Jurnal-el Badan Bahasa (e-Jurnal Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH BESEMAH SEBAGAI BAGIAN PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL
Pemertahanan bahasa berkaitan dengan sikap penutur bahasa untuk menggunakan bahasa itu di tengah bahasa lainnya yang ada di masyarakat. Bahasa Besemah merupakan salah satu bagian kebudayaan nasional yang dijamin keberadaannya oleh negara. Oleh karena itu, tugas masyarakat penuturnya ialah menjaga keberadaan bahasa itu agar tidak punah. Permasalahan yang muncul ialah bagaimana upaya pemertahanan bahasa Besemah sebagai pelestarian kearifan lokal. Tujuannya ialah untuk mendeskripsikan upaya pemertahanan bahasa besemah sebagai pelestarian kearifan lokal. Metode yang digunakan ialah deskriptif dengan sumber data primer dan skunder yang dikumpulkan melalui metode cakap dan studi pustaka. Data dianalisis secara deskriptif untuk menjawab permasalahan yang muncul. Hasilnya, banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keberadaan bahasa Besemah, misalnya dengan melaksanakan pembinaan kepada masyarakat penuturnya dan melaksanakan penelitian kebahasaan untuk dokumentasi. Dengan demikian, pemertahanan bahasa Besemah perlu dilakukan oleh semua pihak agar tidak punah
EKSTASI GAYA HIDUP URBAN DALAM HANACO
Makalah ini berjudul “Ekstasi Gaya Hidup Urban dalam Hanaco”. Makalah ini memaparkan kondisi manusia urban yang terjebak dalam kungkungan budaya massa. Pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada tiga hal berikut, yaitu perkawinan dan parenting, masalah dan penyelesaian masalah, serta hubungan antarmanusia. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapati jawaban atas ketiga masalah tadi, yaitu bagaimana manusia urban memandang dan menghadapi perkawinan serta parenting, masalah dan penyelesaian masalah, serta hubungan antarmanusia. Pembahasan tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies pada pengaruh budaya massa, terutama di kalangan manusia urban yang terdapat pada data penelitian berupa novel-novel karya Indah Hanaco, yaitu (1) Black Angel, (2) The Curse of Beauty: Metrolifestyle Sales Promotion Girl, (3) Le Masques, (4) My Better Half, (5) You Had Me at “Hello”, (6) Heartling, (7) Out of the Blue, (8) Delicious Married, (9) The Passionate Married, (10) Fixing A Broken Heart, dan (11) Millionaire’s Heart. Hasil amatan sementara yang dapat terungkap dalam abstrak, antara lain, tampaknya terjadi pergeseran pandangan manusia urban terhadap perkawinan, konsep parenting, masalah dan penanganan masalah, serta hubungan antarmanusia
GUGURITAN SUNDA DALAM TIGA GAYA PENYAIR
Puisi guguritan dalam khazanah sastra Sunda merupakan materi puisi lama yang hingga kini masih ditulis dan diminati. Tradisi menulis guguritan dalam sastra Sunda banyak dilakukan sejak awal abad XX. Puisi ini masih pula ditulis dan dibaca oleh masyarakat Sunda, terutama para peminat sastra hingga awal abad XXI. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana gaya penulisan guguritan dari tiga penyair Sunda yang pada tiga dekade terakhir dianggap tokoh penulis guguritan. Ketiga penyair guguritan tersebut yakni Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, dan Wahyu Wibisana. Mereka merupakan tokoh penyair yang dianggap baik dalam menulis puisi guguritan seperti yang terbaca pada Jamparing Hariring (1992) karya Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) karya Dyah padmini, dan Riring-riring Ciawaking (2004) karya Wahyu Wibisana. Penelitian dimaksudkan untuk memperlihatkan sejauh mana gaya kepenulisan dari ketiga penyair ini beserta pembeda yang dimilikinya masing-masing, terutama dalam pemilihan tema, pemilihan diksi, pengimajinasian, kata konkret, serta bahasa figuratif dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Dari hasil penelitian ini muncul kecenderungan-kecenderungan gaya kepenulisan sebagai pembeda dari masing-masing penyair, yakni kecenderungan nuansa feminin pada guguritan karya Dedy, kecenderungan nuansa maskulin pada guguritan Dyah Padmini, serta kecenderungan nuansa netral pada guguritan karya Wahyu Wibisana. Abstract: Guguritan Poetry in the Sundanese literature is a matter of old poetry which is still written and have a good demand in current condition. The tradition of writing guguritan in Sundanese literature is mostly done since the beginning of the XX century. This poem is still written and read by Sundanese people, especially literary enthusiasts until the early of XXI century. This study describes how the style of writing the guguritan of three Sundanese poets who in the last three decades are considered as guguritan authors. The three poets are Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, and Wahyu Wibisana. They are well-known poets in writing guguritan poetry as it reads in works Jamparing Hariring (1992) by Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) by Dyah Padmini, and Riring-Riring Ciawaking (2004) by Wahyu Wibisana. The research is intended to show the extent of the authorship style among the three poets and their respective distinctions; especially in the themes selection, dictionary selection, imagination, concrete words, and figurative languages which using descriptive-analytic methods. From the results of this study appeared the tendencies of the authorship style as a differentiator of each poet, namely the tendency of feminine nuances in the Dedy's work, the tendency of masculine nuance in Dyah Padmini's work, and the tendency of neutral nuances in the work of Wahyu Wibisana
Pergeseran Bahasa Daerah Pada Anak-Anak di Kuala Tanjung Sumatra Utara
This research aims to describe the condition of regional language shift among children in Kuala Tanjung. Afterwards, it will be studied whether the attitude factor and the parents’ role affect the use of regional language. To answer this issue, the researcher involved the societies of Kuala Tanjung who live in the districts of Sei Suka, Medang Deras and Air Putih in Batu Bara Regency, North Sumatra Province. From these populations, samples are taken as many as 20 children from each district. The total sample is 60 people aged 6-12 years (primary education age), 60 parents (30—50 years, married), so the total sample is 120 people. This research used quantitative-qualitative descriptive method. Data collection techniques are observation, questionnaires and interviews through note taking and recording as the research instruments. The result of the research shows the condition of language shift among children in Kuala Tanjung based on percentage analysis of questionnaire data. The use of language in the realm of family and official and unofficial domains in schools shows the dominance of Indonesian language usage. Based on the percentage calculations, almost all respondents' answers indicate a lack of regional language usage by children, although in terms of attitudes, the respondents’ attitude towards regional language usage is quite encouraging, shown by the percentage of questionnaires. However, it does not affect the regional languages defense so that it is concluded that there has been a shift in language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi pergeseran bahasa daerah di kalangan anak-anak di wilayah Kuala Tanjung. Lebih lanjut, akan dilihat apakah faktor sikap dan peran orang tua memengaruhi penggunaan bahasa daerah. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan populasi masyarakat Kuala Tanjung yang berdomisili di Kecamatan Sei Suka, Kecamatan Medang Deras, dan Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatra Utara. Dari sejumlah populasi tersebut, diambil sampel sebanyak 20 anak-anak dan 20 orang tua dari tiap-tiap kecamatan. Jumlah sampel adalah 60 orang usia 6—12 tahun (usia pendidikan dasar) dan 60 orang tua (30—50 tahun, menikah), total sampel adalah 120 orang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif-kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kuesioner, dan wawancara yang dilengkapi dengan instrumen penelitian, yaitu pencatatan dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan adanya kondisi pergeseran bahasa di kalangan anak-anak di Kuala Tanjung berdasarkan analisis persentase data kuesioner. Penggunaan bahasa pada ranah keluarga dan ranah resmi dan tidak resmi di sekolah menunjukkan dominannya penggunaan bahasa Indonesia. Berdasarkan perhitungan persentase, hampir semua jawaban responden menunjukkan kurangnya penggunaan bahasa daerah oleh anak-anak walaupun dari segi sikap responden terhadap penggunaan bahasa daerah cukup mengembirakan, yang ditunjukkan oleh hasil persentase kuesioner. Akan tetapi, tidak memberi pengaruh pada pemertahanan bahasa daerah sehingga disimpulkan telah terjadi pergeseran bahasa
Keberlakuan Nomina sebagai Predikat dalam Kalimat Bahasa Indonesia: Kajian Sintaksis
In Indonesian language, there are noun that occupy predicate. However, noun are often not considered as predicate by linguists. This day, generaly speaking that verba occupy predicate. Purpose of this research is to describe (1) character of noun, (2) noun that occupy predicate and subject, (3) influence of noun predicate on role argument, (4) presence of copula in sentence with noun as predicate. This type of research is qualitative research. Data analysis method is distribution method. Data analysis techniques is divide direct elements, insert, extend, and reverse. Result of this research is predicate noun has characteristic can be inserted with bukan, dari, yang, menjadi, merupakan, adalah, ialah, dan, hanya, and atau. Noun that occupy predicate are less individual than it subject. Noun occupying predicate also influence role semantic arguments around it. Sentence with noun predicate can be inserted with copula, but sentence is different from sentence with noun predicate. AbstrakDalam bahasa Indonesia, terdapat nomina yang menduduki predikat. Namun, nomina sering tidak diperhitungkan dalam posisinya sebagai predikat oleh ahli bahasa. Dewasa ini, umum dibicarakan verba yang menduduki sebagai predikat. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) ciri nomina, (2) nomina yang menduduki predikat dan subjek, (3) pengaruh predikat nomina terhadap peran argumen, (4) kehadiran kopula dalam kalimat dengan nomina sebagai predikat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang mengandung predikat yang berkelas kata nomina dalam bahasa Indonesia. Dalam penelitian ini, sumber data primer adalah Solopos dan Kompas. Metode yang digunakan adalah metode simak. Teknik pengumpulan data adalah teknik catat. Metode analisis data adalah metode agih. Teknik analisis data menggunakan teknik bagi unsur langsung, sisip, perluas, dan balik. Hasil dari penelitian ini adalah nomina yang menduduki predikat memiliki ciri dapat disisipi dengan bukan, dari, yang, menjadi, merupakan, adalah, ialah, dan, hanya, dan atau. Nomina yang menduduki predikat lebih tidak individual daripada subjeknya. Kemudian, nomina yang menduduki predikat juga mempengaruhi peran semantis argumen di sekitarnya. Kalimat berpredikat nomina dapat disisipi dengan kopula, tetapi kalimat tersebut berbeda dengan kalimat berpredikat nomina.