Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
LEKSIKON KEKERABATAN ETNIK MELAYU PALEMBANG
This is research aims to identity and classify the kinship lexicon then explain the role and meaning in Palembang Malay greetings. The research used descriptive method. The technique used was ethnographical interview Palembang Malay ethnic in communicating either in nuclear family based on matchmaking or bloodline (offspring). That research result showed that the role and meaning of lexicon kinship dislayed that the people considered as close relatitive are family. Family relation is both consanguine and afinal. It is categorized into ego aligned, over ego, and below ego. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk menjelaskan identitas dan mengklasifikasi leksikon kekerabatan dengan menjabarkan peran dan makna sapaan bahasa Melayu Palembang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengambilan data dengan menggunakan wawancara yang berkaitan secara etnografi. Hasil kajian leksikon kekerabatan bahasa Melayu Palembang di Kota Palembang adalah sebagai berikut: Etnik Melayu Palembang dalam berkomunikasi pada keluarga inti (keluarga batih) berdasarkan pada pertalian darah dan hubungan karena perkawinan. Kategori hubungan itu dapat dikelompokkan menjadi: hubungan sejajar ego/pribadi, di atas ego, dan di bawah ego
Sistem Appraisal pada Slogan dalam Kain Rentang Kampanye Politik Bakal Calon Kepala Daerah Kabupaten dan Kota Bogor
One of language functions in political discourse is to persuade others, and one of the media to implement the function is slogan used on political campaign banner. This research aims to explore the use of appraisal system, especially attitude, and its source of appraisal in the slogans on political campaign banners of regent and mayor prospective candidates in Bogor Residence and Bogor City. Researches on slogans on political campaign banner have been widely counducted, while the researches which apply the appraisal theory are still not easy to find. In fact it can help text consumers clearly see the attitude and the evaluation of the text producers on subjects they communicate. The data were analyzed by using appraisal system theory proposed by Martin and White (2005). The data were obtained by observing and were analyzed by using referential matching (padan referensial) method. The results show that judgment is the most-frequently-used subcategory in the slogans. It reflects that the political campaign banner creators give more emphasis on appraisal of human behaviour, whether of themselves or of others (society). Regarding the subjects and the objects, the appraisals were most predominantly made by and givento the regent and the mayor prospective candidates themselves as the slogan makers. The finding shows that the regent and the mayor prospective candidates often subjectively claim their quality without considering others’ opinion in their political advertisement.AbstrakSalah satu fungsi bahasa dalam wacana politik adalah untuk memengaruhi orang lain. Fungsi tersebut diwujudkan salah satunya dalam bentuk slogan kampanye politik pada kain rentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan sistem appraisal, khususnya subsistem attitude, dan sumber penilaian dalam slogan pada kain rentang kampanye politik bakal calon kepala daerah di Kabupaten dan Kota Bogor. Data-data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori sistem appraisal yang dikemukakan oleh Martin & White (2005). Data-data tersebut diperoleh melalui metode simak dan dianalisis dengan metode padan referensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa judgment merupakan subkategori attitude yang paling banyak digunakan dalam slogan. Hal ini menunjukkan bahwa para pembuat iklan lebih menekankan penilaian terhadap perilaku manusia, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain (masyarakat). Sementara itu subjek dan objek penilaian yang paling dominan adalah bakal calon kepala daerah sendiri selaku pembuat slogan. Temuan ini menunjukkan bahwa para bakal calon kepala daerah kerap membuat klaim-klaim sepihak mengenai kualitas dirinya, tanpa mengutip atau menampilkan pendapat dari pihak lain.
KEHIDUPAN “IDEAL” DI RUANG SIBER DALAM NOVEL KERUMUNAN TERAKHIR
Penelitian ini mengkaji isu kehidupan ideal yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalam novel Kerumunan Terakhir yang mengambil dua latar, yakni dunia digital dan dunia nyata. Isu ini didasarkan pada fenomena yang terjadi dalam novel, yaitu tokoh yang gemar menggunakan teknologi internet. Penggambaran karakter masyarakat yang sesungguhnya pemalu, tetapi “berani” di dunia digital dalam novel ini memunculkan pertanyaan, apa yang menyebabkan tindakan tokoh-tokoh di dalam novel begitu berbeda di kedua dunia dan bagaimana kehidupan yang ideal tersebut dikonstruksi oleh karakter-karakter di dalam novel. Pertama, menentukan proses simulasi, kemudian menentukan simulakra. Media menghadirkan ruang semu atau ruang peniruan yang mengakibatkan gambaran realitas menjadi ‘tidak nyata’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi menjadi tempat alternatif dalam menggeser dan mengubah tatanan kehidupan tokoh-tokoh di dalam novel Kerumunan Terakhir menjadi tempat simulasi sebagai citra pelarian diri; yakni kehidupan yang ideal dan tampilan kekuasaan serta pengklaiman kebenaran. Novel ini menunjukkan kritik terhadap fenomena dunia digital yang digambarkan seperti ‘musuh dalam selimut’. Artinya, dunia digital memberikan kenyamanan dan kebebasan, tapi kebebasan tersebut dipatahkan oleh aturan-aturan yang mengontrol kehidupan dunia digital itu sendiri
KAJIAN DIALEK SOSIAL FONOLOGI BAHASA INDONESIA
Tulisan ini merupakan kajian dialek sosial fonologi bahasa Indonesia, yang bertujuan mendeskripsikan variasi fonologis berdasarkan variabel etnik dan gender, serta mendeskripsikan variabel sosial yang paling dominan yang menyebabkan terjadinya variasi tersebut. Penelitian ini difokuskan pada variasi fonologis dari enam fonem dalam bahasa Indonesia, yaitu /f/, /v/, /h/, /z/, /k/, dan /u/. Data penelitian diperoleh dari 4 informan etnik Lombok, 4 informan etnik Muna, dan 4 informan etnik Medan. Informan dari setiap etnik terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan. Data dianalisis melalui metode reading passage style: read aloud, dan the observer’s paradox. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui metode padan. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1)etnik Lombok lebih dominan dalam menimbulkan variasi pelafalan fonem /f/, /v/, dan/h/ dibandingkan dengan etnik Muna dan Medan yang cenderung mempertahankan ketiga bunyi asli fonem tersebut; (2) etnik Lombok dan Medan lebih dominan dalam menimbulkan variasi pelafalan fonem /k/ dan /u/ dibanding dengan etnik Muna; (3) etnik Lombok dan Muna lebih dominan menimbulkan variasi pelafalan fonem /z/ dibandingkan dengan etnik Medan; (4) laki-laki lebih dominan menimbulkan variasi pelafalan fonem-fonem dibandingkan dengan perempuan; dan (5) posisi fonem, yaitu di awal, tengah, dan akhir kata sangat memengaruhi variasi pelafalan fonem
EKSISTENSI MENJADI PELACUR DALAM NOVEL TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR! KARYA MUHIDIN M. DAHLAN
Penelitian ini bermula dari munculnya masalah yaitu muslimah dalam TIAMP yang begitu taat tetapi pada akhirnya justru memilih menjadikan dirinya sebagai pelacur. Pelacur merupakan pekerjaan yang sarat dengan tekanan. Namun dengan menjadi pelacur, tokoh dalam novel ini justru merasa bebas dan kehilangan tekanan dalam hidupnya. Pekerjaan pelacur adalah bentuk eksistensinya dengan mengabaikan pandangan-pandangan masyarakat terhadapnya. Bertolak dari hal demikian, maka peneliti berupaya menjelaskan bagaimana eksistensi sebagai muslimah dan bagaimana eksistensinya menjadi pelacur. Penelitian ini menggunakan teori eksistensialisme Jean Paul Sartre. Konsep kebebasan, tanggung jawab, absurditas, keinginan menjadi Tuhan, penderitaan, keyakinan buruk, dan faktisitas (termasuk orang lain) dalam teori eksistensialisme Jean Paul Sartre, erat kaitannya dengan karya Muhidin M. Dahlan yang sarat dengan permasalahan-permasalahan tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa dalam TIAMP, muslimah diobjektivikasi oleh orang lain, tetapi akhirnya menjadi subjek dengan mengembalikan kesadaran pada dirinya sendiri. Eksistensinya menjadi pelacur adalah bentuk mauvaise foi atau keyakinan buruk sebab ia berada di antara transendensi dan faktisitas
PEMAKNAAN DIRI PEREMPUAN DALAM NOVEL SUTI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO (Women's Personality in Novel Suti by Sapardi Djoko Damono)
Tulisan ini mengangkat pemaknaan yang berbeda terhadap empat tokoh perempuan yang hidup di sebuah desa yang sama, yaitu Desa Tungkal dalam novel Suti karya Sapardi Djoko Damono (2015). Pemaknaan terhadap diri perempuan menggunakan metode anaisis teks dengan teknik analisis sudut pandang, latar sosial dan perilaku tokoh, pandangan tokoh lain, dan narasi. Berdasarkan hasil analisis terungkap bahwa tokoh perempuan dalam novel Suti dimaknai sebagai perempuan yang tidak ajeg (tidak stabil) karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda walaupun mereka hidup di desa yang sama. Stratifikasi sosial, kontrol sosial, dan situasi tubuh perempuan yang berbeda menyebabkan pemaknaan terhadap diri tokoh perempuan dalam novel Suti hadir dengan cara yang diinginkan oleh situasi tersebut.(This paper raise a different meaning for the four female leaders who live in the same village, namely Tungkal in the novel Suti by Sapardi Djoko Damono (2015) The meaning of women will be carried out using the text analysis method. The meaning of the female character is done by analyzing the point of view, social background and character behavior, the views of other characters, and narratives. Based on the results of the analysis revealed that the female characters in Suti's novel are interpreted as women who are not stable because they come from different backgrounds even though they live in the same village. Social stratification, social control, and different situations of women's bodies cause the meaning of the female character in the novel Suti to be present in the manner desired by the situation.)
NAMA GALARAN (JULUKAN) PADA MASYARAKAT BANJAR DI KAMPUNG MANDI KAPAU KECAMATAN KARANG INTAN
Nickname is a name used to call someone directly or indirectly. This study specially discusses many kind of nicknames used on Banjar sociey. The aim of this study is to describe the form of nickname used in Banjar society. This study uses sociolinguistic approach. The data collection and method used in this study are dialogue method, continued with provocating, recording, and note taking technique. The data analysis is done through several steps, they are 1) identifying the nickname, 2) classifying the nickname base on positive and negative sense of meaning, 3) interpreting the nickname. The result shows that there are seven nicknames on Banjar society, they are 1) base on physically condition, 2) similarity, 3) event, 4) origin, 5) occupation, 6) attitude, 7) the parent’s name. Sense of meaning in this nickname can be in positive and negative meaning
Dialek Medan: Kosakata dan Lafalnya
Abstrak :Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km2) dan telah menjadi pusat perdagangan yang memiliki keragaman suku (etnis) dan agama. Perpaduan penutur asli dan penutur pendatang itulah yang melahirkan bahasa ragam lisan khas Medan. Dalam komunikasi berbahasa sehari-hari di luar rumah, penutur bahasa Medan pada umumnya menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dapat terlihat dalam semua ranah aktivitas masyarakat, termasuk pada ranah keluarga dan ranah pasar. Penggunaan bahasa ragam lisan Medan telah lama menyebar melampaui batas provinsi. Sehubungan dengan hal-hal di atas, peneliti ingin mengkaji pemakaian bentuk kata (kosakata dan lafal) ragam lisan Medan yang merupakan ciri yang menonjol dalam aspek bahasa secara fakta digunakan dalam percakapan sehari-hari.KATA KUNCI : dialek, kosakata, lafa