Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
METAFORA KOGNITIF TUTURAN PENCERAMAH DALAM PENGAJIAN DI WILAYAH SURAKARTA (Cognitive Metaphor Teachings Speech Act in Surakarta)
Penelitian ini mengkaji metafora tuturan penceramah dalam pengajian di wilayah kota Surakarta. Kemetaforaan tersebut meliputi: 1) Ranah sumber; 2) Tingkat kemetaforisan; 3) Hubungan ranah sumber dan target; 4) Berdasarkan pengalaman tubuh; 5) Ekspresivitas metafora.. Data dalam penelitian ini adalah tuturan metaforais penceramah dalam pengajian. Pengumpulan data menggunakan teknik simak dan teknik catat yang ditunjang dengan teknik rekam. Hasil rekaman kemudian ditranskripsikan secara ortografis dan dicocokkan dengan catatan yang telah dibuat sebelumnya. Analisis dalam penelitian menggunakan metode padan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kemetaforisan, ranah sumber dan target, dan ekpresivitas metafora. Penceramah menggunakan percampuran pengalaman lama dan baru pada leksion mental dalam bertutur secara metafora. Tuturan metafora tersebut disesuaikan dengan latar belakang peserta pengajian yang dihadapi. (This research is about preachers’ speech metaphor in teachings in Surakarta. The metaphors includes: 1) The sources basis: 2) The metaphor level; 3) The relationship between sources and targets; 4) The body experiences: and 5) The metaphor expressivity. The data of this research is the metaphorical speech of preachers in teaching. The data is collected using observation method and note taking technique which is supported with recordings. The recordings are made into orthographic transcripts and compared to the notes taken. The analysis of the data is done using identity method. The research result shows that there is relation between the level of metaphors, the relationship between source and target, and the methapor expressivity. The preachers uses the mixing of old and new experiences in their mental lexicon in making speech metaphorically. The metaphorical speech is matched with the teaching background of audience.)
STRATEGI PERMINTAAN DALAM BAHASA BANJAR: TINJAUAN KESANTUNAN BERBAHASA
Penelitian ini membahas strategi permintaan dalam bahasa Banjar dikaitkan dengan skala kesantunan yang dikemukan oleh Robin Lakoff. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif. Untuk mencapai deskripsi yang kualitatif, penelitian ini menerapkan tiga tahapan, yaitu: 1) tahap penyedian data, 2) tahap analisis data, dan 3) tahap penyajian hasil analisis data. Data penelitian meliputi berbagai macam tuturan dalam berbagai situasi komunikasi sosial di lingkungan keluarga Banjar, baik ketika anggota keluarga berinteraksi dalam keluarga, maupun dengan orang lain di tempat umum. Hasil kajian menunjukkan ada delapan strategi tuturan permintaan yang terdapat dalam bahasa Banjar, yaitu meminta, bertanya, menyapa, memberi informasi, saran, menawarkan, mengutip, dan menyindir. Masing-masing strategi tersebut menerapkan skala kesantunan yang dikemukan oleh Robin Lakoff
PEMAKAIAN BAHASA DALAM MEDIA INFORMASI DI “WAROENG SPESIAL SAMBAL” CABANG SURABAYA
Pemakaian bahasa dalam media informasi di Waroeng SS menarik untuk dikaji karena menggunakan bentuk dan istilah yang khas sebagai identitas yang membedakan dengan rumah makan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemakaian bahasa dan pola penamaan dalam media informasi di Waroeng SS Cabang Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks yang digunakan dalam media informasi di Waroeng SS Surabaya, yaitu berupa daftar menu, pengumuman, jadwal buka, dan sebagainya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk bahasa yang digunakan dalam media informasi di Waroeng SS Cabang Surabaya berupa sinonim, metafora, istilah khusus yang berhubungan dengan sambal, parodi, istilah asing, serta bentuk tidak baku. Kedua, berdasarkan tiga puluh nama usil yang telah digunakan pada daftar menu makanan di Waroeng SS, pola penamaannya berupa 1) penyesuaian bunyi, 2) pengacuan dalam bahasa Indonesia, 3) pengacuan dalam bahasa asing, 4) penyesuaian bunyi dan pengacuan dalam bahasa Indonesia, 5) penyesuaian bunyi dan pengacuan dalam bahasa asing, 6) penyesuaian bunyi dan pemadanan dalam bahasa Indonesia, serta 7) penyesuaian bunyi dan pemadanan dalam bahasa asing
FUNGSI KEPATUHAN MAKSIM PRINSIP KESANTUNAN PADA KOMENTAR BERITA DI FANSPAGE FACEBOOK MERDEKA.COM
Artikel ini menjelaskan tentang fungsi kepatuhan maksim prinsip kesantunan pada komentar berita online di fanspage Facebook merdeka.com. Data penelitian berupa tuturan yang didapatkan dari fanspage Facebook merdeka.com dengan rubrik berita politik tanggal 23 dan 24 September 2016. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, data dianalisis dengan model Spradley, meliputi empat tahap, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komposional, dan analisis tema budaya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan yang mematuhi maksim disampaikan dalam bentuk asertif, direktif dan ekspresif. Fungsi pelanggaran asertif memiliki 2 sub fungsi yaitu “menyatakan” dan “memaklumi”. Fungsi direktif memiliki 4 sub fungsi yaitu “bertanya”, “menasehati”, “konfirmasi” dan “mengajak”. Fungsi ekspresif memiliki 6 sub fungsi yaitu “memberi selamat”, “memuji”, “menyayangkan”, “berharap”, “bersyukur” dan“senang”. Subfungsi yang paling dominan adalah “menyatakan”.
STRUKTUR MANTRA KAGANCANGAN DALAM NASKAH MANTRA MISTIK
The kagancangan mantra is a mantra that produces supernatural power both on the hand or body to hit. This kagancangan mantra is useful for creating strength on the body generally and on the hand specifically. This research will describe the kagancangan mantra, the structure and language used. The data of this study are six mantras found in the 'Mystical Mantra' (MM), the text written in code E. 4508. The result shows that each mantra of these six kagancangan mantra has its own rituals, methods and prohibitions. The structure of the kagancangan mantra consists of elements such as the title, opening, and suggestion elements, and there are also mantra that consists of element of the title and element of suggestion only. Meanwhile the purpose is implied by the element of purpose and the element of suggestion. The language of the kagancangan mantra consists of Banjar language; combination of Banjar and other languages, especially Arabic; and only Arabic.Key words: mantra, kagancangan, structure, and languag
KESALAHAN MORFOLOGIS DALAM TULISAN IMAJINATIF PEMELAJAR BIPA DI SACRED HEART GIRLS COLLEGE
One of the language errors that are still often done by BIPA learners is morphological errors. In fact, morphological mastery is needed to distinguish the class of words and meaning so that the learner is able to place words according to the purpose to be conveyed. The problems in this study are 1) what are morphological errors and changes in meaning arising from morphological contradictions in imaginative writings of BIPA learners in Sacred Heart Girls College and how is the comparison of morphological systems between Indonesian and English. The aims of this study are to reveal morphological errors and changes in meaning arising from morphological contradictions in imaginative writings of BIPA learners in Sacred Heart Girls College and explain the comparison of morphological systems between Indonesian and English. By using qualitative and descriptive methods, the results show that morphological errors are inaccuracies in the use of affixes, especially affix meng- that is often contradicted by other affixes, for example the use affix meng-i and meng-kan, meng- and meng-kan, meng-i and ter-, meng- and ber-, memper- and –an, and meng - and the basic verb in persona passive sentence. These difficulties are caused by differences in the morphological systems of Indonesian and Englis
Kandungan Kecerdasan Emosional dalam Karya Sastra Indonesia
ABSTRAK :Kajian tentang kecerdasan emosional masih menarik dalam semua bidang kajian keilmuan sosial. Kemenarikan itu disebabkan runtuhnya paradigma selama ini yang menganggap kecerdasan intelektual yang sangat mendominasi keberhasilan seseorang dalam pembelajaran dan kepemimpinan. Para pakar seperti Goleman dan kawan-kawan ternyata dari risetnya menemukan kecerdasan emosional yang lebih banyak menyumbang keberhasilan seseorang. Lalu dikaji lebih jauh selain aspek itu ternyata kecerdasan spiritual juga sangat mendukung terhadap keberhasilan seseorang.Terlepas dari perdebatan itu, tulisan ini mencoba mengangkat studi awal terhadap bidang ilmu Sastra khususnya hasil karya seperti pantun ternyata telah lama mengandung nuansa aspek kecerdasan emosional dalam butir-butir kalimat yang sangat bernilai estetik tersebut. Oleh sebab itu, kajian ini perlu diteruskan secara lebih mendalam terhadap karya sastra masa kontemporer yang menurut penulis pasti juga memiliki kandungan kecerdasan emosional juga.KATA KUNCI: kandungan, kecerdasan emosional, sastra Indonesi
HIKAYAT DELI, MENEROKA SEJARAH LEWAT FIKSI
Masyarakat Melayu Deli merupakan salah satu etnik yang tinggal di Sumatera Utara. Banyak cerita dan kisah yang memuat tentang keberadaan masyarakat Melayu Deli. Salah satunya terdapat dalam Hikayat Deli. Hikayat ini berkisah tentang bagaimana silsilah keturunan raja-raja yang pernah berkuasa di Deli, termasuk kisah awal siapa yang sebenarnya mendirikan kerajaan Deli itu untuk pertama sekali
RUU Kebahasaan dan Pemertahanan Bahasa (Suatu Tinjauan Sosiologis)
Abstrak :Pemerintah saat ini tengah menyiapkan RUU Kebahasaan. Draf RUU-nya pun menggelinding ke permukaan. Berbagai tanggapan mewarnai perangkat hukum formal kebahasaan ini. Sebagai alat komunikasi sosial pula, peranan bahasa sangat menentukan kebertahanan suatu bangsa. Karena itu, pendekatan sosiologi diharapkan mampu membuka tabir ideologi kebahasaan sebagai bentuk pemertahanan bahasa itu sendiri.KATA KUNCI : RUU, pemertahanan bahasa, sosiolog
TINGKAT KEKERABATAN BAHASA MANDAILING, BAHASA JAWA, DAN BAHASA ACEH
Abstract : Genetic relationship of language analysis is discuss in the Historical Comparative Linguistics. In the Historical Comparative Linguistics, languages are be compared one to others in order to trace the level of theirs genetic relationship. Angkola Mandailing, Java, and Aceh languages are some languages which live side by side as geographically. So, it may be assumed that they have a close genetic relationship. In fact, this three languages have far differences so it is necessary to make a research in order to find the level of their relationship. The genetic of language can be analysis with lexicostatistic technique. The indicator use to determine genetically word is basic vocabulary called Swadesh which has 200 vocabularies. It is assumed existing in all languages in the world. The qualitative approach is use in the lexicostatistic accounting. With using the technique it is found that from the tree languages which be compared, the closing relationship is Angkola Mandailing with Aceh language, more over Angkola Mandailing with Java language, and the most far apart relationship is Java language with Aceh language.Keyword : Genetic relationship, lexicostatistic, Angkola Mandailing language, Java language, and Aceh languageAbstrak :Kajian kekerabatan bahasa dibahas dalam Linguistik Historis Komparatif. Dalam Linguistik Historis Komparatif, bahasa-bahasa dibandingkan satu dengan yang lain guna mengetahui tingkat kekerabatannya. Bahasa Angkola Mandailing, bahasa Jawa, dan bahasa Aceh merupakan bahasa-bahasa yang hidup berdekatan secara geografi sehingga diasumsikan memiliki kekerabatan yang erat. Pada kenyataannya, ketiga bahasa ini memiliki perbedaan yang cukup jauh sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat kekerabatannya. Kekerabatan bahasa dapat diketahui dengan teknik leksikostatistik. Indikator yang digunakan untuk menentukan kata berkerabat adalah kosa kata dasar yang disebut kosa kata dasar Swadesh yang berjumlah dua ratus kosa kata yang dianggap ada pada semua bahasa di dunia. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam perhitungan leksikostatistik ini. Dengan menggunakan teknik ini, diketahui bahwa dari ketiga bahasa yang dibandingkan, hubungan kekerabatan yang paling erat terdapat pada bahasa Angkola Mandailing dengan bahasa Aceh, selanjutnya bahasa Angkola Mandailing dengan bahasa Jawa, dan hubungan kekerabatan yang paling renggang adalah bahasa Jawa dengan bahasa Aceh.Kata kunci: kekerabatan, leksikostatistik, bahasa Nias, bahasa Batak, bahasa Melay