Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Identitas Jati Diri dan Daya Saing Bangsa Indonesia melalui Pemakaian Bahasa Indonesia
Pembangunan Bahasa Indonesia sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan secara berkelanjutan dan bertujuan untuk turut mewujudkan peningkatan jatidiri serta daya saing masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kerjasama PUSAT BAHASA dan unit di daerah-daerah, Perguruan Tinggi, sekolah dibangun dengan strategi-strategi bahu membahu dapat dirasakan sebagai upaya untuk pengembangan bahasa nasional. Pengaturan atau regulasi-regulasi dalam kerangka pengembangan oleh pemerintah perlu dipercepat untuk menciptakan iklim ketaatazasan dan hukum yang mendorong berkembangnya Bahasa Indonesia. Fasilitas-fasilitas pendukung, pengembangan dukungan, ipteks, metode yang memadai dan maju, membangun data based yang tersambung secara online.Kata Kunci : identitas jati diri, pembangunan, bahasa Indonesi
KOSAKATA SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL SUNDA: KAJIAN STRUKTUR DAN MAKNA
Identity of Indonesia as agrarian country begins fading. A lot of the traditional farmers change their job to industrial sectors then impacting on behavior patterns of society to the environment and reducing the knowledge and skills in the traditional farming. The issues examined are the vocabulary of Sundanese traditional agricultural systems by using study the structure and semantics. The method used in this research is a qualitative descriptive method. This research applies some theories from Djajasudarma (2009 and 2013), Kridalaksana (2005), and Ramlan (1991). The results of this study that a category of vocabulary of Sundanese traditional agriculture systems divide into four classes, verbs and verbal, nouns and nominal, numeralia, derivative formand adjectives. The structure divides into two forms; base form and derivative form. Derivative form has four types, affixation, reduplication, acronym, and the combined of word. The meaning of vocabulary referring to tools and equipment, cultivation activities, circumstances and conditions of paddy, planting, place and crock, time, traditional ceremonies, community leaders’ rice pests, and size or dosage.ABSTRAKIdentitas Indonesia sebagai negara agraris mulai luntur. Tidak sedikit petani tradisional beralih pekerjaan ke sektor industri sehingga berdampak pada pola perilaku masyarakat terhadap lingkungan serta mengikis pengetahuan dan keterampilan dalam tata cara bertani tradisional. Masalah yang diteliti adalah kosakata sistem pertanian tradisional berbahasa Sunda dengan menggunakan kajian struktur dan makna. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan yaitu teori Djajasudarma (2009 dan 2013), Kridalaksana (2005), dan Ramlan (1991) . Berdasarkan penelitian, diketahui empat kelas kata yang ditemukan, yaitu verba(l), nomina(l), numeralia, dan adjektiva. Struktur kosakata ada dua bentuk, yaitu bentuk dasar dan turunan. Bentuk turunan ada empat, yaitu berdasarkan afiksasi, reduplikasi, akronim, dan gabungan kata. Makna kosakata mengacu pada peralatan dan perkakas, aktivitas penggarapan, keadaan dan kondisi padi, proses penanaman, nama tempat dan wadah, nama waktu, upacara tradisional, tokoh masyarakat, hama padi, serta ukuran atau takaran
PERMASALAHAN PENULISAN SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA
Sejarah kesusastraan Indonesia modern sering dianggap dimulai dari masa roman Balai Pustaka (1920~). Namun, sedikit perhatian yang menjelaskan proses dari sastra tradisional menuju sastra modern. Secara turun-temurun, dikenal konvensi sastra tradisional macam pupuh, pantun, sureq, kakawin, babad, wawacan yang seringkali ditulis dalam naskah-naskah kuno sebagai tradisi tata tulis tradisional. Namun, dari mana datangnya sastra modern sebagai bentuk tulisan (genre) baru apabila tidak didahului oleh karya-karya yang sebelumnya. Maka, perlu peninjauan karya-karya saduran cerita Eropa yang diserap oleh bangsa Indonesia pada akhir abad ke-19 yang seringkali ditulis dalam buku-buku yang masih menggunakan aksara daerah (vernacular script). Untuk itu, penelitian ini melacak bagaimana sejarah sastra Indonesia dituliskan dengan menelusuri buku-buku sejarah sastra Indonesia yang pernah tebit. Dengan mengetahui bagaimana sejarah sastra Indonesia dituliskan, kami akan menguji keajegan historiografi sejarah sastra Indonesia dengan data-data terbaru khususnya mengenai karya-karya sastra sebelum masa Balai Pustaka. Dengan demikian penelitian ini menawarkan alternatif historiografi sastra Indonesia.(The history of modern Indonesian literature often considered to start from the Balai Pustaka (1920~) romance period. However, little attention explains the process from traditional literature to modern literature. From generation to generation it is recognized the traditional literary conventions of pupuh, pantun, sureq, kakawin, babad, wawacan, etc. which are written in ancient texts as traditional literary tradition. However, from whence comes the modern literature as a new form of writing (genre) if not preceded by previous works. Thus, it is necessary to review the works of adaptations of European stories absorbed by the Indonesian people at the end of the 19th century which is often written in books that still use local script (vernacular script). To that end, this research traced how the history of Indonesian literature is written by tracing the books of history of Indonesian literature ever published. By knowing how the history of Indonesian literature is written, we will examine the historiography of Indonesian literary history with the latest data especially on literary works prior to Balai Pustaka. Thus, this study try to offer an alternative to Indonesian literary historiography.)
OKA RUSMINI MENGKRITIK TRADISI BALI DALAM NOVEL: TARIAN BUMI, KENANGA, DAN TEMPURUNG
Novel Oka Rusmini yang berjudul Tarian Bumi (2000), Kenanga (2003), dan Tempurung (2010) adalah tiga karya yang memiliki tema sentral penggugatan terhadap budaya Bali tradisional, khususnya dominasi patriarki dalam keluarga Bali. Ketiga novel ini menampilkan tokoh utama perempuan sebagai subordinat dalam budaya Bali tradisional. Penggugatan tersebut disampaikan dalam bentuk naratif dan dialogis dengan membicarakan identitas, realitas, dan posisi perempuan dalam struktur masyarakat Bali. Ketiga novel ini akan dibahas dengan wacana feminisme kultural yang fokus pada isu-isu kesetaraan hak antara lelaki dan perempuan dalam bingkai budaya dan analisis wacana. Berdasarkan hasil pembacaan kritis dengan pendekatan feminisme cultural tersebut diperoleh kesimpulan bahwa perempuan Bali melalui tokoh utama dalam ketiga novel tersebut berupaya melakukan resistensi terhadap dominasi patriarki yang berlaku terhadap diri mereka
Novel Senja di Jakarta Karya Mochtar Lubis, MENGUAK PERSEKONGKOLAN ELITE POLITIK INDONESIA
Novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis pada hakikatnya menguak persekongkolan elite politik yang mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum. Persekongkolan terjadi di antara para politisi, pemuda terpelajar, pengusaha, dan pegawai negara. Peristiwa nasional seperti inilah yang melahirkan kebijaksanaan pemerintah yang bersih dari kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) pada era reformasi sekarang. Padahal, peristiwa dalam Senja di Jakarta terjadi pada pemerintahan Orde Lama. Hal ini memberi nilai tambah bagi kekuatan isi novel karya Mochtar Lubis ini. Secara tekstual, novel ini menampilkan penggalan-penggalan cerita dengan dua varian tetap. Varian pertama menampilkan Saimun dan kawan-kawan sebagai wong cilik yang berpotensi menjadi pengangguran, perusuh, dan penjahat. Varian kedua menampilkan Suryono dan kawan-kawan sebagai elite politik yang memiliki latar belakang dan perilaku berbeda tetapi mengaku bertujuan sama: memajukan bangsa dan negara Indonesia. Kedua varian ini berjalan sendiri-sendiri, kecuali ketika wong cilik menjadi penghambat elite politik atau elite politik memerlukan kekuatan massa. Semua itu hanya terjadi untuk kelancaran kepentingan pribadi dan kelompok elite politik, dengan wong cilik tetap miskin
Nada Dasar sebagai Pemarkah Sosial Penutur Bahasa Melayu Deli
Makalah ini akan membicarakan tentang nada dasar penutur bahasa Melayu Deli berdasarkan variasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mencari nada dasar yang menandai kelompok-kelompok sosial dalam bahasa Melayu Deli.Kajian ini bermula pada pengukuran nada dasar tuturan bahasa Melayu Deli yang diikuti kajian melihat kemaknawian ciri-ciri itu sebagai pengelompok kelas sosial.Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan teori-teori fonetik akustik, frekuensi, intonasi, yang berhubungan dengan analisis penelitian ini, juga digunakan pendekatan fonetik eksperimental untuk menganalisis penelitian ini. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori diglosia, yang berhubungan dengan stratifikasi sosial dalam bahasa Melayu Deli. Penelitian ini memperlihatkan nada dasar menandai kelompok-kelompok sosial tertentu dalam bahasa Melayu Deli.Kata Kunci: nada dasar penutur, Melayu Deli, pemarkah sosia