Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA COMPACT DISC INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUISI DENGAN MODEL SELF DIRECTED LEARNING UNTUK KELAS XII SMK NEGERI 14 SAMARINDA
Product development of interactive compact disc media in reading poetry learning with self directed learning model for class XII of SMK Negeri 14 Samarinda is highly recommendedto be used as an innovation and improve the quality of learning. This study aims to determinethe process of developing an interactive compact disc media and reveal the quality of products in the form of validity, attractiveness and effectiveness of the use of interactive media product development compact disc in reading poetry learning with self directed learning model. This research uses Research & Development (R & D) approach. The results of this study mention the quality of products through the assessment of material experts mentioned 92%, designers oflearning mentions 92.8%, linguists mention 87.25 and media experts 1 mentions 90.6% and media expert 2 mentions 94.6%. The results of the assessment through APKG I and II with the achievementof 92 - 91.66 and 91.96 - 91.07 are in the range 75.01% - 100.00%, without revision, enter the categoryis very valid. Product attractiveness through small group trial with 88.0% percentage and large group trialwith percentage of 87,96% , entered very interesting category. The effectiveness of the product through student activity with the percentage of 85.51% enter the category very active (effective
KEDUDUKAN DAN FUNGSI SATUAN LINGUAL /Q/, /N/, /ÈN/, /ÈNG/, DAN /S/ DALAM BAHASA SAMAWA DIALEK TONGO SUBDIALEK LEBANGKAR
Bahasa Samawa varian Lebangkar termasuk salah satu varian subdialek dari dialek Tongo. Di antara sekian dialek dalam bahasa Samawa belum dijumpai satu dialek pun yang memiliki sufiks/akhiran dalam pembentukan kata. Bertolak dari fenomena tersebut, peneliti mencoba melakukan pengamatan terhadap Subdialek Lebangkar. Dari pengamatan yang peneliti lakukan, peneliti menyadari bahwa subdialek tersebut ternyata memiliki sufiks/akhiran. Satuan lingual yang berkedudukan sebagai sufiks dalam subdialek ini dicurigai pula memiliki kedudukan lain sehingga peneliti merasa tertarik mengadakan pengkajian lebih jauh terhadap kedudukan dan fungsi beberapa satuan lingual yang dicurigai sebagai akhiran yang dimaksud. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sufiks yang ada dalam bahasa Samawa Subdialek Lebangkar dan kedukan lain yang diemban oleh satuan lingual yang diklasifikasi sebagai sufiks tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cakap dengan teknik cakap semuka. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik sisip dan teknik ganti. Hasil analisis data menunjukkan bahwa sufiks dalam bahasa Samawa Subdialek Lebangkar terdiri atas dua macam, yakni {-q} dan {-n}. Pada sisi lain satuan lingual /n/ yang memiliki dua varian berupa /n dan en/ berkedudukan sebagai kata ganti milik yang berbentuk enklitik. Di samping itu, satuan lingual /s/ berkedudukan sebagai kata ganti milik
KLASIFIKASI DAN ANALISIS KLAUSA BAHASA CULAMBATU
Kajian dalam penelitian ini mengambil bidang sintaksis. Kajian sintaksis dalam penelitian ini difokuskan pada jenis klausa dan analisis klausa bahasa Culambatu. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi dan menganalisis klausa bahasa Culambatu. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sinkronis yang berusaha mendeskripsikan dan memerikan jenis dan struktur klausa bahasa Culambatu yang dipaparkan secara kualitatif. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah berdasarkan unsur internnya, klausa bahasa Culambatu memiliki struktur subjek + predikat, struktur predikat + subjek, dan struktur yang tidak berunsur subjek. Selain itu, dalam bahasa Culambatu juga dikenal klausa positif dan negatif. Berdasarkan kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi predikat ditemukan klausa nominal, klausa verbal, klausa numeral, klausa preposisional, dan klausa adjektival. Dalam analisis klausa bahasa Culambatu berdasarkan fungsi unsur-unsurnya terdiri atas unsur subjek dan predikat, objek dan pelengkap, dan keterangan. Berdasarkan kategori kata atau frasa yang menjadi unsurnya, dapat dikemukakan bahwa klausa bahasa Culambatu unsur subjeknya selalu terdiri atas kata atau frasa yang termasuk kategori nomina; unsur predikat dapat terdiri atas kata atau frasa kategori verba, nomina, adjektiva, numeralia, preposisi, dan adverbia. Makna yang terkandung dalam pengisi unsur predikat adalah makna ‘perbuatan’, ‘keadaan’, ‘keberadaan dan kejadian’, ‘pengenal’, ‘jumlah’ dan ‘pemerolehan’
THE UNIQUENESS OF PAMBIWARA`S LANGUAGE IN KAHIYANG AYU AND BOBBY NASUTION`S WEDDING CEREMONY IN SURAKARTA (Kekhasan Bahasa Pambiwara dalam Upacara Pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Surakarta)
The aim of this research is to describe the typicality and uniqueness of master of ceremony ‘pambiwara`s’ language in the panggih temanten procession of Kahiyang Ayu and Bobby Nasution`s wedding ceremony in Surakarta. This research is a qualitative- descriptive with a stylistic approach. The data resources are the text of pambiwara`s speech in the panggih temanten procession of Kahiyang Ayu and Bobby Nasution`s wedding ceremony. The research data are an orthographic transcription of pambiwara`s speech, which is broadcasted live by national televisions. The scrutinizing technique was used to collect the information by scrutinizing the language use of pambiwara. In this context, scrutinizing techniques consist of extracting the uniqueness of language use, encompassing the uniqueness of speech sound and the typicality of morphology in the language of pambiwara. The data was then analyzed through scrutinizing technique and note-taking technique. The result of the research shows that pambiwara in the panggih temanten procession of Kahiyang Ayu and Bobby Nasution`s wedding ceremony has an aesthetic language use, which accentuates on the uniqueness and the typicality of speech sound and morphologic of language. (Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kekhasan bahasa pada bahasa pewara ‘pambiwara’ dalam upacara panggih temanten Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Surakarta. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Sumber data data tertulis yang berupa satu teks ‘pambiwara’ dalam upacara panggih temanten Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Surakarta. Sumber data tersebut berupa sumber data lisan yang disampaikan oleh ‘pambiwara’ yang berasal dari informan. Data berupa transkipsi ortografis ‘pambiwara’ dalam upacara panggih temanten Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Surakarta yang disiarkan langsung di TV nasional. Teknik dasar yang dipakai adalah menggunakan teknik simak, yaitu teknik mendapatkan data dengan cara menyimak penggunaan bahasa. Dalam hal ini menyadap analisis tentang kekhasan pemakaian bahasa meliputi kekhasan bunyi bahasa dan kekhasan morfologi bahasa dalam bahasa ‘pambiwara’, dan lanjutannya menggunakan teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ‘pambiwara’ dalam upacara panggih temanten Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution di Surakarta mempunyai keindahan bahasa yang berfokus pada kekhasan aspek morfologi bahasa.)
PRINSIP JALAN TENGAH ‘ZHONG YONG’ LU XUN: PENDEKATAN ANALISIS WACANA KRITIS (The Principle of Lu Xun’sMiddle Way ‘Zhong Yong’: An Approach of Critical Discourse Analysis)
Reformasi Empat Mei 1919 membuat wacana kesetaraan gender dan nilai-nilai Barat menjadi sangat populer dalam dunia sastra Cina. Sebagai salah tokoh utama dalam sastra Cina modern, Lu Xun aktif menyuarakan pandangannya tentang pemikiran Barat dan perempuan baru dalam berbagai tulisannya. Ia secara paradoks merespons isu perempuan baru dan modernisasi yang kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana sebenarnya ideologi Lu Xun tentang perempuan dan bagaimana Lu Xun menyikapi kontestasi wacana tradisional dan modern pada periode Empat Mei. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis ideologinya tentang perempuan Cina baru dan modernisme dengan menggunakan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough, terutama dalam teks dan intertekstual. Perspektif tersebut dianalisis dari praktik tekstual dan praktik diskursif yang tampak pada cerpen “Persembahan Tahun Baru”, “Keluarga Bahagia”, “Menyesali Masa Lalu”, “Sabun”, dan sebuah esai “Nuola Zou Hou Zenmeyang”. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Lu Xun bernegosiasi dengan nilai-nilai Barat dan nilai-nilai tradisional. Ia mentransformasi nilai-nilai Barat dan tradisionalisme Cina menjadi ideologi yang lebih sesuai dengan budaya Cina. Dengan menggunakan prinsip “Zhong Yong” (Jalan Tengah) dari Konfusianisme, ia membuat transformasi ini. Bagi Lu Xun, “jalan tengah” merupakan solusi untuk mengharmonisasi masyarakat dan mencapai emansipasi wanita. (The May Fourth Reform in 1919 made the discourse of gender equality and Western values become more popular in Chinese literary world. As one of the Chinese prominent literary figures, Lu Xun actively delivered his paradigm on Western thought and new women in his writings. He paradoxically responded to the new women's issue and modernization which then raised the question of what was his ideology of women and how he responded to traditional and modern discourse contestation in the May Fourth period. This paper is aimed at analyzing his ideology on the new Chinese women and modernism by applying Norman Fairclough’s critical discourse analysis method, especially in textual and intertextuality. The perspective is analyzed from the textual and discursive practices in the short stories of "New Year Offering", “Happy Family”, “Soap”,”Regret for The Past”, and an essay “Noula Zou Hou Zenmeyang”. The results of the study can be concluded that Lu Xun negotiated with Western values and traditional values. He transformed modernism based on Western values and Chinese traditionalism into an ideology which suited more to Chinese culture. Using Confusian’s "Zhong Yong" principle (Doctrine of the Mean), Lu Xun made this transformation. To Lu Xun, “the middle way” is the solution to harmonize society and achieve women emancipation.)
PENGGUNAAN JARGON OLEH KOMUNITAS WARIA DI JEJARING SOSIAL ‘FACEBOOK’
Jargon that used by transgender community in social networking ‘facebook’ is really interesting to understand because the jargon has a form and meaning itself in its disclosure. The research discusses of using of transgender community in social networking ‘facebook’ by using semantic parameter. The research aims to describe the jargon forms that used by transgender community in social networking ‘facebook’ and discusses the type of semantics and changes of meaning generated from the jargons. The method used of this research is qualitative descriptive by using noting and scrutinizing technique. The result shows that there are fifty-three of jargons used by transgender community in social networking ‘facebook’. Those jargons are ate, eke/eike, yey, ses, astajim, mengondek, menyabong, res/ress, le/lek/leee, mawar, ono, seljes/seljong, bo, kulo, lekes, mehong, cuccok, ce, nekk, sindang, ceu, libra, chinese, centes, peges-peges, mekong, tinta, bae, kentilas, heywanat, cacamarica, ojo, polo/polonia, mursid/mursida, bosnia, megang, kereles, kempinsky, endes, sahaja, bue, perez, dese, merongin, malides, mojang, priwi, kinyis-kinyis, cuss, eim/em, say, andbye. The jargons are formed based on the type of semantic, namely lexical meaning, grammatical meaning, denotative meaning, connotative meaning, contextual meaning, situational meaning, and thematic meaning. Furthermore, the jargons have also a relation of meaning and aspect of meaning. The relation of meaning is synonym and antonym, while, the aspect of meaning is feeling, tone, and intention. Then, there are some of jargons that undergo change the meaning, that is total meaning, broad meaning, and using diachronic parameter, such, bosnia, mursid, polo astajim, mawar, and bye.ABSTRAKJargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial “‘facebook’” sangat menarik untuk dipahami karena jargon tersebut memiliki bentuk dan makna tersendiri dalam pengungkapannya. Bagi orang awam jargon tersebut susah untuk dipahami, hanya komunitas merekalah yang mampu memahami maksud dari jargon yang digunakannya tersebut. Tulisan ini membincangkan tentang penggunaan jargon bahasa waria di jejaring sosial ‘facebook’ dan perubahan makna yang ditimbulkan dari jargon tersebut. Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk jargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial ‘facebook’ dan menjelaskan kata-kata apa saja yang mengalami perubahan makna. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik catat dan simak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima puluh dua bentuk jargon yang digunakan oleh komunitas waria di jejaring sosial ‘facebook’, yakni ate, eke/eike, yey, ses, astajim, mengondek, menyabong, res/ress, le/lek/leee, mawar, ono, seljes/seljong, bo, kulo, lekes, mehong, cuccok, ce, nekk, sindang, ceu, libra, chinese, centes, peges-peges, mekong, tinta, bae, kentilas, heywanat, cacamarica, ojo, polo/polonia, mursid/mursida, bosnia, megang, kereles, kempinsky, endes, sahaja, bue, perez, dese, merongin, malides, mojang, priwi, kinyis-kinyis, cuss, eim/em, say, dan bye. Jargon-jargon tersebut dibentuk berdasarkan makna leksikal dan gramatikal. Selanjutnya, jargon yang mengalami perubahan makna adalah astajim, mawar, dan bye
News Media Partiality Concerning LGBT Issues in Indonesia: A Hidden Agenda of The Jakarta Post and Jakarta Globe
This study is aimed at investigating the representation of LGBT in the Jakarta Post and Jakarta Globe and revealing hidden ideologies embedded in the representations. This study more specifically focuses on identifying how the two media deploy transitivity choices in reporting LGBT and gaining representational meanings from the transitivity choices. This study employs the qualitative method and transitivity analysis under the framework of Fairclough’s three-dimensional approach (1989). The study reveals that the Jakarta post tends to represent LGBT as a more passive participant in a way that certain circumstances shape them as a discriminated and intimidated group by several religious groups, society and government officials, therefore this position has caused Human Rights activists and several government officials to defend them. The media also depict LGBT as an acceptable identity and acknowledged phenomenon in Indonesia. On the other hand, Jakarta Globe tends to represent LGBT as a more active participant that they are given more space to express their sufferings and struggles that trigger them to claim their own rights through their active involvement in anti-LGBT discussions and the support provided by Human Rights activists. The findings suggest that the two media are struggling to promote democratic values in attempts to contribute to establishing LGBT acceptance in Indonesia (the Jakarta Post) and critiquing the discrimination as a means of ending intimidation against LGBT (Jakarta Globe). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan makna representasi dari pilihan transitivitas yang digunakan oleh laporan berita The Jakarta Post dan Jakarta Globe dalam mewartakan kasus LGBT dan mengungkapkanideologi yang mendasari representasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis transitivitas di bawah kerangka pendekatan tiga dimensi Fairclough (1989). Penelitian ini mengungkapkan bahwa The Jakarta Post cenderung merepresentasikan LGBT sebagai partisipan yang lebih pasif sehingga keadaan tertentu membentuk mereka sebagai kelompok yang terdiskriminasi dan terintimidasi oleh beberapa kelompok agama, masyarakat, dan pejabat pemerintah; dengan demikian, posisi ini menyebabkan aktivis HAM dan beberapa pejabat pemerintah membela mereka. Media juga menggambarkan LGBT sebagai identitas berterima dan fenomena yang diakui di Indonesia. Di sisi lain, Jakarta Globe cenderung merepresentasikan LGBT sebagai partisipan yang lebih aktif sehingga mereka diberikan ruang lebih untuk mengekspresikan penderitaan dan pergulatan mereka yang memicu mereka untuk mengklaim hak mereka melalui keterlibatan aktif dalam diskusi anti-LGBT dan dukungan yang diberikan oleh aktivis HAM. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua media berupaya mendorong nilai-nilai demokratis sebagai usaha untuk berkontribusi dalam menumbuhkan penerimaan terhadap LGBT di Indonesia (The Jakarta Post) dan mengkritik diskriminasi untuk menghentikan intimidasi terhadap LGBT (Jakarta Globe)
ALIRAN AIR SEBAGAI PEMBENTUK TOPONIMI KELURAHAN/DESA DI KOTA BANJARMASIN DAN KABUPATEN BANJAR: KAJIAN EKOLINGUISTIK
This study discusses the influence of stream as the toponymy creator of village in Banjarmasin City and Banjar Regency. This study aims to (a) describe various forms of lexicons related stream and elements that can unite stream in forming village stream toponymy in Banjarmasin City and Banjar Regencies; (b) describe the interaction that occur between the natural environment and language in forming village toponymy in Banjarmasin City and Banjar Regency. This study uses qualitative methods and ecolinguistic approach. The results of the study show that there are various lexicons associated with stream that are used as forming toponymy, they are sungai, riam, antasan, handil, and tatah. Meanwhile, judging from the merging pattern, there are various elements that can unite the lexicon which is related to the stream, flow of water, including plants, animals, colors, professions / jobs, and so on. The interaction which is happened between nature and language has big influence toward toponymy of the village in both territory.
PERANAN GURU UNTUK MEMBERDAYAKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Memberdayakan bahasa dan sastra Indonesia adalah suatu hal yang mendesak, untuk itulah peranan seluruh bangsa Indonesia sangat diharapkan khususnya peranan guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai ujung tombaknya di hadapan siswa dan masyarakat. Media Elektronika yang sesuai untuk mendukung berkembangnya bahasa dan sastra Indonesia merupakan suatu kebutuhan yang sangat diperlukan. Oleh karena itu sangat diharapkan pihak pemerintah kiranya dapat memikirkan serta mewujudkannya