Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
Progressivisme Dalam Perspektif Pendidikan (Kontribusi terhadap Pendidikan Sekarang)
Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asasProgressivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan untuktetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalammelihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Progressivisme kurangmenyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbulpada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang. Nilai-nilai yang dianutbersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehinggamenuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif danreformatif, aktif serta dinamis. Jadi kemajuan atau progress menjadi intiperhatian progressivisme. Untuk mencapai perubahan tersebut manusiaharus memiliki pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel,curious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open minded.Komitmen terhadap nilai-nilai tradisional tidak bisa diabaikan, apalagiditolak. Pendidikan yang berlangsung baik di dalam keluarga, sekolah,maupun masyarakat hendaklah mampu menolak terbawanya peserta didikoleh arus globalisasi yang negatip. Pendidikan harus mampu menepispengaruh negatip era globalisasi, yakni dengan menyerap nilai-nilai positipdan menyingkirkan nilai-nilai negatip, serta tetap menggunakan dasar pijakpada nilai-nilai tradisional yang bersumber pada sosio kultural bangsa baikdalam skala mikro maupun makro.Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asasProgressivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan untuktetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalammelihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Progressivisme kurangmenyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbulpada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang. Nilai-nilai yang dianutbersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehinggamenuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif danreformatif, aktif serta dinamis. Jadi kemajuan atau progress menjadi intiperhatian progressivisme. Untuk mencapai perubahan tersebut manusiaharus memiliki pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel,curious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open minded.Komitmen terhadap nilai-nilai tradisional tidak bisa diabaikan, apalagiditolak. Pendidikan yang berlangsung baik di dalam keluarga, sekolah,maupun masyarakat hendaklah mampu menolak terbawanya peserta didikoleh arus globalisasi yang negatip. Pendidikan harus mampu menepispengaruh negatip era globalisasi, yakni dengan menyerap nilai-nilai positipdan menyingkirkan nilai-nilai negatip, serta tetap menggunakan dasar pijakpada nilai-nilai tradisional yang bersumber pada sosio kultural bangsa baikdalam skala mikro maupun makro
MEREGUK SARIPATI ISLAM MELALUI TASAWUF
BEBERAPA ISTILAH untuk menyebut kata tasawuf / sufi dalam kajian kontemporer yang sering kita dengar saat ini seperti Urban Sufism (Sufi Kota), New Age Movment. Untuk melihat fenomena ini berdasarkan istilah tersebut perlu diuraikan bahwa pada mulanya belajar tasawuf adalah jalan menyucikan diri—sebagaimana makna ”sufi” yang berasal dari kata ”safa” yang berarti kesucian. Mereka memperbanyak zikir, puasa, menggenapi salat sunah, dan belajar hidup sederhana (zuhud). Bagi yang lebih serius, mereka berkhalwat (menyepi) ke luar kota selama beberapa hari untuk berzikir. Ada pula yang menekuni tarian Rumi (whirling dervishes), atau berguru pada seorang mursyid (guru) di sebuah kelompok tarekat.Namun berbeda dengan awal mula belajar tasawuf tersebut terdapat kelompok besar dari kalangan anak muda ini memilih belajar dari lembaga yang kini bertebaran ”menjajakan” tasawuf. Cukup membayar dengan tarif tertentu, tanpa perlu masuk tarekat, mereka bisa menyelami pikiran para pejalan sufi. Fenomena ini sering kita lihat dikalangan masyarakat kota, demikian ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal pertama, sufisme diminati oleh masyarakat perkotaan karena menjadi sarana pencarian makna hidup; kedua, sufisme menjadi sarana pergulatan dan pencerahan intelektual; ketiga, sufisme sebagai sarana terapi psikologis; dan keempat, sufisme sebagai sarana untuk mengikuti trend dan perkembangan wacana keagamaan