Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Stratifikasi Sosial dalam Bahasa Indonesia

    Get PDF
    Abstrak :Pertumbuhan bahasa Indonesia tampak sudah semakin matang. Dia telah berhasil menjadi bahasa kemajuan sosial sebagaimana bahasa Belanda pada zaman kolonial. Dia pun telah pula mampu menjadi warna perluasan komunikasi. Menurut Khaidir Anwar (1987:57-58), istilah-istilah yang terdapat di dalamnya pun sudah bersifat lebih teknis, slogan-slogannya sudah lebih abstrak. Tetapi pertumbuhan bahasa Indonesia dewasa ini lebih ditentukan oleh kalangan elite masyrakat Indonesia. Pada saat yang sama, keterlibatan massa dalam pengemvbangan bahasa Indonesia jadi agak menurun. Elite masyarakat ini tampaknya memiliki kecenderungan untuk tidak lagi menggunakan kata-kata yang sudah merakyat, seperti pakaian, buta huruf, dan ahli, misalnya, melainkan menggantinya dengan busana, niraksara, dan pakar atau kata-kata asing. Bahasa-bahasa ini mengasosiasikan lapisan sosial yang lebih tinggi, dan karenanya asing bagi massa.KATA KUNCI: stratifikasi sosial, bahasa

    PEREMPUAN DALAM SWARA SESTRA DAN FAKTA PERKAWINAN ENDOGAMI ARISTROKAT JAWA

    Get PDF
    Abstract: In general, Javanese women are well-imagery and often raised as a form of teaching in literature. However, in the Swara Sěstra text, it is actually metaphorically as a senthe leaves, the allegory of young women who being a co-wife to older women. This issue becomes complicated when the situation occurs in the aristocratic environment of Java. By the discipline of philology with methods of text editing and translation, the phenomenon of women in the text of Swara Sěstra will be expressed. The semiotic study of text through heuristic and hermeneutical readings then becomes an attempt at interpreting the text. At the end of the discussion, it is known that female allegory as a senthe refers to the image of poor Javanese women. Behind the meaning of the text is then found also evidence that this female allegedly dragged historical facts about the rampant endogamy marriage in the nobility. Even the behavior repeatedly happen, especially in the inner court environment.Abstrak: Pada umumnya, perempuan Jawa bercitra baik sehingga kerap dimunculkan sebagai bentuk ajaran dalam sastra. Akan tetapi, dalam teks Swara Sěstra justru dimetaforakan sebagai daun senthe, yaitu alegori perempuan muda yang dimadu dengan perempuan yang lebih tua. Persoalan ini menjadi rumit ketika keadaan tersebut terjadi di lingkungan aristokrat Jawa. Berbekal disiplin filologi dengan metode penyuntingan teks dan penerjemahan, fenomena perempuan dalam teks Swara Sěstra akan diungkapkan. Telaah teks secara semiotik melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik kemudian menjadi upaya dalam menafsirkan teks. Pada akhir pembahasan, diketahui bahwa alegori perempuan sebagai senthe merujuk pada citra perempuan Jawa yang tidak baik. Di balik pemaknaan teks tersebut kemudian ditemukan pula bukti bahwa pengalegorian perempuan ini menyeret fakta sejarah tentang maraknya perkawinan endogami di lingkungan bangsawan. Bahkan perilaku tersebut merupakan hal yang subur, terutama di lingkungan dalam tembok istana

    PERSPEKTIF BOURDIEU PADA POLA INTERRELASI PADA EKSISTENSI LENGGER LANANG LANGGENG SARI DALAM PERTUNJUKAN SENI DI BANYUMAS

    No full text
    Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini.Penelitian ini berjudul Perspektif Bourdieu pada Pola Interrelasi pada eksistensi Lengger Lanang Langgeng Sari dalam Pertunjukan Seni di Banyumas bertujuan untuk mengungkap pola interrelasi mendukung eksistensi Lengger Lanang di Banyumas. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan teori Bourdieu untuk menganalisis fenomena ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arena, modal, habitus, dan lintasan adalah unsur-unsur yang saling terkait yang mendukung eksistensi lengger lanang hingga saat ini. Namun, bidang ini menunjukkan sebagai pemantik munculnya kembali Komunitas Lengger Lanang Langgeng Sari dalam seni pertunjukan Banyumas. Lebih jauh, modal diakui sebagai modal budaya dan simbolik di mana mereka dikelilingi oleh seniman tradisional dan pemerintah yang mendukung mereka. Modal simbolis juga mengarah pada penerimaan masyarakat untuk keunikan. Sementara, habitus adalah keterampilan lengkap setiap anggota di masyarakat yang mengikat mereka dalam harmoni. Akhirnya, lintasan ini didefinisikan sebagai penerimaan lengger sepenuhnya karena Lengger dikaitkan dengan Banyumas pada pekerja seni lainnya di Banyumas ini

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BABAD TANAH JAWA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam teks Babad Tanah Jawa.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif . Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik noninteraktif. Teknik pengumpulan data noninteraktif dengan melakukan pembacaan secara intensif dari babad dan melakukan pencatatan secara aktif dengan metode content analysis. Content analysis atau analisis isi dipergunakan untuk menganalisis dokumen sehingga diketahui isi dan makna yang terdapat dalam dokumen tersebut. Dalam teks Babad Tanah Jawa terdapat tiga nilai pendidikan karakter yang dominan. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut diantaranya (1) Nilai Karakter Religius yang digambarkan melalui sikap yang sesuai dengan agama yang dianut, (2) Nilai Karakter Semangat Kebangsaan yang digambarkan melalui semangat mengusir penjajah di tanah Mataram, dan (3) Nilai Karakter Cinta Tanah Air yang digambarkan melalui kegigihan menjaga tanah kerajaan agar tidak diambil oleh kerajaan lain

    Ranah, Volume 6 Nomor 1

    Get PDF

    IMPLEMENTASI NILAI BUDAYA SARAPATANGUNA DALAM KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DI KOTA BAUBAU, PROVINSI SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan implementasi nilai-nilai budaya sarapatanguna dalam kepemimpinan pemerintahan di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai budaya sarapatangunadalam kepemimpinan pemerintahan di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu: 1) di Kota Baubau telah diimplementasikan nilai-nilai budaya malu melalui ungkapan pomae-maeaka, 2) di Kota Baubau telah diimplementasikan nilai-nilai budaya saling memelihara melalui ungkapan popia-piara, 3)di Kota Baubau telah diimplementasikan nilai-nilai budaya saling menyayangi melalui ungkapan poma-masiaka, serta 4)di Kota Baubau telah diimplementasikan nilai-nilai budaya saling menghargai melalui ungkapan poangkaangkataka. Nilai-nilai budaya sarapatanguna tersebut telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari serta telah di implementasikan dalam kepemimpinan pemerintahan di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, sehingga tercipta suasana harmonis, aman, tentram dan damai

    Daftar Isi

    Get PDF

    PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA CAPRES DAN CAWAPRES R.I.

    No full text
    Bahasa Indonesia yang digunakan Capres sangat bervariasi, baik ragam bahasa resmi maupun bahasa percakapan. Ragam bahasa resmi digunakan oleh semua capres, sehingga memberi simpulan semua capres merupakan calon pemimpin yang menjunjung bahasa persatuan. Dengan demikian, presiden pilihan rakyat tersebut dapat memperlihatkan wibawa bangsa Indonesia dalam komunikasi antaretnik dan antarbangsa. Bahasa Indonesia yang digunakan cawapres tidak jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan capres. Kesalahan pelafalan, penggunaan kata tidak baku, dan kemubaziran kata-kata masih ditemukan dalam berita, hasil wawancara, dan dialog yang diadakan Komisi Pemilihan Umum. Dengan demikian, usaha untuk menjunjung bahasa persatuan masih memerlukan usaha yang terarah dan terencana

    Keantoniman

    Get PDF
    Bentuk-bentuk yang selama ini dianggap sebagai antonim ternyata dapat dipilah-pilah yang mana sebenarnya antonim dan mana yang tergolong komplementer, kesebalikan, dan arah. Dan, antonim tidak sama dengan pertentangan makna atau lawan kata sebagaimana sering dipakai pada kebanyakan buku semantik.Kata Kunci: antonim, leksika

    REDUPLIKASI DALAM BAHASA ANGKOLA MANDAILING

    Get PDF
    The purpose of this study was to examine reduplication in Angkola Mandailing language using the Theory of Generative Morphology related to reduplication suggested by Simatupang (1983) and supported by Ramlan (2001) and Chaer (2008). The data for this study were a number of morphemes in Angkola Mandailing language containing the element of reduplication. The oral data were obtained from various conversations occured in the Angkola Mandailing community and several informants, while the written data were obtained from the literatures written in Angkola Mandailng language, dictitonary and scientific writtings discussing about Angkola Mandailing language. The result of this study showed that the types of reduplication in Angkola Mandailing language are as follows. First, twowenteen types of reduplication are found in Angkola Mandailing language. Second, the contexstually it is found the meaning of these types of reduplication Independent Context and Dependent Context in the Angkola Mandailing language

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇