Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
KALIMAT SYAHADAT DALAM MANTRA MELAYU DI KETAPANG: STRATEGI ISLAMISASI PENDUDUK LOKAL
Mantra merupakan peninggalan zaman animisme dalam kehidupan orang Melayu. Walaupun, mantra merupakan tradisi animisme tetapi ada ajaran dan unsur-unsur Islam dalam mantra. Mantra-mantra pada masyarakat Melayu Ketapang ini dikaji untuk melihat kandungan kalimat syahadat dalam pertuturannya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan kalimat syahadat yang muncul dalam mantra-mantra Melayu di Kabupaten Ketapang sebagai sebuah strategi dalam Islamisasi masyarakat Kalimantan Barat. Mantramantra yang terkumpul ditranskripsi secara linguistik dengan sistem International Phonetic Alphabet (IPA). Penelitian kualitatif terhadap mantra-mantra yang ada ini kemudian dianalisis dengan melihat kata-kata yang mengandung kalimat syahadatnya dengan perspektif teori keislaman. Hasilnya, terdapat sebuah strategi Islamisasi pada masyarakat Melayu di Ketapang melalui mantra. Hal ini tampak dalam pelafalan kalimat syahadat pada mantra ilmu sejuk dan panas. Dalam mantra ilmu sejuk kalimat syahadat dijadikan kunci bagi mantra pengobatan dan pengasihan sedangkan dalam mantra ilmu panas kalimat syahadat dijadikan sihir untuk mantra pelet dan kekuatan
ORIENTASI PENELITIAN PENERJEMAHAN MUTAKHIR DI INDONESIA DALAM TESIS DAN DISERTASI
Kajian penerjemahan di Indonesia tampaknya masih terfokus pada orientasi tertentu saja. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang orientasi penelitian penerjemahan di Indonesia. Pendekatan kualitatif-deskriptif, metode survei, dan teknik analisis dokumen digunakan dalam penelitian ini. Data yang disurvei mencakup tesis dan disertasi, yaitu penelitian-penelitian penerjemahan Inggris--Indonesia yang ditulis dalam kurun waktu tujuhtahun terakhir.Penelitian ini menemukan bahwa penelitian karya terjemahan berupa tesis dan disertasi cenderung mengarah pada produk karya terjemahan. Penelitian yang mengarah pada proses dan fungsi tampaknya belum banyak dieksplorasi. Sebagian besar data menunjukkan bahwa penelitian untuk tugas tesis dan disertasi terhadap karya terjemahan merupakan penelitian-penelitian antardisiplin. Akan tetapi, para peneliti masih banyak berorientasi pada kolaborasi antara teori penerjemahan dan teori linguistik serta antara teori penerjemahan dengan teori ideologi (foreignisasi/domestikasi). Sehubungan dengan metodologi, penelitian ini menemukan bahwa penelitian penerjemahan untuk tesis dan disertasi cenderung merupakan penelitian kualitatif. Sebagian besar analisis data dilakukan dengan metode analisis dokumen karya terjemahan. Pendekatan kuantitatif, komparatif, dan eksperimental tampaknya kurang diminati oleh peneliti karya terjemahan. Akan tetapi, penelitian ini belum dapat menyimpulkan ranah yang cenderung menarik perhatian para peneliti karya terjemahan untuk tugas tesis atau disertasinya
TINDAK TUTUR DIREKTIF BAHASA INDONESIA PADA POSTER KESEHATAN DI PUSKESMAS KOTA BANJARBARU
The objective of this study is to (1) describe the types and characteristics of directive speech act marker on health posters at Community Health Center of Banjarbaru City and (2) describe the meaning of imperative sentences in health posters at Community Health Center of Banjarbaru City. This research is descriptive qualitative. The research data are in the form of written speech on the poster published by the Community Health Center of Banjarbaru City. The data sources are in the form of posters published or printed by the Community Health Center of Banjarbaru City. Data collection technique is taken by using documentation and writing techniques. The result shows that (1) the types of directive speech act found on health posters published by Community Health Center of the Banjarbaru City, are requestives with marker verb + kan, verb + i, and verb + lah, question with the marker when (kapan), prohibition with marker dilarang, requerement with the marker verb + kan, verb+ lah, and verb + i, and advisory with marker ayo and mari. (2) the forms of the imperative meaning on the health poster published by Community Health Center of the Banjarbaru City contain of command imperative, appeal imperative, urging imperative, inuitation imperative, and prohibition imperative
Bahasa Indonesia Lisan dan Tulisan
Bahasa terbentuk dalam konteks sosial yang terjadi dari konteks situasi, budaya dan ideologi. Konteks situasi mencakup mode atau medium realisasi bahasa yang dapat berupa medium lisan atau tulisan. Hubungan bahasa dengan konteks sosial adalah hubungan semiotik konstrual: konteks sosial menentukan dan ditentukan bahasa. Dengan pengertian ini mode atau medium lisan dan tulisan menentukan realisasi linguistik yang dikenal sebagai varitas fungsional bahasa (functional variety). Tulisan ini mengurai varitas fungsional bahasa lisan dan tulisan yang mencakup varitas leksikal dan tata bahasa.Kata Kunci: bahasa lisan, tulisa
Opera Batak Sampuraga: Penciptaan Seni Opera Batak
Opera Batak Sampuraga is a play that began from the experience of seeing a site Sampuraga Hot Water Pond, located in the area Sirambas Mandailing. and stories are told from the mouth to mouth (oral literatur). Then do the rearrangement of both characterizations and events that happen by using some structures of modern theater of Indonesia, because Batak Opera has some similarities with the structure of modern theater plays Indonesia. Opera Batak Sampuraga as the field of art creation, experiencing a touch of creativity include the presence of various elements of art from other regions. Sampuraga play is a human obsession and ambition in reaching goals, which requires sacrifice, although eventually a curse that will befall. Opera Batak similar expression pattern play in the play-the play is too modern Indonesian theater-style realism with representation approach is realized with the flowing fabric of conflict
PROSES MORFOLOGIS VERBA BAHASA WARINGIN (Morphological Process of Verb in Waringin Language)
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses morfologis verba dalam bahasa Waringin. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori lingusitik struktural, yaitu bahasa dideskripsikan berdasarkan ciri khas yang dimiliki oleh bahasa tersebut. Selain itu, beberapa konsep mengenai verba dan proses morfologis juga digunakan sebagai landasan teori dalam penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2016, dari tanggal 15 sampai 21 Mei 2016. Data penelitian berupa bahasa lisan atau tuturan BW yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di rumah, di tempat ibadah, dan di pasaryang dituturkan oleh penutur asli bahasa Waringin di Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses morfologis verba dalam bahasa Waringin dilakukan melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Afiks yang dapat membentuk verba dalam bahasa Waringin adalah prefiks ma-, ba-, te-/ta-, di-; sufiks -kan, -i; dan konfiks ma-kan, ba-an, ma-i, dan di-i. Proses reduplikasi dalam membentuk verba dilakukan dengan mengulang seluruh kata dan mengulang dengan pembubuhan afiks. Proses reduplikasi memberikan makna pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan berkali-kali atau memiliki banyak benda yang dinyatakan pada bentuk dasar. (This study is aimed at describing the morphological process of verbs in Waringin language. This research used linguistics structural theory. In this theory, language was described according to the characteristics possessed by the language. Besides, some concepts about verbs and morphological processes are also used as a theoretical basis for this study. The research data is Waringin language in daily conversation spoken by native speakers of Waringin language in Kotawaringin Hulu Village, Kotawaringin Lama Sub- District, Kotawaringin Barat District. The results showed that the morphological processes of verbs in Waringin language are formed through the process of affixation, reduplication, and compounding. Affixes that form verbs in the Waringin language are prefixes ma-, ba-, te-/ta-, di-; suffixes -kan, -i; and confixes ma-kan, ba-an, ma-i, and di-i. Reduplication process in Waringin language can be classified into full reduplication or repeating the whole word and reduplication with affixes.
PEMERTAHANAN SASTRA LOKAL DAN SASTRA NASIONAL MELALUI PEMBELAJARAN SASTRA BANDINGAN
Abstract :Sastra bandingan (Comparative literature) is a part of the domain or clumps of subjects in the field of literary expertise. This subject has long existed at the college as part of a study or a critical review of the literature. With a variety of approaches, research or study comparative literature today need to adjust to the times. Although still reviewing literary texts, but comparative literature still has to advance current methods. Comparative literature not only compare the intertextual literatur, but also to compare literary texts with nothing happening or are out of text and literary form. In this way, the study of comparative literature may be an attempt to maintain the existence of a national literature and local literature of siege and invasion of world literatur. Learning approach can be adapted to the curriculum-based Indonesian National Qualifications Framework (INQF) newly implemented government.Keywords : comparative literature, local literature, national literature, literary learningAbstrak :Sastra bandingan merupakan bagian dalam ranah atau rumpun mata kuliah keahlian di bidang kesastraan. Mata kuliah ini sudah lama ada pada perguruan tinggi sebagai bagian dari kajian atau telaah kritis terhadap karya sastra. Dengan berbagai pendekatan, penelitian atau kajian sastra bandingan saat ini harus mengalami penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Meski tetap mengkaji teks-teks sastra, namun sastra bandingan tetap harus mengedepankan metode terkini. Sastra bandingan tidak hanya membandingkan antarteks sastra, tetapi juga membandingkan teks sastra dengan apa-apa yang terjadi atau terdapat di luar teks dan bentuk sastra. Dengan begini, maka pembelajaran sastra bandingan dapat menjadi satu upaya untuk mempertahankan keberadaan sastra nasional dan sastra lokal dari kepungan dan serbuan sastra dunia. Pendekatan pembelajarannya bisa disesuaikan dengan kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang baru diterapkan pemerintah.Kata kunci : sastra bandingan, sastra lokal, sastra nasional, pembelajaran sastr
KONGRES BAHASA INDONESIA DARI MASA KE MASA
Salah satu butir Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah Bahasa Indonesia. Ikrar ini diteguhkan sebagai satu pilar kebanggaan nasional dalam meraih kemerdekaan bangsa. Bahasa Indonesia benar-benar disadari sebagai lambang jati diri bangsa dan menjadi alat pemersatu berbagai kelompok etnis ke dalam satu kesatuan bangsa. Sejalan dengan fungsinya sebagai pemersatu, Bahasa Indonesia yang dianggap belum teratur dan belum tersebar secara luas memerlukan pedoman yang disepakati bersama oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai pemakai Bahasa Indonesia. Kesepakatan itu kemudian diperbincangkan di dalam suatu Kongres Bahasa Indonesia
BAHASA DAN PERHATIAN PEMERINTAH (Satu Upaya Memperkukuh Jati Diri Bangsa)
Masalah urusan kebahasaan di Indonesia belumlah berhasil, bahkan belakangan ini ada indikasi kecenderungan lebih memperihatinkan. Hal ini diperparah dengan hadirnya era globalisasi, di mana masalah informasi begitu deras memasuki kehidupan masyarakat. Informasi ini masuk lewat pemakaian bahasa, khususnya bahasa Asing. Bukannya, bangsa kita alergi terhadap bahasa Asing, akan tetapi harus ada porsi dan aturan pemakaiannya. Janganlah kita lebih mendahulukan bahasa Asing daripada bahasa Indonesia. Kondisi lain saat ini, yaitu adanya persaingan yang ketat bangsa-bangsa di dunia di era globalisasi. Hal itu akan memudarkan identitas keindonesiaan yang kokoh membangun solidaritas keindonesiaan.Kata Kunci : bahasa Indonesia, jati diri bangs