Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
Implentasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah
Tantangan Pemberdayaan Madrasah dalam Era Otonomi Daerah di Kabuapaten Dompu
Kendati secara historis dan formal madrasah telah diakui keberadaannya,namun hingga kini madrasah masih menghadapi sejumlah problem. Dalamera otonomi daerah dewasa ini, kondisi madrasah tersebut semakinproblematik lantaran interpretasi yang beragam atas UU No. 32/2004tentang Pemerintahan Daerah. Di kabupaten Dompu, meski jumlah maupunpartisipasi madrasah cukup signifikan bagi peningkatan mutu SDM didaerah, namun Pemerintah daerah belum menjadikan atau melirikmadrasah sebagai sokoguru bagi peningkatan mutu SDM di daerah. Hal itubaik disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang ada pada madrasah itusendiri maupun beban kemiskinan ekonomi yang dihadapi Pemda. Olehkarena itu, ke depan diperlukan kolabarasi berbagai pihak untukmemberdayakan madrasah yang ada maupun untuk meningkatkan mutuSDM di daerahKendati secara historis dan formal madrasah telah diakui keberadaannya,namun hingga kini madrasah masih menghadapi sejumlah problem. Dalamera otonomi daerah dewasa ini, kondisi madrasah tersebut semakinproblematik lantaran interpretasi yang beragam atas UU No. 32/2004tentang Pemerintahan Daerah. Di kabupaten Dompu, meski jumlah maupunpartisipasi madrasah cukup signifikan bagi peningkatan mutu SDM didaerah, namun Pemerintah daerah belum menjadikan atau melirikmadrasah sebagai sokoguru bagi peningkatan mutu SDM di daerah. Hal itubaik disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang ada pada madrasah itusendiri maupun beban kemiskinan ekonomi yang dihadapi Pemda. Olehkarena itu, ke depan diperlukan kolabarasi berbagai pihak untukmemberdayakan madrasah yang ada maupun untuk meningkatkan mutuSDM di daera
Pengembangan Kurikulum Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Upaya Mencetak Guru Agama Profesional (sebuah analisis deskriptif konteks UUGD)
Pembaharuan Pendidikan Guru di Indonesia terkait dengankelahiran UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen( UUGD)yang amanat utamanya adalah profesionalisme pendidik dalamperbaikan mutu pendidikan. Fakultas Tarbiyah Program StudiPendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu LPTK perlumengantisipasi berbagai kebijakan tersebut, salah satunya ialahmelalui pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulummerupakan proses dinamik dan kontinyu dalam merespontuntutan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi serta globalisasi yang begitu cepat. Disamping itu,pengembangan kurikulum harus diikuti oleh sistem manajemenyang baik pula, sehingga tercipta efektifitas dan efesiensi dalampelaksanaan pengembangan tersebut.Pembaharuan Pendidikan Guru di Indonesia terkait dengankelahiran UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen( UUGD)yang amanat utamanya adalah profesionalisme pendidik dalamperbaikan mutu pendidikan. Fakultas Tarbiyah Program StudiPendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu LPTK perlumengantisipasi berbagai kebijakan tersebut, salah satunya ialahmelalui pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulummerupakan proses dinamik dan kontinyu dalam merespontuntutan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi serta globalisasi yang begitu cepat. Disamping itu,pengembangan kurikulum harus diikuti oleh sistem manajemenyang baik pula, sehingga tercipta efektifitas dan efesiensi dalampelaksanaan pengembangan tersebut
Problema Peningkatan Mutu Guru di Indonesia
Guru merupakan komponen paling penting dalam kegiatan pembelajaran.Karena itu peningkatan mutu guru secara berkesinambungan dan terarahmenjadi kebutuhan tak terbantahkan. Namun demikian, kenyataannya upayapeningkatan mutu guru di Indonesia masih menghadapi kendala-kendalakultural maupun struktural. Kendala kultural berkaitan dengan sikap mentaldan budaya guru itu sendiri yang belum berorientasi mutu, sedangkankendala cultural berkaitan dengan kurangnya apresiasi dan keseriusanpemerintah terhadap upaya peningkatan mutu guru. Akibatnya, di lapanganseringkali ditemukan guru-guru yang kurang professional dalammenjalankan tugas-tugas profesionalnya.Guru merupakan komponen paling penting dalam kegiatan pembelajaran.Karena itu peningkatan mutu guru secara berkesinambungan dan terarahmenjadi kebutuhan tak terbantahkan. Namun demikian, kenyataannya upayapeningkatan mutu guru di Indonesia masih menghadapi kendala-kendalakultural maupun struktural. Kendala kultural berkaitan dengan sikap mentaldan budaya guru itu sendiri yang belum berorientasi mutu, sedangkankendala cultural berkaitan dengan kurangnya apresiasi dan keseriusanpemerintah terhadap upaya peningkatan mutu guru. Akibatnya, di lapanganseringkali ditemukan guru-guru yang kurang professional dalammenjalankan tugas-tugas profesionalnya
Implementasi dan Pengembangan Pendidikan Multikultural di Sekolah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan salah satunegara yang ada di Dunia yang memiliki keunikan tersendiri di manawilayah yang kepulauan sebagai ciri khasnya tentu berimplikasi padajumlah populasi penduduk yang cukup besar, jumlah kelompok etnik danadat istiadat yang beragam, bahasa yang bermacam-macam denganvariasi dialek yang berbeda pula, dan budaya yang beragam, agamaserta keunikan dan keberagaman lainnya.Harus diakui bahwa konflik yang muncul di Indonesia sangat cepatterjadi bila mengedepankan isu-isu perbedaan keragaman. Hal inimerupakan sebuah tantangan khususnya kalangan sekolah karenasekolah merupakan miniatur dari masyarakat dimana peserta didik yangbelajar di sekolah membawa budaya masing-masing.Salah satu upaya yang dilakukan sekolah dengan memberikanpemahaman pada peserta didik melalui pola implementasi danpengembangan pendidikan multikultural pada setiap sisi kehidupan disekolah baik melalui kegiatan kurikikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikulerserta peran-peran kepala sekolah dan guru sebagai gardaterdepan dalam implementasi dan pengembangan pendidikanmultikultural di sekolah. Dengan demikian pendidikan multikulturaldapat meminimalisir konflik serta memberikan pemahaman akan nilainilaipositif akan keberagaman pada peserta didik khususnya.Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan salah satunegara yang ada di Dunia yang memiliki keunikan tersendiri di manawilayah yang kepulauan sebagai ciri khasnya tentu berimplikasi padajumlah populasi penduduk yang cukup besar, jumlah kelompok etnik danadat istiadat yang beragam, bahasa yang bermacam-macam denganvariasi dialek yang berbeda pula, dan budaya yang beragam, agamaserta keunikan dan keberagaman lainnya.Harus diakui bahwa konflik yang muncul di Indonesia sangat cepatterjadi bila mengedepankan isu-isu perbedaan keragaman. Hal inimerupakan sebuah tantangan khususnya kalangan sekolah karenasekolah merupakan miniatur dari masyarakat dimana peserta didik yangbelajar di sekolah membawa budaya masing-masing.Salah satu upaya yang dilakukan sekolah dengan memberikanpemahaman pada peserta didik melalui pola implementasi danpengembangan pendidikan multikultural pada setiap sisi kehidupan disekolah baik melalui kegiatan kurikikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikulerserta peran-peran kepala sekolah dan guru sebagai gardaterdepan dalam implementasi dan pengembangan pendidikanmultikultural di sekolah. Dengan demikian pendidikan multikulturaldapat meminimalisir konflik serta memberikan pemahaman akan nilainilaipositif akan keberagaman pada peserta didik khususnya
Filsafat Idealisme dan Implementasinya dalam Pendidikan
Idealisme sebagai sebuah aliran dalam filsafat berasal dari Plato, memilikipengaruh yang besar disegala bidang ilmu pengetahuan termasuk didalamkajian filsafat pendikan. Filsafat idealismeme pada prinsipnya menekankanpentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul), jiwa (spirit) atau ide daripada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material dengan menggunakansudut pandang metafisika, epistimologi dan aksiologi. Implementasinyapraktek pendidikan menurut filsafat idealisme tercermin dalam formulasikonsep tentang tujuan, kurikulum, metode, peserta didik dan guru(pendidik).Idealisme sebagai sebuah aliran dalam filsafat berasal dari Plato, memilikipengaruh yang besar disegala bidang ilmu pengetahuan termasuk didalamkajian filsafat pendikan. Filsafat idealismeme pada prinsipnya menekankanpentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul), jiwa (spirit) atau ide daripada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material dengan menggunakansudut pandang metafisika, epistimologi dan aksiologi. Implementasinyapraktek pendidikan menurut filsafat idealisme tercermin dalam formulasikonsep tentang tujuan, kurikulum, metode, peserta didik dan guru(pendidik)