Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
HERMENEUTIKA DAN LINGUISTIK PERSPEKTIF METODE TAFSIR SASTRA ÂMÎN AL-KHÛLI
Amin al-Khuli puts forward two methodological principles in developing methods of literary interpretation of the Qur’an, which is an ideal method for assessing the literary text. Two of these methods is the study of everything that is around the Quran (dirâsah mâ hawlal Qurân), and the study of the Quran itself (dirâsah fil Qurân nafsih). The measures are undertaken to the attention of the authors to examine how the relationship of literary interpretation methods Quran Amin al-Khuli with hermeneutics and linguistic studies. Broadly speaking Amin al-Khuli effort in developing methods of literature in this commentary, can be said to bring a new perspective in the science of interpretation of the Quran. The most valuable contribution of the methods of literary interpretation Amin al-Khuli is to keep the interpretation of subjectivity commentators. Therefore, the steps performed in the methods can be classified into theoretical hermeneutics and in the study of linguistics can be classified into semantic studies using diachronic analysis.Keywords: Âmîn Al-Khûli, Metode tafsir, Hermeneutik Alquran, Li-nguistik, dirâsah mâ hawlal Qurân, dirâsah fil Qurân nafsi
PERAN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA STIT DARUSSALIMIN NW PRAYA DALAM MENGEMBANGKAN SOFTSKILL MAHASISWA PAI
Abstrak:Badan Eksekutif Mahasiswa dalam suatu perguruan Tinggi Islam memiliki peran yang besar dalam mengembangkan intlektual dan keilmuan mahasiswa. Dengan adanya keputusan Pemerintah Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Repoblik Indonesia bisa dijadikan sebagai payung hukum bagi organisasi intra Kampus untuk lebih leluasa mengembangkan potensi mahasiswa Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi dari organisasi intra kampus yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Repoblik Indonesia, yakni sebagai wahana dan sarana dalam mengembangkan keilmuan mahasiswa agar berguna bagi kehidupan masyarakat. BEM STIT Darussalimin NW Praya semestinya harus mengacu pada ketetapan tersebut, shingga sarjana Pendidikan Islam yang lahir dari kampus memiliki kemampuan dan kapasitas keilmuan yang baik, bertakwa dan memiliki ahlak yang mulya
PROFESIONALISME GURU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
Abstrak: Guru yang profesional berperan besar dalam menentukan nilai atau hasil dari pendidikan. Dalam Islam pendidikan dilihat sebagai media yang penting bahkan sentral dalam membentuk individu muslim yang, yang sejalan dengan tujuan dari Islam itu sendiri. Karena itu Islam memiliki mekanisme mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru, tentunya pengajaran ini juga dilihat sebagai bentuh ibadah. Karena profesi mengajar sebagai guru adalah ibadah, maka dalam proses mengajar dibutuh sikap yang baik dan ikhlas. Profesionalisme guru atau guru yang profesional dalam perspektif pendidikan Islam memiliki kreteria tertentu, paling tidak memiliki kapasitas ilmu yang memadai, bertakwa dan berahlak mulya.
Pendekatan dalam Proses Belajar Perspektif Imam Al-Ghazali
Pendekatan dalam proses belajar perspektif Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi adalah pendekatan yang penuh dengan nuansa teosentris. Hal ini dibuktikan dengan pandangannya tentang belajar yang bernilai adalah apabila diniatkan untuk beribadah kepada Allah, dan motivasi dalam belajar harus demi menghidupkan syari’at Nabi dan menundukkan hawa nafsu. Kemudian, siswa juga harus memperhatikan kesucian jiwanya, dan karena itu, ia harus menelaah ilmu agama dan ilmu tauhid, perkataan dan perbuatannya harus sama dengan syara’, lebih memilih fakir dan menjauhi kehidupan dunia, ikhlas, tawakkal, dan tidak meninggalkan shalat tahajjud. Siswa juga harus memilih guru yang memiliki akhlak yang baik, bersikap patuh dan tunduk terhadap guru dalam segala hal, tidak boleh berdebat, tidak boleh menjadi juru mau’izah, tidak bergaul dengan kalangan eksekutif, serta berbuat baik terhadap Allah dan sesama manusia. Di samping itu, siswa juga harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebab ilmu tanpa diamalkan adalah kegilaan dan beramal yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan adalah sia-siaPendekatan dalam proses belajar perspektif Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhā al-Walad fī Nasīhati al-Muta‘allimīn wa Maw‘izatihim Liya’lamū wa Yumayyizū ‘Ilman Nāfi‘an min Gayrihi adalah pendekatan yang penuh dengan nuansa teosentris. Hal ini dibuktikan dengan pandangannya tentang belajar yang bernilai adalah apabila diniatkan untuk beribadah kepada Allah, dan motivasi dalam belajar harus demi menghidupkan syari’at Nabi dan menundukkan hawa nafsu. Kemudian, siswa juga harus memperhatikan kesucian jiwanya, dan karena itu, ia harus menelaah ilmu agama dan ilmu tauhid, perkataan dan perbuatannya harus sama dengan syara’, lebih memilih fakir dan menjauhi kehidupan dunia, ikhlas, tawakkal, dan tidak meninggalkan shalat tahajjud. Siswa juga harus memilih guru yang memiliki akhlak yang baik, bersikap patuh dan tunduk terhadap guru dalam segala hal, tidak boleh berdebat, tidak boleh menjadi juru mau’izah, tidak bergaul dengan kalangan eksekutif, serta berbuat baik terhadap Allah dan sesama manusia. Di samping itu, siswa juga harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebab ilmu tanpa diamalkan adalah kegilaan dan beramal yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan adalah sia-si
KAJIAN PENDIDIKAN ISLAM NUSANTARA; REALITAS KEBUTUHAN SOLIDARITAS KEBERAGAMAN AGAMA
Agama merupakan realitas kebutuhan hidup dan kehidupan bagi setiap orang, karena kepercayaan kepada zat gaib yang Maha mencipta muncul sebagai kekuatan di luar dunia fisik dan rasio. Kepercayaan beragama dengan begitu menjadi sebuah keniscayaan. Sebagai konsekuensi logis kepercayaan tersebut harus tercermin dalam segala perilaku riil sebagai fakta. Dengan demikian, dapat dibuktikan perbedaan antara kondisi keberagamaan dengan tidak berkeberagamaan. Keberagamaan sebagai perilaku faktual setiap pemeluk agama hanya bisa ditangkap melalui analisis terhadap sistem perilaku keberagamaan yang melibatkan sejumlah komponen. Pendekatan sistem dalam memahami keberagamaan merupakan keniscayaan untuk tidak terjebak dalam pandangan keseragaman praktis keberagamaan oleh setiap pemeluk. Setiap unit keberagamaan adalah singularitas berkaitan dengan perbedaan sifat dan kondisi masing-masing komponen sistem keberagamaan. Pemahaman demikian dapat menyadarkan kita, bahwa sebuah ajaran agama tetap bersifat universal, sedangkan praksis ajaran adalah singularitas, dan karenanya sangat beragam sejumlah satuan peristiwa yang dilakukan sebagai konsekuensi kepercayaan beragama
KONSTRUKSI EDUKASI GENERASI EMAS DAN PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN (ANTARA KEMISKINAN DAN KEKERASAN)
Generasi emas merupakan generasi cita atau impian. Suatu generasi yang berkualitas dilingkupi oleh nilai-nilai moralitas tinggi, demokratis, kreatif, inovatif, religious dan berakhlak mulia. Mewujudkan generasi cita atau impian terhalang berbagai permasalahan dua diantaranya adalah kemiskinan dan kekerasan. Namun demikian, proses melahirkan generasi emas tidak boleh terhenti akibat dari dua masalah tersebut. Oleh karena itu Lembaga pendidikan memiliki peran dan tugas utama untuk mewujudkan suatu generasi emas yang pada akhirnya mampu membawa bangsa Indonesia menjadi lebih sejahtera dan berkepribadian tinggi. Kata Kunci: Generasi Emas, kemiskinan, kekerasan, lembaga Pendidikan, sejahter
ISLAM DAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
Karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Sementara, pendidikan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri seseorang, sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi seseorang supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan.Konsep pendidikan dalam Islam adalah suatu upaya memperkenalkan manusia akan eksistensi dirinya, baik sebagai diri pribadi yang hidup sebagai hamba Allah (‘abdullah) yang terikat oleh hukum normatif (syariat) dan sekaligus sebagai khalifah (khalifatullah) di bumi. Secara substansial, Islam telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang cenderung kepada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. Oleh karena itu, pendidikan berarti suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berfikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya.Secara psikologis dan sosial kultural, grand design pengembangan pendidikan karakter adalah upaya pembentukan karakter dalam diri individu sebagai fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development)Keywords: karakter, nilai moral, kognitif, afektif, dan psikomotori
ETIKA ISLAM UNTUK PERDAMAIAN PERSPEKTIF FIKIH
Peace, as well as liberation from all forms of suffering, is the desire and the desire of every human being. But peace can not be simplified into just a situation or conflict-free conditions. Peace is a much broader dimension and meaning. In addressing the various conflict-both communal and nuanced conflict takes diverse religions reference to offset, overcome and reduce the violence that has been entrenched in the community. Islam as one of the world’s great religions offers some of the attitudes and ethics for peacemaking. Islamic Shari’a not only regulate the issue Ubudiah (worship) but includes also some universal values that should be the foundation in peacemaking efforts. Through qualitative research, this paper shows that the teachings of Islam contained in Jurisprudence recommend building peace with Islamic ethics. Can be analyzed more deeply, that Islam has concrete regulations, the general principles, and basic values that are universal. Therefore, Islam has always been associated with peace, and peace is a substantial mission of Islam.Keywords: Etika, Islam, Perdamaian, Fiki
MANAJEMEN MUTU GURU/USTADZ DI PONDOK PESANTREN
Perkembangan Pondok pesantren di nusantara semakin signifikan, melebihi jumlah lembaga pendidikan pemerintah. Bahkan di beberapa daerah jumlah pondok pesantren dapat mencapai 3 banding 1 dari lembaga pendidikan negeri dan swasta umum. Namun perkembangan kuantitas pondok pesantren tidak berbanding lurus dengan kualitas dan mutu pondok pesantren sendiri. Baik, proses belajar mengajar, kualitas sumber daya, manajemen, pembiyaan dan keuangan dan tidak kalah penting kualitas guru/ustadz. Pondok pesantren mempunyai potensi yang tidak didapatkan pada sekolah umum dan sekolah negeri yang dikelola oleh pemerintah daerah. Secara kualitas, seharusnya dapat lebih baik, karena sistem boarding school, memungkinkan peserta didik lebih dapat dibina dengan baik. Secara ekonomi sendiri, perputaran keuangan pondok pesantren sangat stabil dan sangat menjajikan. Maka dengan itu dapat menjamin mutu dan kualitas guru guru/ustadz di pondok pesantren.Guru/Ustadz menjadi tumpuan dasar bagi berkembangnya satu pondok pesantren. Karena dengan tanpa pembinaan ustadz, maka sangat tidak mungkin dapat tercapai mutu pendidikan yang baik. Kajian ini akan membahas tentang aspek-aspek yang harus menjadi perhatian dalam proses penjaminan mutu dan kualitas ustadz di pondok pesantren, terutama pondok-pondok pesantren dalam tahap rintisan dan perkembangan. Karena ruh pondok pesantren akan hidup apabila ada guru/ustadz/pengasuh yang dapat menjalankan roda pondok pesantren. Kata Kunci: Manajemen, Mutu/Kualitas, Guru/Ustad
EKSPLOITASI TEKS JEMAAH ISLAMIYAH INDONESIA; TINJAUAN ONTOLOGI EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI FILSAFAT BAHASA
Some of the excuses used Jemaah Islamiya in action fighting the infidels (non-Muslims) to carry out suicide bombings as a form of jihad main crux of the problem in this study. The review and analysis used by the philosophical approach of language, reviewed the ontological, epistemological, and axiological related to the exploitation of the texts of the Quran that is an attempt to understand, explain, and realize a claim means the language contained in the texts of the Quran and hadith. From this study, the following conclusions; first, indifference to the weakness affects comprehension of written language to those who think that the sacred texts (related to the issue of jihad fi sabilillah) was the final and most correct, and the assumption that they understand fully the meaning of the text. Second, the reluctance of understanding between the text and the context of the language gave rise to the feeling that they seemed to get a revelation of God in person and entitled to carry it out as it is.Keywords: Exploitation, Biblical, Jemaah Islamiya Indonesia, Philosophy of languag