Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
KRITIK NALAR AL-GHAZALI DALAM SENGKARUT FILSAFAT ISLAM
Di kalangan pemikir rasional, al-Ghazali acapkali dipandang sebagai titik tonggak serangkaian persepsi anti-filsafat dari sepanjang pertengahan sejarah filsafat Islam hingga kini, yang dikatakan berakibat pada kemunduran umat Islam karena menyingkirkan kerja rasional filsafat dan mendulum tasawuf menjadi satu-satunya solusi. Sebenarnya, jika dicermati secara obyektif predikat tersebut tidaklah sepenuhnya benar, sebab gagasan-gagasan al-Ghazali selalu rasional dan konstruktif baik yang terkait dengan kritiknya terhadap filosof maupun aneka karya lainnya. Dalam tulisan ini, akan diketengahkan kerja-kerja rasional al-Ghazali dalam mengkritik filsafat Islam, terutama sengkarut tiga persoalan inti pertentangan antara al-Ghazali dengan dua simbol filosof Islam, al-Farabi dan Ibn Sina.Kata Kunci : Kritik nalar, al-Ghazali, filsafa
KONSEP DAN IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM
AbstrakObjek dari tulisan ini adalah menggali tentang konsep yang berkaitan dengan gaya Kepemimpinan Transformasional dan implementasinya pada Institusi Pendidikan Islam. Metode penulisan berdasarkan analisa permasalahan dari berbagai Instutisi Pendidikan Islam selanjutnya dikaitkan teori-teori terkait.Konsep dasar Gaya Kepemimpinan Transformasional adalah suatu cara untuk mempengaruhi orang lain agar mereka berkeinginan untuk mengikuti dengan cara menggali potensi insani yang dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. Dengan demikian, setiap anggota yang bekerja tidak hanya menunjukan kinerja sesuai perintah namun mereka menjadi leader atau pemimpin pada sub yang mereka geluti.Sementara itu, Institusi Pendidikan Islam memiliki persoalan mendasar terkait manajemen dan kepemimpinan yang semakin tertinggal. Oleh sebab demikian, penulis mencoba menganalisa persoalan secara teoritik, bagaimana Gaya Kepemimpinan Transformasional memeiliki andil dan peran dalam mengatasi persoalan berdasarkan empat dimensi yaitu; (a)idealisasi pengaruh, (b) motivasi inspirasional, (c) stimulasi intelektual dan, (d) konsiderasi individual.Hasil analisa dari tulisan ini menunjukan bahwa persoalan Kepemimpinan pada Institusi Pendidikan Islam bisa diatasi dengan cara mengimplemntasi Gaya Kepemimpinan Transformasional. Selanjutnya penulis berharap ada pengkajian yang lebih mendalam oleh penulis-penulis lain tentang objek yang sama dengan mengambil salah satu dari empat dimensi Gaya Kepemimpinan Transformasional
MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM MASA KLASIK
AbstrakTumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan islam sejak masa klasik hingga masa modern tidak dapat dilepaskan dari sejarah masjid sebagai institusi awal dalam pendidikan islam klasik. Sebagai institusi pertama yang dibangun untuk mendidik umat setelah hijrah ke madinah, nabi menjadikan masjid sebagai basis utama lahirnya peradaban madani. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah namun juga menjalani fungsi sosial, budaya, politik dan keamanan. Di masjid inilah pendidikan agama dalam bentuk yang paling dasar diberikan dan berkembang menjadi pusat kajian beragam keilmuan Islam dengan pengajar dari para sahabat utama dengan sistem pengajaran halaqah yang berkembang hingga sekarang pada pondok pesantren modern. Pesatnya perkembangan zaman mengakibatkan masjid bertransformasi menjadi madrasah dan mengakibatkan fungsi masjid direduksi menjadi tempat ibadah semata. Upaya mengembalikan fungsi dan peran masjid sebagai pusat peradaban pada masa modern kembali marak dilakukan dengan harapan munculnya peradaban baru yang berbasis pada masjid
FIQH RIBA; KAJIAN ‘ILLAT HUKUM (KAUSA LEGAL) RIBA
Bagaimana pun juga, terjadi silang pendapat di kalangan ulama menyangkut illat (kausa legal) riba dengan dua varian pokoknya. Ada yang berpendapat bahwa illat keharaman riba fadhl adalah kelebihan barang atau harga dari benda sejenis yang diperjualbelikan melalui alat ukur al-wazn dan al-kail. Dengan kata lain, riba fadhl hanya berlaku dalam timbangan (al-wazn) atau takaran (al-kail) harta yang sejenis, bukan terhadap nilai harta. Kelompok ulama yang lain berpandangan bahwa illat keharaman riba fadhl, khususnya emas dan perak adalah disebabkan keduanya merupakan harga dari sesuatu, baik emas dan perak itu telah dibentuk menjadi cincin, kalung atau yang lainnya, maupun belum (emas batangan). Di sisi lain, ada juga ulama yang berpendapat bahwa riba sama sekali tidak memiliki illat. Dengan begitu, maka tidak ada riba kecuali dalam enam komoditas yang telah dinyatakan secara jelas dalam hadits, yakni emas, perak, gandum, anggur, kurma, dan garam.Kata kunci : fiqh riba, perdebatan ulama, illat hukum, kausa lega
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM MODERN
Dari berbagai permasalahan yang timbul akibat dari kemajuan zaman dan modernisasi ini, beberapa di antaranya terjadi pula di dalam dunia pendidikan. Bahkan problem-problem tersebut ikut meracuni aspek-aspek yang sangat mendasar bagi dunia pendidikan. Pola pikir yang melandasi system pendidikan kita khususnya di Indonesia dan Negara-negara muslim lainnya tidak lepas dari warisan kolonialisme dengan kerangka positivismenya. Keadaan ini menggali jurang yang sangat dalam antara pola pikir pendidikan asli pribumi serta ruh pesantrennya dengan landasan pendidikan barat yang lebih cenderung mengarah kepada rasionalitas-matrealistik. Ilmu dalam pendidikan di barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama, namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat oleh spekulasi filosofis dengan memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya ilmu pengetahuan serta nilai etika dan moral diatur oleh rasio manusia, sehingga dari cara pandang seperti inilah lahir ilmu-ilmu sekular dengan manusia yang mengikutinya adalah seorang sekularis.Kata Kunci : problematika pendidikan, pendidikan Islam moder
KAJIAN MENGENAI SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Abstrak Al-Qur'an mendudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah berupa jasmani dan rohani. Al-Qur'an memberi acuan konseptual yang sangat mapan dalam memberi pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani agar manusia berkembang secara wajar dan baik. Al-Qur'an memberi keterangan tentang manusia dari berbagai segi, salah satunya untuk menjawab pertanyaan siapakan manusiaitu? Dari ayat-ayat al-Qur’an tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk fungsional yang bertanggungjawab. Sumber daya manusia merupakan bagian dari pelaksanaan pendidikan, yang dari semula telah mengarahkan manusia untuk berupaya meningkatkan kualitas hidupnya yang dimulai dari pengembangan budaya kecerdasan. Ini berarti bahwa titik tolaknya adalah pendidikan yang akan mempersiapkan manusia itu menjadi makhluk individual yang bertanggung jawab dan makhluk sosial yang mempunyai rasa kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang damai, tentram, tertib, dan maju, dimana moral kebaikan (kebenaran, keadilan, dan kasih sayang) dapat ditegakkan sehingga kesejahteraan lahir batin dapat merata dinikmati bersama
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI ISLAM
Abstrak: Kondisi pendidikan dewasa ini sangat mencemaskan, semakin berkembangnya zaman semakin membludaknya berbagai macam problem khususnya dalam dunia pendidikan. Seperti tawuran antar pelajar, tawuran antar kampung, peredaran narkoba, seks bebas, korupsi, dan banyak tindak kejahatan lainnya. Tindakan-tindakan amoral tersebut tidak dapat terlepas dari dunia pendidikan. Sebab, paling tidak mereka pernah dididik di sekolah. Fenomena ini menggambarkan kegagalan dunia pendidikan. Oleh karena itu, proses pendidikan harus senantiasa dievaluasi dan diperbaiki. Salah satu upaya perbaikan pendidikan adalah munculnya gagasan mengenai pentingnya pendidikan karakter, gagasan ini muncul karena proses pendidikan selama ini dilakukan belum sepenuhnya berhasil dalam membangun Indonesia yang berkarakter. Sudah saatnya lembaga pendidikan atau sekolah mengambil haluan untuk mengikuti pola, model, dan pendekatan-pendekatan dalam pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam. Islam memandang pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan memperbaiki kondisi dan karakter umat manusia di muka bumi ini yang tentunya berpedoman pada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnatullah. Maka amat pentingnya karakter Rasulullah diutamakan untuk diinternalisasikan karena semakin berkembangnya zaman semakin kurangnya generasi yang menjalankan titah syariat Islam sehingga tidak beristiqomah dan berkeyakinan untuk melakukan sesuatu yang baik untuk diri dan orang lain. Abstrak: Kondisi pendidikan dewasa ini sangat mencemaskan, semakin berkembangnya zaman semakin membludaknya berbagai macam problem khususnya dalam dunia pendidikan. Seperti tawuran antar pelajar, tawuran antar kampung, peredaran narkoba, seks bebas, korupsi, dan banyak tindak kejahatan lainnya. Tindakan-tindakan amoral tersebut tidak dapat terlepas dari dunia pendidikan. Sebab, paling tidak mereka pernah dididik di sekolah. Fenomena ini menggambarkan kegagalan dunia pendidikan. Oleh karena itu, proses pendidikan harus senantiasa dievaluasi dan diperbaiki. Salah satu upaya perbaikan pendidikan adalah munculnya gagasan mengenai pentingnya pendidikan karakter, gagasan ini muncul karena proses pendidikan selama ini dilakukan belum sepenuhnya berhasil dalam membangun Indonesia yang berkarakter. Sudah saatnya lembaga pendidikan atau sekolah mengambil haluan untuk mengikuti pola, model, dan pendekatan-pendekatan dalam pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam. Islam memandang pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan memperbaiki kondisi dan karakter umat manusia di muka bumi ini yang tentunya berpedoman pada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnatullah. Maka amat pentingnya karakter Rasulullah diutamakan untuk diinternalisasikan karena semakin berkembangnya zaman semakin kurangnya generasi yang menjalankan titah syariat Islam sehingga tidak beristiqomah dan berkeyakinan untuk melakukan sesuatu yang baik untuk diri dan orang lain. *Penulis adalah Mahasiswa S2 SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email: [email protected] Kata Kunci:Pendidikan, Karakter, Nilai Islam, Akhlak
PSIKOLOGI DAN KOMUNIKASI
Antara psikologi dan komunikasi berkelindan sangat erat. Kedua terma ini saling mendukung dalam ketercapaiannya masing-masing, di satu sisi psikologi membutuhkan komunikasi sebagai media yang menghantarkannya pada pengetahuan jiwa, sedangkan komunikasi bertindak membentuk jiwa manusia sehingga dapat sampai sebuah kesimpulan. Dan dalam tulisan ini kedua terma tersebut diurai.Kata kunci : psikologi, komunikas
MENJADI PENDIDIK YANG BERMUTU (Percikan Pemikiran Untuk Peningkatan Mutu Sumber Daya Pendidik di Lembaga Pendidikan Islam)
Abstrak:Pendidik atau biasa disebut dengan guru merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam dunia pendidikan yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam peningkatan kualitas atau mutunya, karena bagaimana dapat menghasilkan peserta didik yang bermutu jika pendidiknya tidak bermutu.Hal tersebut juga dikarenakan pendidik (guru) adalah orang pertama yang selalu mendapatkan sorotan dari masyarakat.Ketika terjadi terjadi berbagai hal tentang peserta didik, baik peserta didik tersebut berkelakuan baik terlebih lagi berkelakuan buruk, maka gurunya lah yang pertama kali menjadi sorotan, lebih-lebih guru Agama.Meskipun upaya meningkatkan kualitas guru baik ditingkat institusi (lembaga pendidikan) maupun secara umum selalu dilakukan mulai dari pelaksanaan pendidikan dan pelatihan guru, pemberian tunjangan yang langsung dianggarkan dari APBN, kenaikan gaji guru terutama PNS, sampai pada program sertifikasi guru,kenyataannya ini belum bisa memberikan bukti nyata perubahan dalam pendidikan di Indonesia.Pendidikan dan pelatihan guru menguap bagai air, tunjangan dan kenaikan gaji bagai karpet terbang yang membawa mereka keawan, dan sertifikasi merupakan pesawat ulang alik yang membawa mereka ke luar angkasa yang bebas bergerak tanpa perlu berpijak.Perbaikan fasilitas yang diberikan pemerintah tidak mengubah keadaan pendidikan di Indonesia.Hanya sedikit tenaga pendidik yang memang menjadikan perbaikan fasilitas tersebut sebagai alat untuk mengadakan perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, tetapi persentasinya sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah pendidik dan siswa sekolah yang ada di Indonesia
UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA
Abstrak: Degradasi moral anak bangsa yang semakin menyimpang di berbagai norma kehidupan, baik dari segi agama maupun sosial yang terwujud dalam bentuk perilaku yang anti sosial, dan perbuatan amoral lainnya dikalangan siswa. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk mendidik siswa agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkunganya. Upaya lembaga pendidikan, guru secara umum dan guru pendidikan agama Islamakan berpengaruh positif terhadap pembentuk karakter siswa, sehingga mereka menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik dan berkualitas. Upaya berbentuk dapat berbentuk: Pertama, penerapan nilai-nilai karakter pada siswa telah dilakukan oleh pihak sekolah melalui program kegiatan yang direncanakan, baik bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, yaitu: (1) melalui kegiatan belajar mengajar dengan memadukan nilai-nilai pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran yang diampu oleh para guru; dan (2) melaksanakan program kegiatan, seperti shalat berjamaah, yasinan (al-Qur’an) bersama, lomba ceramah agama (Islam), kepramukaan, dan mengadakan lomba tilawah al-Quran. Kedua, upaya guru pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter peserta didiknya, melalui: (1) kegiatan belajar mengajar di kelas dengan mengkolaborasikannya nilai-nilai pendidikan karakter pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kepada peserta didiknya; (2) kegiatan ekstrakurikuler yang direncanakan seperti: membiasakan peserta didik untuk shalat berjamaah, mengadakan yasinan (al-Qur’an) bersama, mengadakan lomba ceramah agama (Islam), mengadakan kepramukaan, dan mengadakan lomba tilawah al-Quran; dan (3) GPAI membentuk karakter peserta didik menjadi model sebagai teladan untuk mereka dalam hubungan sosial dan interaksinya.Abstrak: *Penulis adalah Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Syariah al-Ittihad Bima Email: [email protected] Degradasi moral anak bangsa yang semakin menyimpang di pelbagai norma kehidupan, baik dari segi agama maupun sosial yang terwujud dalam bentuk perilaku yang anti sosial, dan perbuatan amoral lainnya dikalangan siswa. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk mendidik siswa agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkunganya. Upaya lembaga pendidikan, guru secara umum dan guru pendidikan agama Islamakan berpengaruh positif terhadap pembentuk karakter siswa, sehingga mereka menjadi manusia yang memiliki karakter yang baik dan berkualitas. Upaya berbentuk dapat berbentuk: Pertama, penerapan nilai-nilai karakter pada siswa telah dilakukan oleh pihak sekolah melalui program kegiatan yang direncanakan, baik bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, yaitu: (1) melalui kegiatan belajar mengajar dengan memadukan nilai-nilai pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran yang diampu oleh para guru; dan (2) melaksanakan program kegiatan, seperti shalat berjamaah, yasinan (al-Qur’an) bersama, lomba ceramah agama (Islam), kepramukaan, dan mengadakan lomba tilawah al-Quran. Kedua, upaya guru pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter peserta didiknya, melalui: (1) kegiatan belajar mengajar di kelas dengan mengkolaborasikannya nilai-nilai pendidikan karakter pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kepada peserta didiknya; (2) kegiatan ekstrakurikuler yang direncanakan seperti: membiasakan peserta didik untuk shalat berjamaah, mengadakan yasinan (al-Qur’an) bersama, mengadakan lomba ceramah agama (Islam), mengadakan kepramukaan, dan mengadakan lomba tilawah al-Quran; dan (3) GPAI membentuk karakter peserta didik menjadi model sebagai teladan untuk mereka dalam hubungan sosial dan interaktifnya