Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Ekspresi Eufemisme dalam Surat Kabar di Kota Palu
The topic discussed in this article is the use of euphemisms in newspapers. The aim is to describe the synonymy of euphemisms in newspapers in terms of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. The steps taken in this research include three stages, namely: (1) data collection stage, (2) data analysis stage, and (3), data analysis results presentation stage. The method used in collecting data is the siak method with note-taking technique. The methods used in data analysis are the matching method with referential matching techniques and the distributional method with techniques for direct elements, expansion techniques, and replacement techniques. The methods used in presenting the results of data analysis are formal methods and informal methods. The results of the research show that the use of euphemisms in newspapers is not perfectly synonymous with the linguistic form they replace based on analysis of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. Apart from that, the use of euphemisms in newspapers tends to hide certain intentions so as not to disturb the public. AbstrakTopik yang dibahas dalam artikel ini adalah penggunaan eufemisme dalam surat kabar. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan sinonimi eufemisme dalam surat kabar ditinjau dari kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu: (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode siak dengan teknik catat. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dengan teknik padan referensial dan metode distribusional dengan teknik unsur langsung, teknik perluasan, dan teknik penggantian. Metode yang digunakan dalam penyajian hasil analisis data adalah metode formal dan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan eufemisme dalam surat kabar tidak sepenuhnya sinonim dengan bentuk kebahasaan yang digantikannya berdasarkan analisis kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Selain itu, penggunaan eufemisme dalam surat kabar cenderung menyembunyikan maksud tertentu agar tidak meresahkan masyarakat
PENAMAAN DAN MAKNA KULTURAL LEKSIKON SESAJEN DALAM PROSESI LARUNGAN PESTA LOMBAN DI JEPARA (Naming and Cultural Meaning in Lexicon of Offerings in Larungan Procession Lomban Festival in Jepara)
Giving names to the offerings used in larungan procession of lomban festival is related to the meaning that the Jepara people want to convey and believe in. However, most people today only carry out the procession as an annual tradition without understanding its meaning. This purpose of research is to classify semantically the naming of offerings and describe the cultural meaning of offerings used in larungan procession of festival lomban in Jepara. The methodology is descriptive qualitative through ethnosemantic studies, particularly semantic naming theory and cultural meaning theory. The data is list of lexicon or vocabulary about the names of offerings in larungan procession obtained from interviews with an anthropologist and observation of video documentation lomban festival. The analysis results show that semantic naming of offerings in larungan procession is based on six things, those are based on distinctive characteristics, place of origin, ingredients, similarity, abbreviation, and arbitrary. Each offering also has cultural meaning that reflects the beliefs of Jepara people. These meanings are categorized into five categories that show the meaning of relationship between people and God, relationship between people and people, relationship between human and supranatural beings, relationship between people and nature, and forms of prayer or hopes which related to human attitudes and characteristics. Pemberian nama pada sesajen yang digunakan saat prosesi larungan pesta lomban erat kaitannya dengan makna yang ingin disampaikan dan dipercayai oleh masyarakat Kabupaten Jepara. Namun, kebanyakan masyarakat saat ini hanya menjalankan prosesi tersebut sebagai tradisi tahunan tanpa memahami maknanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan secara semantis penamaan sesajen dan mendeskripsikan makna kultural yang terkandung pada daftar leksikon nama-nama sesajen saat prosesi larungan pesta lomban di Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui kajian etnosemantik, khususnya pada teori penamaan semantis dan teori makna kultural. Data yang dianalisis berupa leksikon atau kosakata nama-nama sesajen dalam prosesi larungan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan seorang antropolog dan pengamatan terhadap video dokumentasi pesta lomban. Hasil analisis menunjukkan bahwa penamaan sesajen dalam prosesi larungan didasarkan atas enam hal, yaitu penyebutan sifat khas, tempat asal, bahan, keserupaan, pemendekan, dan penamaan baru. Masing-masing nama sesajen itu mengandung makna kultural yang merepresentasikan bagaimana pemikiran masyarakat Jepara. Terdapat lima kategori makna, yaitu makna yang menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan makhluk gaib, hubungan manusia dengan alam, dan bentuk doa atau harapan masyarakat terkait dengan sikap dan sifat manusia
ANALISIS GAYA BAHASA LIRIK LAGU BAND PAYUNG TEDUH DALAM ALBUM DUNIA BATAS (KAJIAN STILISTIKA)
Rumusan masalah pada penelitian ini “Bagaimanakah Gaya Bahasa Lirik Lagu Band Payung Teduh dalam Album Dunia Batas (Kajian Stlistika) dalam aspek Diksi. Tujuan penelitian ini untuk Mendeskripsikan Gaya Bahasa Lirik Lagu Payung Teduh dalam Album Dunia Batas (Kajian Stilistika) dalam aspek Diksi. Karya dari band payung teduh yang terdiri dari delapan lagu yaitu: Berdua Saja, Menuju Senja, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, Rahasia, Angin Pujaan Hujan, Di Ujung Malam, Resah, dan Biarkan. Tehnik analisis data mengidentifikasi dan menganalisis data berdasarkan macam macam gaya bahasa berdasarkan strutur kalimat dan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna. Dalam lirik lagu band payung teduh memiliki gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat paralelisme, dan gaya bahasa retoris pleonasme. Gaya bahasa kiasan Simile, Metafora, Alegori, Personifikasi, Sinekdoke, Metominia
Africanfuturism and Magical Realism In Okorafor’s ‘Hello Moto’
This article uses the concepts of Magical Realism by Wendy B. Faris (2004) and Africanfuturism by Okorafor (2019) to analyze ‘Hello Moto’ by Nnedi Okorafor (2011). We analyzed the magical elements and concepts of African futurism in Okorafor's short stories to explain the author's intention in writing her works, which mostly use similar themes such as postcolonialism. After analyzing these two concepts, it was found that Nnedi Okorafor, through her work 'Hello Moto' reflects a postcolonial perspective on cultural hybridity by presenting advanced technology in the form of wigs and combining it with the power of black magic which can release powers such as transmission and mind control. There is a blend of Eastern and Western culture in 'Hello Moto' based on the above explanation. The contribution of this study lies in its exploration of Africanfuturism uniquely represented in Okorafor’s ‘Hello Moto’ as a medium for postcolonial discourse, showcasing how her work reimagines technological advancement through an African cultural lens while bridging traditional and modern worlds. AbstrakArtikel ini menggunakan konsep Realisme Magis oleh Wendy B. Faris (2004) dan Africanfuturisme (2019) untuk menganalisis ‘Hello Moto’ karya Nnedi Okorafor (2011). Kami menganalisis elemen magis dan konsep africanfuturisme yang terdapat di dalam cerita pendek karya Okorafor untuk menjelaskan niat penulis menulis karya-karyanya yang kebanyakan menggunakan tema yang serupa yakni tentang poskolonialisme Setelah menganalisis kedua konsep tersebut, ditemukan bahwa Nnedi Okorafor melalui karyanya ‘Hello Moto’ mencerminkan perspektif postkolonial tentang hibriditas budaya dengan menghadirkan teknologi canggih berupa wig dan memadukannya dengan kekuatan ilmu hitam yang dapat melepaskan kekuatan seperti teleportasi dan pengendalian pikiran. Terdapat perpaduan budaya Timur dan Barat dalam ‘Hello Moto’ berdasarkan penjelasan di atas. Kontribusi penelitian ini terkait dengan eksplorasi Afrofuturism sebagaimana direpresentasi dalam ‘Hello Moto’ sebagai media wacana pascakolonial, dimana kemajuan teknologi di kultur Afrika digambarkan dengan cara menjembatani dunia tradisional dan modern
Interpretasi Pragmatik melalui Implikatur Konvensional dan Nonkonvensional dalam Debat Capres Indonesia 2024
Presidential candidate debates play an important role in the campaign by becoming an arena for brainstorming and complex communication strategies. This research uses a pragmatic perspective to understand the dynamics of language in presidential debates, uncover the implicit meaning behind the candidates' speeches, and identify rhetorical strategies that influence the audience. With a theoretical approach that tests Grice's critical pragmatic analysis and conversational implication theory as well as descriptive-qualitative methods, this study analyzes the speeches of presidential candidates in the 2024 Indonesia presidential debate. Data was collected using the Free Listening and Conversation (SBLC) technique, which was recorded for further analysis in written form. The results of the analysis showed that there were conventional and non-conventional implications that candidates used to convey messages directly and subtly. This research also highlights the importance of language politeness according to Grice in political communication. The occurrence of implicature as a powerful tool in political debates emphasizes the importance of contextual understanding, and provides a new contribution to the study of political communication with a focus on presidential debates as a highly competitive and dynamic context. This research enriches the understanding of rhetorical strategies in political communication and the importance of pragmatic analysis in political debates. AbstrakDebat calon presiden (capres) memainkan peran penting dalam kampanye dengan menjadi arena adu gagasan dan strategi komunikasi kompleks. Penelitian ini menggunakan perspektif pragmatik untuk memahami dinamika bahasa dalam debat capres, mengungkap makna implisit di balik ujaran kandidat, serta mengidentifikasi strategi retorika yang mempengaruhi audiens. Dengan pendekatan teoretis yang menguji analisis pragmatik kritis dan teori metodologis percakapan menerapkan metode deskriptif-kualitatif, penelitian ini menganalisis tuturan calon capres dalam debat capres Indonesia 2024. Data dikumpulkan melalui teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), yang melalui rekaman untuk dianalisis lebih lanjut dalam bentuk tulisan. Hasil analisis menunjukkan adanya implikatur konvensional dan non-konvensional yang digunakan kandidat untuk menyampaikan pesan secara langsung maupun halus. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya maksim kesantunan berbahasa menurut Grice dalam komunikasi politik. Terjadinya implikatur sebagai alat yang kuat dalam debat politik, menekankan pentingnya pemahaman kontekstual, serta memberikan kontribusi baru dalam studi komunikasi politik dengan fokus pada debat capres sebagai konteks yang sangat kompetitif dan dinamis. Penelitian ini memperkaya pemahaman tentang strategi retorika dalam komunikasi politik dan pentingnya analisis pragmatik dalam debat politik
Manifestasi Variasi Pola Retorika dan Fungsi Bahasa dalam Bingkai Komunikasi Politik: Studi Kasus Praktik Retorika Anggota DPD RI
This study aims to capture the variations in rhetorical patterns and language functions in the context of political communication of the members of the Regional Representative Council of the Republic of Indonesia (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia/DPD RI) for the 2019-2024 period and the implications of this rhetoric for public policy in Indonesia. DPD RI members hold a unique position as they are not party representatives but regional representatives at the national level. This makes rhetorical skills crucial for effectively conveying community and regional aspirations. This study adopts a qualitative approach with analytical descriptive methods, using transcriptions of Committee III of DPD RI meetings with the Minister of Women Empowerment and Child Protection of Indonesia (2019-2024). Data analysis involves identification, reduction, analysis, and interpretation. Results reveal that the rhetorical construction employed by DPD RI members encompasses six distinct patterns: (1) Ethos-Pathos-Logos (E-P-L); (2) Pathos-Logos-Ethos (P-L-E); (3) Logos-Pathos-Ethos (L-P-E); (4) Ethos-Logos-Pathos (E-L-P); (5) Logos-Ethos-Pathos (L-E-P); and (6) Pathos-Ethos-Logos (P-E-L). This study also identified three types of language functions in the rhetoric of DPD RI Members: (1) expressive language functions, such as expressions of greetings and salutations, gratitude, concern, appreciation, and willingness; (2) directive language functions with five categories (interrogative, hope, recommendation, instruction, and request); and (3) poetic language functions in the form of rhymes. The implications of DPD RI Members' rhetoric on public policy and political communication in Indonesia are significant because they can create synergy between DPD RI as a legislative institution and related ministries as representatives of the government in the executive institution. This synergy supports the birth of more effective, responsive, and targeted public policies in handling regional issues through central government policies. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memotret variasi pola retorika dan fungsi bahasa dalam konteks komunikasi politik Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Periode 2019-2024 serta implikasi retorika tersebut terhadap kebijakan publik di Indonesia. Di ranah politik, kemahiran retorika Anggota DPD RI sebagai anggota legislatif dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena karakteristiknya yang bukan perwakilan suatu partai, melainkan perwakilan daerah di tingkat nasional. Oleh karena itu, kemahiran retorika menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh Anggota DPD RI agar mampu menyuarakan aspirasi masyarakat dan daerahnya secara efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Sumber data penelitiannya adalah transkripsi rekaman rapat kerja Komite III DPD RI bersama Menteri PPPA RI. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap transkripsi rekaman rapat tersebut. Teknik analisis data dimulai dengan mengidentifikasi data, mereduksi data, menganalisis data, serta menginterpretasikan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retorika Anggota DPD RI tersebut terdiri atas enam variasi pola seperti berikut: (1) Ethos-Pathos-Logos (E-P-L); (2) Pathos-Logos-Ethos (P-L-E); (3) Logos-Pathos-Ethos (L-P-E); (4) Ethos- Logos-Pathos (E-L-P); (5) Logos-Ethos-Pathos (L-E-P); dan (6) Pathos-Ethos-Logos (P-E-L). Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga jenis fungsi bahasa dalam retorika Anggota DPD RI: (1) fungsi bahasa ekspresif, seperti ungkapan salam dan sapaan, terima kasih, keprihatinan, apresiasi, dan kesediaan; (2) fungsi bahasa direktif dengan lima kategori (interogatif, harapan, rekomendasi, instruksi, dan permintaan); dan (3) fungsi bahasa puitis berupa pantun. Implikasi retorika Anggota DPD RI terhadap kebijakan publik dan komunikasi politik di Indonesia sangat signifikan karena dapat menciptakan sinergi antara DPD RI sebagai lembaga legislatif dan kementerian terkait sebagai perwakilan pemerintah di lembaga eksekutif. Kesinergisan ini mendukung lahirnya kebijakan publik yang lebih efektif, responsif, dan tepat sasaran dalam menangani isu-isu daerah melalui kebijakan pemerintah pusat
Courtroom Conversation in a Murder Trial of Yosua Hutabarat: A Phonopragmatic Perspective
This study examines the phonopragmatic features, specifically intonation, in the conversation between the judge and the witness during the Yosua Hutabarat murder trial. The study aims to explore how intonation patterns reflect the judge’s authority and the witness’s response during the trial. The study analyzes spectrogram images to capture the tone movements of the speech using PRAAT software, with David Brazil’s model employed to analyze the data. The results reveal at least twenty-three tone units across six conversation excerpts, with the most frequent tone in the judge’s speech being a rise-fall tone (9 tone units), indicating control and dominance. The witness, in contrast, predominantly uses a falling tone (4 tone units), reflecting submissiveness. The findings suggest that the judge’s use of rise-fall tones signals instrumental power and dominance, while the witness’s falling tone signals submissiveness and reveals a clear power imbalance during the trial. AbstrakPenelitian ini mengkaji fitur-fitur fonopragmatik yang berfokus pada intonasi dalam percakapan antara hakim dan saksi dalam persidangan pembunuhan Yosua Hutabarat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana pola intonasi dapat mencerminkan kekuasaan dan kontrol hakim dan bagaimana respons saksi selama persidangan. Penelitian ini menganalisis gambar spektrogram untuk menangkap gerakan nada dalam interaksi dengan menggunakan perangkat lunak PRAAT dan model David Brazil untuk menganalisis data penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan setidaknya dua puluh tiga unit nada yang tersebar di enam kutipan percakapan, dengan nada yang paling sering digunakan dalam ujaran hakim adalah nada naik-turun (9 unit nada), yang menunjukkan kontrol dan dominasi. Di sisi lain, saksi lebih sering menggunakan nada turun (4 unit nada) yang mencerminkan ketundukkan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan nada naik-turun oleh hakim menandakan kekuasaan instrumental dan dominasi, sementara nada turun dari saksi menandakan ketundukkan yang mengungkapkan ketidakseimbangan kekuasaan yang jelas selama persidangan
Signifikansi Penerapan Literasi pada Peningkatan Kemampuan Menulis Teks
Teaching the ability to write descriptive texts is essential because it holds significant value for students. However, there are still some challenges, such as unsatisfactory results difficulties in forming text structures, limited vocabulary, and weaknesses in understanding the meaning of texts. This study aims to explore the contribution of literacy implementation in improving the quality of students' descriptive texts. The study used a pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design. The primary data, consisting of pretest and posttest results, were analyzed using SPSS 25.0 software. Data processing involved both descriptive and inferential analysis techniques. The implementation of literacy had a significant effect on students' ability to write descriptive texts (significance: 0.000 < 0.005). After literacy was implemented, there was a significant improvement in students' ability to write descriptive texts, both in text presentation and descriptive text language. The conclusion of this study provides evidence that literacy implementation is effective in enhancing students' descriptive text writing skills, particularly in language. AbstrakMengajarkan kemampuan menulis teks deskripsi sangat penting karena memiliki nilai yang signifikan bagi siswa. Namun, masih terdapat beberapa tantangan seperti hasil yang kurang memuaskan, kesulitan dalam membentuk struktur teks, keterbatasan kosakata, dan kelemahan dalam memahami makna teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi penerapan literasi dalam meningkatkan kualitas teks deskripsi siswa. Penelitian ini menggunakan metode pre-experimental dengan desain pretest-posttest pada satu kelompok. Data utama berupa hasil pretest dan posttest dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS 25.0. Pengolahan data melibatkan teknik analisis deskriptif dan inferensial. Penerapan literasi signifikan mempengaruhi kemampuan menulis teks deskripsi siswa (signifikansi: 0.000<0.005). Setelah literasi diterapkan, terjadi peningkatan yang signifikan dalam kemampuan menulis teks deskripsi siswa, baik dalam penyajian teks maupun bahasa teks deskripsi. Simpulan dalam penelitian ini memberikan bukti bahwa penerapan literasi efektif meningkatkan kemampuan menulis teks deskripsi pada siswa, khususnya dalam penguasaan
Conflict of Irish Cultural Identity in Brian Friel’s Translation
This research purposes to analyze Irish cultural identity conflict in Brian Friel’s Translation, namely by analyzing why it happens and how it impacts to Irish. The method applied to analyze is descriptive qualitative method by doing content analysis through data collecting technique in the form of library research. From the data source of Brian Friel’s Translation, the researcher does the technique of interpretation by using Homi K. Bhabha’s postcolonialism theory of mimicry concept to identify the conflict of Irish cultural identity found in the literary work. The result of the research shows that the setting in Brian Friel’s Translation is Northern Ireland in the 19th century. Irish people are surrendered to be the British colony. British people colonize Irish in various ways; destroying Irish rights by forcing them to work very hard on potato plantation in the area where they live to fulfill British people food, forbidding Irish to use their own language or do their Catholic religious worship, executing Ordnance survey namely by replacing names of local places in Northern Ireland for the importance of imperialism forcibly. That colonialism causes suffering, starving and poverty. Through the dialogues, it reflects that British people want to abolish Irish language and culture to replace it to British language and culture which is considered more modern. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis konflik identitas budaya bangsa Irlandia dalam drama Translation karangan Brian Friel, yaitu dengan mengupas mengapa konflik itu terjadi, dan bagaimana akibatnya terhadap bangsa Irlandia. Metode yang diterapkan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menganalisa isi melalui teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan. Dari sumber data drama Translation karangan Brian Friel, peneliti memakai teknik interpretasi melalui teori postkolonialisme konsep mimikri dari Homi K Bhabha untuk mengidentifikasi konflik identitas budaya bangsa Irlandia yang ditemukan pada karya sastra tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seting yang terdapat pada drama tersebut adalah pedesaan Irlandia Utara pada abad 19. Bangsa Irlandia takluk menjadi koloni bangsa Inggris. Bangsa Inggris menjajah dengan berbagai cara, menghancurkan hak-hak bangsa Irlandia dengan memaksa mereka kerja paksa di perkebunan kentang tempat tinggal mereka untuk memenuhi kebutuhan makanan rakyat Inggris, melarang mereka menggunakan bahasa asli atau melakukan ibadah agama Katolik, dan melakukan survei Ordnance yaitu mengganti paksa nama-nama lokal di Irlandia utara ke bahasa Inggris untuk kepentingan imperialisme. Penjajahan tersebut menyebabkan penderitaan, kelaparan dan kemiskinan. Melalui dialog-dialognya tercermin bahwa bangsa Inggris ingin melenyapkan budaya serta bahasa Irlandia, lalu menggantinya dengan budaya dan bahasa Inggris yang dianggap lebih modern
Eksplorasi Media Pembelajaran Bahasa: Implikasi pada Siswa
Learning media is one of the important factors determining the success of the language learning process. The media will facilitate the work of teachers in carrying out the transfer of knowledge to students. In this regard, this study aims to (1) describe the suitability of the use of media in planning (RPP) with the implementation of language learning in the classroom, and (2) describe students' responses to the use of language learning media. Indonesian language learning media in public junior high schools in Sleman Regency. Qualitative and quantitative descriptive is research methods. Qualitative methods are carried out through observation instruments, interviews, and document analysis. The quantitative method is carried out through a questionnaire instrument. The research population is teachers and students of public junior high schools in Sleman Regency. The sampling technique used purposive sampling with strata technique (high, medium, low). The data analysis technique was descriptive qualitative and quantitative. The results of the study show that: first, the use of instructional media in planning and implementation is not appropriate. The learning media used by the teacher during learning are visual, conventional, and audio visual media. Second, students' responses to the use of learning media are categorized as good. The use of learning multimedia by teachers serves to stimulate thoughts, feelings, attention, and motivate students to learn so that language learning becomes more meaningful. AbstrakMedia pembelajaran merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan proses pembelajaran bahasa. Media akan mempermudah kerja guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Terkait dengan hal itu, penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kesesuaian penggunaan media di perencanaan (RPP) dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa di kelas dan (2) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran bahasa. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui instrumen pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen. Adapun metode kuantitatif dilakukan melalui instrumen angket. Populasi penelitian adalah guru dan siswa SMP Negeri di Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan teknik strata (tinggi, sedang, dan rendah). Teknik analisis data dengan cara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, penggunaan media pembelajaran pada perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai. Media pembelajaran yang digunakan guru saat pembelajaran adalah media visual, konvensional, dan audio visual. Kedua, tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berkategori baik. Penggunaan multimedia pembelajaran oleh guru berfungsi untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan memotivasi peserta didik untuk belajar sehingga pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna.