Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Bahasa sebagai Semiotik Sosial dan Pembelajaran Bahasa Inggris

    Get PDF
    AbstrakBahasa merupakan semiotik. Berbeda dengan semiotik umum yang terdiri atas arti dan ekspresi, semiotik bahasa adalah semiotik sosial yang terdiri atas unsur arti, bentuk, dan ekspresi. Selanjutnya, pemakaian bahasa membentuk semiotik, yang terjadi dari semiotik denotatif dan konotatif. Satu mahzab linguistik yang mengkaji bahasa sebagai semiotik sosial adalah linguistik fungsional sistemik (LFS) yang dalam teorinya para pakar LFS mengkaji bahasa dengan cara berbeda dengan kajian linguistik formal. Ciri utama LFS adalah pendekatan arti ke bentuk dan pelibatan konteks sosial, yang berbeda dengan kajian linguistik formal dengan pendekan bentuk ke arti tanpa pelibatan konteks sosial. LFS berfokus pada kajian unsur paradigmatik dan sintagmatik bahasa. Sebagai kajian ilmiah tentang bahasa, linguistik merupakan teori kebahasaan yang menjadi dasar atau rujukan dalam pengembangan pembelajaran bahasa. Pengajaran bahasa berdasarkan LFS menekankan realisasi arti, yang berupa communicative functions, ke dalam tata bahasa (lexicogrammar), ekpresi yang tepat (phonology) dan dalam konteks sosial pemakai bahasa. Tulisan ini menguraikan bahasa sebagai semiotik sosial dalam perspektif LFS dan aplikasinya dalam pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa Inggris.Kata Kunci: bahasa, semiotik, linguistik fungsional sistemi

    Daftar Isi

    No full text

    Daftar Isi dan Kumpulan Abstrak

    No full text

    Meretas Budaya Masyarakat Batak Toba dalam Cerita Sigalegale

    Get PDF
    Sastra lisan pada hakekatnya adalah tradisi yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu. Keberadaannya diakui, bahkan sangat dekat dengan kelompok masyarakat yang memilikinya. Dalam sastra lisan, isi ceritanya seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat yang melahirkan. Biasanya sastra lisan berisi berupa gambaran latar sosial, budaya, serta sistem kepercayaan. Kebudayaan masyarakat Batak Toba dengan sistem patrilinealnya, sistem kepercayaan, serta kesenian tergambar dalam cerita Sigale-gale.Fokus kajian yang dibahas adalah bagaimanakah konsep kebudayaan masyarakat Batak Toba yang terdapat dalam cerita SGG. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah antropologi sastra, dengan memanfaatkan teori kebudayaan untuk menganalisis konsep kebudayaan masyarakat Batak Toba yang terdapat dalam cerita SGG.Hasil penelitian cerita SGG ini menunjukkan bahwa masyarakat Batak Toba di Samosir mengungkapkan bahwa tujuan hidup yang utama masyarakat Batak Toba pada zaman dahulu, yaitu setiap orang berkeinginan mencapai hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan) dan hasangapon (kehormatan). Khusus mengenai tujuan hidup untuk mendapat berkat melalui keturunan (hagabeon) itu, dalam pandangan masyarakat Batak tradisional bahwa memiliki banyak anak adalah sangat penting. Bagi masyarakat Batak Toba yang menganut sistem kekerabatan patrilineal. Anak laki-laki memiliki arti penting di dalam kehidupan keluarga. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki diibaratkan sebatang pohon yang tidak memiliki akar. Setiap anak laki-laki mempunyai kewajiban mengurus dan meneruskan kelangsungan hidup keluarga. Masyarakat Batak menginginkan kematian yang ideal menurut adat kematian, yang dicita-citakan oleh setiap anggota masyarakat Batak Toba, yaitu berusia lanjut, beranak, bercucu, bercicit, dan berbuyut. Semua keturunanannya gabe (banyak keturunan) dan maduma (hidup sejahtera), tidak ada cacat dan celanya. Kematian itu disebut saurmatua.Kata kunci: Kebudayaan tradisional Batak Toba, struktural, makna buday

    SEMIOTIKA DALAM KRITIK TEATER INDONESIA

    Get PDF
    Kritik teater yang ideal adalah kritik yang mempunyai sikap keterbukaan dari pihak kritikus sendiri. Bukan orang yang mewakili tren atau ‘ideologi’ tertentu, tetapi seorang yang selalu menguji seleranya sendiri, mempertahankan kepekaannya yang normal, dan selalu berusaha atau melatih diri untuk bisa berapresiasi dengan sebanyak mungkin bidang maupun jenis ilmu lainnya. Seorang kritikus tidak cukup hanya berbekal apresiasi dan keinginan baik saja, tetapi juga mengerti bahasa objeknya, bahasa teknik teater. Karena itu, kritikus harus tumbuh dengan karya teater itu sendiri, bukan berada di luar teater. Kritikus harus fungsional sebagai jembatan antara seniman dan masyarakat. Dalam melaksanakan kritiknya, kritikus harus berpedoman pada realita, kriteria, dan tanggung jawab. Seorang kritikus teater sudah barang tentu harus pernah atau bersedia meluangkan waktu untuk berkeringat dan berdebu dengan para seniman teater, hingga ia tidak hanya memahami tetapi juga menghayati realitas (kenyataan) teater seperti yang dialami para senimannya. Kritikus teater juga harus mengenal betul peta-teater dalam masyarakatnya, suatu perspektif yang akan dipergunakannya di dalam memahami dan menilai setiap gejala dan perubahan dalam dunia tetaer. Agar menjadi kritikan yang ideal di tengah masyarakat dan senimannya, maka penulis kritik teater perlu memahami sejumlah persyaratan. Syarat-syarat seorang kritikus setidaknya harus melibatkan tiga unsur penting sekaligus, yakni kognitif, emotif, dan evaluatif. Sebab, kritikus memang pekerja yang bertugas mendekatkan karya dengan penikmat. Dengan analisis yang masuk akal, berdasarkan pengetahun yang mendalam serta selera yang terpercaya, dan kedewasaan apalagi tanggung jawab, ia diharapkan dapat mengajak penikmat sastra mengapresiasi suatu karya secara lebih baik. Masalah yang timbul adalah kriteria penilaian terhadap penilaian yng diberikan kritikus itu, sangatlah relatif dan subjektif

    Indeks Author

    No full text

    WARNA LOKAL DAN REPRESENTASI BUDAYA BUGIS-MAKASSAR DALAM CERPEN “PEMBUNUH PARAKANG”: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

    Get PDF
    Tulisan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap cerpen Pembunuh Parakang (PP) sekaligus upaya untuk mengkaji dan menjawab permasalahan tentang bagaimana fungsi dan peran warna lokal di dalamnya serta relevansinya dengan penguatan identitas masyarakat Bugis-Makassar. Data yang digunakan adalah teks cerpen PP karya Khrisna Pabichara yang bersumber dari antologi cerpen Kolecer dan Hari Raya Hantu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pembacaan secara cermat dan pencatatan bagian-bagian yang menunjukkan warna lokal. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan berlandaskan pada teori sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerpen PP hadir dalam balutan warna lokal yang sangat kental. Cerpen ini merupakan internalisasi tradisi dan mitos dalam budaya masyarakat BugisMakassar. Parakang sebagai produk budaya masa lampa, di satu sisi dipandang sebagai mitos belaka, tetapi di sisi lain masih tetap mengemuka pada era modernitas saat ini dan dipercaya oleh masyarakat pendukungnya

    LIRIK LAGU DAN REPRESENTASI KESALEHAN DALAM AKSI BELA ISLAM

    Get PDF
    Lirik lagu-lagu yang dinyanyikan dalam Aksi Bela Islam merupakan eskpresi pendapat untuk membela Alquran yang diasumsikan telah dilecehkan oleh Basuki Tjahaya Purnama. Aksi tersebut menekankan subjek-subjek, bahwa seorang muslim yang saleh harus mendukung dan terlibat dalam gerakan tersebut. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana lagu-lagu dalam Aksi Bela Islam merepresentasikan kesalehan dan konteks aksi tersebut menggunakan lagu-lagu untuk tujuan mengonstruksi politik identitas kami dan liyan yang berdasarkan interpretasi atas kesalehan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan usaha merepresentasi lirik lagu yang menekankan kesalehan kolektif dalam lirik lagu pada Aksi Bela Islam. Lagu-lagu tersebut mengonstruksi kelompok masyarakat untuk lebih terikat menjadi kami yang membedakan diri dengan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lirik lagu yang digunakan dalam aksi tersebut memperlihatkan cara untuk membakar semangat dan untuk mengikat solidaritas di antara para pendukung demonstrasi tersebut. Lagu-lagu tersebut menggunakan bahasa yang merepresentasikan kesalehan para pendukung aksi sekaligus menunjukkan politik identitas yang membedakan kami dan mereka

    Cover Belakang

    No full text

    PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG PERATURAN KEBAHASAAN TERHADAP SIKAP BAHASA PENGUSAHA KULINER DI KABUPATEN PRINGSEWU

    Get PDF
    The purpose of this research is to describe the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian and foreign languages, to explain the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region towards languages and the use of Indonesian and foreign languages, and to explain the influence of the knowledge of the legislation toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region. The result shows that the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian, local and foreign languages can be considered low because almost all of the respondents have a limited knowledge of the legislation being asked in the questions;the language attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region can be considered good because the average value has reached 84.36%;the influenceof the knowledge of the legislation relating to languages toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region is not considered significant which is only 1%. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan  pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, menjelaskan sikap pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu terhadap bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, dan menjelaskan pengaruh pengetahuan tentang peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu. Hasil Penelitian menunjukkan pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia, daerah dan asing dapat dikategorikan kurang karena hampir semua responden tidak mengetahui peraturan perundang-undangan yang ditanyakan, sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu dapat dikategorikan baik karena nilai rata-ratanya sudah mencapai 84,36%, pengaruh pengetahuan mengenai peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu tidak signifikan karena hanya sebesar 1%

    1,167

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇