Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
KEDUDUKAN ILMU PENGETAHUAN DALAM AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah kitab induk, rujukan utama bagi segala rujukan, sumber dari segala sumber, basis bagi segala sains dan ilmu pengetahuan. Ia adalah buku induk ilmu pengetahuan, di mana tidak ada satu perkara apapun yang terlewatkan, semuanya telah termuat di dalamnya yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah (hablum minallah), sesama manusia (hablum minannas); alam, lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu emperis, ilmu agama, umum dan sebagainya.Meskipun Al-Quran diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Al-Quran yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an memiliki kebenaran yang bersifat mutlak atau absolut. Kata Kunci: al-Qur’an, Ilmu Pengetahua
Peran Masyarakat dalam Lembaga Pendidikan
Semangat desentralisasi pendidikan perlu disambut dengan baik oleh lembaga pendidikan yang mana lembaga pendidikan diberi kebebasan dalam mengelola lembaganya sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam menjalankan proses pendidikannya. Untuk mewujudkan ini tentu berbagai bidang di struktur organisasi lembaga sekolah difungsikan secara maksimal tidak hanya yang bersifat akademis yang saja yang diperhatikan tetapi juga yang bersifat pendukung dalam hal ini bidang humas yang menjadi mediator komunikasi antara lembaga pendidikan dengan masyarakat. Inilah yang belum disadari oleh lembaga pendidikan dan masyarakat dimana mereka masih menganggap dua bagian yang terpisahkan sehingga tidak adanya kepedulian terhadap keberadaan masing-masing, padahal mereka adalah dua kelompok yang tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaan proses pendidikan untuk menghasilkan akhlak generasi masyarakat yang bermoralSemangat desentralisasi pendidikan perlu disambut dengan baik oleh lembaga pendidikan yang mana lembaga pendidikan diberi kebebasan dalam mengelola lembaganya sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sekitarnya dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam menjalankan proses pendidikannya. Untuk mewujudkan ini tentu berbagai bidang di struktur organisasi lembaga sekolah difungsikan secara maksimal tidak hanya yang bersifat akademis yang saja yang diperhatikan tetapi juga yang bersifat pendukung dalam hal ini bidang humas yang menjadi mediator komunikasi antara lembaga pendidikan dengan masyarakat. Inilah yang belum disadari oleh lembaga pendidikan dan masyarakat dimana mereka masih menganggap dua bagian yang terpisahkan sehingga tidak adanya kepedulian terhadap keberadaan masing-masing, padahal mereka adalah dua kelompok yang tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaan proses pendidikan untuk menghasilkan akhlak generasi masyarakat yang bermora
Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Prestasi Belajar Aqidah Akhlak di Kelas IV MIS Iqro’ Ummat Kecamatan Manggelewa Tahun Pelajaran 2016/2017
Pada beberapa dekade terakhir sampai pada abad millennium ini, kita bisa melihat betapa pendidikan di Indonesia seperti “mati suri” akan nilai-nilai yang menjadi budaya bangsa timur yang cenderung untuk mengedepankan nilai-nilai moralitas, etika masyarakat yang berbudi luhur, serta menjunjung tinggi nilai-nilai dari agama (religius) sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa. Kita bisa melihat pada akhir-akhir ini para generasi muda, khususnya para pelajar yang sedang terjangkiti penyakit “dekadensi moral” seperti kekerasan atau tawuran antar pelajaran, pemerkosaan, hamil diluar nikah, pengunaan obat terlarang, minum-minuman keras, perkelahian dan lain sebagainya seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa. Hal inilah menjadikan bangsa Indonesia pada hari ini terasa seperti tercerabut dari akar budaya bangsa sendiri. Hakekat dari sebuah tujuan pendidikan Islam sebenarnya adalah proses sesuatu yang terikat oleh nilai-nilai ketuhanan (teistik) atau ketauhidan. Karena itu, pemaknaan pendidikan merupakan perpaduan antara keunggulan spiritual dengan cultural. Dengan demikian, budaya akan berkembang dengan berlandaskan nilai-nilai agama, yang mana pada gilirannya akan melahirkan hasil cipta, karya, rasa dan karsa manusia yang sadar akan nilai-nilai ilahiah (keimanan-ketauhidan).Pada beberapa dekade terakhir sampai pada abad millennium ini, kita bisa melihat betapa pendidikan di Indonesia seperti “mati suri” akan nilai-nilai yang menjadi budaya bangsa timur yang cenderung untuk mengedepankan nilai-nilai moralitas, etika masyarakat yang berbudi luhur, serta menjunjung tinggi nilai-nilai dari agama (religius) sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa. Kita bisa melihat pada akhir-akhir ini para generasi muda, khususnya para pelajar yang sedang terjangkiti penyakit “dekadensi moral” seperti kekerasan atau tawuran antar pelajaran, pemerkosaan, hamil diluar nikah, pengunaan obat terlarang, minum-minuman keras, perkelahian dan lain sebagainya seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa. Hal inilah menjadikan bangsa Indonesia pada hari ini terasa seperti tercerabut dari akar budaya bangsa sendiri. Hakekat dari sebuah tujuan pendidikan Islam sebenarnya adalah proses sesuatu yang terikat oleh nilai-nilai ketuhanan (teistik) atau ketauhidan. Karena itu, pemaknaan pendidikan merupakan perpaduan antara keunggulan spiritual dengan cultural. Dengan demikian, budaya akan berkembang dengan berlandaskan nilai-nilai agama, yang mana pada gilirannya akan melahirkan hasil cipta, karya, rasa dan karsa manusia yang sadar akan nilai-nilai ilahiah (keimanan-ketauhidan)
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Saintifik pada Materi Permasalahan Sosial untuk Melatih Literasi Sosial Kelas IV SDN Selorejo 03 Blitar
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menghasilkan Produk Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Layak Secara Teori pada Mata Pelajaran Ips. (2) Untuk menghasilkan Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Dapat Digunakan pada Mata Pelajaran Ips. (3) Untuk menghasilkan Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Efektif pada Mata Pelajaran IPS.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan istilah R&D (Research and Development) dengan desain pengembangan yang dipilih adalah menggunakan Model Dick & Carey. Produk yang dikembangkan adalah buku siswa terpadu yang berorientasi integrated social science dengan IPS sebagai landasan pokok untuk kelas IV SD. Teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, metode tes, pengamatan partisipatif, observasi aktivitas kelas. Tes dilaksanakan setelah menerapkan bahan ajar hasil pengembangan.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar yang dikembangkan layak dan dapat digunakan dengan melihat hasil validasi oleh ahli yaitu menunjukan hasil yang cukup valid, hasil validasi pengguna menunjukan hasil yang cukup valid, sedangkan hasil uji kompetensi siswa menunjukan efektif. Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan layak dan dapat digunakan dengan melihat skor yang telah di capai dari validator ahli, pengguna dan siswaAdapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menghasilkan Produk Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Layak Secara Teori pada Mata Pelajaran Ips. (2) Untuk menghasilkan Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Dapat Digunakan pada Mata Pelajaran Ips. (3) Untuk menghasilkan Bahan Ajar Pokok Permasalahan Sosial yang Efektif pada Mata Pelajaran IPS.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan istilah R&D (Research and Development) dengan desain pengembangan yang dipilih adalah menggunakan Model Dick & Carey. Produk yang dikembangkan adalah buku siswa terpadu yang berorientasi integrated social science dengan IPS sebagai landasan pokok untuk kelas IV SD. Teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, metode tes, pengamatan partisipatif, observasi aktivitas kelas. Tes dilaksanakan setelah menerapkan bahan ajar hasil pengembangan.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar yang dikembangkan layak dan dapat digunakan dengan melihat hasil validasi oleh ahli yaitu menunjukan hasil yang cukup valid, hasil validasi pengguna menunjukan hasil yang cukup valid, sedangkan hasil uji kompetensi siswa menunjukan efektif. Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan layak dan dapat digunakan dengan melihat skor yang telah di capai dari validator ahli, pengguna dan sisw
KINERJA GURU DAN INSTRUKTUR DALAM PENGOLAAN PENDIDIKAN SISTEM GANDA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
The missunderstanding towards the double system of education (PSG) will bring the hamful effect to achieve the purpose of education. However irronically it happens frequently in a cooperation between vocational school (SMK) with industies.Through PSG is earned obvious and useful skilll for students. Therefore, the success of psg has a great contribution for the quality development of SMK. The seriousness of teachers and instructors is the main indicator in learning process and it is the most important effort to achieve the purpose of PSG. The seriousness of teacher and instructor related to thier undetanding about PSG,Their motivation to PSG, their commitment to PSG, and their participation to PSG’s management. As a adviser, teacher and injstructor of psg is demanded to have the comprehenshive understanging about PSG. Keywords: PSG, SMK, Guru dan Instruktu
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DI MALAYSIA
Malaysia sebagaimana Indonesia merupakan Negara yang pendudukanya mayoritas Muslim terbesar di Dunia. Demikian pula dengan kultur, adat istiadat bahkan bahasapun masih serumpun dengan Negara Indoensia. Tetapi melihat perkembangan pendidikan akhir-akhir ini, Malaysia terlihat begitu maju dari segi pendidikan dan keislaman. Hal ini terlihat dengan lahirnya beberapa istilah yang mengemuka dalam dunia peradaban Malaysia, seperti konsep Tamaddun, konsep Islam Khadari dan lain-lainnya. Konsep-konsep tersebut mengitari perkembangan pendidikan di Negara tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah konsep-konsep Islam tersebut, demikian pula dengan konsep pendidikannya sebagai sebuah kontribusi untuk menegok perkembangan pendidikan di Indonesia. Kata Kunci: Islam, Islam Khadari, Pendidika
MEMAKNAI KEMBALI QIRAAT AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang merupakan salah satu sumber hukum Islam yang pertama. Sejak awal sampai akhir turunnya, seluruh ayatnya ditulis dan didokumentasikan oleh para juru tulis wahyu yang ditunjuk oleh Nabi. Namun satu hal yang unik bahwa al-Qur’ān pada masa itu belum dibukukan dalam satu mushaf. Ide pembukuan ini baru muncul pada masa Khalifah Abu Bakar atas saran dan usul dari ‘Umar bin Khattab. Proses pembukuan tersebut berlanjut sampai pada masa Khalifah ‘Us|man yang kemudian pada waktu terjadi saling menyalahkan antara kaum muslimin tentang cara membaca (qirā’āt) al-Qur’ān , bahkan diantara mereka nyaris saling mengkafirkan. Situasi yang demikian itu sangat mencemaskan Khalifah ‘Usman. Iapun segera mengundang sahabat, baik dari golongan Ansar maupun Muhajirin untuk mengatasi masalah yang serius tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk menulis kembali mushaf Abu Bakar dan disalin menjadi beberapa mushaf. Kemudian mengirim mushaf-mushaf tersebut ke berbagai daerah untuk dijadikan sebagai bahan rujukan bagi kaum muslimin. Sementara mushaf-mushaf lain yang berbeda pada saat itu diperintahkan untuk dibakar. Al-Qur’ān juga tidak terlepas dari aspek qirā’āt, karena pengertian al-Qur’ān itu sendiri secara bahasa mengandung arti “bacaan” atau “yang dibaca”. Qirā’āt tersebut disampaikan dan diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat, sesuai dengan yang beliau terima dari malaikat jibril. Selanjutnya sahabat mengajarkannya pula kepada tābi‘īn dan para tābi‘īn mengajarkan pula kepada tabi’ al-tābi‘īn dan demikian seterusnya dari generasi ke generasi. Namun qirā’āt yang dipelajari ummat muslim sejak zaman Nabi hingga sekarang memiliki qirā’āt yang berbeda-beda. Masalah ini kemudian menjadi penting untuk dianalisa kembali untuk menghindari perselisihan antara ummat muslim serta dapat menjadi pengetahuan bagi kita. Kata Kunci: Al-Qur’an, Qiraa
URGENSI CLASSROOM ACTION RESEARCH BAGI PENGEMBANGAN INTELEKTUAL MAHASISWA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Abstrak:Suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila muncul perubahan tingkah laku positif pada peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Hal ini pada dasarnya bergantung pada guru sebagai elemen penting dalam kegiatan pembelajaran. Memang saat ini sudah menjadi tidak lazim apabila guru menjadi dominator kegiatan pembelajaran di kelas, namun hal ini bukan berarti guru lepas tanggung jawab terhadap keberhasilan siswanya dalam belajar. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut guru harus selalu proaktif dan responsif terhadap semua fenomena-fenomena yang ditemukan di kelas. Sejalan dengan pernyataan di atas, saat ini upaya perbaikan pendidikan dilakukan dengan pendekatan konstruktivis. Oleh karena itu guru tidak hanya sebagai penerima pembaharuan pendidikan, namun ikut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan Pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya melalui penelitian tindakan dalam pengelolaan pembelajaran di kelasnya. Dalam konteks perguruan tinggi pendidikan dan keguruan agama Islam, PTK memberikan kontribusi konstruktif bagi mahasiswa untuk melihat kondisi pengajaran agama Islam. Sehingga mahasiswa PAI diharapkan mampu mengkonstruk bangunan keilmuan yang holistic dan penguasaan metode dalam mengajar.
URGENSI METODE PENGAJARAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
Abstrak: Suksesnya suatu pendidikan dalam proses belajar mengajar, ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengajar, kemampuan terseut mencakup berbagai aspek, yakni, penguasaan terhadap materi yang diajarkan, kedisplina, dan penguasaan terhadap metode. Metode mengajar menjadi hal yang signifikan untuk mencapai kesuksesan pendidikan. Kesuksesan ini terlihat dari mutu pendidikan yang dicapai oleh sekolah. Siswa tidak hanya menguasai secara teoritis tapi juga implementasinya dalam kehidupan nyata adalah hal yang utma
NILAI PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
The Qur'an in it contained many educational values that can be picked from a paragraph to paragraph in the letter and juz. The value of education in the Qur'an or being able to adapt with the times. The value of an education in the Qur'an that is stories of the prophets and giving examples such as the Prophet Ibrahim, Ismail and the Lukmanul Hakim recounted in the Quran Luqman verse 13 and ash-Shaffat verse 102. The interpretation of the verses is the content of the educational values, all values that can be obtained through science, the science of education