Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    NILAI-NILAI PEMBENTUK KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT ASAL-USUL WATU DODOL

    Get PDF
    Folktale is one of media which can be used as a device in building children’s positive characters through the moral and educational values in it. This article is based on a qualitative descriptive research aims at identifying values of character building in a folktale from Banyuwangi entitled “Asal-Usul Watu Dodol” (The Origin of Watu Dodol). Data collecting is conducted by reading the folktale text in the book “Banyuwangi Folktales” repeatedly and identifying data about keywords related to values of character building. The data, then, are analyzed by using content analysis technique. The result shows that ten values of character building are found in “Asal-Usul Watu Dodol”, that are, religiosity, honesty, hardworking, curiosity, citizenship, patriotism, accomplishment, friendliness, compassion and responsibility.  ABSTRAKCerita rakyat merupakan salah satu media yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana membangun karakter positif pada anak melalui nilai-nilai moral dan pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita. Artikel ini didasarkan pada penelitian deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi nilai-nilai pembentuk karakter yang terdapat dalam cerita rakyat Banyuwangi berjudul Asal-usul Watu Dodol. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca teks cerita rakyat termaksud yang terdapat dalam buku Cerita Rakyat Banyuwangi secara berulang-ulang dan mengidentifikasi data yang berupa kata kunci yang berkaitan dengan nilai-nilai pembentuk karakter dalam cerita. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan adanya 10 nilai pembentuk karakter dalam cerita rakyat Asal-usul Watu Dodol; yaitu religius, jujur, kerja keras, ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab.

    PERBANDINGAN EXTRAORDINARY ELEMENT DALAM NARASI FANTASI, FIKSI ILMIAH DAN REALISME MAGIS

    No full text
    Narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis mempunyai satu unsur yang sama yaitu elemen yang tidak rasional atau disebut extraordinary element. Namun demikian unsur ini tidak digunakan dengan cara yang sama dalam ketiga narasi tersebut sehingga membedakan jenis narasinya. Artikel ini akan mengkaji karakteristik narasi fantasi, fiksi ilmiah, dan realisme magis untuk melihat keberadaan extraordinary element di dalamnya serta fungsinya dalam pembentukan plot. Karakteristik ini akan diambil dari studi pustaka sekaligus dari hasil identifikasi beberapa karya sastra yang telah dilegitimasi sebagai teks dengan narasi-narasi tersebut. Artikel ini menunjukkan keberadaan extraordinary element dalam ketiga jenis narasi ditampilkan dengan aturan yang berbeda sehingga sebuah teks bisa dikatakan memakai gaya narasi fantasi, fiksi ilmiah, atau realisme magis. Extraordinary element dalam fantasi merupakan rekaan yang menciptakan dunia sendiri dan aturan yang memakai logikanya sendiri yang berbeda dengan logika dunia non-fiksi. Extraordinary element dalam fiksi ilmiah merupakan rekaan yang tetap harus berbasis aturan logika ilmu pengetahuan dalam dunia non-fiksi. Sedangkan extraordinary element dalam realisme magisberbasis mitos budaya yang diperlakukan sebagai hal biasa dan bukan dirayakan sebagai pusat tontonan. Artikel ini menggunakan metode perbandingan naratologi. Hasil artikel ini diharapkan bisa membantu para akademisi lainnya, terutama mahasiswa, untuk menentukan obyek material yang tepat sesuai teori yang ingin mereka terapkan; misalnya memilih narasi realisme magis untuk studi poskolonial, narasi fantasi dan fiksi ilmiah untuk studi cultural studies

    Simbol Budaya pada Novel Tamu Karya Wisran Hadi

    No full text
    This paper discusses the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu by Wisran Hadi with semiotic approach proposed by Charles Sanders Peirce about signs and mark. This novel discusses the important elements in the changing of Minangkabau society, such as the changing role of mamak as the leader, the legacy, the brotherhood, the surau function, and rantau (wander). So, this study aims to determine the meaning of Minangkabau culture in the novel Tamu. This research uses descriptive analyse method which expose the data based on the findings content in the novel; 1) the position of mamak no longer respected by the nephew like mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) the legacy which mortgaged by mamak it is not accordance with the condition of the treasure requirement, 3) the relationship of brotherhood has a tension, 4) the surau is not used according to the function, 5) rantau that is no longer giving a better life. AbstrakTulisan ini membahas makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu karya Wisran Hadi dengan pendekatan semiotik yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce tentang tanda dan petanda. Novel ini membahas unsur-unsur penting dalam masyarakat Minangkabau yang mengalami perubahan, seperti perubahan peran mamak sebagai pemimpin adat, pewarisan harta pusaka, ikatan persaudaraan, fungsi surau, dan rantau. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna budaya Minangkabau dalam novel Tamu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yakni data dipaparkan mengacu pada teks yang terdapat dalam novel dengan temuan; 1) kedudukan mamak tidak lagi dihormati oleh kemenakan seperti mamangan adatnya kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka nan bana. 2) harta pusaka yang digadaikan oleh mamak tidak sesuai dengan syarat yang boleh digadaikan, 3) hubungan persaudaraan yang mengalami ketegangan, 4) surau yang tidak digunakan sesuai fungsinya, 5) rantau yang tidak lagi memberi kehidupan lebih baik.

    SUBJEKTIVITAS PRAMUDYA ANANTA TOER DALAM NOVEL PERBURUAN KAJIAN PSIKOANALIS HISTORIS SLAVOJ ZIZEK

    No full text
    Penelitian ini menguraikan subjektivitas Pramoedya Ananta Toer dalam tindakannya menulis novel Perburuan. Tindakan itu bertujuan untuk membangun jarak dan melepaskan diri dari jerat Yang Simbolik. Penelitian dalam perspektif ini perlu dilakukan sebab beberapa penelitian terhadap Pram sebelumnya selalu melihat diri dan karyanya sebagai representasi dimensi simbolik tanpa memperhatikan fakta-fakta bahwa Pram juga menunjukkan penolakan frontal terhadap Yang Simbolik itu. Penelitian ini menggunakan konsep subjektivitas yang dirumuskan oleh Slavoj Zizek, di mana subjek selalu terdiri atas komponen Yang Riil, Yang Imajiner dan Yang Simbolik. Penolakan terhadap Yang Simbolik dilakukan ketika muncul kekurangan (lack) akibat Yang Simbolik berupaya untuk terus mentotalisasi. Kesadaran bahwa ada yang kurang membuat subjek terus berjalan meninggalkan Yang Simbolik menuju Yang Riil dan menjadi subjek yang otentik. Dalam perspektif inilah tindakan Pram menulis novel Perburuan akan dicermati. Untuk mengetahui berbagai dimensi simbolik yang ada dalam novel Perburuan dan bagaimana Pram menyikapinya, peneliti menggunakan metode analisis sudut pandang Tzetan Todorov. Pergerakan sudut pandang Pram sebagai narator di dalam cerita, hubungannya dengan tokoh lain, keterlibatan dan sikap-sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa tertentu menjadi indikasi subjektivitas Pram secara menyeluruh. Apa yang ada di dalam novel Perburuan dan sikap Pram sebagai narator di dalamnya kemudian ditarik keluar dan dilihat kemungkinan homologi struktural dan kulturalnya dengan konteks historis Pram kala itu. Apa yang dapat dilihat di dalam cerita serta apa yang terjadi terhadap novel itu secara keseluruhan menjadi satu kesatuan tindakan yang dapat menunjukkan karakter subjektivitas Pram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjektivitas Pram ketika melakukan tindakan penulisan novel Perburuan menunjukkan karakteristik yang dapat dikatakan radikal terhadap beberapa dimensi simbolik yang dominan di sekelilingnya. Dimensidimensi tersebut antara lain, dimensi familialisme, feodalisme, nasionalisme dan humanisme. Karakter radikal juga tampak dari keseluruhan proses penciptaan novel Perburuan, mulai dari aspek waktu dan tempat penciptaan, homologi cerita novel dengan kehidupan Pram, serta tema-tema yang muncul di dalamnya. Tindakan-tindakan radikal emansipatif tersebut memunculkan perubahan Yang Simbolik di sekitar Pram sekaligus dalam momen bersamaan menarik subjektivitas Pram kembali kepada Yang Simbolik

    PERANAN SASTRA DAN BAHASA MELAYU DALAM MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

    No full text
    Literature and language play important role in forming the character of a country. Language that is delicate, neatly arranged, and expressed with good manner in various occasions creates lovely, beautiful, well-mannered, civilized impressions either for the speaker or the listener. Therefore in a long time, whether when it is in the position as lingua franca for the Nusantara people or when it is in the position as regional language, Malay, and Malay literature, has played important role in forming Malay country’s character. Speaking and doing literature using Malay that is based on the ethical and aesthetic values not only colour the life of the noblemen in the kingdom palace, but also among the people. The delivery of certain messages orally through pantun or literary texts such as poem and gurindam that contain a lot of moral values, really contributes to the forming of Nusantara people’s personality and character. The problem is that country’s character is not the destiny or fate, not something that has been available on its own; it is a “course” or “duty”. It must be planted, internalized, built, formed, and kept ground inside the country’s children selves. In this context, language plays important role. Language is the symbolic system that with it men can form, raise, and develop their culture. In relation to it, the position and function of Indonesian and regional (Malay) languages must be reinforced: “schools oblige to develop Indonesian and regional languages to become the part of country’s character building.”AbstrakSastra dan bahasa memainkan peranan penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Bahasa yang halus, tertata rapi, dan disampaikan dengan tatakrama yang baik dalam berbagai kesempatan menimbulkan kesan elok, indah, santun, terhormat, beradab, baik bagi pembicara maupun pendengarnya. Demikianlah dalam waktu yang lama, baik tatkala berkedudukan sebagai lingua franca bagi masyarakat Nusantara maupun ketika berkedudukan sebagai bahasa daerah, bahasa Melayu, pun sastra Melayu, telah memainkan peran penting dalam membentuk karakter bangsa Melayu. Berbahasa dan bersastra dengan bahasa Melayu yang berlandaskan pada nilai-nilai etika dan estetika itu tidak hanya mewarnai kehidupan para bangsawan di istana kerajaan, melainkan juga di tengah rakyat jelata. Penyampaian pesan-pesan tertentu secara lisan melalui pantun atau melalui teks sastra seperti syair dan gurindam yang banyak mengandung nilai-nilai moral, sangat kontributif bagi pembentukan kepribadian dan karakter masyarakat Nusantara. Masalahnya adalah karakter bangsa itu bukanlah nasib bukan pula takdir, bukan sesuatu yang telah tersedia dengan sendirinya; ia adalah “ikhtiar” atau “tugas”. Ia harus ditanamkan, diinternalisasikan, dibangun, dibentuk, dan terus diasah di dalam diri anak-anak bangsa. Dalam konteks ini bahasa memainkan peranan penting. Bahasa adalah sistem simbol yang dengannya manusia dapat membentuk, memelihara, dan mengembangkan kebudayaannya. Berkaitan dengan hal tersebut, kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dan daerah (Melayu) harus diperkuat: “sekolah-sekolah wajib mengembangkan bahasa Indonesia dan bahasa daerah menjadi bagian dari pembangunan karakter bangsa.

    A COMPARATIVE STUDY OF POETRY’S STRUCTURE: ‘NIGHT’ BY BLAKE AND ‘SHE WALKS IN BEUATY’ BY BYRON

    No full text
    This research presented the comparative study about the structure in two poetries; they are Night and She Walks in Beauty. It focused the theme, the figure of speech and the imagery. It used the qualitative research. It is analyzed the structure by reading the poetry carefully and giving the note for each line that contains theme, figure of speech and imagery. It used the theory of comparative study and structural approach.The result of this research shows that the poet of those poetries use theme, figure of speech and imagery. There are many kinds of figure of speech and imagery in the poetry. In Night, there are only four figure of speeches  namely (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor and (d) Hyperbole and uses (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tactile and (4) Kinesthetic as the imagery. In She Walks in Beauty, Byron uses (a) simile, (b) personification and (c) litotes as figure of speech and its imagery are (1) Visual and (2) Kinesthetic.The poetry Night and She Walks in Beauty appear both differences and similarities with regard to its poet’s writing style. Blake is subjective whereas Byron is objective in writing. Both poets use the nature in different ways to build the theme, the figure of speech and the imagery. Blake uses the nature to describe two contrast place and Byron used the nature to describe a woman character. AbstrakPenelitian ini membahas studi perbandingan tentang struktur dalam dua puisi, yaitu Night dan She Walks in Beauty. Penelitian ini berfokus pada Theme, Figure of Speech dan Imagery. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pada penelitian ini, struktur dianalisa dengan membaca puisi dengan seksama dan memberikan catatan untuk setiap baris yang berisi Tema, Majas dan Pencitraan. Penelitian ini mengunakan teori Comparative Study dan pendekatan Structural.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyair pada kedua puisi ini menggunakan Tema, Majas dan Pencitraan. Ada banyak jenis majas dan pencitraan dalam puisi tersebut. Pada puisi Night, Majas hanya ada empat yaitu (a) Simile, (b) Personification, (c) Metaphor dan (d) Hiperbole dan menggunakan (1) Visual, (2) Auditory, (3) Tictile dan (4) Kinestethic sebagai pencitraan. Pada puisi She Walks in Beauty, Byron menggunakan (a) Simile, (b) Personification dan (c) Litotes sebagai majas dan pencitraannya adalah (1) Visual dan (2) Kinestethic.Puisi Night dan She Walks in Beauty tampak perbedaan dan persamaan yang berkaitan dengan gaya penulisan penyairnya. Blake adalah penyair yang subjektif sedangkan Byron adalah penyair yang objectif dalam menulis. Kedua penyair tersebut menggunakan alam dengan cara yang berbeda untuk membangun Tema, Majas dan Pencitraan. Blake menggunakan alam untuk menggambarkan dua tempat yang dan Byron menggunakan alam untuk menggambarkan karakter wanita.  

    PROSA DAN KEHIDUPAN KOTA

    No full text
    Tulisan ini mengeksplorasi relasi antara karya sastra dan sejumlah fakta sosial di perkotaan Indonesia dalam rentang tiga zaman (normal-khaos-normal) hingga zaman global. Terdapat tiga hal yang dicermati, di antaranya (1) segregasi spasial di perkotaan sepanjang peralihan tiga zaman tersebut, yaitu era kolonialisme hingga kemerdekaan, (2) strategi kelas sosial di ruang perkotaan, khususnya dalam gambaran karya sastra pada zaman yang berubah-ubah tersebut, dan (3) respons parodi-romantik dalam karya sastra atas kontradiksi kota hingga zaman global, yang meliputi krisis keintiman warga kota

    Prawacana, Daftar Isi, Abstrak

    No full text

    Analisis Wacana Kritis Cuitan Fahri Hamzah (FH) Terkait Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

    Get PDF
    Fahri Hamzah (FH) is one of the leaders in parliament who often criticizes the Corruption Eradication Commision (KPK) through his Twitter account. One of them is the submission of the right of inquiry of KPK. This study will reveal the perception of FH through his tweet on July, 2—26, 2017. The perception disclosure is analyzed using the Fairclough model. Research content based on the textual analysis (micro analysis) shows that the text structure is short and directly convey the content of the speech. Substantially, the text reveals various perceptions of FH, such as the people treated to drama about KPK, KPK is always considered true and the media is not objective. The transitive aspect indicates that FH reinforces negative things and negates positive things. There is an emphasis on the wrack of KPK. The modalities function is in the form of a speech that strengthens the need for special committee’s of the right of inquiry of KPK. The use of vocabulary overall illustrates the negative opinion and pessimism related to the performance of the KPK. The use of cynicism, sarcasm and satire styles colors the entire FH’s tweets. The analysis based on the dimension of discourse practice (meso-level) indicates that FH’s views are contrary to the public opinion. The Special Committee of KPK is considered as an effort to protect the members of parliament who are involved in e-KTP case. The analysis based on the social cultural practice dimension (macro-level) indicates that FH is one of the politician who often criticizes the performance of KPK, including the handling of e-KTP case. AbstrakFahri Hamzah (FH) merupakan salah satu pimpinan di DPR yang sering mengkritisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui akun Twitter-nya. Salah satunya adalah masalah pengajuan hak angket KPK. Penelitian ini akan mengungkapkan persepsi FH melalui cuitan di Twitter pada tanggal 2—26 Juli 2017. Pengungkapan persepsi tersebut dianalisis menggunakan model Fairclough. Hasil penelitian berdasarkan analisis tekstual (analisis mikro) menunjukkan bahwa struktur teks pendek dan langsung menyampaikan isi tuturan. Adapun secara substansi teks mengungkapkan beragam persepsi FH, seperti masyarakat disuguhi drama tentang KPK, KPK selalu dianggap benar, dan media berlaku tidak objektif. Aspek ketransitifan menunjukkan FH menguatkan hal-hal negatif dan meniadakan hal positif. Terdapat penekanan tentang kebobrokan KPK. Fungsi modalitas berupa tuturan yang menguatkan perlunya Pansus Angket KPK. Penggunaan kosakata secara keseluruhan menggambarkan pandangan negatif dan pesimisme terkait kinerja KPK. Penggunaan gaya bahasa sinisme, sarkasme, dan satire mewarnai keseluruhan cuitan FH. Analisis berdasarkan dimensi praktik wacana (level menengah) menunjukkan bahwa pandangan FH berseberangan dengan opini publik. Pansus KPK dianggap sebagai upaya melindungi anggota DPR yang terlibat kasus e-KTP. Adapun analisis berdasarkan dimensi praktik sosial budaya (level makro) menunjukkan bahwa FH termasuk politisi yang sering mengkritik kinerja KPK, termasuk penanganan kasus e-KTP

    KLASIFIKASIBAHASA DAYAK PRUWAN SEBAGAI BAHASABIDAYUHIK

    Get PDF
    Tulisan ini membahas bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka suku Dayak Pruwan di Kalimantan Barat. Orang Pruwan ini menempati daerah sekitar Lembah Sungai Tayan di Kabupaten Sanggau Kapuas. Dalam epistimologi setempat bahasa mereka disebut bahasa Pruwan.Namun, bahasa ini memiliki hubungan dengan varian Bidayuhik yang tersebar di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Tulisan ini membahas tentang sistem vokal dan konsonan serta klasifikasi linguistik bahasa Pruwan sebagai bahasa Bidayuhik berdasarkan inovasi fonologis yang wujud dalam bahasa ini. Tulisan ini menggunakan teori linguistik komparatif historis. Klasifikasi bahasa Pruwan sebagai bahasa Bidayuhik dilakukan dengan membandingkan bahasa Pruwan dengan varian Bidayuhik Lubuk Tajau kajian Chong Shin dan Collins (2008) di Sungai Sekadau dan bahasa Bidayuhik Utara Purba (BUP) hasil kajian Aman (2008) serta medeskripsikan inovasi bersama yang wujud dalam varian-varian Bidayuhik tersebut berdasarkan bahasa Proto Melayu Polinesia (PMP) yang direkonstruksi oleh Robert Blust (2013). Deskripsi fonologis dengan perspektif linguistik komparatif historis disajikan untuk membuktikan kekerabatan bahasa Dayak Pruwan dengan bahasa-bahasa Bidayuhik yang ada di Kalimantan Barat. Hasilnya bahasa Pruwan dapat diklasifikasikan sebagai salah satu varian bahasa Bidayuhik di Lembah Sungai Tayan karena mengalami inovasi bersama dengan varian Bidayuhik yang ada di Kalimantan Barat, seperti Lubuk Tajau dan Bidayuhik Utara Purba (BUP)

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇