Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
REPRESENTASI KESANTUNAN BROWN DAN LEVINSON DALAM WACANA AKADEMIK
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi kesantunan berbahasa Brown dan Levinson dalam wacana akademik. Artikel ini membahas dua hal, yaitu strategi kesantunan negatif dan strategi kesantunan positif mahasiswa dalam berinteraksi dengan dosen dalam wacana akademik di STAIN Kendari. Artikel ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari percakapan mahasiswa terhadap dosen. Setelah terkumpul, data dianalisis dengan menggunakan pisau bedah sosio-pragmatik. Analisis data dilakukan melalui empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data yang dilanjutkan dengan kesimpulan hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa strategi kesantunan negatif mahasiswa terhadap dosen meliputi penggunaan ungkapan tidak langsung, penggunaan ungkapan yang penuh kehati-hatian dan cenderung pesimis, penggunaan kata hormat, dan meminta maaf, sementara strategi kesantunan positif mahasiswa terhadap dosen berupa penggunaan penanda identitas kelompok, penggunaan basa-basi dan presuposisi, penggunaan penawaran dan janji, serta mencari alasan atau memberikan pertanyaan
PENGUNGKAPAN BUDAYA SUKU ANAK DALAM MELALUI KOSAKATA BAHASA KUBU
Bahasa dan budaya merupakan dua aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan karena bahasa merupakan sarana untuk mengekspresikan budaya suatu bangsa. Hal itu menyebabkan kosakata suatu bahasa menyandikan berbagai kegiatan penuturnya, antara lain, kegiatan sosial, seni, dan budaya. Tulisan ini menjawab pertanyaan: (a) Bagaimana realitas budaya Suku Anak Dalam yang tersandi dalam data linguistik bahasa Kubu? (b) Kosakata apa saja yang dapat menyandikan budaya Suku Anak Dalam yang tinggal di Bukit Dua Belas, pedalaman Provinsi Jambi? Data tulisan ini dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan teknik perekaman, pemancingan, dan pencatatan. Data dianalisis dengan teori Kramsch (2000), yang menyatakan bahwa bahasa mengungkapkan realitas budaya penutur suatu bahasa. Tulisan ini menemukan tiga klasifikasi kosakata yang menyandikan budaya Suku Anak Dalam, yakni (a) kosakata tradisi (b) kosakata pengambilan makanan, (c) kosakata azimat, dan (d) kearifan lokal. Di samping itu, budaya Suku Anak Dalam yang tersandi dalam kosakata bahasa Kubu, antara lain, basale, melangun, menumbai, meremu, betilik, berburu, dan penggunaan bendabenda yang berkaitan dengan azimat
HAMBATAN BERBAHASA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI “BINAANAK BANGSA” PONTIANAK
Masalah dalam penelitian ini bagaimanakah hambatan berbahasa Anak Berkebutuhan Khusus “Bina Anak Bangsa”, Kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hambatan berbahasa Anak Berkebutuhan Khusus Kelas 1C “Bina Anak Bangsa”, Kota Pontianak. Metode yang digunakan deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa hambatan berbahasa anak berkebutuhan khusus di kelas 1C “Bina Anak Bangsa”Kota Pontianak dipengaruhi faktor internal dan eksternal anak itu sendiri. Faktor internal datangnya dari anak itu sendiri, seperti kurang pendengaran, mengalami diklesia, ketidakmampuan ganda, autis ringan dan ADHD sehingga menghambat berbahasa mereka. Sedangkan faktor ekternal disebabkan hambatan yang datang dari dalam kelas dan di luar kelas, seperti teriakan teman, gigitan, pukulan, suara gaduh, dan suara berdesing yang berasal dari luar kelas
CITRA DIRI LAISA DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
Novel “Bidadari-Bidadari Surga” karya Tere Liye berkisah tentang sebuah keluarga sederhana yang hidup di sebuah lembah bernama Lembah Lahambay. Penulis memfokuskan ceritanya pada salah satu tokoh bernama Laisa. Laisa adalah seorang gadis yang memiliki keterbatasan fisik akibat kecelakaan pada masa kecilnya. Tulisan ini membahas citra diri Laisa dengan menggunakan pendekatan karakterisasi, sebuah pendekatan yang memfokuskan proses telaah watak pada tiga aspek, yaitu tingkah laku, ekspresi wajah, dan motivasi. Dari telaah yang dilakukan, diketahui bahwa penulis novel menggambarkan tokoh Laisa sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tokoh ini selalu bersedia berkorban demi adik-adiknya, tetapi juga mendidik mereka dengan pukulan dan ekspresi wajah tidak bersahabat
MOTIF ASAL-USUL TANAMAN PADI DALAM TIGA CERITA RAKYAT INDONESIA
Sastra yang dihasilkan kelompok etnik merupakan produk budaya yang disatukan oleh geobudaya (kesatuan budaya) dan wilayah. Kekayaan sastra seperti ini saling memiliki kekerabatan sastra antar kelompok lain. Masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah 1) motif apa saja yang terdapat pada ketiga cerita rakyat tersebut, dan 2) adakah persamaan dan perbedaan motif dalam memperteguh budaya bangsa. Tujuan penelitian ini untuk melihat motif apa saja yang terdapat pada ketiga cerita rakyat dan bagaimana perbandingan motifnya. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dan pustaka. Data yang terkumpul kemudian diedit ulang untuk keterbacaan dan terakhir analisis motif dirujuk melalui teori motif indeks yang dibuat oleh Stith Thompson. Hasil analisis data menunjukkan adanya lima motif cerita, yakni (1) Asal-usul pohon dan tanaman (A 2600—2899); (2) Bagian tubuh manusia atau hewan berubah menjadi tanaman (A 2611.0.5) dan penjelmaan manusia jadi objek lain (D200—299); (3) hukuman melanggar tabu/larangan (C900-C999); (4) menentukan masa depan; penawaran dan perjanjian (M200-M299); dan (5) muslihat/penipuan (K300-400
KARAKTERISTIK TOKOH BUNGKUN DALAM CERITA RAKYAT DAYAK NGAJU, KALIMANTAN TENGAH
This paper aimed to reveal and describe the intrinsic and extrinsic structures depicted in Bungkun story of Dayak Ngaju people, Central Kalimantan. The problem that arose in this research was limited to the analysis of Bungkun’s character. It used structuralism and oral literature theories to analyze the cultural values, belief, ingenuity, and characters’ exemplification in the story of Bungkun. This research used qualitative method and descriptive analytical techniques. It discussed the story of Dayak Ngaju folklore that brought many values of good characters, exemplification, and advices that shaped the characters of the local community better and made their personal and social life qualified. It showed that Bungkun was an ordinary human who had a unique character in living his life and ingenuity in dealing with his poverty so that Bungkun became a role model for Ngaju people
Resistensi Tokoh-tokoh Perempuan Terhadap Patriarki dalam Novel Garis Perempuan karya Sanie B Kuncoro
This article aims to reveal the meaning of the resistance movement of female characters in the novel Garis Perempuan by Sanie B. Kuncoro. Ranting, Gendhing, Tawangsri and Zhang Mey are adult women who live in the midst of modernity, but have cultural roots that can not be separated from the thick patriarchal law. Raised with different cultural backgrounds, the four characters have their own way of making efforts to reach welfare, personal freedom, and social justice that are embodied as a whole in the effort to meaning the virginity. By using the concept of criticsm of feminies literature, it can be concluded that virginity is a liquid thing that women use as a form of appreciation of their bodies so that by apreciate its virginity a woman has power over her body ownership which in culture and patriarchy law women's authority over the possessions of their bodies is often ignored. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengungkap pemaknaan atas gerakan perlawanan atau resistensi tokoh-tokoh perempuan dalam novel Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro. Tokoh Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey merupakan perempuan dewasa yang hidup di tengah arus modernitas namun memiliki akar budaya yang tidak dapat dilepaskan dari hukum patriarki yang kental. Dibesarkan dengan latar budaya yang berbeda-beda, keempat tokoh tersebut memiliki cara-cara tersendiri dalam meraih kesejahteraan, kebebasan pribadi, dan keadilan sosial yang secara keseluruhan diwujudkan dalam upaya pemaknaan terhadap virginitas. Dengan menggunakan konsep kritik sastra feminis dapat disimpulkan bahwa virginitas adalah sesuatu yang bersifat cair yang digunakan oleh perempuan sebagai bentuk penghargaan atas tubuhnya. Dengan mengapresiasi virginitasnya seorang perempuan telah berkuasa terhadap kepemilikan tubuhnya yang dalam budaya dan hukum patriarki kuasa perempuan atas kepemilikan tubuhnya seringkali tidak diindahkan