Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    PERIBAHASA BANJAR (MENAMPILKAN KARAKTER NEGATIF UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER POSITIF)

    No full text
    Proverb can be said as an effective and common tool for educating the character values. In term of form, Banjarese proverb can be divided into two types: (1) a type that describes a people who has a good or ideal values (positive characters), and (2) a type of people who does not have any values at all (negative characters). It seems that these types are cross aside, but in reality, these two types actually have the same purpose which is educating good characters for our society. This article talks about one type of those types, which is a type of Banjarese proverb that displaying the negative characters for educating the positive moral values (positive characters). This type of proverb has a lot in numbers, and mostly the society likes this type of proverb more than the first ones. This may be understood because (1) this type of proverb can be act a humorous thing to be discussed, (2) it is more factual so it is easy for the society to understand the meaning of the proverb itself, (3) it is easy to be remembered as it has a clear point, (4) it acts as an early awareness, and (5) it contains a strong critical point for the public community.AbstrakApabila berbicara tentang karakter, peribahasa (termasuk peribahasa Banjar) merupakan wadah yang paling efektif dan paling sering diungkapkan untuk menanamkan nilai karakter. Dilihat dari sisi bentuk, peribahasa Banjar dapat dipilahkan menjadi dua tipe, yakni tipe yang mendeskripsikan/menampilkan manusia berkarakter ideal (karakter positif) dan menampilkan manusia yang sama sekali tidak berkarakter dan atau mengabaikan karakter atau akarakter (karakter negatif). Walaupun dua tipe ini tampaknya berseberangan, tujuannya sama, yakni menanamkan nilai-nilai karakter yang ideal kepada anggota masyarakatnya. Artikel ini hanya menyoroti salah satu dari dua tipe di atas, yakni tipe peribahasa yang menampilkan sosok manusia yang akarakter dan pesan-pesan moral yang terkandung di dalam peribahasa itu. Tipe peribahasa ini lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tipe pertama. Masyarakat juga lebih menyukai tipe ini dalam menyampaikan pesan-pesan moral. Masyarakat Banjar lebih sering menggunakan tipe peribahasa ini disebabkan (a) dapat dijadikan bahan bercanda atau bahan tertawaan, (b) lebih konkret sehingga mudah dipahami, (c) mudah diingat karena acuannya jelas, (d) mengingatkan sejak dini sebelum pelanggaran nilai terjadi, dan (e) berisi kritik yang pedas yang sasarannya berlaku umum

    Mimikri dan Ambivalensi dalam Novel Berpacu Nasib di Kebun Karet Karya M.H. Székely-lulofs

    No full text
    Fakta dan fiksi senantiasa pengaruh-memengaruhi sehingga pembaca karya sastra mau tidak mau harus menempatkan kehidupan dalam sastra bersinggungan dengan kehidupan masyarakat yang realistik. Pengungkapan realitas fiksi dan realitas historis untuk melihat dampak kolonialisme yang berbentuk mimikri dan ambivalensi dalam novel BNdKK karya M.H. Székely-Lulofs diteliti dengan teori struktur naratif dan poskolonialisme. Pengaplikasian teori dilakukan metode kualitatif bersifat deskriptif. Hasilnya, dari struktur penceritaan novel BNdKK dan penelusuran sejarah bangsa Indonesia serta riwayat hidup M.H. Székely-Lulofs ternyata novel ini merupakan gabungan realitas fiksi dan realitas historis kehidupan bangsa yang terjajah dan bangsa yang menjajah di Hindia Belanda, khususnya Sumatera Timur. Mimikri dan ambivalensi yang terjadi berupa penggunaan bahasa, budaya dan perilaku kehidupan.Kata kunci: novel, mimikri, ambivalensi, Hindia Beland

    Petunjuk Penulisan

    Get PDF

    KEKOHESIFAN TEKS PUISI TAUFIK ISMAIL

    Get PDF
    Many researchers have discussed cohesion. However, they do not relate the cohesion with reader's understanding. This paper aims to identify the types of cohesion markers, semantic behaviors, and functions as an integrator of poetry. Poetry is chosen as the object of study because poetry requires density of language. Assuming that language density has given greater role of cohesion markers in poetry. The data are Taufik Ismail’s poems.The selection of the data is based on assumption that Taufik Ismail poetry can represent poetry genre in general. Analysis result shows that there are cohesion marker types used in poetry which are different from types of cohesion in other discourse. The differences lie in dominance of relation conjunction, repetition, antonymy, and collocation. Cohesion marker behavioral so indicates differences. There is conjunction contradiction in the form of semantic gap that is not found in other discourse types. Semantic gap, conflict of situations, repetition, antonymy and collocationare some instruments to strengthen poetic effect of a poem. The five forms are used by the poet to strengthen irony in the poem. These instruments probably are not important in other discourse types.

    PENGGUNAAN DAN PERGESERAN BAHASA MASYARAKAT BELU DI KECAMATAN TASIFETO TIMUR (The Language Use and Language Shift of Belu Community at The East Tasifeto Districts)

    No full text
    The result presented in this paper is the result of a survey conducted by Subbidang Tenaga Kebahasaan, Bidang Pembelajaran, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa in 2016. In general, the survey aims to provide an overview of the language situation that includes language attitude also a description of the use of Indonesian, local languages, and foreign languages in the border region of the NTT and Timor Leste. The survey on the use of the Indonesian language, local languages, and foreign languages is done by quantitative and qualitative methods based on a questionnaire of language use and language attitude. In general, language speakers in the district of Belu admit that their attitude show loyalty to the Indonesian. Based on the results of research, the Indonesian language use has been done in the formal situastion and public space. Another interesting thing that we have found in the language use is the language shift from local languages to Indonesian language. This is shown by the use of Indonesian language by the respondents (productive age) when communicating to their children at home. The factors influencing language shift due to social factors. The handling efforts tend to be the local language learning at home and the elementary level in school. 

    VARIASI PENGGUNAAN BAHASA PADA RUANG PUBLIK DI KOTA SURAKARTA

    Get PDF
    Penggunaan bahasa pada ruang publik di Kota Surakarta sangat bervariasi, tetapi karena berbagai cara dan alasan seringkali menyimpang dari aturan. Kajian ini bertujuan menjelaskan penggunaan, penyimpangan, serta penyebab penyimpangan penggunaan bahasa Indonesia pada ruang publik di Kota Surakarta. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan diambil melalui teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan berupa nama bangunan, jalan, permukiman, merek dagang, lembaga, rambu umum, fasilitas umum, spanduk, iklan, dsb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bahasa yang digunakan pada ruang publik di Kota Surakarta terdiri atas 10 jenis, yaitu: (i) bahasa Indonesia, (ii) bahasa Jawa, (iii) bahasa Inggris, (iv) bahasa asing lainnya, (v) campuran bahasa Indonesia dan Jawa, (vi) Indonesia dan Inggris, (vii) Indonesia dan bahasa asing lain, (viii) Indonesia, Jawa, dan Inggris, (ix) Jawa dan Inggris, dan (x) Indonesia, Inggris, dan bahasa asing lain; (2) penyimpangan penggunaan bahasa yang ditemukan berupa penyimpangan kaidah ejaan, diksi, dan struktur; (3) ada dua faktor penyebab penyimpangan dalam penggunaan bahasa Indonesia pada ruang publik di Kota Surakarta, yaitu (i) faktor kesengajaan: (a) gaya bahasa, (b) tidak tersedianya kosakata, dan (c) kebutuhan sinonim, serta (ii) faktor ketidaksengajaan: (a) pengetahuan yang terbatas, (b) kedwibahasaan karena bahasa daerah dan bahasa asing, serta (c) menghilangnya kata karena jarang digunakan

    Cover Belakang

    No full text

    Simbol Semiotik dalam Novel Anomie Karya Rilda A. Oe. Taneko

    No full text
    The aim of the research is to describe semiotic meanings in the Rilda A.Oe. Taneko’s novel, Anomie. The method used is decriptive method with semiotic approach by Pierce which includes icons, indexes, and symbols. The data source used in this research is the novel Anomie written by Rilda A.Oe. Taneko by investigating the data of symbols reflected in the quotations, and some books which are treated as references in this research. The collecting data technique is conducted by using literary review. The problems which are elaborated in this research are 1)identifying icons, indexes, and symbols semiotic in the novel Anomie written by Rilda A.Oe. Taneko, 2) describing icons, indexes, and symbols semiotic in the Rilda A.Oe. Taneko’s novel, Anomie. The results of this study show the novel Anomie by Rilda A.Oe. Taneko there is a semiotic symbol that includes the icon of educational institutions, social institutions, and entertainment venues. This novel index belongs to the strength, greed, pride and character figures. The symbols of this novel include symbols of wealth, sacrificial symbols, and symbols of love.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, dengan pendekatan semiotic Pierce yang meliputi ikon, indeks dan simbol. Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko dengan mengamati data-data ikon, indeks dan simbol yang tercermin dalam kutipan-kutipan tersebut, dan beberapa buku yang dijadikan referensi dalam penelitian ini. Teknik pengambilan data menggunakan teknik studi pustaka. Permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi ikon, indeks dan simbol semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko, dan (2) mendeskripsikan ikon, indeks dan simbol semiotik yang terdapat dalam novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa novel Anomie karya Rilda A.Oe. Taneko terdapat simbol semiotik yang meliputi ikon berupa lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan tempat hiburan. Indeks dalam novel ini berupa kekuasaan, keserakahan, kesombongan dan kekhawatiran tokoh-tokohnya. Simbol pada novel ini meliputi simbol kekayaan, simbol pengorbanan, dan simbol cinta kasih.

    KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA

    No full text
    The Goal of this research is to identify and to discribe (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom (2) the work of modern Indonesian literature-period 2000 th still oriented to the local wisdom. The data were taken by using random sampling. Using the structural-semiotics method and dialectics method can be found (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom. The character values are still looked after by the writers. in 2000-th, the writers are still loyalty to the local wisdom. The research implicate that the works of modern Indonesian literature, aspecially in 1980s until 2000 period are good for the material of the teaching literature in school. The Balai Pustaka period can be said the cutting period, when we put the history of Indonesian literature on the orientation system of local genus. So that, the history of Indonesian literature which began from the classical period arose in 1980s.AbstrakTujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsi (1) apakah karya sastra Indonesia klasik berorientasi pada kearifan lokal? (2) apakah karya sastra Indonesia modern periode 2000-an berorientasi pada kearifan lokal. Data penelitian ini diambil secara random. Melalui metode struktural-semiotik serta dialektik didapat hasil penelitian sebagai berikut. Teks sastra klasik, terutama dalam sastra Jawa klasik sarat dengan muatan kearifan lokal, yang memelihara nilai-nilai karakter. Pada era tahun 2000an, sikap menjunjung kearifan lokal ternyata masih ditampilkan. Implikasi lain, karya sastra Indonesia periode 1980-an sampai periode 2000-an layak digunakan sebagai materi pengajaran sastra Indonesia. Era tradisi Balai Pustaka merupakan era pemenggalan sejarah sastra Indonesia, jika dilihat pada sistem orientasi kearifan lokal. Dengan demikian, perjalanan sejarah sastra Indonesia yang dimulai dari sastra Indonesia klasik yang berorientasi pada kearifan lokal muncul kembali pada era 1980-an

    GERAK KOMUNITAS FIKSIMINI DI RUANG SIBER

    No full text
    Perkembangan teknologi infomasi yang sangat pesat di Indonesia telah mencip-takan ruang baru dunia sastra. Ragam karya sastra meruah dan menjelma dalam bentuk baru dunia siber yang menonjolkan indra visual. Selera sastra pada gilirannya membentuk citranya sendiri dengan desain semacam genre baru yang berusaha bergerak melampaui ruang sebagaimana gerakan komunitas “fiksimini”. Kelompok itu mampu memopulerkan mini karya sastra yang dianggap ringkas tanpa menegasikan esensi karya sastra. Komunitas Fiksimini mampu menciptakan sensibilitas baru yang membuat masyarakat berselera terhadap karya sastra? Melalui paradigma pascastrukturalis mode of information (Mark Poster), tulisan ini berusaha menyajikan deskripsi konteks kecenderungan sastra baru sebagaimana kehadiran komunitas fiksimini. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dalam usaha memahami gerak komunitas fiksimini di ruang jejaring sosial dan situs web. Apabila dalam masyarakat modern (strukturalis) yang dominan adalah media tulisan fisik dan percetakan yang bersifat mekanik, konteks masyarakat mutakhir (pascastrukturalis) cenderung termediasi oleh media audiovisual yang bersifat elektronik. Kemunculan komunitas itu merupakan aktualisasi kebudayaan mutakhir yang menciptakan sensibilitas baru serta membentuk citra indrawi yang bermacam-macam dengan mudah melalui media elektronik.Kata kunci: ruang siber, komunitas fiksimini, sensibilitas bar

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇