah reliabilitas intra dan interrater. Berdasarkan penelitian, pitutur Jawa dalam pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X terbagi dalam empat ungkapan, yaitu: a) wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah; b) Gusti paring dalan kanggo sapa wae kang gelem ndalan; c) eling lan waspada; dan d) datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Pitutur Jawa yang terdapat dalam ungkapan-ungkapan luhur budaya Jawa tersebut merepresentasikan sifat dan karakter masyarakat Jawa dalam menghadapi berbagai macam halangan dan permasalahan, dalam hal ini ketika menghadapi pandemik virus COVID-19 di wilayah Yogyakarta. Pesan yang disampaikan dalam pitutur tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Yogyakarta bahwa dalam menghadapi segala permasalahan hendaknya selalu berpegang teguh pada nilai-nilai budaya dan berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Embracing Cultural Threads: A Qualitative Exploration of English Language Teaching Materials Within an Intercultural Perspective in an Indonesian Multilingual Context
This study aimed to investigate the selection, adaptation and use of English language teaching and learning (ELTL) resources from an intercultural perspective (Liddicoat & Scarino, 2013) in order to provide greater sensitivity to the local context. In recent decades, scholars in the field have attempted to move towards the inclusion of local content in ELTL, including in Indonesia, in order to challenge the 'native speaker' paradigm, which has been criticized for lacking sensitivity to the local context. However, little research has been conducted to examine the role of resources in providing opportunities for intercultural interaction between students' own languages and cultures and English (as the target language and culture). A case study within a qualitative paradigm, involving document analysis and an in-depth teacher interview, was conducted at an international university in Indonesia. Thematic analysis of the data revealed that the selection, adaptation and use of resources that invited attentiveness to language and beyond, and that took into account students' 'lifeworlds' ('home cultures and languages, and the trajectory of experiences, interests, motivations and values developed from them' [Liddicoat & Scarino, 2013]), provided engagement and meaningfulness in ELTL in the local context. The study also showed that 'both the range of texts and what teachers do with them' (Kohler, 2020) were fundamental to providing meaningful ELTL experiences in the local context. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris (ELTL) dari perspektif lintas budaya (Liddicoat & Scarino, 2013) untuk memberikan kepekaan yang lebih besar terhadap konteks lokal. Dalam beberapa dekade terakhir, para ahli di bidang ini telah mencoba untuk bergerak menuju inklusi konten lokal dalam ELTL, termasuk di Indonesia, untuk menantang paradigma 'penutur asli', yang telah dikritik karena kurangnya kepekaan terhadap konteks lokal. Namun, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk meneliti peran materi belajar mengajar dalam memberikan kesempatan untuk interaksi antarbudaya antara bahasa dan budaya siswa dan bahasa Inggris (sebagai bahasa dan budaya target). Sebuah studi kasus dalam paradigma kualitatif, yang melibatkan analisis dokumen dan wawancara mendalam dengan guru, dilakukan di sebuah universitas internasional di Indonesia. Analisis tematik terhadap data menunjukkan bahwa pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi belajar mengajar yang mengundang perhatian terhadap bahasa dan sekitarnya, serta mempertimbangkan 'dunia kehidupan' siswa ('budaya dan bahasa asal, serta lintasan pengalaman, minat, motivasi, dan nilai-nilai yang dikembangkan dari mereka' [Liddicoat & Scarino, 2013]), memberikan keterlibatan dan kebermaknaan dalam ELTL dalam konteks lokal. Studi ini juga menunjukkan bahwa 'baik ragam teks dan apa yang dilakukan guru dengan teks tersebut' (Kohler, 2020) merupakan hal yang mendasar dalam memberikan pengalaman ELTL yang bermakna dalam konteks lokal
KALIMAT IMPERATIF DENGAN FOKUS PASIEN DALAM BAHASA JAWA (Imperative Sentences with Patient Focus in Javanese)
This paper discuss imperative sentences with a patient focus in Javanese, a type of imperatives that are not found in all languages of the world. Data are taken from the Javanese spoken in Yogyakarta and its surounding areas and analyzed using the distribution method by looking at the position of elements focused on the sentence structure and morphological markers on the verbs. The discussion is presented in the framework of voice system of Austronesian languages. It will be shown that there are two types of imperatives with a patient focus in Javanese. They are marked by different affixes on the verb of sentences: the suffix –(n)en and the prefix di-. Typologically the two types of imperatives come from different voice system. The imperatives which are marked by the suffix –(n)en on the verbs come from a multiple voice system and the imperatives which are marked by the prefix di- on the verb come from a two-voice system. Based on this evidence, I argue that Javanese has two types of voice system of imperatives: a multiple voice system and a two-voice system and it indicates that Javanese is being changing form a multiple voice language type to a two voice active-passive language type. Makalah ini membahas kalimat imperatif bahasa Jawa dengan fokus pasien, jenis kalimat imperatif yang tidak ditemukan dalam semua bahasa di dunia. Data diambil dari bahasa Jawa yang dituturkan di Yogyakarta dan dianalisis dengan metode distribusional, yakni dengan melihat posisi unsur kalimat yang difokuskan dalam struktur kalimat dan penanda pada verbanya. Pembahasan disajikan dalam kerangka teori sistem voice bahasa Austronesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada dua jenis kalimat imperatif dengan fokus pasien dalam bahasa Jawa. Kedua jenis kalimat ditandai oleh afiks yang berbeda pada verbanya: sufiks -en dan prefiks di-. Secara tipologis kedua jenis kalimat imperatif tersebut berasal dari sistem voice yang berbeda. Kalimat imperatif yang ditandai dengan sufiks –(n)en pada verba berasal dari sistem multiple voice, sedangkan kalimat imperatif yang ditandai dengan prefiks di- pada verba berasal dari sistem dua voice aktif-pasif. Berdasarkan bukti ini, saya berpendapat bahwa bahasa Jawa memiliki dua jenis sistem voice pada kalimat imperatif: sistem multiple voice dan sistem dua voice aktif-pasif. Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa Jawa sedang dalam perubahan dari bahasa tipe multiple voice ke bahasa tipe dua voice aktif-pasif. Penelitian ini mengkaji jati diri orang Sunda yang terdapat dalam mitos Ciung Wanara. Penelitian menunjukkan model logis orang Sunda mengatasi konflik atau kontradiksi yang terjadi diantara mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss yang diasumsikan dapat memaknai mitos secara komprehensif melalui penemuan innate yang merupakan titik temu antara surface dan deep structure. Tahapan penelitiannya, yaitu: (1) pencarian data CW dibagi dalam episode dan unit; (2) dibuat deret sinkronik dan diakronik untuk menemukan surface structure; (3) Dicari deep structure dengan jalan oposisi biner; (4) Penemuan innate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 episode dan 49 unit. Dari hasil penyusunan tabel sinkroik dan diakronik untuk mytheme ditemukan 5 pola segitiga, yaitu: pola segitiga permaisuri, pola segitiga Mahatinggi, pola segitiga orang tua, pola segitiga kehidupan, pola segitiga alam, dan trias politika Sunda. Paling dominan terdapat dalam mitos CW yaitu pola segitiga kehidupan, pola berpikir, pola bersikap, dan pola bertindak, kekhasan jati diri orang Sunda serta penerapan dari trias politika Sunda, silih asih, silih asah, dan silih asuh
MEMAKNAI TANDA-TANDA BAHASA DI RUANG PUBLIK DALAM PERSPEKTIF KORTA & PERRY
The purpose of this research is to describe the manifestation of the meaning and function of the linguistic landscape in the political year in the perspective of Korta & Perry's critical pragmatics. This study applies a phenomenological approach with a qualitative descriptive method. The research data is in the form of snippets of text in which there are signs of language that contain meaning and function as a linguistic landscape in the political year. Sources of substantive data for this research are texts which contain research data as mentioned above. The source of locational data for this research is social media on various platforms that were present around the time of the implementation of this research. Data was collected by applying the observation method to data sources that could potentially contain research data. This listening method is applied with techniques, both basic and advanced in nature, especially reading and note-taking techniques. The results of reading and recording are then identified, classified, and typified. Data analysis was carried out by applying the method of analysis of equivalents, especially contextual equivalents. Such a contextual equivalent analysis is carried out based on the context of the situation which accompanies the emergence of data on language signs in the form of the linguistic landscape. The results of this linguistic landscape research in a critical pragmatic perspective are presented as follows: (1) conveying informational meaning, (2) conveying symbolic meaning, (3) conveying ideological meaning, (4) conveying the meaning of socio-political struggle, (5) conveying the meaning of struggle justice, and (6) conveying the meaning of the struggle for truth