Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN MEDIA BLOG DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPOSISI SISWA
The instructional problem in writing was students’ low skills, especially in expository writing. Even, low writing skills was also influenced by students’ motivation and conventional learning media. Thus, it was necessary to use different instructional media so that students’ writing ability and motivation improved . It was an action research . It used verbal and nonverbal data analysis . Verbal data were in the form of questionnaires, interviews, and questions while the nonverbal data were in the form of an observation sheet containing students’ learning interest, students’ determination of learning, etc . The learning evaluation was taken through tests and the other . The result showed that students’ learning outcomes increased from cycle 1 with an average score of 64.05 in sufficient category to cycle 2 with an average score of 78.05 in good category. The student skill improvement in expository writing increased 14.00. In cycle 1, the level of students’ participation in the activity was 75% and in cycle 2 students’ participation was 96 .43% . The evaluation of teacher performance observation during the learning process in cycle 1 was 65% and in cycle 2 was 95%. In conclusion, the expository writing skills and students’ motivation increased in the learning using blog and constructivism approach
KEOTONOMIAN SASTRA DALAM NOVEL ASMARALOKA KARYA DANARTO
The aim of this research was to know the form or model of literature autonomy in the novel Asmaraloka by Danarto. It discussed about the literature autonomy form or model of this novel. It was qualitative descriptive and used literature review. Based on the analysis, the literature autonomy in Asmaraloka was shown in the author’s independency in creating chronic, that was plotting which was in general contradicting the reality and the story background which represented strong literature autonomy
POETIC JUSTICE DALAM KARYA-KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO: SEBUAH AJARAN MORAL DALAM MENJALANI HIDUP
Sapardi Djoko Damono or Sapardi is known as one of the greatest poets in the world of Indonesian literature whose works are full of intensity in the quest of moral conduct and moral virtue. Reading works of Sapardi parallels to read teachings of morality: of how one should live in the world with full moral responsibilities. One major issue Sapardi always tackles in his works is the notion of poetic justice. As a literary device, poetic justice always sees that the right will win in the batttle against the wrong, and eventually truth will prevail. In the perspective of Martha Nussbaum: a philosopher who believes that literature signifies important position in establishing social justice, poetic justice may function essentially as moral conduct human beings long for. The works of Sapardi will be analyzed using close reading technique as one method in literary reading and analysis. Sapardi’s works, be it his poems, lyrical proses, or short stories propose human struggles in search for truth and social justice. Using poetic justice in scrunitizing the works of Sapardi one can easily understand that in the battle between the virtue versus the vice, the virtue will win and be rewarded while the vice will be defeated and punished, and often virtue will replace vice in ironic twist. Sapardi’s works also show that in the quest of truth, sacrifice is necessary action as through sacrifice transformation from bad to good will take place. Abstrak Sapardi Djoko Damono atau yang dikenal sebagai Sapardi adalah salah satu pujangga besar yang sangat produktif dalam dunia sastra Indonesia. Membaca karya Sapardi seperti membaca pencarian moral karena karyanya, baik puisi, prosa liris, maupun cerita pendek sarat dengan ajaran moral. Salah satu isu utama yang selalu muncul dalam karya Sapardi adalah keadilan puitis, yaitu dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan pada akhirnya kebaikan dan kebenaran selalu muncul. Itulah yang dikatakan sebagai keadilan puitis (poetic justice) dalam perspektif Marta Nussbaum, seorang filsuf yang selalu menggunakan sastra sebagai sarana dalam membangun keadilan sosial. Dengan menggunakan pemikiran Nussbaum tentang pentingnya sastra sebagai pembentuk ajaran moral dan panduan moral dalam kehidupan seseorang, tulisan ini membedah karya Sapardi, baik yang berupa puisi, prosa liris, maupun cerita pendek. Terbukti bahwa karya Sapardi tidak pernah lepas dari pergulatan manusia dalam mencari kebenaran dan keadilan sosial. Dengan menggunakan metode pembacaan sastra yang dikenal sebagai teknik pembacaan mendalam (close reading technique) tulisan ini akan menggunakan perangkat sastra, yaitu poetic justice yang sering kali muncul melalui pembalikan posisi dari awal yang baik kalah dan menjadi pemenang pada akhirnya dan yang awalnya kejahatan menang tapi kalah pada akhirnya. Melalui karya-karyanya Sapardi mengingatkan kita sebagai pembaca bahwa kebenaran akan selalu menang pada akhirnya dan kebenaran membutuhkan pengorbanan karena melalui pengorbanan itulah transformasi dari yang buruk menjadi yang baik akan terjadi.
TRADISI LISAN MALE-MALE: NYANYIAN KEMATIAN DALAM MASYARAKAT CIACIA
Male-male adalah syair yang dinyanyikan sesaat setelah seorang warga yang dianggap sosok sempurna meninggal dunia. Tradisi lisan male-male itu menggambarkan penghargaan masyarakat terhadap sosok sempurna melalui ungkapan kesedihan, kerinduan, ketabahan, dan puji-pujian. Pelaksanaan male-male memiliki sejumlah fungsi, baik fungsi pribadi (penutur dan tuan rumah) maupun fungsi bagi masyarakat (warga yang melayat). Bagi penutur dan tuan rumah, tradisi itu berfungsi untuk menghibur, memberikan kepedulian sesama, menyebarkan nilai sosial, agama, dan prestise, serta mewariskan tradisi. Bagi masyarakat, male-male berfungsi sebagai sarana mengingatkan diri akan kematian, memperkukuh keimanan, serta meningkatkan empati, dan solidaritas sesama. Untuk itu diperlukan upaya pewarisan dalam menjaga keberlanjutan tradisi itu. Pewarisan formal dilakukan melalui sekolah, sedangkan pewarisan informal melalui penguatan lembaga adat
SEKUJANG DI AMBANG HILANG: USAHA PELESTARIAN SASTRA LISAN MELALUI FILM DOKUMENTER
Sekujang merupakan tradisi tahunan yang diadakan oleh masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma untuk mendoakan jemo putus (orang yang putus silislahnya, orang yang mati karena kecelakaan, orang yang mati namun tidak ditemukan mayatnya, dan lain-lain). Tradisi ini dulunya dilaksanakan tidak kurang dari tujuh desa di Kabupaten Seluma dan Kepahiang, namun saat ini hanya desa Talang Benuang saja yang melestarikannya. Penelitian ini merupakan usaha dokumentasi Sekujang sebagai sastra lisan yang terancam punah. Data mengenai sejarah, asalusul, tata cara Sekujang, dan pergeseran nilai yang terjadi dalam sekujang diperoleh melalui wawancara dengan teknik simak cakap. Selain itu juga dilakukan observasi dan dokumentasi untuk merekam dan menunjukkan kondisi sebenarnya dalam ritual Sekujang. Hasil penelitian ini berhasil menggali bahwa hilangnya adat Sekujang di beberapa desa utamanya diakibatkan oleh meninggalnya tetuo Sekujang yang membawa pengetahuan tentang tradisi ini mati bersamanya.Beberapa faktor lain seperti adanya tekanan dari pihak yang mengklaim Sekujang sebagai tindakan syirik, tidak adanya dukungan dari pemerintah, keterbatasan dana, dan persaingan dengan kebudayaan modern makin memberi dorongan bagi Sekujang menuju kepunahannya.Mengingat kondisinya yang sangat kritis, maka pelestarian melalui film dokumenter menjadi jalan keluar terbaik yang memberikan manfaat ganda. Pertama, film dokumenter menjadi upaya dokumentasi visual dan kedua film dokumenter menjadi bagian dalam upaya advokasi dan promosi pelestarian tradisi ini
EKSNOMINASI POLITIK DALAM NARASI: KONSEPTUALISASI PEMIKIRAN MITOLOGIS ROLAND BARTHES DAN IMPLIKASI METODOLOGISNYA DALAM KAJIAN SASTRA
This article deals with Roland Barthes’ mythological thinking and its methodological implication in literary studies. Its basic thinking is that in various modes of representation exist the dynamics of mythical signification using denotative signification as its basic and aims to address particular message to readers or viewers. Such signification intertwines with the complexity of discourses, histories, knowledge, and problems in the real life. Its final goal is to depoliticize and ex-nominates making something nameless dominant political interest in narrative naturally. Barthes also conceptualizes an idea on second myth that uses (the first) myth as its basis of signifying process to subvert the dominant class’ political interest. For explaining the contributions of these two mythological perspectives in literary studies, I give conceptualize method of analysis using both of them. As concluding remarks, I position Barthes’ mythological thinking as a theoretical framework which can avoid literary studies from over intervention of outside-literary factors political economy, general theories, etc. that make the studies seem losing their narrative base. Because Barthes’ perspective emphasizes on reading of narrative dynamics without negating exploration of discursive richness in signifying process, naturalization of ideological discourses, and ex-nomination of particular political interest.AbstrakTulisan ini membahas pemikiran mitologis Roland Barthes serta implikasi metodologisnya dalam kajian sastra. Inti dari pemikirannya adalah bahwa dalam beragam moda representasi berlangsung dinamika penandaan mitis yang menggunakan penandaan denotatif sebagai basisnya dan bertujuan menyampaikan pesan tertentu kepada pembaca ataupun penonton. Penandaan tersebut berjalin-kelindan dengan kompleksitas wacana, sejarah, pengetahuan, dan permasalahan dalam kehidupan nyata. Tujuan akhirnya adalah untuk mendepolitisasi dan mengeksnominasi menjadikan sesuatu tak bernama kepentingan politik dominan dalam narasi secara alamiah. Barthes juga mengkonseptualisasikan gagasan tentang mitos kedua yang menggunakan mitos (pertama) sebagai basis proses penandaan untuk mensubversi kepentingan politik kelas dominan. Untuk menjelaskan implikasi metodologis kedua perspektif mitologis tersebut dalam kajian sastra, saya mengkonseptuliasikan metode analisis dengan menggunakan keduanya. Sebagai simpulan, saya memosisikan pemikiran mitologis Barthes sebagai kerangka teoretis yang bisa menghindarkan kajian sastra dari intervensi berlebihan dari faktor-faktor di luar sastra faktor ekonomi-politik, teori-teori umum, dan lain-lain yang menjadikan kajian tersebut tampak kehilangan pijakan naratif. Karena perspektif Barthes menekankan kepada pembacaan dinamika naratif dalam kerangka penandaan tanpa mengabaikan eksplorasi kekayaan diskursif dalam proses penandaan, naturalisasi wacana ideologis, dan eks-nominasi kepentingan politik partikular.
KONFLIK KEJIWAAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KORUPSI KARYA TAHAR BEN JELLEOUN (Psychological Conflict of The Main Character in Tahar Ben Jelleoun’s Novel, Korupsi)
This study aims to describe main characters and psychological conflict experienced by the characters in “Korupsi” novel. The method used is qualitative descriptive method. Two issues are: (1) how the character of the character in “Korupsi” novel and (2) what psychological conflict experienced by the main character will be studied by combining a structural approach and psychological literature. The structural approach is used to understand the characterization aspect as one of the novel structures that discusses character and main figure’s character. The psychological literature is employed to understand psychological conflict and psychological problems experienced by the main characters. he results show that the main characters are easily tempted, inconsistent, impatient for having all his needs fulfilled. These characters makes him trapped in corruption case. The bribery money makes him in corruption trap in his office causes inevitable psychological conflicts. The main character decision to get involved in corruption case is inseparable from influence and pressure from family and his friends in his office. The action to neglect principle, integrity, and honesty that have been retained for many years causes him trapped in psychological conflicts. Psychological conflicts experienced by the main characters lead to psychological problem in the main characters, such as guilt, shame, negative hallucinations, nightmares, and desire to suicide
SANGGAR SASTRA JAWA YOGYAKARTA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI TALCOTT PARSONS
Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta is a literary group that focus on Javanese literature in D.I.Yogyakarta. The purpose of this research is to discover and explain the establishment and Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta system that is able to survive for a long time. It was given a lot of group Javanese literature in East Java, Central Java, and Yogyakarta that appear but can not last long. The analysis used is the social system theory developed by Talcott Parsons. The theory explains the four functional requirements, that is latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation as a requirement for the system to survive in a long time. Further descriptive method is used, with data collection through participant observation and in-depth interviews, and the data is written. Informants consisted of administrators and members of the group. The results of the study found that the Operasi Tertib Remaja in 1966 and the elimination of regional language lessons by the education minister of the 1970s was able to immobilize the joints of Javanese literature. Furthermore, emerging awareness group of people to maintain their identity by setting up Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. The group was able to survive by maintaining system adaptation by uniting themselves with government agencies, have short and long term goals, integrity harmonization that is able to be maintained, and renegeration pattern with internalization value and norm. AbstrakSanggar Sastra Jawa Yogyakarta merupakan sanggar sastra yang fokus pada sastra Jawa di D.I.Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah menemukan dan menjelaskan pendirian dan sistem Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta yang mampu bertahan dalam kurun waktu lama. Hal itu mengingat banyak sanggar sastra Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang muncul namun tidak dapat bertahan lama. Analisis yang digunakan adalah teori sistem sosial yang dikembangkan Talcott Parsons. Teori tersebut menjelaskan empat kebutuhan fungsional, yaitu latent pattern-maintenance, integration, goal attainment, adaptation sebagai syarat sebuah sistem untuk mampu bertahan hidup dalam kurun waktu yang lama. Selanjutnya digunakan metode deskriptif, dengan pengambilan data melalui observasi terlibat dan wawancara mendalam, serta data-data tertulis. Informan terdiri atas pengurus dan anggota sanggar. Hasil dari penelitian diketahui bahwa Operasi Tertib Remaja tahun 1966 dan penghapusan pelajaran bahasa daerah oleh menteri pendidikan era 1970an mampu melumpuhkan sendi-sendi sastra Jawa. Selanjutnya, timbul kesadaran sekelompok orang untuk mempertahankan identitasnya dengan mendirikan Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta. Sanggar tersebut mampu bertahan dengan memelihara sistem adaptasi dengan menyatukan diri dengan lembaga pemerintahan, memiliki tujuan jangka pendek dan panjang, harmonisasi integritas yang mampu dijaga, serta pola renegerasi dengan internalisasi nilai dan norma
SASTRA DAN KULINER: EVOLUSI GASTRONOMI KE GASTROSOFI DALAM TIGA CERPEN INDONESIA
“Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Smokol” menghadirkan sebuah puitika yang mendasarkan diri pada kuliner. Kopi, adonan biang bernama madre, dan sebuah tradisi makan tanggung di antara sarapan dan makan siang yang disebut smokol menjadi media yang digunakan untuk memahami hal yang lebih besar daripada kenikmatan ragawi di atas meja makan. Cerita yang pada awalnya tampak sebagai usaha untuk merayakan hidup, menemukan dan menghadirkan sajian terbaik, dan memahami jati diri personal melalui kuliner, lambat laun bergerak ke sebuah titik bernama renungan tentang keindonesiaan, dari gastronomi menjadi gastrosofi. “Filosofi Kopi”, “Madre”, dan “Smokol” menjadi semacam miniatur Indonesia. Indonesia di dalam ketiga cerpen tersebut bukan Indonesia yang mengalami keterpurukan dan serba gelap, melainkan Indonesia dengan harapan lebih baik karena memiliki Ben, Tansen, dan Batara sebagai generasi muda urban yang semangat globalnya tetap memiliki kesadaran untuk menerima, menggali, dan memelihara nilai filosofis warisan leluhur
N. RIANTIARNO, TEATER KOMA, DAN REFLEKSI POLITIK DALAM KARYA SASTRA
This paper was originally the result of a research discussing the syntagm “politics in literature” which reflected a certain relationship between politics as a form of collective practice and literature as a historical regime of the art of writing. The phenomena of N. Riantiarnno as a litterateur, Teater Koma as a theatre institution and Trilogy of Cokroach Opera as a literature piece show a certain aesthetic and politics elements hidden inside the literatures as the reflection of society which is influenced by its history and politics state. On the other hand, the relation between litterateurs, the institution where they worked, the texts they created and the consuming societies indicates that the production and consumption of literature pieces are not separated from practical politics practice. AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian yang berangkat dari sintagma "politik dalam karya sastra" yang merefleksikan hubungan tertentu antara politik sebagai bentuk praktik kolektif dan sastra sebagai rezim historis dari seni menulis. Penelitian ini menggunakan prinsip analisis isi kualitatif dalam kerangka analisis wacana kritis. Di dalam tulisan ini diungkapkan hubungan antara fenomena N. Riantiarno sebagai sastrawan, Teater Koma sebagai institusi teater, dan teks drama sebagai karya sastra memperlihatkan elemen estetik dan politik tertentu yang tersembunyi di dalam karya sastra sebagai refleksi masyarakat yang dipengaruhi kondisi sejarah dan politiknya. Di sisi lain, hubungan sastrawan, institusi tempat ia berkarya, teks yang dihasilkannya, dan masyarakat pengonsumsi karya tersebut memperlihatkan bahwa pemroduksian dan pengonsumsian sebuah karya sastra pun taklepas dari aspek politik praktis.