Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Cover Depan

    No full text

    Tindak Tutur Ekspresif pada Aanak-anak Saat Bermain Bola di Lapangan

    Get PDF
    When playing, children will communicate to one another. They use language when communicating with their interlocutors. In this sense, this study was aimed at analyzing types of expressive illocutionary speech acts produced by children to communicate when playing. Ethnographic communication method was employed in this research done at Klender National Residence, East Jakarta. The data collecting technique was observation aimed to take down notes the children’s speech acts when playing football, in particular. The obtained data were then analyzed by using matching method. Meanwhile, this research employed Schiffrin’s speech acts theory. The findings revealed that in the distribution of the use of expressive speech acts in the children’s dialogues when playing football were identified six pairs of speech. From the six pairs, only two types of expressive speech acts were identified, while the other three were none. The produced expressive speech acts are 1) blaming expression in five pairs (83,3%) and 2) pardoning expression in one pairs (16,7%). On the other hand, the unidentified types of expressive speech acts are 1) thanking, 2) congratulating, 3) praising and 4) condoling, 5) welcoming, 6) criticising,  7) complaining,  dan 8)  flattering. In conclusion, the children used expressive illocutionary speech acts more with blaming expression than those with pardoning, thanking, congratulating, praising and  condoling. So, their communicative language tends to involve blaming expressions. AbstrakSaat bermain, anak-anak akan berkomunikasi sesamanya. Mereka menggunakan bahasa saat berkomunikasi dengan mitra tutur.  Sehubungan dengan hal itu, tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis jenis tindak tutur illokusioner ekspresif yang dihasilkan anak-anak untuk berkomunikasi saat bermain. Metode penelitian ini adalah metode etnografi komunikasi. Penelitian dilaksanakan di Perumnas Klender, Jakarta Timur. Teknik pengumpulan data melalui observasi. Observasi bertujuan mencatat tuturan-tuturan anak-anak saat bermain bola. Teknik analisi data,data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode padan. Teori yang digunakan adalah teori tindak tutur yang dikemukan Schiffrin. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa distribusi penggunaan tindak tutur ekspresif  dalam dialog anak-anak saat bermain bola, dapat diidentifikasi 6 pasang ujaran.  Dari enam pasang ujaran, hanya ada dua jenis ujaran ekspresif, sedangkan tiga jenis ujaran ekspresif lainnya tidak ada.Tindak tutur yang dihasilkan itu adalah 1) tindak tutur ekspresif menyalahkan berjumlah 5 pasangan ujaran  (83,3 %) dan 2) tindak tutur ekspresif  meminta maaf 1 pasangan ujaran (16,7 %).  Sebaliknya, tindak tutur ekspresif yang tidak dipergunakan 1) berterima kasih, 2) memberi selamat, 3) memuji, 4) belangsung kawa, 5) menyambut, 6) mengkritik, 7)  mengeluh,  dan 8) menyanjung. Kesimpulannya adalah dalam bermain, anak-anak lebih banyak menggunakan tindak tutur ilokusi ekspresif  menyalahkan jika dibadingkan dengan tindak tutur  meminta maaf, berterima kasih, memberi selamat, memuji, belangsung kawa, menyambut, mengkritik, mengeluh, dan menyanjung. Jadi, bahasa mereka dalam berkomunikasi cenderung menyalahkan

    Kesantunan Tindak Tutur Bamamai dalam Bahasa Banjar: Berdasarkan Skala Kesantunan Leech

    Get PDF
    This study discusses speech act of bamamai (nagging) in Banjar language. Bamamai is an expressive speech act. Bamamai usually involves the speaker's emotion toward the speech partner when the speech is not in accordance with what the speaker wants. This research aims to describe bamamai speech acts based on Leech’s politeness scale. The method used in this research is descriptive qualitative. The data collected are descriptive, taken from the speakers’ conversations in Banjar language’s oral variety. The theory used in this research is the politeness scale by Leech, namely (1) cost and benefit scale, (2) optionality scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale and (5) distance scale. The research shows that there are polite speeches in the bamamai (nagging) speech act because they are in accordance with Leech’s politeness scale, namely the indirectness, authority and optionality scale. On the other hand, there are impolite speeches in bamamai (nagging) speech act because they are not in accordance with the indirectness scale and social distance scale. AbstrakPenelitian ini membahas mengenai tindak tutur bamamai (mengomel) dalam bahasa Banjar. Bamamai termasuk tindak tutur ekspresif. Bamamai biasanya melibatkan emosi penutur kepada mitra tutur ketika tuturan mitra tutur tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tindak tutur bamamai berdasarkan skala kesantunan Leech.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsif kualitatif. Data yang dikumpulkan berbentuk deskriptif percakapan penutur berbahasa Banjar dalam ragam lisan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu (1) skala kerugian dan keuntungan, (2) skala pilihan, (3) skala ketidaklangsungan, (4) skala keotoritasan, dan (5) skala jarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang santun karena sesuai dengan skala kesantunan yang dikemukakan oleh Leech, yaitu skala ketidaklangsungan, keotoritasan, dan pilihan. Sebaliknya, dalam tindak tutur bamamai terdapat tuturan yang tidak santun karena tidak sesuai dengan skala ketidaklangsungan dan skala jarak sosial

    Metafora Pada Lagu Nyidham Sari dan Yen Ing Tawang ono Lintang

    Get PDF
    The study of metaphors in semantics is indeed worth discussing in the world of linguistics, languages that are not straightforward make many people rethink to understand a meaning. In general, the metaphor is an expression of language to say something that lives for something else that lives, that lives for something that dies, something that dies for life, and something else that dies. When talking about keroncong songs in Indonesia, almost all songs mean straightforward. However, if it refers to the songs of Nyidam Sari and Yen Ing Tawang Ono Lintang, the work of artist Andjar Any seems to need to be studied more deeply because in the lyrics delivered there are a lot of visible metaphors. Based on this background, the purpose of this research is to understand the meanings implied in the two songs. In this study researchers used descriptive qualitative methods because the object of this research is the song contained in the text. Then, based on the results of the research that has been done, it can be concluded that 13 metaphors in both songs have been found, namely 4 nominative metaphors, 4 complementative metaphors, 4 predictive metaphors, and 1 calimative metaphors. Thus it has been answered that the meaning of some song lyrics was previously poorly understood by the general public.AbstrakKajian metafora dalam semantik memang layak untuk diperbincangkan dalam dunia linguistik, bahasa-bahasa yang tidak lugas membuat banyak orang berfikir ulang untuk memahami suatu makna. Pada umumnya metafora itu adalah ungkapan kebahasaan untuk mengatakan sesuatu yang hidup untuk sesuatu lainnya yang hidup, yang hidup untuk sesuatu yang mati, sesuatu yang mati untuk hidup, dan sesuatu yang mati lainnya yang mati. Jika berbicara tentang lagu keroncong di Indonesia, hampir semua lagu bermakna lugas. Akan tetapi jika mengarah pada lagu Nyidam Sari dan Yen Ing Tawang Ono Lintang karya seniman Andjar Any tampaknya perlu dikaji lebih dalam karena dalam lirik-lirik yang disampaikan banyak sekali metafora yang tampak. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah memahami makna-makna yang tersirat dalam kedua lagu tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif deksriptif karena objek penelitian ini adalah lagu yang tertuang dalam teks. Kemudian, berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa telah ditemukan 13 metafora dalam kedua lagu tersebut, yaitu 4 metafora nominatif, 4 metafora komplementatif, 4 metafora predikatif, dan 1 metafora kalimatif. Dengan demikian terjawab sudah makna dari beberapa lirik lagu yang sebelumnya kurang dipahami masyarakat awam. 

    Pengantar Redaksi

    No full text

    CERPEN ““AGIK IDUP AGIK NGELABAN”” MENGGUGAH KEARIFAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN HUTAN KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Hutan Kalimantan merupakan satu di antara paru-paru dunia. Namun demikian, telah terjadi kerusakan hutan akibat deforestasi. Keadaan tersebut telah menggugah Dedy Ari Aspar untuk menulis  cerpen “Agik Idup Agik Ngelaban”. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa penelitian terhadap cerpen ini menarik dan penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi utuh  mengenai kritik sosial pada  cerpen tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan  metode penelitian deskriptif analisis. Analisis data menunjukkan adanya kritik sosial pada cerpen ini. Kritik sosial dapat dilihat lewat dua aspek, yaitu lewat kehadiran tokoh dan lewat alur yang terangkai dalam cerita. Kritik sosial lewat tokoh cerita dapat dilihat dari perlawanan yang telah dilakukan tokoh Boni, Medang, Siyan, dan Lansi atas keserakahan yang dilakukan Tuai Rumah Panjang Sungai Besi. Selain itu, kritik sosial juga terlihat secara implisit dari sikap serakah dan tidak berpihaknya  Tuai Rumah Panjang Sungai Besi dan Aparat Bersenjata kepada rakyat sebagai pemilik hutan adat Danau Sentar.  Kritik sosial lewat alur cerita terlihat dari konflik yang dimunculkan pengarang dari awal cerita, konflik memuncak,  hingga konflik mereda

    BENTUK DERIVASI BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa proses pembentukan kata dalam suatu bahasa yang dilakukan dengan afiksasi dapat mengubah dan dapat mempertahankan identitas leksikal kata dan kategori kata. Fenomena ini banyak dijumpai dalam bahasa Melayu dialek Sambas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk derivasi bahasa Melayu dialek Sambas. Manfaat yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan pikiran dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa pada umumnya dan sebagai sumber informasi tertulis tentang bentuk derivasi bahasa Melayu dialek Sambas pada khususnya. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang memuat bahasa Melayu dialek Sambas di Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak libat cakap, dan teknik catat. Hasil analisis, menunjukkan bahwa afiks derivasi bahasa Melayu dialek Sambas meliputi afiks derivasi pembentuk verba, afiks derivasi pembentuk nomina, afiks derivasi pembentuk numeralia. Afiks pembentuk verba dalam bahasa Melayu Dialek Sambas ada tiga belas yaitu, prefiks be-, prefiks di-, prefiks me, prefiks ti-, sufiks-kan, sufiks –ek, simulfiks N-kan, simulfiks N-an, konfiks di-kan, konfiks di-ek, konfiks me-ek, konfiks be-kan, dan konfiks si-an.Afiks pembentuk nomina ada empat yaitu prefiks pe-, prefiks ke-, sufiks-an, dan konfiks ke-kan. Afiks pembentuk numeralia hanya ada satu yaitu prefiks se-

    Indeks Subjek

    Get PDF

    NILAI MORAL DALAM TANDA BASA BADUY

    Get PDF
    Tanda basa Baduy adalah tuturan yang diucapkan masyarakat Baduy dalam durasi waktu tertentu pada satu acara ritual adat, di antaranya acara lamaran dan bercocok tanam. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai moral yang terdapat dalam Tanda Basa Baduy. Analisis data dilakukan dengan metode struktur. Struktur yang diteliti adalah struktur yang berhubungan dengan nilai moral dalam Tanda Basa Baduy. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Tanda Basa digunakan untuk menanamkan perilaku dan moral pada masyarakat Baduy. Hasil pembahasan juga memaparkan ada tujuh nilai moral yang dapat diambil dari Tanda Basa Baduy: (1) sopan dan santun, (2) efektif, (3) jujur dan damai, (4) sederhana, (5) religius, (6) mengikuti ajaran nenek moyang, serta (7) mengakui kesalahan

    KEARIFAN TRADISIONAL DALAM EKOLOGI FLORA TATANGAR BANJAR

    Get PDF
    The problem discusses in this study is traditional wisdom in ecology of flora tatangar Banjar. The problem discusses include what a the example in ecology of flora tatangar Banjar. How does traditional wisdom the ecology of flora of tatangar Banjar. The aim of this study is to describe example in ecology of flora tatangar Banjar and traditional wisdom in ecology of flora tatangar Banjar. This study uses descriptive qualitative approach. Data collection techniques are recording and interviewing. Data analysis is done through interpretation based on ecological theory. Data was collected from January 2018 to March 2018. Data collection areas are Karang Intan and Banjarmasin villages, South Kalimanyan Province. The result describes example in ecology of flora tatangar Banjar and traditional wisdom the ecology of flora tatangar Banjar the using plansts as symbol from the sigh of a condition or situation. The behind, the result gives knowledge about respecting sacred areas, determining fertile and unfertile land, reading the start of a season, maintaining potential natural resouries and pay attention when doing plantation. The conclusion behind this study is teaching us about how to adapt and control nature to be harmonious and prosperous.Keywords: culture, tatangar, Banja

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇