Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
KOHESI GRAMATIKAL DALAM RAGAM BAHASA PERUNDANGUNDANGAN
Jenis dan bentuk kohesi dalam bahasa Indonesia sangat banyak, tetapi dalam bahasa perundang-undangan kohesi yang digunakan hanya terbatas pada beberapa jenis dan bentuk tertentu. Karena belum ada yang membahas masalah itu, artikel ini akan mengupas kohesi gramatikal dalam ragam bahasa perundang-undangan. Tujuannya adalah mendeskripsikan jenis dan wujud kohesi dalam bahasa perundang-undangan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif inferensial yang bukan hanya memaparkan bentuk dan ciri kohesi gramatikal. dalam bahasa perundang-undangan melainkan juga menganalisisnya. Hasilnya diketahu bahwa kohesi gramatikal dalam bahasa perundangundangan sedikit berbeda denga ragam bahasa yang lain, terutama dalam hal pengacuan. Pengacuan yang bersifat anaforis lebih dominan daripada pengacuan yang bersifat kataforis, baik pengacuan yang berupa pronomina persona terikat (klitik -nya), pemarkah takrif (dimaksud, tersebut, dan ini), maupun penyulihan atau substitusi (dia atau ia). Frasa sebagaimana dimaksud dalam digunakan untuk mengacu frasa nominal, klausa, atau kalimat yang berbentuk pasal, sedangkan frasa sebagaimana dimaksud pada digunakan untuk mengacu frasa nominal, klausa, atau kalimat yang berbentuk ayat
PERAN SOSIAL PEREMPUAN DAYAK DI TIGA CERITA PENDEK KORRIE LAYUN RAMPAN
This study describes the social role of Dayak women, both in the domestic and public spaces in three Korrie Layun Rampan short stories, namely "Perlawanan", "Riam" and "Upacara tak Selesai". The role of women includes the ways women maintain their life and customary land as the important thing in their society. The focus problem of this research is what are the roles of Dayak women in the domestic and public spaces. To solve problems and achieve goals, qualitative descriptive methods are used, by describing the role of Dayak women in their lives and their resistance to gender injustice. Feminist theory is used to analyze the forms and roles of Dayak women in overcoming their problems. The results of the study prove/show that Dayak women are socially and intellectually independent women. This study concludes that Dayak women have a very important role in their community because they have social and intellectual independence.
ANALISIS KONTRASTIF FONEM VOKAL DAN KONSONAN BAHASA INDONESIA DENGAN BAHASA BENUAQ
Linguistic characteristics in Indonesian and Benuaq language may be different and have their own characteristics, one of which is in their phonological aspects. This research aims to do a contrastive analysis of vowel and consonant phonemes in Indonesian and Benuaq language. It discusses about differences in vowel and consonant phonemes in Indonesian and Benuaq language. It uses structural linguistic theory to analyze the vowel and consonant phonemes based on phonological studies. It applies literature study method and interviews, like recording techniques and notes. The data analysis uses descriptive analytical methods to determine the differences in vowel and consonant phonemes. The results of this study reveal that Benuaq language has 23 consonant phonemes (b, p, pm, m, w, d, t, tn, s, n, l, r, j, c, ~ n, y, k, kG, g, G, q , h, and ?), six short vowels (i, u, e, |, o, and a), and five long vowels (i :, e :, u :, o :, and a :). Whereas, Indonesian has 22 consonant phonemes (b, p, f, m, w, d, t, s, ş, n, l, r, j, c, ~ n, y, k, kh , g, G, h, and z), six short vowels (i, u, e, |, o, and a), and no long vowels. Both languages have differences and similarities in the contrastive analysis.
PENGANTIN-PENGANTIN BOCAH DALAM SASTRA BERLATAR DI INDONESIA, AFGHANISTAN, DAN BANGLADESH
Artikel ini membahas tokoh-tokoh perempuan yang menikah di usia muda pada tiga karya sastra terpilih yang berlatar tempat di Indonesia, Afghanistan, dan Bangladesh, yaitu “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer, novel A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini, dan cerpen Razia Sultana Khan “Seduction”. Metode content analysis dan pendekatan feminisme, multikulturalisme, dan poskolonialisme digunakan untuk menelisik penggambaran pengantin-pengantin bocah dalam ketiga karya. Terdapat tiga temuan yaitu, pertama, perekonomian keluarga menjadi pertimbangan perkawinan anak dan dianggap kewajaran pada tradisi dan waktu tertentu. Kedua, pengantin-pengantin bocah menjadi korban demi menjaga kehormatan keluarga. Ketiga, terjadi normalisasi kekerasan ketika pengantin-pengantin belia yang dikorbankan itu dianggap sebagai kelumrahan saja. Kata-kata kunci: pengentasan kemiskinan, kehormatan keluarga, normalisasi kekerasa
Konstruksi Interogatif Polar dalam Bahasa Jepang
Each language has its own characteristics, which can be seen by the interrogative construction themselves. Polar interrogative construction in Japanese will be discussed in this research. The research is kind of qualitative reasearch by using descriptive method. The data of the research is the polar interrogative construction consisted in the textbooks minnano nihongo shokyuu I and nameraka nihongo kaiwa. The theory of interrogative construction by Seimund (2011) was used as the theory in this research. The results of the research showed that the finding of polar interrogative construction was formed by the intonation, the addition of interrogative particle, and the interrogative tag. Meanwhile, the polar interrogative construction formed by the change of constituent order, verbal inflection, and disjunction was not found. The finding of polar interrogative construction in the textbook minna no nihongo shokyuu I is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the adding of interrogative particle, while in the textbook nameraka nihongo kaiwa is dominated by the polar interrogative construction which is formed by the intonation. AbstrakSetiap bahasa memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari konstruksi interogatifnya. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai konstruksi interogatif polar dalam bahasa Jepang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang terdapat dalam bukuMinna No Nihongo Shokyuu I, Nameraka Nihongo Kaiwa,dan komikOremonogatariChapter1karangan Kazune Kawahara danAruko.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksi interogatif Siemund (2001). Hasil dari penelitian ini adalah konstruksi interogatif polar yang wujud terbentuk dari intonasi, penambahan partikel interogatif,dan taginterogatif. Sementarakonstruksi interogatif polar yang terbentuk dengan perubahan urutan konstituen, infleksi verbal dan disjungsi tidak ditemukan. Konstruksi interogatif polar yang wujud dalam buku Minna No Nihongo Shokyuu I dankomikOremonogatariChapter 1 didominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari penambahan partikel interogatif,sementara pada buku Nameraka Nihongo Kaiwadidominasi oleh konstruksi interogatif polar yang terbentuk dari intonasi
Konjungsi Ekstratual dalam Teks Al-Mutawassimin
This article, discussed the type, position, and function of extra-textual conjunctionin the text of Al-Mutawassimīn. This research uses descriptive qualitative research method. The data in this study are text and Al-Mutawassimīn text edits. Sources of data in this study are Al-Mutawassimīn manuscripts stored in the Library of Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat(PKBM) Pinilih, Soditan RT.01 / RW.03 Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Central Java with book number 900,331. Based on the assessment of the text, it can be concluded: extra-textual conjunction in the text of Al-Mutawassimīn, include: the conjunction adapun, the conjunction bermula, and the conjunction maka; conjunctions position adapunand bermula is located at the beginning of sentences, whereas the conjunction maka is located at the beginning of the sentence and at the end of the sentence. Extra-textual conjunction function is as an introductory discourse. AbstrakTulisan ini membahas jenis, posisi, dan fungsi konjungsi ekstratekstual dalam teks Al-Mutawassimīn.Penelitian ini menggunakan metodepenelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah teks dansuntingan teks Al-Mutawassimīn. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah Al-Mutawassimīnyang tersimpan di Perpustakaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pinilih, Soditan RT01/RW03 Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah dengan nomor buku 900.331.Berdasarkan pengkajianteks, hasil penelitian menunjukkan bahwa konjungsi ekstratekstual dalam teks Al-Mutawassimīn, meliputi konjungsi adapun, bermula, dan maka. Posisi konjungsi adapundan bermulaterletak diawal kalimat, sedangkan konjungsi maka terletak di awal kalimat dan tengahkalimat. Fungsi konjungsi ekstratekstual adalah sebagai wacana pengantar.
PENGETAHUAN PERATURAN KEBAHASAAAN DALAM MEMENGARUHI SIKAP BAHASA PEDAGANG MAKANAN DI KOTA METRO (The Influence of Language Regulation Knowledge to the Language Attitude of Culinary Entrepreneur at Kota Metro)
Penelitian ini membahas tentang bagaimana pengetahuan kebahasaan para pedagang makananyang ada di kota Metro berpengaruh terhadap sikap bahasa mereka. Tujuannya adalah untuk mengetahui (1) bagaimana pengetahuan para pedagang makanan Kota Metro terhadap peraturan perundang-undangan tentang kebahasaan, (2) sikap para pedagang makanan Kota Metro tentang penggunaan bahasa Indonesia dan asing, serta(3) pengaruh pengetahuan peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa para pedagang makanan Kota Metro. Metode yang dipakai adalah metode survei dengan tujuan mendeskripsikan dan menafsirkan hal yang berkenaan keadaan atau kondisi saat ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan tentang peraturan kebahasaan para pengusaha kuliner Kota Metro sangat rendah. Akan tetapi, sikap bahasa pengusaha kuliner di Kota Metro sangat baik. Adapun pengetahuan pengusaha kuliner di Kota Metro mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan asing sangat tidak memengaruhi sikap bahasa mereka.(This study discusses how the knowledge of language regulations influences on culinary entrepreneur attitude in Kota Metro, Lampung Province. The research’s objectives are to reveal (1) how is the knowledge of culinary entrepreneur in Kota Metro towards the language regulations, (2) the culinary entrepreneurs’ attitude towards the use of bahasa Indonesia and foreign language, (3) the influence of knowledge about language regulation on culinary entrepreneur attitude in Kota Metro. The method used is survey method with the aim of describing and interpreting things related to today’s conditios or symptoms. The result of analysis indicates that the culinary entrepreneur’s knowledge of language regulation of the culinary entrepreneurs in Kota Metro is very low. However, the attitude of the language of culinary entrepreneurs in Kota Metro is very good. The knowledge of culinary entrepreneurs in Kota Metro about the laws and regulations related to the language and the use of Indonesian and foreign languages has very little effect on their language attitude.
PENERJEMAHAN BENTUK METAFORA GRAMATIKAL SEBAGAI INDIKATOR KESULITAN PENERJEMAHAN TEKS SAINS DAN HUMANIORA
Artikel ini bertujuan untuk memerikan perbandingan antara penerjemahan teks sains dan humaniora dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia melalui dimensi perbedaan leksikal. Perbandingan tersebut difokuskan pada penerjemahan bentuk metafora gramatikal yang ada pada teks sumber. Bentuk metafora gramatikal pada teks sumber diidentifikasi dengan menggunakan analisis fungsional sistemik. Terjemahan bentuk metafora gramatikal dalam teks sasaran kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis jejaring pilihan untuk mengidentifikasivariasi leksikal teks sasaran terhadap teks sumber. Data berupa klausa dari teks sumber dan teks sasaran. Sumber data adalah empat teks berbahasa Inggris (dua teks sains dan dua teks humaniora) dan terjemahan keempat teks sumber tersebut yang dilakukan oleh lima penerjemah. Berdasarkan analisis ditemukan bahwa jumlah bentuk metafora gramatikal pada teks sumber humaniora lebih besar daripada teks sumber sains. Ditemukan pula bahwa variasi perbedaan leksikal teks sasaran humaniora lebih tinggi daripada teks sasaran sains. Dua temuan tersebut bersama-sama menjadi indikasi bahwa teks humaniora lebih sulit diterjemahkan daripada teks sains