Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
PROFIL KEBAHASAAN NELAYAN BUGIS DI TINOBU, SULAWESI TENGGARA: POLA-POLA PENGGUNAAN BAHASA
Keberadaan Nelayan Bugis di Tinobu, Sulawesi Tenggara, di domain bahasa berbeda (bahasa Tolaki) memicu timbulnya fenomena kebahasaan yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil kebahasaan Nelayan Bugis di Tinobu, Sulawesi Tenggara, khususnya pola-pola penggunaan bahasa yang mereka gunakan pada ranah keluarga, ketetanggaan, jual-beli, pendidikan, dan kantor. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik. Populasi dalam penelitian ini adalah semua nelayan Bugis yang berdomisili di Desa Tinobu. Sampel dalam penelitian dipilih melalui block sampling. Dari desa Tinobu ditarik 120 orang responden, masing-masing mewakili orientasi penggunaan bahasa dari kriteria umur. Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan, data dikumpulkan melalui teknik perekaman, observasi, wawancara, dan angket. Data dalam penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif yang ditunjang oleh perhitungan persentase sederhana. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada dari tiga bahasa yang terdapat di Tinobu (BB-Bahasa Bugis, BIBahasa Indonesia, dan BT-Bahasa Tolaki), tiga pola penggunaan bahasa Nelayan Bugis di Tinobu, Sulawesi Tenggara, yaitu 1) bahasa Bugis, bahasa Indonesia dan bahasa Bugis campur dengan bahasa Indonesia atau BB-BI-BC, 2) bahasa Bugis, bahasa Indonesia, bahasa Tolaki, dan bahasa Bugis campur dengan bahasa Indonesia dan bahasa Tolaki atau BB-BIBT-BC, dan 3) bahasa Indonesia dan bahasa Tolaki, dan bahasa Indonesia campur dengan bahasa Tolaki, atau BI-BT-BC. BB masih digunakan secara dominan di ranah keluarga, ranah ketetanggaan, dan ranah pekerjaan.Sementara itu bahasa Indonesia dominan digunakan pada ranah jual beli, ranah pendidikan, dan kantor
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FONEM BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA LASALIMU
Tulisan ini membicarakan tentang perbandingan fonem bahasa Indonesia dengan bahasa Lasalimu. Bahasa Lasalimu merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara yang dituturkan oleh masyarakat di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki 22 buah fonem konsonan, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /m/, /n/, /ŋ/, /ñ/, /l/, /f/, /s/, /z/, /ʃ/, /x/, /h/, /r/, /w/, /y/ dan enam buah fonem vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /ә/, /o/. Sementara itu, bahasa Lasalimu memiliki 20 buah fonem konsonan, yaitu /p/, /b/, /ɓ/, /t/, /d/, /ɗ/, /j/, /c/, /k/, /g/, /h/, /s/, /m/, /n/, /ŋ/, /l/, /r/, /ϕ/, /w/, /y/ dan lima buah fonem vokal, yaitu /i/, /e/, /a/, /o/, dan /u/. Bahasa Lasalimu adalah bahasa vokalis
KESAMAAN KOSAKATA BAHASA BUGIS DAN BAHASA MUNA
Bahasa Bugis dan bahasa Muna merupakan bahasa daerah yang masih tumbuh dan berkembang di wilayah Indonesia.Kedua bahasa daerah tersebut masih banyakpenuturnya dan kedua bahasa itu digunakan dalam berbagai aktivitas kehidupan.Penutur asli dari kedua bahasa itu hidup dan berada di wilayah yang berbeda. Akan tetapi, pada kenyataannya, dalam kedua bahasa daerah tersebut terdapat beberapa kosakata yang sama. Berkaitan dengan itu, dalam kajian ini yang akan dibahas adalah apakah bentuk kosakata yang sama pada kedua bahasa daerah tersebut juga mempunyai makna yang sama dan mengapa kedua bahasa daerah tersebut mempunyai kesamaan kosakata. Oleh karena itu, tujuan yang akan dicapai dalam kajian ini, yaitu untuk mendeskripsikan makna dari kosakata yang sama dan penyebab terjadinya kesamaan kosakata yang terdapat dalam bahasa Bugis dan bahasa Muna. Berdasarkan kajian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kosa kata yang sama dari kedua bahasa daerah itu ada yang maknanya sama dan ada pula yang maknanya berbeda. Penyebab kesamaankosakata dalam bahasa Bugis dan bahasa Muna adalah adanya hubungan kekerabatan melalui perkawinan antara orang Muna dan orang Bugis serta pengaruh pelayaran dagang
CIRI AKUSTIK BAHASA MELAYU DIALEK BATUBARA
Analisis kajian ini adalah untuk menjawab masalah penelitian tentang ciri akustik yang menandai kelompok-kelompok sosial penutur BMB. Ada 100 penutur BMB yang terdiri atas pekerjaan sebagai pedagang, nelayan, dan pegawai. Mereka menuturkan kalimat sasaran [Udin ondak pogi ke laut] ‘Udin hendak pergi ke laut’. Analisis ini menggunakan pendekatan instrumental dengan program Praat. Melalui analisis akustik tuturan, nada tertinggi, nada dasar, nada final, nada rendah, durasi, dan intensitas dapat dijadikan pemarkah sosial penutur BMB. Terdapat perbedaan frekuensi dari setiap jenis pekerjaan. Durasi deklaratif lebih besar dibandingkan dengan durasi interogatif, sedangkan durasi deklaratif hampir sama dengan durasi imperatif. Durasi silabel terakhir konstituen selalu lebih panjang dibanding dengan durasi silabel awal konstituen, kecuali pada durasi kalimat interogatif, durasi silabel akhir konstituen lebih rendah daripada durasi awal konstituen. Ditemukan perbedaan pada intensitas dasar, intensitas final, intensitas rendah dan intensitas tertinggi. Pada kajian ini menganalisis modus deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam BMB. Secara umum, ketiga modus ini membedakan tuturan kelas pekerjaan
KRITIK SOSIAL GOL A GONG DALAM DUNIA IKAN
Penelitian ini membahas mengenai kritik sosial Gol a Gong yang tertuang dalam kumpulan puisi Dunia Ikan. Kumpulan ini terdiri atas 30 (tiga puluh) puisi karya Gol A Gong setebal 57 halaman dan diterbitkan oleh Gong Publishing. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan menggunakan teori sosiologi sastra. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kritik sosial yang terungkap dalam Dunia Ikan berkisar pada masalah kemiskinan, pencemaran lingkungan, sikap hidup yang materialistis, konsep membaca, dan harapan bagi masa depan generasi yang akan datang. Kekayaan bahari yang melimpah tidak membuat rakyat Banten sejahtera dan makmur. Itulah yang membuat pengarang resah dan galau terhadap kondisi tersebut. Ikan sebagai sumber daya alam yang melimpah, pariwisata laut dan pantai yang membentang sepanjang Banten tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, membuat kemiskinan masih saja membelit kampung nelayan. Belum lagi sikap abai pemerintah terhadap pencemaran limbah yang terjadi, menambah kesulitan nelayan mencari penghidupan. Namun tetap saja segelintir orang yang menyalahgunakan kekuasaan dapat hidup dengan tenang tanpa peduli pada masa depan generasi mendatang. Itulah beberapa hal yang terungkap pada puisi-puisi Gong dalam Dunia Ika
IDENTITAS KULTURAL DAN KARAKTERISTIK LISAN ORANG KAILI DALAM MANTRA TAMABUNTO
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan identitas kultural dan karakteristik lisan masyarakat Kaili dalam Tamabunto. Analisis data menggunakan metode analisis konten. Tamabunto, salah satu mantra keselamatan masyarakat Kaili, memiliki kekhasan yang dominan, yaitu selain memanfaatkan bahasa lokal, juga terletak pada konvensi verbal, di antaranya penggunaan bahasa yang bersifat aditif, agregatif, empatik, dan konservatif. Dalam Tamabunto tercermin kearifan lokal, baik dalam konteks relasi vertikal maupun relasi horizontal, sebagai identitas kultural masyarakat Kaili yang masih terkait erat dengan adat Pitunggota. Tamabunto berisi idiom-idiom lokal dan bersumber pada kekuatan supranatural, yang bercirikan wacana ritmik yang mengandung sugesti untuk membangkitkan kekuatan magis. Idiom-idiom lokal yang terdapat di dalam Tamabunto merupakan konsep penting yang mencerminkan wawasan pengetahuan sekaligus merefleksikan identitas kultural orang Kaili
KOHERENSI ANTARKALIMAT PADA PARAGRAF DALAM WACANA ILMIAH BAHASA JAWA (Coherence Between Sentences on Paragraph in Javanese Language Scientific Discourse)
This research discusses about various kinds of coherence between sentences in Javanese language scientific discourse. Qualitative descriptive method is used in this research due to objectives of the research that is to provide kinds of coherence between sentences in the Javanese language scientific discourse. The sentence coherence in Javanese scientific discourse paragraph can be differentiated as (1) causality, (2) analysis (partial analysis, functional analysis, process analysis), (3) opposition, (4) validation, (5) continuity, (6) addition, (7) sequence, and (8) explanation. Any kind of coherence can be signified with cohesion, which is not only originated from the Javanese language, but also can be absorbed from Indonesia language or not signified.
KESATUAN TEMATIK PUISI “LAUT” DAN “SELAIN LAUT” KARYA ABDUL HADI W.M.: INTERPRETASISEMIOTIK
Puisi ”Laut” (Meditasi, 1976) dan “Selain Laut” (Pembawa Matahari, 2002) karya Abdul Hadi W.M. memiliki kesatuan tematik walaupun diciptakan dalam kurun waktu yang berbeda. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah kesatuan tematik yang terlukis dari kedua puisi tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap kesatuan tematik dari kedua puisi tersebut. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, deskriptif analitik, dan informal. Dari analisis sintaksis, semantik, dan pengujaran dapat disimpulkan bahwa kedua puisi tersebut mencerminkan satu kesatuan tematik. Kesatuan tematik kedua puisi tersebut adalah hidup di alam semesta ini tidak ada yang abadi. Artinya, hidup itu terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman danpemikiran manusia
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA MAHASISWA PBSI IKIP PGRI SEMARANG DENGAN METODE SQ3R
Salah satu tujuan membaca adalah siswa/mahasiswa mampu menangkap gagasan, pengalaman, dan pendapat secara cepat dan tepat. Pengalaman penulis dalam membelajarkan matakuliah Keterampilan Membaca II di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), FPBS IKIP PGRI Semarang, menunjukkan bahwa kemampuan membaca mahasiswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mahasiswa dengan menggunakan metode SQ3R. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana metode membaca SQ3R dalam pembelajaran keterampilan membaca dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mahasiswa? (2) Bagaimanakah format metode membaca SQ3R yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan membaca sehingga dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mahasiswa? (3) Bagaimana sikap mahasiswa terhadap penerapan kegiatan membaca dengan menggunakan metode SQ3R pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP PGRI Semarang? Hasil Penelitian menunjukkan bahwa metode membaca SQ3R dapat diterapkan sebagai metode membaca yang handal untuk meningkatkan Volume kemampuan membaca pemahaman mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP PGRI Semarang.