Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Kesalingmengertian Lek Bidayuh Pegunungan Kalimantan Barat
This study aims to inform intelligibility among the lects of ten Mountain Bidayuh sub-tribes, namely Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, and Tadietn. The data was collected through participatory dialect mapping (DM), a procedure developed by Hasselbring (2010, 2012) and then modified by Anderbeck (2018). The data was then analyzed using the descriptive qualitative method. The result of dialect mapping shows us that the lects which can be paired due to having mutual intelligibility are Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, and Suti Bamayo-Badeneh. It is estimated that, for language conservation, speakers of both parts can share the translation material in their own lect. The results of the analysis also show that except for Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh, intelligibility in Mountain Bidayuh tends to be formed from exposure (acquired intelligibility), especially among adult speakers. This is supported by the geographical reality in the Mountain Bidayuh, where two lects with mutual intelligibility are spoken in adjacent areas, which allows for close contact and understanding between speakers of each lect. Among the relationships of mutual intelligibility of these lects, Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh are strongly suspected of having inherent intelligibility, because the relationships of the pair is high, marked by a good level of mutual understanding among child speakers, so the two pairs of lect can probably group themselves to form one common language. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesalingmengertian sepuluh lek sub suku Bidayuh pegunungan, yaitu Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, dan Tadietn di Kalimantan Barat. Data dikumpulkan melalui prosedur pemetaan dialek, sebuah prosedur yang dikembangkan oleh Hasselbring (2010, 2012) dan dimodifikasi oleh Anderbeck (2018). Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil proses pemetaan dialek menunjukkan bahwa lek yang memiliki kesalingmengertian adalah Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, dan Suti Bamayo-Badeneh. Dalam konteks konservasi bahasa, diperkirakan penutur lek yang berpasangan ini dapat berbagi materi terjemahan dalam lek mereka masing-masing. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa, kecuali untuk Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh, kesalingmengertian antara lek-lek Bidayuh pegunungan lainnya cenderung dibentuk dari eksposur (acquired intelligibility), khususnya di kalangan penutur dewasa. Hal ini didukung oleh kenyataan geografis di wilayah Bidayuh pegunungan, di mana lek-lek yang memiliki kesalingmengertian dituturkan di wilayah yang berdekatan, yang memungkinkan terjalinnya kontak yang erat dan kesepahaman di antara penutur masing-masing lek. Di antara relasi kesalingmengertian lek-lek tersebut, Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh diduga kuat memiliki kesalingmengertian yang inheren (inherent intelligibility), karena kesalingmengertian pasangan lek tersebut begitu tinggi, ditandai oleh adanya level pemahaman yang baik di antara penutur anak-anak. Kedua pasangan lek tersebut kemungkinan dapat mengelompok sendiri dalam satu bahasa yang sama
AFIKS DERIVASIONAL PEMBENTUK VERBA DALAM BAHASA BUGIS (Verb Forming Derivational Affixes in Buginese Language)
This study describes about analysis of verb forming derivational affixes inBuginese language. The analysis was using descriptive-qualitative method to explain the affixation in verb forming. The results of the study shows that verbforming derivasional affixes in Buginese language covers prefix, sufix, andconfix. In Buginese language there is only affix that can change the word class and there is verb that formed from noun. The affixes that are prefix {a-}, {po-},{makke-}, {paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-},{appa-}, and {pa-}. In Buginese language, there is only one suffix dan confixfor each that can form verb, sufix {-i} and confix {makka-...-eng}. Penelitian ini mendeskripsikan analisis afiks derivasional pembentuk verba dan proses perubahan morfologis yang terjadi dalam bentuk dan makna sebuah kata dalam bahasa Bugis. Teknik analisis yang digunakan adalah metode kualitatif-desktiptif yang menjelaskan afiksasi dalam pembentukan verba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afiks derivasional pembentuk verba dalam bahasa Bugis mencakup prefiks, sufiks, dan konfiks. Dalam bahasa Bugis hanya ada afiks yang dapat mengubah kelas kata dan hanya ada verba yang terbentuk dari nomina. Afiks-afiks tersebut terdiri atas prefiks {a-}, {po-}, {makke-},{paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-}, {appa-}, dan {pa-}. Dalam bahasa Bugis, sufiks dan konfiks pembentuk verba masing-masing hanya ada satu, yaitu sufiks {-i} dan konfiks {makka-...-eng}
NILAI LOKALITAS ORANG BAJO DALAM CERPEN “LANDO” (Locality Value of Bajonese in “Lando” Short Story)
Short story entitled “Lando” written by Ucu Agustin tells the story about two kids who live far away from their ancestor‟s hometown. The author raisedlocality of Bajonese as the color of her short story. This paper discusses localityvalue of Bajonese conteined therein. The approach used in the discussion is structuralism with reference to Francois-Robert Zacot‟s ethnographic research result at the phase of understanding locality value in the story. From the discussion it is known that the author explores the nuances of bajo by using dictions from Bajo language. The value of Bajonese locality is represented with the inclusion of Bajo culture either in the form of myths and beliefs and way of Bajo people life that cannot be separated from sea. Even readers who have not learned at all about bajo can acquire imagery of Bajonese by reading “Lando” short story. Cerpen “Lando” karya Ucu Agustin berkisah tentang dua anak Bajo yang hidup jauh dari kampung halaman leluhur mereka. Pengarang mengangkat nuansa lokal orang Bajo sebagai warna untuk cerpennya. Tulisan ini membahas tentang nilai lokalitas orang Bajo yang termuat di dalamnya. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan struktural dengan mengacu pada hasil penelitian etnografi Francois-Robert Zacot pada tahap pemahaman nilai lokalitas orang Bajo dalam cerpen ini. Dari pembahasan diketahui bahwa pengarang mengeksplorasi nuansa Bajo dengan penggunaan beberapa kosa kata daribahasa Bajo. Nilai lokalitas orang Bajo direpresentasikan dengandimasukkannya budaya Bajo baik berupa mitos dan kepercayaan maupun cara hidup mereka yang tidak lepas dari laut. Pembaca yang belum mengetahui samasekali tentang orang Bajo, bisa memperoleh gambaran yang cukup denganmembaca cerpen “Lando”
PREPOSISI RING DALAM BAHASA BALI (The Preposition Ring in Balinese Language)
Prepositions ring marking the six relationships of meaning. The emergence of those meanings caused by the relationship between the lingual unit one with another unit in a sentence. The presence of preposition ring in a sentence can beas a core element filler (mandatory) and the outer core filler element (is not mandatory). As the filler element of core (mandatory) if it is suggested by thefiller verb of its predicate, while the outer core filler element (is not mandatory) or an additional element if it is not implied by the predicate verb filler. In the sentence construction, additional elements have the freedom of position. Inaddition, the prepositions ring in sentence construction are arbitrary or can be vanished and there is also the mandatory characteristic or cannot be vanished. Preposisi ring dalam bahasa Bali menandai enam hubungan makna. Munculnya makna-makna itu akibat adanya hubungan antara satuan lingualyang satu dengan satuan lingual lain di dalam sebuah kalimat. Kehadiran preposisi ring dalam kalimat dapat sebagai pengisi unsur inti (bersifat wajib) dan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib). Sebagai pengisi unsurinti (bersifat wajib) jika diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya, sedangkan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib) atau unsur tambahan jikatidak diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya. Di dalam konstruksi kalimat, unsur tambahan memiliki kebebasan letak. Selain itu, preposisi ring dalam konstruksi kalimat ada yang bersifat manasuka atau dapat dilesapkan dan adapula yang bersifat wajib atau tidak dapat dilesapkan
KELUHURAN DALAM PUISI “PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA” KARYA W.S. RENDRA: PERSPEKTIF LONGINUS (The Nobility in The Poem “Pesan Pencopet kepada Pacarnya” by W.S. Rendra: Longinus Perspective)
This study aims to reveal the values of nobility in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" written by WS Rendra by using the perspective of Longinus theory. This poem seems to give immoral teachings that are conveyed through community trash figures, namely a pickpocket and his girlfriend, a government official's concubine. Reading poetry like this one can spontaneously reject it, because there are no values that seem worthy to be followed or imitated. The main question of this research is what are the noble values in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra? This type of research is qualitative by using library data sources. The approach used to answer this research question is an expressive approach, with Longinus' theory of nobility. The results of this study show that the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra has noble values which include: the power of noble thinking, great emotion or passion, superior rhetoric, special choice of words, and unique compositional structure. The benefit of this research is to demonstrate different textual strategies in reading poetry. This poem has the power to push and elevate the reader to the stage of sublimation, namely the stage of nobility. That is why this poem is worth reading, living, and teaching its values.Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra dengan menggunakan perspektif teori Longinus. Puisi ini terkesan memberikan ajaran yang tidak bermoral yang disampaiakan melalui tokoh-tokoh sampah masyarakat, yakni seorang pencopet dan pacarnya seorang selir pejabat pemerintah. Membaca puisi semacam ini orang dapat secara spontan menolaknya, sebab tidak ada satupun nilai-nilai yang sepertinya layak untuk diikuti ataupun diteladani. Pertanyaan penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian ini adalah pendekatan ekspresivisme, dengan teori keluhuran Longinus. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya WS Rendra memiliki nilai-nilai keluhuran yang mencakup: daya pemikiran yang luhur, emosi atau passion yang agung, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Manfaat penelitian ini adalah mendemonstrasikan strategi tekstual yang berbeda di dalam membaca puisi. Puisi ini memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, yakni tahap keluhuran. Itulah sebabnya puisi ini berharga untuk dibaca, dihayati, dan diajarkan nilai-nilainya
Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Melayu Jambi Berbasis Saintifik
This research aims to develop scienitific-based Jambi Malay language teaching material product. The method used to achieve the objektives is Research and Development (R&D) with Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation procedures. To find out the teaching material product use, the researcher use validition questionnaire method of material experts, scientific experts, language experts, graphics experts. Questionnaeres were also distributed to students as users of teaching material products to find out the practicality of teaching material products, which include: material, language, graphics and ease of use. All data obtained through questionnaires were processed with descriptive statistics. Using Likert scale criteria, expert validation results show that the material aspect of teaching materials has a percentage of 84,44% with a very valid category; the scientific aspect obtained a percentage of 92% with a very valid category; the language aspect obtained a percentage of 96% with a very valid category; the graphic aspect obtained a percentage of 90% with a very valid category. Based on the results of user practitioner test, material feasibility wa sobtained at 95%. Thus, the resulting Jambi Malay language teaching material products are suitable for implementation in the lecture process. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan produk bahan ajar bahasa Melayu Jambi berbasis saintifik. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah Research and Development dengan prosedur Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar yang dikembangkan digunakan metode angket validasi ahli ahli materi, ahli saintifik, ahli bahasa, dan ahli grafika. Angket juga disebarkan kepada mahasiswa sebagai pengguna produk bahan ajar untuk mengetahui kepraktisan produk bahan ajar yang meliputi: materi, bahasa, grafika, dan kemudahan pengguna. Keseluruhan data yang diperoleh melalui angket diolah dengan statistik deskriptif. Dengan menggunakan kriteria skala likert, hasil validasi ahli menunjukkan bahwa aspek materi bahan ajar memiliki persentase 84,44% dengan kategori sangat valid; aspek saintifik memperoleh persentase 92% dengan kategori sangat valid; aspek bahasa memperoleh persentase 96% dengan kategori sangat valid; aspek grafika memperoleh persentase 90% dengan kategori sangat valid. Berdasarkan hasil uji praktisi pengguna, diperoleh kelayakan produk buku bahan ajar sebesar 95% dengan kategori sangat layak. Dengan demikian, produk bahan ajar bahasa Melayu Jambi yang dihasilkan layak diimplementasikan dalam proses pembelajaran
Fokalisasi pada Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi: Kajian Naratologi Gerard Genette
Very often, focalization in the study of narratology is neglected in its use in literary works. The point of view in a short story or novel is one of the basics for understanding literary works. Based on this, focalization becomes one of the most important elements in the intrinsic structure of literary works. This study aims to describe the forms of internal and external focalization in the novel Ranah 3 Warna by Ahmad Fuadi. The method used is narrative method and structural approach. The theory used as a knife of analysis is Gerard Genette's theory of narratology. Words, phrases, sentences in the novel Ranah 3 Warna related to relevant theories will be the focus of the study. Data was collected by reading and note technique. The results of this study found three internal focalization data from the novel Ranah 3 Warna which represent other data. Alif describes several figures, namely Rusdi, Wira, and Agam. While on external focalization, Alif received information from several figures, namely Mr. Etek Gindo, Ustad Salman and Asti, his classmate at FISIP AbstrakSering sekali fokalisasi dalam kajian naratologi diabaikan penggunaannya dalam karya sastra. Sudut pandang dalam sebuah cerpen atau novel menjadi salah satu dasar tercapainya pemahaman karya sastra. Berdasarkan hal tersebut, fokalisasi menjadi salah satu elemen terpenting dalam struktur intrinsik karya sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk fokalisasi internal dan fokalisasi eksternal dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi. Metode yang digunakan ialah metode naratif dan pendekatan struktural. Teori yang dipakai sebagai pisau analisis adalah teori naratologi Gerard Genette. Kata, frasa, kalimat pada novel Ranah 3 Warna yang berkaitan dengan teori yang relevan akan menjadi fokus kajian. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan catat. Hasil penelitian ini ditemukan tiga data fokalisasi internal dari novel Ranah 3 Warna yang mewakili data-data lainnya. Alif mendeskripsikan beberapa tokoh yaitu Rusdi, Wira, dan Agam. Sedangkan pada fokalisasi eksternal, Alif mendapatkan informasi dari beberapa tokoh yaitu Pak Etek Gindo, Ustad Salman dan Asti kakak kelasnya di FISIP
Analisis Semiotika Sosial M.A.K. Halliday Novel Ghoky Aku Papua Karya Johan Gandegoay
This research aims to describe and interpret the social and cultural symbols of the language used in the novel Ghoky Aku Papua by Johan Gandegoay as the subject. The research objects are the discourse field, discourse actors, and discourse means. The method used is Halliday's social semiotics content analysis model. Data collection techniques include (1) reading the GAP novel; (2) write the speeches of the characters which contain elements of discourse fields, discourse participants, and discourse means; and (3) classification of data in the form of clauses into tables containing discourse fields, discourse participants, and discourse means. Data analysis techniques are as follows. Identify and interpret signs and symbols that describe Papuan identity; describe and interpret the speech of the characters which represent the Papuan social context; and identifying and interpreting the speech of characters that represent language variations or styles. Based on the results of text analysis, it is concluded as follows. The discourse field in the novel GAP displays the socio-cultural environment of the Papuan people in coastal areas. The character highlighted regarding the identity of coastal people is open and communicative with various levels of society, both OAP and non-OAP. The language symbols that mark the Papuan social context are marked by Papuan dialects such as ko (you), pace (adult man), paitua (father), bitter melon fish tail, penggayu feet, and stilt houses as the identity of coastal communities. This component is present to represent the function of ideational metalanguage. Discourse involvement is shown through the presence of figures and their role as representatives of the socio-cultural community of the Papuan people and agents of change. This section reflects on the interpersonal function of language. Components of discourse means are displayed through the use of language styles, including metaphor, personification, polysynthesis, hyperbole, rhetoric, hypocorism and repetition. The means of discourse present represent the textual function of language. AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan dan memaknai simbol-simbol sosial budaya bahasa yang digunakan dalam novel Ghoky Aku Papua karya Johan Gandegoay sebagai subjek. Objek penelitian adalah medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Metode yang digunakan adalah semiotika sosial Halliday model analisis isi. Teknik pengumpulan data meliputi (1) membaca novel GAP; (2) menuliskan tuturan dari para tokoh yang mengandung unsur medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana; dan (3) klasifikasi data berbentuk klausa ke dalam tabel yang berisi medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Teknik analisis data sebagai berikut. Mengidentifikasi dan memaknai tanda-tanda dan simbol-simbol yang menggambarkan identitas kepapuaan; menggambarkan dan memaknai tuturan para tokoh yang merepresentasikan konteks sosial kepapuaan; dan mengidentifikasi dan memaknai tuturan para tokoh yang melambangkan variasi atau gaya bahasa. Berdasarkan hasil analisis teks, disimpulkan sebagai berikut. Medan wacana dalam novel GAP menampilkan lingkungan sosial budaya masyarakat Papua di wilayah pesisir. Karakter yang ditonjolkan terkait identitas orang pesisir adalah terbuka dan komunikatif dengan berbagai lapisan masyarakat, baik OAP maupun non-OAP. Lambang bahasa yang menandai konteks sosial kepapuaan kepapuaan ditandai dengan dialek Papua seperti ko (kamu), pace (pria dewasa), paitua (bapak), ekor ikan pare, kaki penggayu, dan rumah panggung sebagai identitas masyarakat pesisir pantai. Komponen ini hadir mewakili fungsi metabahasa ideasional. Pelibat wacana ditunjukkan melalui kehadiran para tokoh dan perannya sebagai wakil komunitas sosial budaya masyarakat Papua dan agen perubahan. Bagian ini merefleksikan fungsi interpersonal bahasa. Komponen sarana wacana ditampilkan melalui penggunaan gaya bahasa antara lain metafora, personifikasi, polisindeton, hiperbola, retorik, hipokorisme, dan repetisi. Sarana wacana hadir mewakili fungsi tekstual bahasa
Bentuk Tindak Tutur Ekspresif dalam Tayangan Mata Najwa Serial “Gaduh Tiga Periode”.
Najwa's eyes are often the basis for people's opinions and feelings being expressed. The expressive speech acts in Mata Najwa's talk show entitled "Three Periods of Noise" provide an illustration of how society responds to important and even controversial issues. This research aims to describe the form of expressive speech acts in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". This research uses a qualitative descriptive research method with the steps: (1) selection of material and context, (2) data collection, (3) identification of expressive speech acts, (4) classification and categorization, (5) analysis of language and speaking style, (6) interpretation of meaning and context, (7) critical analysis, (8) presentation of results, and (9) conclusion. This research data uses the form of oral data delivered by speakers in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". The technique used in this research uses listening and note-taking techniques. Test the validity of the data using theoretical triangulation by linking existing theories with the data collected. After the data is collected, it is then analyzed to draw conclusions. The results of this research show that it consists of (1) 8 forms of expressive speech acts of greeting, (2) 14 forms of expressive speech acts of hope, (3) 4 forms of expressive speech acts of blaming, (4) 4 forms of expressive speech acts of praising, (5) 4 forms of expressive speech acts of approval, (6) 2 forms of expressive speech acts of gratitude, and (7) 4 forms of expressive speech acts of thanks. The conclusion of this research shows that the expressive speech acts in the Mata Najwa serial with the topic "Gaduh Tiga Period" show that there is diversity in the expression of views, both supportive and non-supportive. AbstrakMata Najwa seringkali menjadi basis opini dan perasaan masyarakat diungkapkan. Tindak tutur ekspresif dalam gelar wicara Mata Najwa bertajuk “Gaduh Tiga Periode” memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat merespons isu penting bahkan kontroversial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif dalam tayangan Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah: (1) pemilihan materi dan konteks, (2) pengumpulan data, (3) identifikasi tindak tutur ekspresif, (4) klasifikasi dan kategorisasi, (5) analisis bahasa dan gaya berbicara, (6) penafsiran makna dan konteks, (7) analisis kritis, (8) penyajian hasil, dan (9) penyimpulan. Data penelitian ini menggunakan wujud tuturan data lisan yang disampaikan oleh penutur dalam acara Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Uji validitas data menggunakan triangulasi teori dengan cara mengaitkan teori-teori yang ada dengan data yang terkumpul. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis untuk mendapatkan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdiri dari (1) 8 bentuk tindak tutur ekspresif salam, (2) 14 bentuk tindak tutur ekspresif berharap, (3) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan, (4) 4 bentuk tindak tutur ekspresif memuji, (5) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyetujui, (6) 2 bentuk tindak tutur ekspresif bersyukur, dan (7) 4 bentuk tindak tutur ekspresif terima kasih. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif dalam serial Mata Najwa dengan topik “Gaduh Tiga Periode” terdapat keanekaragaman dalam ekspresi pandangan baik yang mendukung maupun yang tidak
THE RELATIONSHIP BETWEEN PERSONAL EXPERIENCES AND L2 PRAGMATIC DEVELOPMENT DURING STUDY ABROAD (Hubungan antara Pengalaman Pribadi dan Pengembangan Pragmatik Bahasa Kedua selama Studi di Luar Negeri)
Bahasa kedua (L2) memiliki peran penting dalam pengembangan pragmatis. Selain itu, konteks studi di luar negeri memberikan potensi untuk pengembangan kompetensi pragmatis, namun pelajar L2 mungkin tidak begitu menyerupai penutur asli. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pengalaman pribadi dan perkembangan pragmatis L2 di kalangan mahasiswa Indonesia selama belajar di luar negeri. Data dikumpulkan dari percakapan mereka di WeChat karena mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang kuliah di China. Wawancara mendalam juga dilakukan untuk mendapatkan informasi detail terkait pengalaman pribadi mereka selama studi di luar negeri. Selain itu, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin adalah bahasa instruksi yang digunakan dalam perkuliahan sebagai komunikasi formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia menggunakan empat fungsi pragmatis, yaitu berterima kasih (thanking), memuji (complimenting), meminta (requesting), dan memuji diri sendiri (self-praising). Meminta (requesting) adalah strategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa Indonesia yang mengambil bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan, sementara strategi berterima kasih (thanking) merupakan strategi yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa Indonesia yang menggunakan Bahasa Mandarin sebagai Bahasa pengantar perkuliahan. Selain itu, perkembangan pragmatis mereka selama belajar di luar negeri dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu pengetahuan pragmatis, kemahiran L2, kompetensi antar budaya dan interaksi sosial, serta variasi individu dimana faktor-faktor ini lebih banyak digunakan dalam strategi pujian (complimenting). The L2 setting plays a significant role in pragmatic development. Moreover, the study abroad context provides the potential for the development of pragmatic competence. However, L2 learners may not perform according to native speakers’ norms. The present study aims to explore the relationship between personal experiences and L2 pragmatic development among Indonesian students during study abroad. The data were collected from students’ conversations on WeChat since the participants involved in the study are Indonesian students who are currently pursuing their degrees in China. In-depth interviews were also conducted to obtain detailed information related to participants’ personal experiences during study abroad. In addition, English and Chinese are the language instructions used in classrooms for formal and informal communications. The results of the study show that Indonesian students employ four pragmatic functions, namely thanking, complimenting, requesting, and self-praising. Surprisingly, requesting is the most frequent strategy employed by Indonesian students enrolled in English, while the thanking strategy is mainly employed by Indonesian students enrolling in Chinese-taught programs. Moreover, their pragmatic development during study abroad is affected by four factors, including pragmatic knowledge, L2 proficiency, intercultural competence and social interactions, and individual variation. In contrast, these factors were highly used in complimenting strategy